
Tubuh Ayumi terus bergerak-gerak, mencari posisi ternyaman agar bisa segera tertidur. Namun hampir satu jam mencoba, rasa kantuk itu tak kunjung datang, bahkan pandangannya terus tertuju kepada benda pipih miliknya yang terletak di atas nakas.
Rasanya begitu hening, saat sang kekasih hati tak kunjung memberinya kabar.
Sepertinya kali ini dia benar-benar marah! Batin Ayumi berbicara.
Empat hari berlalu, pertemuan terakhir kali yang sedikit kurang baik, membuat pria itu sepertinya benar-benar menjauh, terbukti dari acuhnya Randy sekarang, bahkan dia tak pernah mengirimkan pesan singkat sekali pun hanya untuk menanyakan keadaannya saat ini.
Ayumi berbaring miring, memeluk bantal guling dengan pandangan yang terus tertuju ke arah nakas sana.
"Kamu beneran marah yah!?" Gumam Ayumi, suaranya terdengar sangat pelan.
"Sudah empat hari, … Abang nggak mau cari aku? Atau tanya kabar aku. Aku tahu aku salah, maaf." Ucapnya lagi dengan nada penuh penyesalan.
Satu tangannya terulur, bergerak meraih ponsel miliknya. Dia menekan tombol power, sampai layar itu terlihat menyala, dan hal pertama yang Ayumi lihat adalah jarum jam yang sudah menunjukan pukul sembilan malam, dengan latar belakang foto dirinya bersama Randy, yang mereka ambil saat keduanya berlibur ke pantai.
Dia yang terlihat memejamkan mata, sementara Randy mencium pipinya dengan ekspresi gemas.
Seulas senyum terbit, juga air mata yang tiba-tiba saja terjatuh, rasa rindunya benar-benar tak bisa lagi dibendung.
"Aku kangen, tapi aku malu." Ayumi mulai menangis.
Cukup lama Ayumi terdiam memandang foto di layar ponselnya, seraya menahan kehampaan yang terus terasa.
Gadis itu bangkit, mengikat rambut panjangnya yang sedari tadi tergerai, meraih tas kecil miliknya pemberian dari Randy sang kekasih, memasukan ponsel juga beberapa barang lain, membawa jaket dan segera keluar dari dalam kamar sana.
Klek!
Ayumi menutup pintunya perlahan, berusaha membuat orang-orang rumah tidak menyadarinya. Namun saat dia berbalik badan, tampak Sisil yang berjalan mendekat, dengan senyum hangat seperti biasa.
"Ada sesuatu?" Wanita itu bertanya.
Ayumi tersenyum canggung, dia meremas tali tas selempang milinya.
Dia merasa canggung.
"Ayu izin keluar dulu, Tante!" Dan pada akhirnya dia memang harus meminta izin, agar mereka tidak merasa khawatir jika mendapatkannya tidak ada di dalam kamar.
Maklum saja, kehadiran Ayumi memang diterima dengan senang hati oleh Alvaro juga Sisil, belum lagi Naura yang merasa sangat bahagia karena mempunyai teman, walau hanya sekedar berbincang santai.
Entah itu membahas judul drama dan novel kesukaan, atau makanan dengan rasa pedas yang sama-sama digemari keduanya.
"Mau kemana? Sudah jam sembilan malam, … hampir jam sepulu!" Sisil menatap jam yang menempel di dinding ruang keluarga.
"Nggg, … Abang mau ketemu, aku suruh kesini katanya malu!" Tukas gadis itu kepada wanita paruh baya di hadapannya.
__ADS_1
Namun Sisil menjengit, saat mengira orang yang Ayumi maksud adalah anak sulungnya.
"Abang? Junior? Kenapa malu?" Sisil terkekeh.
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Abang, …. Randy. Tadi minta ketemu!"
"Oh, Randy."
Ayumi mengangguk.
"Sudah minum obatnya?" Sisil memastikan.
"Belum, yang terakhir jam sepuluh malam."
"Baiklah, mau Tante antar?"
"Tidak usah, Ayu sudah pesan taksi online." Dia berbohong.
Sisil tersenyum lagi, dia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hati-hati kalau begitu."
Ayumi maju satu langkah, lalu meraih tangan kanan Sisil, dan mencium punggung tangannya secara takzim.
Sisil menggiring Ayumi, mengantar gadis itu hingga ambang pintu.
"Ayumi pamit dulu Tante!"
