My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 154 (Sarapan bersama)


__ADS_3

Indahnya cahaya matahari mulai muncul dengan sangat perlahan, menampilkan siluet oranye yang begitu mempesona, membentang memenuhi langit yang begitu luas.


Seulas senyum tipis terpancar di bibir Ayumi saat menatap keindahan alam yang satu ini.


Kepalanya bersandar di dada Randy, sementara pria itu tampak memeluknya dengan sangat erat, merebahkan kepala di atas kepala Ayumi, dan keduanya menikmati sunrise dengan perasaan bahagia.


"Aku nggak nyangka, aku ada di posisi sekarang. Hidup bahagia dengan pria yang sangat aku cintai!" Kata Ayumi seraya menatap lurus kedepan.


Dimana kilatan-kilatan menyilaukan terpantul dari air lain yang terus bergerak-gerak terbawa ombak.


"Dari tadi kamu mengatakan itu." Randy terkekeh.


"Ya karena memang aku tidak tahu harus berbicara apa lagi. Aku beruntung bukan? Padahal dulu cuma berhayal kalau aku itu nikah sama Om-om kaya raya, eh sama Tuhan di kabulin dong, kontan lagi!"


Tawa Randy semakin kencang.


"Berhentilah memanggil aku Om-om! Aku tidak setua itu." Kata Randy pelan.


"Ya tapi aku dulu menghayal nya begitu, bahkan Una sama Aira masih menghayal sekarang. Kalau aku sih udah nggak."


"Coba saja! Lihat apa yang akan aku lakukan jika itu terjadi."


Kepala Ayumi menengadah, menatap Randy yang juga sedang mengarahkan soroh mata ke arahnya, dengan tatapan penuh intimidasi.


"Kamu cemburuan!" Ayumi terkekeh.


"Memangnya siapa yang tidak cemburu kalau pasangannya memikirkan orang lain? Kamu pun sama cemburuannya denganku, aku tidak boleh dekat-dekat dengan Aleesa padahal pekerjaan kami memang mengharuskan banyak interaksi dan komikasi."


Ayumi memutar kedua bola matanya.


"Kamu juga tidak suka bukan?" Tukas Randy.


"Aih, sudahlah. Obrolan semakin aneh, nanti bagaimana kalau kita salah paham lalu bertengkar."


Perempuan itu melepaskan tangan yang sedari tadi memeluk Randy, kemudian bergeser sedikit lebih jauh karena merasa sedikit kesal.


"Hey?"


"Aku maleslah, … padahal aku membicarakan tentang aku dulu, kamu malah membahas yang sekarang. Dulu kan aku belum sama kamu, kalau sekarang ya beda cerita!" Ayumi cemberut.


Melihat itu Randy menahan senyum. Raut wajah kesal, bibir yang mengerucut, mata sedikit memicing, membuat Ayumi terlihat begitu menggemaskan.


"Baiklah maafkan aku." Dia merangsek lebih mendekat, berusaha meraih tangan Ayumi, namun dengan segera perempuan itu menepisnya dengan sangat kencang.


"Ay, maafkan aku. Aku tahu aku salah, kamu sedang bercerita tapi aku menanggapinya dengan hal yang lebih serius." Randy tertawa pelan.


Ayumi tak bereaksi apapun, dia hanya melipat kedua tangannya di atas dada.


Randy mengubah posisi duduk spai berhadapan dengan Ayumi. Bibirnya terus mengulum senyum, pandangan matanya terus tertuju kepada sang istri, dengan perasaan gemas yang begitu terasa.


"Mataharinya sudah terbit. Ayo kita ke restoran untuk mengambil sarapan pagi, kita semua dapat jatah disana, sekalian susul Mama kamu."


"Baiklah, ayo."

__ADS_1


Ayumi bangkit. Sementara Randy tertawa semakin kencang, dia membujuknya bahkan tidak mempan, namun dengan sekali ajakan makan, dia langsung luluh tanpa terkecuali.


"Dih malah ketawa, ayo mau atau tidak?"


"Ya ya ya, … Ibu hamil selalu menang, aku kalah sekarang menghadapi sikapmu yang sedikit aneh dan menyebalkan."


"Moodku naik turun, dan aku sedang mengandung anakmu, … jika harus aku ingatkan."


"Ya Mommy, Daddy salah kali ini."


Randy bangkit, dan beranjak pergi bersama Ayumi, dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.


***


"Ibu-ibu sama Bapak. Silahkan ambil sendiri mau makanan apa." Kata Ayumi.


Mereka sampai di salah satu restoran hotel. Berdiri tepat di beberapa stand makanan dengan berbagai macam menu sarapan. Ada nasi putih dengan berbagai macam lauk, ada nasi goreng, roti, zuppa soup, puding, kopi, teh, buah-buahan dan masih banyak lagi.


