My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 160 (Perasaan Ayumi)


__ADS_3

"Ay, ayolah!" Pria itu tampak sedikit memohon.


Sementara Ayumi berusaha terus acuh dan tidak mengindahkan ajakan suaminya, meski Randy terus membujuknya dengan iming-iming berbelanja pakaian atau hal lainnya entah itu skin dan body care, atau perlengkapan make up yang Ayumi inginkan.


"Sayang?"


"Aku sedang tidak mau kemana-mana." Jawab Ayumi dengan pandangan yang terus tertuju pada layar televisi, sementara kedua tangannya dia lipat di atas dada.


Randy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar kehilangan cara untuk membuat mood istrinya segera membaik.


"Lalu kamu mau apa? Aku harus bagaimana agar kamu tidak marah lagi."


"Aku tidak marah."


"Ya, kamu kecewa!" Timpal Randy. "Come on, kamu tidak begini, kamu cerewet, kamu selalu manja dan meminta banyak hal, … jadi ayo lakukan! Aku tidak suka kamu yang seperti ini, rasanya begitu aneh." Pria itu terus merengek.


"Aku harus bagaimana? Berbelanja? Kan sudah via online aku hanya tinggal menunggu Abang kurir datang mengantarkan paketnya."


"Ya apapun. Biasanya kamu mau jalan-jalan sore kalau aku pulang cepat."


Ayumi menggelengkan kepala, kemudian menghela nafasnya.


"Aku sedang tidak mood."


Dia menekan tombol power sampai televisi di hadapannya mati. Lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu kamar yang tertutup.


Klek!


"Ay!?" Randy segera mengikuti.


"Apalagi?"


"Tapi stok bahan makanan sudah habis. Bumbu dapur juga sama, belum lagi sayur dan buah, cemilan untukmu, juga susu hamil. Belum lagi sabun untuk mencuci pakaian dan piring, semuanya habis, Bibi yang memberitahu tadi."


Langkah Ayumi terhenti. Perempuan itu memejamkan mata dan menghela nafasnya kemudian berbalik badan.


"Baiklah, … baiklah!" Akhirnya dia menuruti keinginan suaminya meski terpaksa.


Kedua sudut bibir Randy tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis namun penuh arti.


***


Rok jeans blue light di atas lutut, Ayumi padukan dengan kaos lengan pendek berwarna putih yang dia sengaja masukan kedalam, dilengkapi flat shoes berwarna hitam. Rambut di Cepol tinggi, juga riasan wajah yang membuatnya begitu cantik.


Dia keluar dari dalam mobil, diikuti Randy setelahnya yang juga berpenampilan santai. Kaos dan celana Denim yang Randy buat serupa dengan pakaian istrinya, hingga membuat mereka tampak sangat serasi.


Keduanya berjalan melewati pintu masuk sebuah supermarket. Tak lupa Randy mendorong satu troli berukuran besar.


"Mau kemana dulu?" Ayumi menoleh ke arah suaminya.


"Mungkin ke tempat sabun dulu." Kata Randy.


Ayumi mengangguk, dia kembali berbalik badan. Berjalan terlebih dulu sampai Randy dapat melihat kaki jenjang yang saat ini Ayumi pamerkan. Seandainya Ayumi sedang tidak merajuk, maka sudah pasti dirinya akan melayangkan protes. Hanya saja keberaniannya menciut ketika mengingat Ayumi masih betah mengacuhkannya.


Randy menghentikan langkah kakinya. Ketika Ayumi diam dan mulai memilah beberapa sabun. Bahkan tanpa Ayumi sadari dia hampir saja membungkuk, namun tentu saja Randy berteriak dan menghentikan nya.


"Apa!?" Ayumi bingung.


"Jangan membungkuk!" Randy mendekat. "Mana yang mau kita ambil? Sebaiknya berjongkok dari pada harus membungkuk begitu!"

__ADS_1


Kening Ayumi berkerut, dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan suaminya.


"Tidak sadarkah kamu sedang memakai apa sekarang? Jika kamu membungkuk maka akan sangat menguntungkan mereka!" Randy melirik beberapa anak muda yang berada di lorong yang sama.


Dan yang lebih membuat Randy kesal, para pria muda itu terus berbisik-bisik dan melihat Ayumi dengan tatapan penuh kekaguman.


"Untuk sama aku, kalau tidak mereka pasti mengira kamu masih lajang."


