My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 144 (Miss you to the moon and back)


__ADS_3

Klek!!


Sumi menekan handle pintu, kemudian mendorong pintu rumahnya sampai benar-benar terbuka dengan sangat lebar. Suasana rumah kecil itu terlihat begitu gelap, tidak ada penerangan sama sekali, selain lampu luar yang memang dibiarkan menyala.


Dua wanita berbeda usia itu berjalan memasuki rumah. Sumi membawa kedua tas mereka, sementara Ayumi menenteng dua kantong belanjaan yang mereka beli sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahnya menggunakan ojek pangkalan.


Trek!


Ruangan itu lantas menyala, ketika Sumi menekan saklar lampu, tepat di belakang pintu. Tak lupa wanita itu menutupnya rapat-rapat, dan memutar kunci pintu.


"Kamu lapar? Mau Mama buatkan apa?" Tawar Sumi seraya melepaskan jaket yang dikenakannya.


Ayumi menjawab dengan gelengan kepala, dia duduk di kursi rotan, dan menyandarkan punggungnya di sana. Rasa lelah cukup terasa, bahkan saking lelahnya Ayumi sampai memejamkan mata, juga satu tangan yang mulai mengusap perutnya yang terasa sedikit kram.


"Kamu lelah, adik bayi juga pasti lapar. Kasian kalau Mommy nya terus menahan-nahan untuk tidak makan seperti ini, kalau mau makan katakan mau makan apa? Mama siapkan, jangan sampai terjadi sesuatu kepada kalian, dan Randy marah kepada Mama karena tidak mampu menjaga anak dan istrinya."


Ayumi mengubah posisi duduknya menjadi tegak, menatap Sumi dengan segera saat mendengar seperti wajan yang terus di ketuk-ketuk.


"Itu jualan apa, Ma?" Ayumi tampak bersemangat.


"Nasi goreng."


Mendengar itu senyum sumringahnya tiba-tiba surut. Entah kenapa mendengar nama makanan yang satu itu membuat dirinya merasa tidak sanggup. Ada rasa sedikit mual, namun dia terus dipaksa memakannya meski pada akhirnya akan segera dia muntahkan kembali setelah beberapa menit.


"Ada mie, bihun, sama kwetiau juga biasanya." Sambung wanita itu kembali.


"Mau mau, … tolong stop dulu Ma!" Pinta Ayumi dengan raut wajah berbinar.


Sumi mengangguk, dia segera menghambur ke arah luar, lalu berteriak berusaha memanggil pedagang nasi goreng gerobakan yang memang sudah biasa lewat di depan rumahnya.


"Wah, Bu Laras masih di rumah ini ternyata. Saya kira masa gadai rumahnya sudah habis terus pindah." Ucap pedagang tersebut sembari mendorong gerobaknya memasuki halaman rumah Sumi.


Wanita yang di maksud hanya tersenyum.


"Ay? Sini mau pesan apa?" Panggil Sumi.


Ayumi keluar dari dalam rumah, berjalan mendekati Sumi yang berdiri tepat di samping gerobak.


"Ada apa aja tadi?" Ayumi menatap sang ibu.


"Nasi goreng, mie, bihun sama kwetiau!"


Ayumi tersenyum.


"Mau yang terakhir, 1 porsi, pedes jangan pake kecap." Kata Ayumi seraya tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Yang terakhir?"


"Hu'um. Pedes jangan pake kecap, sayur nya banyakin."


"Maksudnya kwetiau?"


"Iya."


Kening Sumi mengkerut. Tapi dia berusaha tidak menghiraukan itu, Sumi segera beralih pada sang penjual.


"Pak. Nasi goreng satu, seperti biasa. Kwetiau nya juga satu pedes jangan pake kecap juga sama kaya saya."


"Siap."


Sumi beranjak mendekati Ayumi yang duduk di kursi teras depan, kemudian ikut duduk disana.


"Disini malamnya enak. Seger, jauh dari hingar bingar, bahkan kendaraan yang lewat bisa dihitung ya, Ma?"


"Iya. Tahu sendiri, … bagaimana disini pagi-pagi. Udaranya segar, anginya juga sejuk."


"Tapi sayang, pagi-pagi tetangga Mama suka bakar sampah!" Sergah Ayumi, dia tertawa pelan. "Ya bukan sampah plastik sih, sampah daun-daun kering, tapi tetap saja sayang udaranya." Ucap Ayumi lagi.