"Kamu mau makan apa? Duduklah takutnya kalau terlalu lama berdiri kaki kamu sakit." Kata Randy.


Ayumi menatap hidangan itu. Matanya berbinar-binar, dengan keinginan yang begitu banyak.


Nasi ayam santan, Zuppa soup, pusing, roti bakar, dan berbagai macam dessert lainnya.


"Jangan mubazir, katakan apa yang ingin kamu benar-benar makan. Akhir-akhir ini kamu selalu seperti itu, banyak makanan yang kamu inginkan, dan hanya memakannya hanya sedikit."


Ayumi tersenyum.


Setelah berpesan Ayumi segera pergi, mencari meja makan yang akan dia tempati, meninggalkan Randy, juga para orang tua.


Namun langkahnya terhenti saat pandangannya mendapatkan Sumi yang sedang duduk di are paling sudut ruangan itu. Berbincang-bincang santai dengan sosok pria yang baru dia temui bahkan sudah puluhan tahun lamanya.


"Mama?" Panggil Ayumi, kemudian dia mendekat.


Sumi dan Valter menoleh bersamaan, kemudian tersenyum.


"Kemarilah, dan ambil makananmu!" Kata Valter.


"Abang sedang mengambilkan untukku. Aku tidak bisa berdiri lama-lama, kaki sebelah kiri aku selalu sakit jika aku melakukan itu!"


Ayumi menarik salah satu kursi, kemudian duduk di samping meja yang kedua orang tuanya tempati.


"Aku datang bersama Bu Maria, Ibu dan Bapak. Apa keberatan jika aku harus memperkenalkan Papa pada mereka."


Valter yang sedikit tidak mengerti pun menoleh ke arah Sumi. Dan dengan senang hati Sumi menjelaskannya dengan bahasa Inggris, bahkan tak jarang keduanya berbicara dalam bahasa Jerman.


"Apa boleh?" Ayumi bertanya lagi.


Valter mengangguk.


Mungkin memang sudah waktunya, menemui orang-orang berhati mulia, yang mau merawat putrinya sepenuh hati, sampai dia tumbuh menjadi gadis cantik yang sangat sehat.


Ayumi mengangkat satu tangannya, lalu dia lambaikan agar Tutih, Ali dan Maria segera mendekat.

__ADS_1


Awalnya Tutih tidak terlalu menyadari, hingga dia mematung ketika melihat Sumi bersama Valter duduk di satu meja yang sama.


Pikiran Tutih berkelana, apalagi saat melihat pria yang begitu mirip dengan Ayumi. Hal yang sama Ali rasakan ketika pria itu untuk pertama kalinya melihat sosok ayah kandung putri yang dia besarkan.


Sementara Maria terlihat tidak terlalu terkejut. Dahulu dia pernah melihat keduanya selalu bersama-sama, dan berpisah karena satu dan lain hal.


"Hallo?" Valter menyapa terlebih dahulu.


Dia berjalan mendekat, kemduain mengulurkan tangan kepada Ali.


"Saya Valter."


Awalnya sedikit ragu, tapi tak urung Ali meraih tangan pria itu sampai tangannya saling berjabat.


"Ali."


"Valter."


"Mmmm, …Tutih!"


Valter tersenyum ramah.


"Nice to know you." Katanya, kemudian Valter beralih kepada Maria.


"Saya tahu anda sejak dulu, apa harus kita berkenalan lagi?"


"Tidak perlu." Maria tertawa. "Aku tidak menyangka, ternyata menantu cantikku adalah putrimu yah!" Ucap Maria penuh candaan.


"Ya, saya mau mengucapkan banyak terimakasih kepada Bu Ali dan Pak Tutih …"


"Ke balik!" Sergah Ayumi.


Kemudian perempuan itu tergelak.


Valter mengerutkan keningnya.


"Ibu Tutih dan Bapak Ali." Ayumi menjelaskan.


"Ah, sorry sorry!" Valter tertawa gugup. "Silahkan duduk, dan selamat menikmati sarapannya." Ucap Valter seraya menatap masing-masing piring dengan berbagai macam makanan di dalamnya.


Ali, Tutih, dan Maria segera menempati kursi dimana Ayumi berada. Dan tak lama setelahnya Randy datang, bersama seorang pegawai yang membantu membawakan beberapa piring makanan pesanan sang istri.


"Siapa yang akan menghabiskan itu?" Maria bertanya.


"Kami berdua." Randy menjawab, kemudian duduk di samping Ayumi.


"Baiklah, Ibu hamil memang harus banyak makan-makanan yang bergizi, di habiskan yah agar janinnya tumbuh sehat dengan baik."


Ayumi mengangguk.


"Selamat makan." Ucap Ayumi kepada orang tua juga suaminya.


"Selamat makan." Balas Ali, Randy, Tutih, Maria juga Sumi dan Valter.

__ADS_1


__ADS_2