"Ya tinggal aku jelasin aja kalau aku sudah menikah dan sedang hamil." Dia mengusap perutnya.


Setelah itu Ayumi meraih beberapa sabun mandi, beralih pada botol shampoo, pembersih muka untuk Randy, dan kebutuhan lainnya.


"Pembersih lantai sudah, sabun cuci baju sama piring sudah, pewangi ruangan juga sudah." Ayumi menatap troli yang Randy bawa.


"Sudah selesai semua?" Randy menatap istrinya yang saat ini terlihat lebih cantik daripada biasanya.


Ayumi mengangguk. Lalu tersenyum samar, dan itu membuat Randy sedikit lega, suasananya mulai mencair setelah seharian Ayumi bersikap mengacuhkannya.


"Baik kita ke lorong perlengkapan dapur, isi kulkas, dan stok makanan ringan juga minuman yang kamu mau."


Seperti biasa, Ayumi berjalan di depan, sementara Randy mengikuti di belakang. Dan setelah hampir semua belanjaan masuk ke dalam troli, kini mereka tepat berada di sebuah sudut khusu daging. Ayumi memasukan beberapa potong dada Ayam kedalam sebuah plastik bening, dan Randy beranjak mendekati rak tempat daging sapi slice berada.


"Terimakasih, mas." Kata Ayumi seraya membawa plastik berisikan dada ayam tadi yang baru saja selesai di timbang.


Ayumi kembali mendekati troli belanjaannya yang sudah penuh. Berbarengan dengan Randy yang juga meletakan beberapa kotak berisikan slice beef yang selalu Ayumi beli.


Mereka berdua saling terdiam, menatap satu sama lain dengan perasaan masing-masing. Ayumi yang masih merasa sedih jika melihatnya, sementara Randy yang menyesal karena sudah membuat Ayumi kecewa.


"Ngg, … aku dengar dari Bi Dini kamu masak beef."


"Tidak!" Ayumi menggelengkan kepala dengan raut wajah masam. "Kata siapa? Aku nggak masak apa-apa."


Ayumi langsung pergi, dia berjalan ke arah lorong lainnya, meninggalkan Randy yang masih mematung begitu saja.


Satu jam berlalu. Dan akhirnya mereka keluar dari area perbelanjaan sana, menyusun setiap kantong plastik ke dalam bagasi mobil.


"Mau makan sesuatu dulu?" Randy menutup pintu bagasinya.


"Sesuatu apa? Tadi kita sudah beli banyak cemilan, susu dan minuman lainnya."


"Mungkin ada tempat makan yang mau kamu datangi. Atau mau mampir ke taman untuk jajan disana? Hari masih sore dan cuacanya masih sangat indah."


Mereka berjalan mendekati pintu mobil di kedua sisi yang berbeda. Kemudian masuk bersamaan.


"Jadi, … mau kemana?" Randy menatap Ayumi yang sedang memasang tali seatbelt.


"Sepertinya pulang sajalah." Ayumi memaksakan senyumnya.


Entah kenapa moodnya benar-benar tidak membuat Ayumi bersemangat pergi kemanapun. Dan tentu saja itu Randy rasakan sampai membuat pria itu semakin takut juga khawatir.


***


"Lah, kok malah ke taman jajan? Aku kan nggak minta kesini, aku mau pulang!" Kata Ayumi saat Randy memarkirkan mobilnya di tempat biasa, ketika mereka berkunjung kesana.


Randy tidak menjawab, dia membuka seatbelt nya, lalu keluar tanpa banyak berbicara, membuat Ayumi heran sampai mengikuti Randy yang sedang berjalan memutari mobil.


Dreuk!!


Pria itu membuka pintu di samping Ayumi, membuka seatbelt yang masih melingkar di tubuh istrinya.

__ADS_1


"Ayo turun." Randy meraih tangan Ayumi, dan menariknya perlahan ke arah luar.


Sementara perempuan itu hanya menurut, berjalan tepat di belakang Randy yang terus menarik tangannya ke arah para pedagang yang ada di sana. Randy membeli sepuluh tusuk telur gulung, satu porsi cilok ayam, usus kering, takoyaki dan dua gelas susu jahe merah.


Disanalah mereka. Duduk di bangku taman, menghadap ke arah danau yang terlihat begitu tenang. Suasana taman juga tidak seramai biasanya, membuat keadaan menjadi lebih hening.


