
"Sudah siap?" Randy menoleh kearah samping, dimana Ayumi duduk tegap dengan tali seatbelt yang melintang di tubuhnya.
Gadis yang baru masuk, dan duduk di kursi samping kemudi itu mengulum senyum, lalu mengangguk pelan.
Perlahan Randy memundurkan mobil miliknya. Dan melaju dengan kecepatan sedang, saat kendaraan roda empat itu memasuki jalanan utama.
Pria itu memutar salah satu tombol, dan alunan musik pun mulai terdengar, menemani keduanya dalam perjalanan malam ini.
Merasa gadis yang duduk di sampingnya terus terdiam. Randy menoleh, melihat kearah Ayumi.
"Kamu takut?" Tanya Randy, kali ini pandangannya lurus kedepan.
"Hemm?" Diam menatap Randy penuh tanya.
"Kamu gugup juga? sampai terus meremat ujung kemeja mu seperti itu?" Randy terkekeh.
"Memangnya kelihatan yah, kalau aku lagi gugup? jujur saja. Jantung ku terus berdebar kencang, apalagi yang akan aku temui itu ibunya kamu, aku harus apa?"
Gadis itu mulai banyak berbicara. Sementara Randy, dia hanya tersenyum dengan pandangan yang terus menatap lurus kearah jalanan.
"Abangg!?" Dia merengek.
"Ya? kenapa? biarkan aku fokus atau kita akan mendapatkan masalah."
"Ih, ... pacarnya lagi panik ..."
"Tidak usah panik. Ibu baik, dia juga tidak akan berbuat jahat kepada mu!" Sergah Randy sampai Ayumi menghentikan ucapannya.
Ayumi diam. Namun matanya terus tertuju kepada pria yang kini tengah mencengkram kuat setir mobilnya.
"Aku harus apa?"
Randy menoleh beberapa detik.
"Tidak ada, ... Ayumi Kirana!" Randy menjawab dengan perasaan sedikit gemas.
"Puter balik boleh nggak sih? beneran aku gugup, aku deg-degan!"
"Kita pergi ke supermarket dulu."
"Aku mau pulang saja."
Randy menjawab dengan gelengan kepala.
"Nanti kamu bisa beli minum, tenangkan dirimu. Lalu kita cari buah untuk Ibu."
"Ta ..."
"Shuttt, ... jangan terlalu banyak bicara! atau mau aku cium?"
Randy menatap Ayumi, dan menggerakan alisnya.
Pria itu sedang berusaha membuat kekasihnya sedikit tenang.
***
Maria bangkit dari sofa ruang tengah, kemudian dia berjalan setengah berlari kearah ruang tamu, saat mendengar suara mobil memasuki halaman rumah anaknya.
Wanita itu menyibakan sedikit gorden yang menjulang menutupi kaca besar rumah itu.
Dia tersenyum saat melihat Randy berjalan kearah sisilain, seperti hendak membukakan pintu mobil untuk sang kekasih.
__ADS_1
"Begitulah dirimu yang sesungguhnya. Manis dan penuh kelembutan, ... bukan seperti beberapa tahun belakangan, saat kau mengatakan bahwa cinta sejati itu tidak pernah ada. Ini bukan salah ayah mu saja, tapi sala Ibu juga, sampai dia tidak bisa lagi bertahan, agar tetap berapa di samping kita." Maria bermonolog.
Setelah itu Maria segera kembali, duduk diatas sofa besar ruang tengah.
Sementara Randy, pria itu terus berdiri dan mencoba membuat perasaan gugup Ayumi sedikit menghilang.
"Ayok, Ibu sudah menunggu di dalam." Dia mengulurkan tangannya.
Pandangan Ayumi menengadah, menatap Randy yang kini tersenyum lembut kearahnya.
"Kemarilah, aku ada disini. Tidak usah gugup!" Sambung Randy kembali.
Bibir Ayumi tampak sedikit bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tak mampu menyampaikannya.
"Ibu tidak akan berbuat buruk kepada mu, aku janji." Randy meraih satu tangan Ayumi, gadis yang saat ini memangku sebuah keranjang buah berukuran sedang.
"Abang?"
"Ya? cepatlah, kasian Ibu jika harus menunggu kita lebih lama lagi." Randy tersenyum samar, lalu menarik Ayumi, sampai gadis itu keluar dan berdiri perlahan.
Mereka berjalan pelahan, menuju kearah pintu utama yang tertutup dengan sangat rapat.
"Apa setelah ini, ... Abang akan menemui orang tua aku juga?" Tanya Ayumi pelan.
Keduanya berjalan dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
"Jika kamu mau, saya akan menemui mereka. Hanya saja, jika kita sudah menemui orang tua masing-masing, kita harus lebih cepat mempertemukan keduanya. Orang tua aku dan kamu."
Ide gila pria itu mulai muncul.
