
"Musim baru sudah bisa dipastikan beberapa logo sponsor si cetak di Jersey pemain. Semuanya jelas sudah selesai, teken kontrak tentunya juga sudah lebih awal dilakukan. Jadi saya harap kerjasama ini akan berjalan dengan baik."
Raga menatap beberapa kolega bisnis yang saat ini menghadiri pertemuan di gedung miliknya.
"Kalau begitu rapat bisa kita sudahi, dan selamat melanjutkan aktivitas masing-masing. Mungkin jika ada waktu lengang kita adakan acara makan malam bersama, untuk membuat ikatan kerjasama kita semakin kuat." Lanjut Raga.
Dia bangkit, di susul beberapa orang setelahnya, yang kemudian datang menghampiri, seraya memberikan uluran tangan dan senyum ramah.
"Senang bekerja sama dengan anda, Pak Raga." Ucapnya setelah tangan mereka saling menggenggam.
"Dan saya harap, tawaran untuk membeli pemain baru bisa anda pertimbangkan, … mungkin ambil striker baru yang lebih muda lagi."
Raga mengangguk-anggukan kepala, dia membalas senyuman rekan bisnisnya, mendekat satu langkah, dan menepuk pundak pria yang tampak lebih tua darinya.
"Senang bekerja sama dengan anda juga, Pak Sucipto. Untuk urusan pemain, saya serahkan itu kepada Randy, karena dia yang banyak tahu soal para pemain. Sejauh ini dia belum memberikan saran apa-apa, jadi jika memang butuh, saya akan mempertimbangkan usulan Bapak." Balas Raga.
Setelah itu Raga beralih pada rekan bisnisnya yang lain. Sehingga keberadaannya di salah satu ruangan cukup lama, hanya untuk sekedar berbasa-basi memberikan salam perpisahan.
***
Randy memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup luas. Dimana mobil-mobil mewah juga tampak terparkir di sana, di area sebuah gedung berbentuk bundar yang memiliki beberapa lantai di dalamnya.
Dia keluar.
Postur tubuh yang gagah, dengan bahu lebar, dada bidang, dan pahatan otot di beberapa titik, membuat pesona Randy tidak pernah pudar, meskipun pria itu kini sudah memiliki putri berusia 5 tahun.
"Selamat siang, Pak Randy." Dua orang wanita berpenampilan menarik berdiri di balik meja.
Randy hanya menoleh, kemudian mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Langkahnya terlihat lebar, sehingga dia tampak melesat cepat.
Tring!!
Pintu lift segera terbuka, membuat Randy masuk tanpa banyak berbicara, sampai pintu besi itu tertutup dengan sendirinya. Beberapa detik berada di dalam kotak besi yang bergerak cepat, dan akhirnya Randy kini berada di salah satu lantai, dimana ruangannya berada.
"Selamat siang, Pak?" Sapa seorang office boy.
Randy mengangguk.
"Siang," Dia menyahut.
"Pak Raga sudah selesai meeting?" Lantas pria itu bertanya.
Sang office boy segera menanggapi pertanyaan Randy dengan anggukan.
"Sudah dari dua puluh menit yang lalu, Pak. Bapak butuh sesuatu? Atau mau saya siapkan makanan dan minuman?"
"Lemon tea hangat yah, menghadapi kemacetan membuat kepala saya berdengung, dan terasa sedikit pusing," Keluhnya.
Namun, bukan bayang-bayang kemacetan yang mengganggu pikirannya. Melainkan ulah Bara yang kembali membuat dirinya bersusah payah menyelesaikan beberapa masalah di sekolahan anak itu.
"Baik."
Suara itu membuat lamunannya buyar.
Randy mengulum senyum.
"Terimakasih sebelumnya." Dia memutar tubuh, meraih handle pintu dan menekannya perlahan, lalu kemudian masuk ke dalam ruangan miliknya.
Suasana ruangan yang terasa dingin. Wangi aroma apel yang memenuhi ruangan itu terasa begitu menyegarkan, membuat Randy memejamkan mata untuk beberapa saat, seraya membuka jas yang saat ini dirinya kenakan.
"Oh astaga!" Gumam Randy.
Pria itu mendudukan diri di kursi kerjanya, merapatkan punggung pada sandaran kursi, memejamkan mata, kemudian memijat pangkal hidung perlahan-lahan.
"Raizel saja sudah sangat membuatku pusing. Lalu sekarang di tambah lagi Bara. Rasanya seperti sudah mempunyai dua anak, … padahal baru mau." Randy kembali mengeluh.