"Makanlah. Aku yakin setelah berbelanja kamu pasti merasa lapar!" Tawar Randy seraya memakan telur gulung yang masih mengepulkan uap panas.


Ayumi menatap jajanan yang disimpan di antara keduanya. Kemudian beralih menatap Randy yang kini sedang asik menatap lurus kedepan.


"Masih tidak mau?" Pria itu menoleh.


"Emmmm…"


"Lalu harus bagaimana lagi aku mengembalikan semuanya? Aku tidak suka terus begini, rasanya aneh. Aku tahu aku salah, dan aku menyadarinya, … aku minta maaf! Mungkin kekecewaan kamu semakin bertambah saat kamu bersusah payah masak dan aku tidak pulang? Bahkan aku pulang pada hampir pagi hari? Maaf karena sudah membuatmu sedih." Randy meraih tangan Ayumi dan menggenggamnya.


Ayumi menatap suaminya lekat-lekat.


"Marahlah seperti biasanya, kali ini aku akan diam."


"Aku tidak mau." Ayumi menggelengkan kepala, lalu menunduk menyembunyikan wajah sendunya.


Randy menggeser jajanan yang sempat dia beli, kemudian pindah sampai dia duduk tepat di sebelah Ayumi, tubuh keduanya semakin merapat saat Randy merangkul pundak istrinya.


"Aku tahu kamu masih marah. Kesal, bahkan kecewa! Tapi jangan begini, aku sampai tidak bisa fokus bekerja hanya karena memikirkan bagaimana keadaanmu."


Ayumi terus menunduk.


"Aku takut, … aku takut kalau aku marah dan terlalu banyak berbicara. Nanti Abang pergi lagi, aku tahu aku salah, dan berusaha memperbaikinya dengan cepat, tapi kenapa Abang nggak pulang?" Ayumi mulai menangis.


Dan akhirnya, setelah dia dan berusaha melupakan semuanya. Ayumi meluapkan segala isi hatinya.


"Aku payah. Bahkan aku selalu kalah dengan isi pikiran aku sendiri, aku takut. Di satu sisi aku berpikir mungkin Abang sedang menenangkan diri, tapi di sisi lain pikiran aku bilang kalau Abang lagi senang-senang sama orang lain, sementara aku merasa kesepian dirumah."


"Maaf." Randy semakin mengeratkan pelukannya.


"Abang jahat sama aku, Abang juga jahat sama Baby nya. Aku mau ngambek, mau pergi biar Abang makin pusing nyariin aku, … tapi aku nggak bisa!" Tangisannya semakin pecah.


"Maaf karena kemarin sudah berteriak, maaf karena sudah membuat kamu berpikir yang tidak-tidak, maaf juga untuk semua rasa marah dan kesal yang kamu rasakan!" Dia mengusap perut Ayumi.


Sementara Ayumi semakin membenamkan wajah di dada suaminya, berusaha meredam suara tangisan.


"Daripada aku ditinggal pergi kaya gitu. Lebih baik Abang anterin aku ke rumah Bapak dan Ibu saja, balikin aku sama mereka. Aku mau marah, … tapi aku nggak bisa."


Randy mengusap kepala Ayumi, dan memberinya kecupan beberapa kali sambil terus mengucapkan kata maaf.


"Seandainya aku tidak hamil. Aku sudah pasti pergi dan tidak mau kembali, hati aku sakit."


"Jangan. Jangan pernah melakukan itu, aku bisa gila."


"Kemarin malam setelah mengantarkan makanan ke pos security. Aku sempat berpikir mau pergi saja, aku tidak mau pulang lagi, … tapi bagaimana dengan anakku? Dia pasti butuh ayah, dia akan tumbuh besar dan bagaimana


jika …"


"Sudah!" Randy berbisik. "Aku tidak sanggup membayangkannya."


Ayumi terus menangis.


"Terimakasih karena kamu tidak pergi. Karena jika itu terjadi entah bagaimana aku melanjutkan hidup. Atau bagaimana aku menjelaskannya kepada Ibu, dan orang tuamu."

__ADS_1


"Tapi Abang jahat."


"Ya Abang tahu, Abang minta maaf." Randy semakin mengeratkan pelukannya, mengusap-usap punggung Ayumi, dan membiarkan perempuan itu menangis agar sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya segera hilang.


__ADS_2