
"Ahahh, ... dia ini ada-ada saja!" Randy tertawa pelan, saat beberapa pesan balasan Ayumi di terimanya.
Setelah itu dia kembali meletakan ponsel di atas meja, dan memulai makan siangnya yang tertunda.
Beberapa mata tertuju kearahnya, menatap heran dengan mata yang memincing tajam, begitu pun dengan Aleesa yang akhir-akhir ini sering berkunjung ke tempat dimana Randy bekerja.
"Ada yang lucu? kenapa kamu tertawa?" Aleesa mulai penasaran.
"Senyumnya pake di tahan-tahan lagi! mencurigakan." Egy menimpali.
Randy bungkam, dia hanya fokus menikmati makan siangnya. Satu porsi nasi, juga soto Madura yang sangat dia gemari.
"Bagaimana? Pak Raga setuju dengan usulan Dokter Aleesa?" Egy bertanya, pria itu menatap Randy yang kini kembali fokus pada layar ponselnya.
Kekasih dari Ayumi itu hanya menjawab dengan sebuah anggukan pelan. Dan tiba-tiba saja Randy bengkit, berlalu pergi sambil menempelkan ponsel di daun telinganya, meninggalakan makan siang yang masih tersisa cukup banyak.
Beberapa orang yang sedang duduk sembari menikmati makan siangnya saling menatap.
"Pak Raga?" Aleesa menatap Evan.
Evan mengendikan kedua bahunya, seolah tidak ingin tahu urusan pria yang kini sedang terlihat berbicara itu.
"Tumben, biasanya kalau terima telepon dari Pak Raga nggak pernah menjauh."
Rasa penasaran Aleesa semakin besar.
"Biarkan saja, mungkin sedang menghubungi pacarnya." Celetuk Egy.
Tubuh Aleesa menegang, bahkan dia menghentikan kegiatan makannya, menatap Evan, Bagas juga Egy, dan beralih menatap Randy yang berada cukup jauh dari keberadaan mereka saat ini.
"Hemm ..." Bagas berdeham.
Memberi sebuah kode kepada teman-teman.
"Makan dululah, bahas yang lainnya nanti saja." Ujar Bagas.
"Pacar? Randy punya pacar? bukan kah dia tidak percaya cinta yah? dia hanya menjalani hubungan tanpa status bukan?"
"Mungkin sudah berubah." Evan kembali menjawab.
Yang seketika mendapat tatapan tajam dari Bagas.
"Waktu aku mengutarakan perasaan aku di jawab begitu. Dia tidak percaya adanya cinta sejati, dia tidak ingin terikat dengan wanita mana pun, dan hanya menjalin hubungan singkat dengan beberapa gadis, ... you know lah ... FWB! friend with benefits, mereka bisa melakukan apapun tanpa sebuah status bukan?" Dia menatap Bagas lekat-lekat.
Aleesa mulai terlihat gelisah.
"Mungkin kolega." Sahut Bagas.
Dia berusaha menjaga hati perempuan di hadapannya. Tentu saja, Bagas tahu betul sekarang pria itu sedang berhubungan dengan siapa, bahkan dia melihat Randy beberapa kali membawa ke kediamannya.
Dia pasti memiliki tempat paling spesial di dalam hatinya, hingga dia memperbolehkan gadis itu masuk kedalam rumah, yang bahkan jarang orang datangi. Termasuk Aleesa, gadis yang sudah sejak lama menyukai Randy.
***
"Aku?" Ayumi terus tersenyum, saat kekasihnya menghubungi di waktu makan siang, hanya untuk memastikan dia bisa keluar untuk makan atau tidak.
Ah dia memang semanis ini!
__ADS_1
[Hemm, ... awas! tidak boleh makan mie terlalu banyak.]
"Tidak-tidak, aku pesan nasi ayam hari ini. Aira sama Una juga pesan makan siang yang sama, aku yang bayarin." Dia terus tersenyum.
Bahkan Ayumi hanya mengaduk-aduk makanannya, hingga membuat dua sahabatnya saling menatap, lalu mengendikan kedua bahu secara bersamaan.
[Memangnya ada uang?]
Suara kekehan pelan Randy terdengar jelas.
"Kan kamu kasih uang jajan, sayang kalo nggak di manfaatin. Kasian juga Una sama Aira, akhir bulan biasanya mereka makan mie sama telur saja."
Ayumi tertawa.
