
"Kamu baik-baik saja?"
Randy menoleh sekilas saat sedang mengendarai mesin roda empat miliknya, kemudian kembali fokus pada lalu lintas yang sangat padat hari ini.
Ayumi tidak menjawab, dia hanya menatap kendaraan yang berkerumun di depan, yang seketika membuat Randy menghentikan lajunya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
"Ay? Kamu baik-baik saja? Kenapa jadi pendiam seperti ini?" Randy mencondongkan tubuhnya, menatap Ayumi dan menyentuh punggung tangan perempuan itu, dan mengusapnya.
"Sayang?"
"Ya, aku baik-baik saja sebelum kamu dan permen Anggurmu itu beraksi." Ucap Ayumi pelan.
Randy bungkam, menatap Ayumi lekat-lekat.
Ya, perempuan itu terlihat sangat kelelahan, bahkan matanya tampak mengantuk, meski pinggulnya terus bergerak-gerak saat merasa sedikit tidak nyaman di bagian bawah sana.
"Mau mampir untuk membeli sesuatu?" Ayumi menoleh.
"Boleh?" Dia tampak bersemangat.
Randy mengangguk, dia kembali membenarkan posisi duduknya, mengambil alih kemudi, dan mulai menginjak pedal gas hingga mobilnya kembali melaju saat beberapa kendaraan di depannya mulai bergerak.
"Padahal aku sudah sarapan tadi, … tapi kamu membuat aku lapar lagi!" Ayumi menjelaskan.
Randy menoleh, lalu tersenyum.
"Mau makan apa?" Tawar Randy kemudian.
"Emsidi boleh? Aku mau Burger, kentang goreng, sundae stroberi, Apple pie, sama ice coffee jelly."
Randy mengangguk, dia tampak tersenyum, dengan pandangan tak terlatih sama sekali, matanya fokus menatap ke arah depan.
Mobil yang mereka tumpangi terus melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kota yang ramai, juga gedung-gedung pencakar langit yang begitu indah bahkan pada siang hari ini.
Tak hentinya Ayumi menengadahkan pandangan, menatap sekitar, dengan perasaan lain muncul. Bahagia sudah jelas, namun ada yang lain dan entah bagaimana dia harus menjelaskannya.
Perlahan laju mobilnya melamban, mulai menepi, sampai akhirnya berbelok memasuki sebuah restoran cepat saji. Antrian tampak sedikit panjang, hingga mereka harus berhenti dan menunggu, sampai belasan menit lamanya.
"Halo selamat siang." Suara dari mesin itu terdengar.
"Ya, siang." Sahut Randy.
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau pesan, Iced coffee jelly nya dua, double cheeseburger dua, Apple pie satu, kentang goreng satu, dan sundae stroberi nya satu."
"Ya, ada tambahan, Pak?"
Randy menoleh ke arah istrinya yang juga sedang mencondongkan tubuh, dengan raut wajah berbinar.
"Mau ayam spicy boleh?"
Randy mengangguk.
"Tambah satu ayam spicy nya, Mbak. Paha atas tidak pakai nasi." Ucap Randy seolah sudah mengerti kebiasaan istrinya.
"Baik, boleh saya ulangi pesanannya! Dua iced coffee jelly, dua cheeseburger, satu Apple pie, kentang goreng, sundae stroberi, dan ayam spicy bagian paha atas tanpa nasi, … masing-masing satu?"
"Iya."
"Baik silahkan melakukan pembayaran dan, tunggu pesanan anda di depan."
__ADS_1
Randy kembali menginjak pedal gas nya, sampai kendaraan roda empat itu melaju dengan perlahan, dan kembali berhenti di salah satu tempat pengambilan pesanan.
"Selamat siang, Pak? Mau melakukan pembayaran melalui apa?" Seorang pria menggeser jendela kaca.
"Cash!" Jawab Randy singkat.
Pria itu mengangguk.
"Totalnya 365 rb."
Randy merogoh dompet di saku celananya, lalu mengeluarkan empat lembar uang pecahan seratus ribu, dan memberikannya pada pria tersebut, yang langsung diterima dengan senyuman ramah seperti biasa.
"Kembalinya tiga puluh lima, Pak. Pesannya menyusul sekitar sepuluh menit lagi." Dia menyerahkan kembali kepada Randy.
"Baik." Randy menerima kembalian itu.
Jendela kaca itu kembali ditutup, sementara sang pelayan tampan masuk ke arah dalam.
Randy kembali menoleh ke arah Ayumi, yang terus duduk menghadap ke arahnya dengan senyum tipis yang tampak tertahan.
"Dasar, giliran makanan … bisa bikin senyam-senyum seperti itu! Padahal dari tadi diem, cemberut, 5 L."