__ADS_1
Memory otaknya kembali berputar, mengingat kejadian beberapa jam lalu, saat dirinya menghadap pimpinan sekolah karena pemukulan anak yang hendak berusia 7 tahun itu kepada salah seorang dari temannya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, Om!"
Dan kata-kata Bara terus terdengar, membuatnya merasa semakin pusing, karena sikap anak itu yang tidak terbuka.
Tok tok tok!!
Suara ketukan pintu terdengar, membuat pikiran Randy yang tadinya tertuju pada masalah beberapa waktu lalu buyar.
"Ya?"
Klek!!
"Saya mau antar Lemon tea hangat yang Bapak mau tadi,"
Randy mengubah posisi duduk bersandar menjadi duduk tegak. Pandangannya tertuju pada pintu, dimana seorang pria yang terlihat cukup muda berjalan masuk membawa sebuah nampan, dengan mug berukuran besar di atasnya.
"Kamu pekerja baru?" Tanya Randy.
Pria muda berseragam coklat muda itu memberikan anggukan pelan.
"Pak Yadi meminta saya mengantarkan ini kepada Bapak. Mungkin sekalian uji keterampilan, soalnya terkadang saya masih gugup kalau bawa-bawa sesuatu. Apalagi kalau minuman, takut tumpah!" Katanya jujur.
Dan itu membuat Randy diam, menatap pegawai baru di hadapannya.
"Saya permisi kalau begitu, Pak. Mari!"
"Tunggu! Siapa namamu? Bukankah kamu anak baru? Lalu kenapa tidak memperkenalkan diri?"
Orang yang Randy maksud pun berhenti tepat di ambang pintu.
"Nama saya Bahdim, Pak."
"Usia saya tujuh belas tahun, Pak. Bulan lalu baru lulus sekolah, saya ikut kerja bersama Pak Yadi."
"Kalian memiliki ikatan? Seperti saudara dekat atau jauh misalnya?"
"Pak Yadi Kakaknya Ibu saya Pak." Dia menjawab.
Randy mengangguk.
"Baiklah, kau boleh kembali bekerja."
Dan setelah mendengar penuturan dari sang atasan, Bahdim pun keluar, tak lupa membuat pintu ruangan itu kembali tertutup seperti sebelumnya. Tangan kanan Randy terulur, meraih pegangan mug, dan membawanya mendekat, sehingga aroma segar dari perpaduan teh dan lemon mulai menyapu indra penciuman.
"Ya Tuhan!" Gumam pria itu setelah menyesap minuman miliknya. "Ini nikmat sekali!" Ucap Randy lagi sembari memejamkan mata.
Tak!
Dia meletakan mug nya di atas meja kayu, dimana terdapat beberapa peralatan kerja disana.
Tok tok tok!!
Lagi-lagi pintu ruangannya terdengar di ketuk dari arah luar.
Klek!
Belum sempat menjawab, seorang dari arah luar membuka pintu ruangannya cukup kencang, lalu munculah sosok pria yang memiliki kekuasaan di gedung tersebut.
"Hhhhheuh! Kebiasaan," Randy berbisik.
Bahkan kedua bola matanya sedikit terlihat mendelik.
"Bagaimana, Bara? Apa semua sudah selesai, Ran?" Raga segera bertanya.
__ADS_1
Pria itu menatap asistennya lekat-lekat, seraya mendudukan diri di sofa yang tersedia, tentunya setelah menutup pintu ruangan milik Randy lebih dulu.
"Sudah selesai, Pak. Beruntung orang tua murid tidak menuntut apa-apa, dia memaklumi cara bermain anak-anak yang memang terkadang suka terbawa suasana hingga lepas kendali," jelas Randy.
Raga mengangguk-anggukan kepala, wajah tegangnya kini mulai berubah. Sehingga hembusan nafas penuh kelegaan kembali Randy dengan dengan jelas.
Pria yang hampir berusia 38 tahun itu tertawa.
"Kenapa juga bisa berdarah. Memangnya apa yang Bara lakukan sampai terjadi seperti itu?" Raga mengingat sikap putra pertamanya yang sedikit pendiam.
"Jelas, Pak. Bara menyikut hidung temannya cukup kencang, setidaknya itu yang diberitahukan oleh teman-teman sekelas Bara." Sahut Randy.
Dia terlihat sedikit malas menghadapi atasannya. Alasannya apa, Randy pun tidak tahu, hanya saja Randy merasa tidak suka setiap kali melihat Raga tertawa.