"Ya, jangan lupa untuk kirim pesan jika sudah sampai!" Sisil berteriak cukup kencang, dengan tangan yang terlihat melambai-lambai.
Setelah itu Sisil kembali menutup pintu rumah. Kembali ke arah ruangan tengah, saat televisinya masih menyala dan duduk disana.
Kemudian keluarlah suami juga putri bungsunya bersamaan dari dalam ruangan yang berbeda, Alvaro dari dalam kamarnya, begitupun dengan Naura.
"Aku ngintip di jendela kamar, Ka Ayumi mau kemana?" Naura memulai pembicaraan.
Dia berjalan gontai kearah sofa, duduk di samping sang ibu, lalu berbaring dengan paha Sisil yang ia menjadi sebagai alas untuk penyangga kepala.
"Benar begitu? Kenapa kamu tidak antar pakai mobil? Keadaannya belum stabil, sayang! Dan kamu membiarkan dia pergi sendiri?" Ucap Alvaro saat dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang sama.
"Ayumi sudah lebih baik, Pah! Lagi pula dia itu makhluk hidup, tidak bisa di kurung terus, dia butuh udara segar setelah tiga hari terus berdiam diri didalam rumah." Jelas Sisil kepada suaminya.
Alvaro menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah televisi. Namun tangannya meraih pinggang Sisil, menariknya hingga bergeser, dan itu membuat kepala Naura mengampul di atas sofa.
__ADS_1
"Papa, … ihh!" Pekik Naura.
Dia bangkit dan menatap ayahnya dengan tatapan tajam, juga bibir yang mengerucut.
Alvaro mencondongkan tubuhnya, melihat ke arah anak bungsunya, lalu tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Oh! kamu lagi tiduran di Mama, yah!?" Ucapnya santai.
"Maaamah!" Naura merengek, dia mengadu.
"Sudah-sudah, sini!" Sisil kembali menepuk-nepuk pahanya. "Jangan ladenin, Papah memang sedikit menyebalkan." Sambungnya lagi seraya menarik lengan Naura sampai gadis itu kembali berbaring di atas pangkuannya.
Alvaro hanya terkekeh, kemudian ikut memeluk tubuh Sisil dan menghujani perempuan itu dengan banyak ciuman di pipi.
***
Sekita tiga puluh menit berkendara, menumpangi sebuah taksi online pada malam hari. Akhirnya Ayumi sampai di salah satu cluster elite yang sudah tak lagi dia singgahi selama beberapa hari ini.
Dia menatap ke arah garasi, dimana mobil-mobil milik Randy terparkir dengar rapih disana, dan itu bagus. Karena sudah di pastikan peria itu sudah berada di dalam rumahnya.
Setelah cukup lama berdiri dan mengumpulkan keberanian, Ayumi pun segera melangkahkan kaki, memasuki area rumah Randy yang terlihat masih terang benderang.
Rasa canggung mulai terasa, juga malu karena telah meminta Randy menjauh, dan rasa yang paling mendominasi adalah rasa takut, takut jika pria itu akan mengusir karena tak bisa di pungkiri mungkin Randy merasa tersinggung dengan ucapannya beberapa waktu lalu.
Ayumi menghirup oksigen sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan melalui mulut, dan itu dia lakukan beberapa kali, sebelum tangannya benar-benar menekan tombol bel yang berada di depan pintu masuk.
"Abang?" Panggil Ayumi.
Tok tok tok!
Dia kemudian mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu beberapa kali.
"Duh! Keras." Ayumi mengusap punggung tangganya yang terasa sakit.
Tidak ada jawaban, bahkan suasana sudah sangat hening, walau lampu di dalam sana masih menyala semua.
Ayumi mendekatkan diri kepada kaca, berusaha melihat kearah dalam, tapi dia tak dapat melihat apapun, saat gorden tebal membentang menutupi kaca besar itu.
"Abang?" Ayumi sedikit meninggikan suaranya.
Gadis itu tidak menyerah begitu saja, dia kembali menekan bel rumah Randy beberapa kali. Namun sangat di sayangkan karena sang pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu untuknya.
Ayumi mundur, menghembuskan nafas dengan perasaan kecewa.
"Abang pasti marah yah!" Katanya seraya menempelkan punggung di dinding tak jauh dari pintu masuk, lalu duduk sambil memeluk lutut, dan membenamkan wajahnya disana.
__ADS_1