Kening Ayumi berkerut.
"5 L? Apa?"
"Lemah, letih, lesu, loyo, … love you!"
Ayumi tertawa kencang mendengar itu.
"Nggak tau, pikiranku isinya cuma makanan, selain kamu sama Rambo, … eh …"
Mata Randy memicing tajam, hendak menjawab, sebelum seseorang terdengar memanggil lebih dulu.
"Pak, pesanannya!"
Seorang pria menggeser kaca yang sedari tadi terus tertutup, lalu memberikan pesanan satu persatu.
"Sudah semua yah pesanannya!"
"Terimakasih."
"Terimakasih kembali, selamat menikmati."
Randy segera menutup kaca mobilnya, melajukan mobil dengan kecepatan rendah, keluar dari area sana, dan melesat dengan kecepatan tinggi setelah memasuki jalanan utama.
Dengan antusias nya Ayumi membuat satu bungkusan kertas berwarna coklat, dan membawa keluar satu double cheese burger.
Dia membukanya, lalu menyodorkan kepada Randy.
"Kenapa? Makanlah, aku fokus mengemudi dulu."
"Aaaa dulu, … sayang!" Ayumi sedikit memaksa.
Randy pun menurut, dia membuka mulutnya sebesar mungkin, lalu menggigit burger itu sambil terus memfokuskan diri ke arah jalanan.
"Enak?"
Randy mengangguk.
Ayumi ikut menggigit roti berisi beef, acar timun, keju slice, mayonaise, saus sambal dan tomat, juga mustard, yang begitu terasa nikmat sampai perempuan itu menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
"Ohhh, … ini enak sekali!" Kata Ayumi dengan mulut penuh.
"Hemmm, … enak sama laper tuh beda-beda tipis lah!"
"Nggak, … ini enak Bang!"
Dia kembali menyodorkan bekas gigitannya, yang langsung Randy terima tanpa menolak, karena memang perutnya kembali keroncongan, setelah tenaganya terkuras habis gara-gara pemanasan di pagi menjelang siang tadi.
***
Dan setelah berkendara hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil itu berbelok, memasuki sebuah butik yang terlihat cukup besar.
Gaun-gaun indah dengan berbagai macam desain dan warna terpajang, membuat mata Ayumi berbinar, dan berdecak kagum.
Namun setelah itu dia menatap wajah suaminya dengan ekspresi muram.
"Di dalam ada siapa?"
"Ada pemilik toko, yang sekaligus desainer nya."
"Ada Dokter Aleesa juga?" Kata Ayumi pelan.
"Tidak ada. Hanya pemilik butik dan para pekerjanya."
Ayumi diam, dia terlihat ragu.
"Tidak ramai, tidak ada Aleesa, hanya kita." Randy meremat tangan Ayumi untuk meyakinkan.
Dia menatap mata Ayumi yang terus bergerak-gerak, meyakinkan istrinya yang terlihat sedikit cemas karena kejadian terakhir, yang Ayumi alami cukup buruk, apalagi saat Aleesa mengatakan ucapan yang tidak pantas.
"Hey?" Randy menyentuh pipi Ayumi.
"Benar hanya kita?"
"Iya."
"Baiklah, tapi sebentar yah! Habis itu pulang!"
Randy mengangguk.
"Hanya fitting baju, dan melihat hotel sekaligus bertemu orang dekor setelah itu pulang."
Ayumi menekan tombol berwarna merah di samping kanannya, melepaskan sabuk pengaman, meraih handle pintu mobil di sampingnya, lalu turun.
Dan disusul Randy setelahnya.
Pasangan baru menikah itu saling bergandengan tangan, masuk ke dalam sebuah butik yang dipenuhi berbagai gaun indah di dalamnya.
"Selamat siang, dengan Pak Danendra?" Perempuan sebaya pria itu datang menyapa, lalu mengulurkan tangan untuk saling berjabat.
Randy meraihnya, lalu tersenyum, begitupun dengan Ayumi. Namun perempuan itu terlihat sedikit gugup, sampai dia bergeser ke belakang tubuh suaminya untuk berlindung.
"Silahkan masuk, cari gaun yang cocok, setelah itu kita bisa sesuaikan dengan ukurannya."
"Baik." Jawab Randy, lalu membawa istrinya masuk lebih ke dalam lagi.
Sang desainer sekaligus pemilik butik itu memperlihatkan gaun-gaun yang berada disana, sedikit menjelaskan detail sebelum Ayumi bergerak mendekat dan mulai memilih untuk dia coba.
......................
Jangan lupa dukungannya ya bestot :) berupa like dan komen.
__ADS_1