"Pasti ada alasannya Bara berbuat begitu,"
"Kalau untuk alasan Bara masih tidak mau mengatakan apa-apa. Sementara temannya yang kena pukul juga tidak mau berbicara, jika ditanya dia hanya menjawab dengan gelengan kepala."
"Kamu tidak bisa membuat Bara berbicara?"
Sorot mata Randy memicing tajam, menatap Raga yang sedari tadi terus tersenyum-senyum tanpa henti.
"Tidak usah memperlihatkan wajah bahagiaku kepadaku seperti itu, Ran. Biar aku saja yang bertanya langsung nanti kepada Bara, … kamu tidak usah repot-repot, setelah ini kamu boleh santai, atau mungkin menyusun rencana untuk segera memberikan El Adik. Bukan kah bagus? El sangat dekat dengan Bara, lalu adiknya mereka juga memiliki kedekatan yang sama. Jadi ayo, Balqis sudah mengandung anak kedua kami, kamu kapan?" Katanya sambil terus tersenyum.
Bahagia katanya!
Randy menggerutu di dalam hati. Raut wajah masam terus Randy perlihatkan. Namun, Raga terlihat terus tersenyum-senyum sendiri.
Dan mungkin kabar kehamilan Balqis lah yang membuat Raga tampak sangat bahagia hari ini. Tidak seperti biasanya yang selalu terlihat tegang dan dingin dalam segala situasi.
Randy tidak menjawab. Sementara Raga mulai bangkit dari duduknya, dan berniat untuk pergi setelah merasa sang asisten memang terlihat cukup berbeda.
"Akan sangat bahaya jika aku terus mengganggunya." Batin Raga berbicara, dengan perasaan was-was yang juga mulai terasa.
Karena tidak bisa di pungkiri, mata tajam Randy terlihat sangat mengintimidasi, dan itu cukup membuat Raga gugup.
"Oh iya!" Raga memutar tubuhnya, saat jarak dirinya dengan pintu keluar hanya tinggal beberapa sendi saja. "Bagaimana kalau Bara dan Raizel kita jodohkan saja? Akan menggemaskan seperti di novel-novel bukan? Atau seperti di film drama? Bara tampan seperti Papi nya, dan El sangat menggemaskan seperti kau." Kedua sudut bibirnya kembali tertarik saling berlawanan.
Randy mendengus kencang.
"Hari ini saja, Pak. Saya mohon untuk tidak diganggu dulu, kepala saya rasanya mau pecah, Pak!" Randy merengek.
Matanya berkaca-kaca, bahkan telapak tangan pria itu terlihat mengusap wajahnya beberapa kali, membuat Raga sedikit terheran-heran.
"Saya mohon disini saja, … saya sudah sangat pusing dengan keadaan rumah. Apalagi tingkah Raizel yang tidak hentinya mengurusi tanaman tomat yang baru saja tumbuh. Jadi saya mohon kepada Bapak untuk tidak mengganggu aktifitas saya sekarang. Biarkan saya diam dan mengerjakan pekerjaan saya seperti biasa tanpa gangguan apapun, … saya mohon!" Randy mengubah.
Pria itu terlihat sedang menahan tangisnya.
Raga menjengit, raut wajahnya terlihat semakin bingung, karena Randy tidak biasanya seperti itu, meskipun pembawaan sang asisten selalu terlihat lebih dingin dan cuek dari dirinya sendiri.
"Kau ini …"
"Pak! Saya mohon, jangan ganggu saya sekarang, kepala saya sedang pusing!" Sergah Randy.
"Pusing?"
"Hemmm, … dan sepertinya nanti sore saya tidak bisa mengantarkan Bapak ke Stadion untuk melihat anak-anak latihan. Saya lelah, sepertinya saya butuh istirahat total."
Raga hendak kembali membuka suara. Namun, Randy mengangkat satu tangannya, dengan satu tangan yang lain menutupi daun telinga.
"Saya mohon tinggalkan saya sendiri, Pak!"
Randy kembali memohon, yang membuat Raga tidak bisa lagi berkata-kata, dan melakukan sesuatu selain pergi meninggalkan Randy yang saat ini terlihat sangat berbeda.
"Lebih baik ku selamatkan diri, … dari pada dia merajuk dan meminta mengundurkan diri. Berabe urusannya." Ujar Raga saat pria itu keluar dari ruangan asisten pribadinya.
__ADS_1