Mereka berhenti tepat di depan pintu masuk.
"Kita harus menikah, karena adatnya memang seperti itu. Jika kamu sudah menemui Ibu ku, lalu aku menemui kedua orang tua mu, ... berarti kita sudah sepakat melangkah ke jenjang yang lebih serius." Katanya lagi.
Ayumi diam. Namun dibeberapa detik berikutnya dia menganggukan kepala sambil tersenyum.
Entah kenapa dia merasa sangat yakin dengan ucapan Randy, kekasih tampannya.
Aih, dia lugu sekali. Hati Randy berbicara.
Klek!!
Randy membuka pintu rumahnya, mendorong perlahan sampai terbuka dengan sempurna.
Ayumi melangkah masuk, gadis itu tersenyum, meski perasaan gugup kembali terasa.
"Kalian sampai?" Suara itu terdengar menggema.
Astaga, harus apa aku sekarang!
Batin Ayumi berteriak.
"Kami mampir ke supermarket dulu. Ayumi ingin membelikan buah untuk Ibu." Ujar Randy kepada Maria.
"Ah tidak usah repot-repot."
Maria kembali bangkit, lalu berjalan mendekat, kearah anak juga calon menantunya yang masih berdiri diambang pintu.
Ayumi mengangkat pandangannya, melihat kearah Maria. Dan betapa terkejutnya dua wanita berbeda usia itu.
"Kamu!" Maria berhenti melangkah.
__ADS_1
"Ibu!"
Ucap keduanya bersamaan.
Randy bingung.
"Kalian?!"
Maria tersenyum, dia mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya.
"Ibu pernah cerita bukan? Ibu bertemu dengan gadis cantik yang akan membeli nasi kucing."
"Benarkah? aku lupa." Randy menatap keduanya bergantian.
"Iya, waktu kamu telat jemput Ibu. Kamu sempat bertemu, tapi beberapa saat setelah dia pergi, kamu baru sampai." Maria terus mengembangkan senyumnya.
Tentu saja dia bahagia.
Begitu pula dengan Ayumi, beberapa kali bertemu dengan wanita paruh baya itu, membuat rasa gugupnya perlahan memudar.
Ayumi maju satu langkah, mengulurkan tangan, lalu meraih tangan Maria untuk dia cium punggung tangannya.
"Senang bisa kembali bertemu dengan Ibu." Kata Ayumi sambil tersenyum malu-malu.
"Ibu tidak menyangka sama sekali, ternyata kamu."
"Dunia memang sempit, Bu." Jawab Ayumi.
"Baiklah, Ibu sudah masak seafood tadi. Jadi ayok makan, nanti keburu dingin."
Maria segera merangkul Ayumi, dan membawa gadis itu kearah dapur bersih, yang juga tersedia meja makan berukuran sedang disana.
Sementara pria itu diam mematung dengan mulut menga-nga, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
Ayumi yang sedari tadi berkata takut, lalu gugup. Kini itu tidak terlihat lagi, malah keduanya terlihat sangat akrab, sampai-sampai meninggalkan dirinya sendirian diambang pintu.
"Ada udang asam manis, cumi goreng tepung, kerang rebus juga ada. Ayok dimakan, Ibu jamin ini lebih nikmat dari pada nasi kucing yang kalian beli waktu itu."
Mendengar itu Randy hanya menghela nafasnya kasar.
"Jadi, ... yang anak dan calon menantu itu siapa?" Gumam Randy sembari menutup pintu rumahnya.
"Abang? kenapa masih disana?" Ayumi memanggil.
Randy tidak menjawab, dia hanya memutas kedua bola matanya.
"Kemarilah, cepat kita makan. Ayu pasti sudah lapar, kasian."
"Kamu sudah tidak gugup lagi?" Sindir Randy, lalu dia duduk di kursi meja makan tepat di samping Ayumi.
"Tidak." Gadis itu menggelengkan kepala, lalu tersenyum lebar, sampai memperlihatkan deretan gigi rapih, putih dan bersih miliknya.
"Kami sudah beberapa kali bertemu tanpa kamu ketahui. Mungkin kalau gadis lain tidak akan langsung seperti ini, tapi karna Ayumi, kita bisa langsung akrab, ya Nak?!" Maria tersenyum, sementara Ayumi menjawab dengan anggukan pelan.
"Belum apa-apa Ibu sudah menguasai Ayumi, menyukai dia dengan sangat berlebihan. Lalu bagaimana aku? Ibu tahu sendiri aku tidak mau ..."
"Berbagi!" Maria memotong ucapan putranya. "Ibu hanya menyukainya, bukan mau mengambilnya dari mu."
"Iya tapi ..."
"Sudah! diam dan makanlah." Tegas Maria, yang seketika membuat Randy bungkam, teridiam seribu bahasa.
__ADS_1