Ibu dan anak itu terus berbincang-bincang. Menunggu pesanan yang sedang dibuatkan. Tak jarang Sumi menjawab sapaan beberapa tetangga yang melintas di depan rumah, berbasa-basi karena mereka merasa penasaran dengan keberadaan Ayumi. Hingga sampai akhirnya pesanan keduanya selesai, dan sudah berada di hadapan masing-masing.


Ayumi menatap nasi goreng milik ibunya.


"Tidak pakai kecap?" Tanya Ayumi.


Sumi melahap satu sendok nasi goreng miliknya, kemudian mengangguk.


"Oh!" Ayumi ikut mengangguk-anggukan kepala.


"Ayumi tidak pakai kecap juga?" Sumi tersenyum.

__ADS_1


"Aku nggak suka kecap, … eh suka sih tapi di makanan tertentu."


"Sepertinya banyak kesamaan yah dalam diri kita. Mama juga tidak terlalu suka kecap di makanan tertentu. Kecuali ayam bakar dan sambal kecap saja, yang lain tidak bisa."


Ayumi yang sedang menyantap kwetiau kesukaannya pun langsung berhenti, mengunyah cepat dan menelannya dengan segera.


"Benarkah?"


Sumi mengangguk.


"Sudah tidak bisa diragukan lagi! Aku 100% anak Mama." Tukas Ayumi, dia tertawa pelan.


***


"Makasih ya, Mang. Ketiwaw nya enak banget!" Puji Ayumi tanpa menyadari ucapannya. Yang seketika membuat sang penjual juga Sumi diam saling menatap.


Menyadari itu Ayumi mengatupkan mulutnya.


"Ah kalau begitu aku masuk duluan ya, Ma. Pedes."


Ayumi memasukan sisa uang cash pemberian suaminya, lalu berlari ke arah dalam, meninggalkan ibunya begitu saja.


"Siapa, Bu?"


"Oh, itu anak saya." Jelas Sumi.


Pedagang nasi goreng keliling itu diam, mencoba mencerna apa yang Sumi ucapkan.


"Bu Laras punya anak? Saya kita nggak punya lho, Bu. Soalnya setiap lewat sini saya lihat Bu Laras tinggal sendiri."


Sumi hanya tersenyum.


"Kalau begitu saya masuk dulu, mari."


Sumi beranjak pergi mendekati pintu rumah, masuk dan kembali menutup pintu itu rapat-rapat.


"Ay? Obat, sama Vitamin nya di minum yah. Mama buatkan susunya, … ambil saja rasa apa yang kamu mau." Sumi mendekati Ayumi yang sudah berbaring di atas tempat tidur.


"Ish aku malu!" Ayumi menyembunyikan wajahnya di bawah bantal.


"Lho, kenapa? Ayo bangun dulu kita minum obat, susu dan vitamin nya."


Ayumi merengek, namun dengan raut wajah kesalnya.


"Tidak apa-apa, Mama tidak berniat menertawakanmu. Tapi memang setiap manusia mempunyai kekurangan kan? Jadi santai saja."


"Ck!" Ayumi berdecak.


"Mau susu rasa apa? Biar Mama siapkan."


"Yang rasa mocca."


"Baiklah tunggu sebentar. Mama harus masak air panasnya dulu." Sumi pergi keluar kamar.


***


Randy menatap dirinya dari pantulan kaca.


Celana jeans blue light, kaos hitam lengan pendek kesukaannya seperti biasa, dengan rambut yang disisir tidak terlalu rapi, membuat penampilannya terlihat lebih santai.


Dia meraih minyak wangi miliknya, menyemprotkan beberapa kali.


Namun, tiba-tiba Randy diam. Saat dia mencium wewangiannya yang sangat Ayumi sukai. Malam ini akan sedikit berbeda, tidak ada akan wanita yang selalu memeluknya, juga menghujani dengan kecupan basah di seluruh wajah dengan perasaan gemas.


Pria itu menghela nafas.


"Belum satu hari, tapi aku sudah sangat merindukanmu."


Randy berjalan ke arah nakas yang terletak di samping tempat tidur, meraih ponselnya yang sedang terhubung dengan kabel charger, mencabutnya dan segera mencari nomor sang istri untuk dia hubungi.


Tuuutttt!


Suara pertanda sambungan telepon terhubung.


Tuuutttt!


Suara itu terus terdengar hingga beberapa menit, membuat Randy merasa sedikit kesal dan tidak sabar. Karena rasa rindunya benar-benar sudah berada di ambang batas.