Namun dua gadis di sampingnya justru memberi dia cubita di pinggang yang terasa cukup kencang, sampai membuat Ayumi menjerit, dan Randy bertanya penuh ke khawatiran.
[Hey kenapa?]
Ayumi meringis, menatap Una jua Aira bergantian sambil mengusap-usap bekas cubitannya yang terasa sedikit panas.
[Sayang kau baik-baik saja? jawab, atau aku akan pergi kesana sekarang juga!]
"Hah." Mendengar itu Ayumi menjadi terlihat linglung.
Isi kepalanya seolah kosong, hanya karena mendengar Randy memanggilnya dengan sebutan itu.
[Ada yang menjahati mu? katakan siapa?]
"Ngg, ... i-itu ... tidak ada yang jahat, aku hanya terkejut, ada semut mengigit pinggang ku."
Randy menghela nafas.
Randy tertawa lagi.
"Sumpah nungguin dia telfonan lama banget, ayok makan aja abisin, udah itu kita tinggalin." Tukas Aira kepada Una.
"Abang mulai ngaco."
[Baiklah aku harus menghabiskan makan siang ku. Nanti sore tunggu, aku jemput seperti biasa.]
"Baiklah." Ayumi mengangguk, seolah Randy dapat melihatnya dari kejauhan.
[I love you, baik-baik disana. Jika ada yang menjahati mu, lawanlah! jangan diam saja, kalau perlu patahkan tangannya. Kau mengeti? kekasih ku tidak boleh terlihat lemah.]
"Astaga! benar kata Ibu mu. Dia mempunyai anak yang suka berantem."
[Hanya untuk membela diri, itu tidak apa-apa.]
"Baiklah-baiklah."
[Love you.]
"Iya."
[Love you.]
Randy terus mengulangi itu, sampai membuat Ayumi kebingungan, kenapa Randy terus mengulangi ucapannya.
__ADS_1
[Hey? I love you.]
"Iya, Abang matiin aja."
[Sungguh? kau tidak mau membalasnya?]
Akhirnya Ayumi mengerti.
"Ya, ... Love you more ... The owner of the pet snake tattoo."
[Aih, kau sangat menggemaskan.]
"Yasudah, aku juga harus makan. Jam istirahat sebentar lagi akan habis."
Dan sambungan telepon seluler itu terputus.
Ayumi segera memasukan ponsel kedalam saku bajunya, lalu menatap Una juga Aira.
"Haduh, ... yang di perhatiin Ayank!" Sindir Una.
"Rasa laparnya sampe hilang, padahal di dalem tadi buru-buru ngajakin ke kantin, udah di kantin malah telfonan sampe lupa makan." Aira menyahut.
Sementara Ayumi, gadis itu hanya terus tersenyum-senyum, dengan wajah yang tampak sedikit memerah.
"Eh, Minggu depan kamu mau pulang nggak?" Una menatap Ayumi.
Gadis yang sedang fokus memakan santapan siangnya pun menoleh.
"Kamu nanya aku?"
"Ya siapa lagi. Cuma kamu yang pulang ke rumah setiap Minggu, kita mana bisa. Kampungnya ada di luar kota." Una memperjelas.
"Minggu depan aku pulang, sekalian diajak jalan." Jawab Ayumi.
"Jadi nggak mau ikut kami ke Taman Bunga Nusantara?" Aira bertanya.
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Kayanya nggak deh, memangnya kalian berangkat sama siapa aja? banyakan?"
Aira juga Una mengangguk bersamaan.
"Kamu nggak dapet kabar emang? bukannya Bu Balqis juga mau diajak liburan sama Pak Raga, jadi mereka ngasih waktu buat kita liburan juga, tadinya mau ikut Bu Balqis, tapi yang lain mau nyari suasana yang beda." Jelas Aira.
"Kok aku nggak tau!"
"Belum di kasih tahu kali, tadi juga ngasih tahu nya pas Bu Balqis baru dateng."
"Oh." Ayumi mengangguk lagi.
Mereka bertiga kembali diam, menimati santapan siang yang masih tersisa.
"Yasudah, ayok." Ucap Ayumi setelah selesai makan dan meneguk habis minumannya.
Aira mengangguk, dia segera menghabiskan minumannya, di susul Una, dan setelah itu mereka kembali beranjak, pergi kearah dalam untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin belum terselesaikan.
......................
__ADS_1
Di share-share dong, biar pada tau Ayumi🤗