"Kemana dia ini! Tidak bisakah tetap menyimpan ponsel di …"

__ADS_1


"Ya Daddy?"


Suara itu membuat Randy berhenti menggerutu.


"Abang? Abang beneran telepon atau kepencet."


"Hah? Em, … itu … tadi touch screen nya eror, untung saja menghubungimu, bayangkan jika aku tiba-tiba menghubungi orang lain, pasti akan sangat malu melakukan panggilan telepon selarut ini." Kata Randy dengan suara rendah.


"Begitu yah. Kirain telepon aku beneran, tadi hapenya aku charger di kamar, aku di ruang tv sama Mama, baru selesai minum susu sama vitamin." Jelas Ayumi tanpa Randy tanya.


Pria itu hanya mengangguk. Hatinya terus berdebar-debar, berpacu dengan sangat kencang, dengan rasa rindu yang terus meletup-letup bak air mendidih yang berada di dalam panci diatas kompor dengan api besar yang menyala.


"Ya sudah, Abang pasti mau berangkat yah? Ini sudah hampir jam sepulu."


Randy diam, dia berusaha menetralisir perasaannya.


"Aku matiin yah. Bye Daddy, have pun. Tapi jangan nakal oke? Kalau nakal Baby Tomato marah, nggak mau dijenguk lagi!"


"Eh!" Randy bereaksi. "Kenapa begitu? Pertemuan kita hanya para laki-laki tahu." Tegas Randy.


Kekehan kencang Ayumi terdengar, di selingi ucapan Sumi yang juga ikut tertawa kecil ketika mendengar ucapan konyol putrinya.


"Aku matiin yah …"


"Jangan!" Randy berteriak.


"Dih, Abang kenapa?"


" Aku, … aku …" Randy tergagap-gagap. "Maksudku apa kamu tidak merindukan aku? Kenapa bisa tidak menghubungi aku sejak sampai? Bahkan mengirim pesan pun tidak." Suaranya terdengar tidak bersemangat.


Sepertinya malam ini pria itu benar-benar kehilangan semangat.


"Kangen. Makanya baju kamu aku ciumin terus, kan nggak bisa cium orangnya."


"Heuhh!" Randy memejamkan mata, memijat keningnya yang mulai terasa pusing.


"Ay, aku merindukanmu. Rasanya berat tidak ada kamu di rumah."


Brugh!!


Randy menjatuhkan diri di atas tempat tidur.


Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Saling merasakan perasaan satu sama lain, karena tidak bisa di pungkiri perasaan Ayumi pun sama, dia merindukan pria yang selalu memanjakannya, menuruti setiap keinginannya, dan memberikan cinta yang begitu besar.


"Miss you to the moon and back, Daddy. Mommy juga rindu. Mommy juga mau Daddy disini, tapi tidak bisa! Daddy harus kerja."


"Hemmm, … kamu benar! Tunggu tiga hari lagi yah, nanti aku jemput ke rumah Mama." Kata Randy.


"Iya." Balas Ayumi di seberang sana.


"Aku sudah siap-siap, sudah rapi, mau berangkat. Apa aku harus mengirimkan fotonya kepadamu, … sayang?"


"Boleh. Kirim yang banyak, jangan lupa senyum yah! Jangan jutek-jutek, nanti aku tidak kuat menahan rindunya. Karena semakin jutek, kamu akan terlihat semakin tampan."


Wajah Randy memerah ketika Ayumi mengatakan itu. Tentu saja, suami mana yang tidak bahagia saat istrinya memuji dengan sedemikian rupa.


"Baiklah kamu boleh menutup teleponnya." Randy berujar.


"Love you, Daddy. Muachhh!"


Dan sambungan telepon pun benar-benar Ayumi tutup. Tidak lama setelah itu, sebuah pesan dari istrinya masuk. Satu foto Ayumi kirimkan, dan itu mampu membuat Randy tersenyum-senyum bahkan hanya dengan sebuah ponsel.


Randy menggerak-gerakkan tangannya, berusaha mengatur posisi yang tepat.


Krek!


Randy langsung mengirimkan foto dirinya kepada Ayumi.


"Love you more Babe. Take care, okay? Nanti aku jemput, sekalian pergi berlibur ke pantai untuk menjenguk adik Bayi, seperti dia sudah sangat merindukan Daddy-nya."


Randy mengirim sebuah voice note.


"Aku bilang, minta fotonya yang lagi senyum!!"


Balas Ayumi, disertai emot kesal.


Sementara Randy hanya tertawa kencang karenanya.


__ADS_1


__ADS_2