
Suara monitor terus terdengar, bersahutan dengan suara Dokter dan beberapa asisten nya yang sedang menangani Ayumi. Sementara Randy mulai mendekati sebuah inkubator, dimana sesosok Bayi mungil berada di dalamnya, dengan hanya mengenakan papers, dan sebuah gelang di tangan kecilnya, bertuliskan nama sang istri, tanggal, bulan, tahun juga jam lahir putrinya.
Kulit putih bersih, dengan bibir merah yang terus bergerak-gerak, seolah mencari sesuatu yang bisa dia minum.
Dan itu sangat menggemaskan, membuat Randy tersenyum dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
Randy semakin membungkukan tubuh tingginya, mendekatkan wajah pada sebuah celah lingkarang berukuran cukup besar, lalu mengumandangkan adzan dengan suara yang bergetar dan air mata yang mulai bercucuran.
Entah harus bagaimana lagi Randy mengucapkan kata syukur. Saat Ini Randy hanya bisa tersenyum samar dalam tangisannya. Ketika semua yang dia takutkan sudah benar-benar berlalu.
***
Randy keluar dari ruang operasi, yang langsung disambut Maria, Tutih, Ali dan Amar.
Mereka semua berdiri, menatap Randy penuh harap. Waktu yang cukup lama, membuat semua orang bertanya-tanya dengan keadaan Ayumi dan Bayinya saat ini.
Namun, lagi-lagi Randy tidak bisa berkata apa-apa. Dia mendekati ibunya, lalu memeluk Maria dengan sangat erat, kemudian menangis.
"Ran?" Maria sempat panik.
Bahkan wanita itu mendorong tubuh putranya, mengguncang lengan Randy dan meminta jawaban.
"Kenapa?" Mata Maria membulat sempurna, dia benar-benar ketakutan.
Pun dengan Ali, Tutih dan Amar. Mereka segera mendekati Randy untuk mendengar kabar yang dia ketahui.
"Ahh, … di dalam sana sangat menakutkan! Semuanya terjadi dengan jelas di hadapanku, dan aku tidak bisa melakukan apapun selain terus membuat Ayumi tenang, walaupun sesungguhnya aku sangat takut semua tidak dapat berjalan dengan lancar."
Randy bersimpuh di hadapan ibunya, memeluk pinggang wanita paruh baya itu dengan sangat erat, dan isakan yang terus terdengar semakin kencang, membuat beberapa orang mengalihkan pandangannya ke arah Randy.
"Tolong jelaskan. Apa Ayumi baik-baik saja?" Amar segera mendekat.
Randy menengadahkan pandangan, menatap Kakak iparnya yang saat ini berdiri tepat di samping Maria.
"Dia baik-baik saja. Bayinya juga, semuanya berjalan lancar, … sementara itu sekarang Ayumi dibawa ke ruangan observasi sebelum nanti dipindahkan ke ruang rawat inap." Jelas Randy.
Yang seketika membuat semua orang yang menunggu dapat bernafas lega.
"Sudah. Jika Ayumi baik-baik saja, maka tidak usah menangis, … lebih baik ceritakan bagaimana cucu Ibu. Apa dia cantik, dia lebih mirip siapa? Kamu atau Ayumi?" Maria membungkuk, meraih tubuh putranya untuk berdiri, dan duduk di kursi tunggu yang dia tempati selama berjam-jam lamanya.
Randy mengusap wajahnya. Kali ini pria yang selalu berpenampilan rapi itu terlihat sedikit berantakan. Terutama wajah yang terlihat sembab, karena sedari tadi pria itu terus menangis haru.
"Emmmm, … Bapak coba cari makanan dulu di luar, mungkin Randy butuh makan atau minum agar bisa mengendalikan keadaannya kembali seperti biasa." Ucap Ali.
Dia beranjak pergi, membawa Amar bersamanya.
***
Dan akhirnya.
Setelah menunggu dengan waktu yang sangat lama. Ayumi kini berada di dalam sebuah ruang rawat inap yang terlihat sangat besar dengan segela fasilitas yang ada.
__ADS_1
Beberapa sofa dengan ukuran besar, televisi, meja makan, dan sebuah kitchen set minimalis, yang hanya ada microwave di sana, juga beberapa laci terdapat piring dan gelas di dalamnya.
"Jika ada sesuatu, tombolnya bisa ditekan. Nanti kami akan segera datang." Jelas seorang wanita berseragam rapi, seraya memeriksakan kecepatan setiap tetesan air infusan yang langsung terhubung ke pembuluh darah Ayumi.
"Baik, terimakasih Sus!" Ucap Ayumi.
Wanita itu hanya tersenyum, mengangguk kepada beberapa anggota keluarga lain, lalu keluar membawa sebuah catatan hasil pemeriksaan sebelum dia benar-benar meninggalkan Ayumi untuk beristirahat.
Randy segera mendekat, menarik sebuah kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur Ayumi.
"Hay, bagaimana? Posisinya sudah nyaman?" Dengan sorot mata berbinar Randy menatap istrinya yang sedang setengah berbaring di atas sebuah tempat tidur khusus berukuran besar.
Ayumi tersenyum, dia menganggukan kepalanya.
"Ada Bapak, Ibu, dan Amar."
"Hemmm, … maaf membuat kalian khawatir!" Ucap Ayumi dengan suaranya yang terdengar lemah.
"Tidak. Jangan banyak berbicara dulu! Kamu harus benar-benar istirahat sekarang, agar segera pulih dan pulang ke rumah." Tutih berujar, dia mendekat dengan mata berkaca-kaca.
"Aku baik-baik saja." Ayumi menjawab.
"Mana mungkin. Seorang Ibu yang baru saja selesai operasi merasakan bahwa dirinya baik-baik saja." Cicit Tutih sedikit kesal.
Membuat semua orang terkekeh.
"Aku serius, bahkan aku nggak ngerasain sakit!"
"Bagaimana bisa?" Maria menatap Randy dan Ayumi bergantian.
"Bisa, Dokter melakukan metode ERACS."
"Hah? Apa itu?" Kini Tutih yang bertanya.
"Enhanced Recovery After Cesarean Surgery. Adalah metode operasi caesar yang memberikan proses perawatan dan penyembuhan lebih cepat. Tentu saja itu Randy lakukan agar Ayumi mendapatkan penanganan terbaik." Jelas Randy.
"Benarkah? Sekarang aku percaya jika adikku berada bersama orang yang tepat." Amar tiba-tiba berbicara.
Plak!!
Ali menepuk pundak anak pertamanya cukup kencang, dia berusaha memperingati gaya bicara Amar yang sedikit ceplas-ceplos.
Sementara Randy hanya tersenyum.
"Apa bedanya?" Maria kembali bertanya.
"Tidak tahu, seperti untuk pertanyaan Ibu yang satu ini harus Dokter yang menjelaskan. Yang pasti metode ini banyak dipakai oleh artis-artis."
Mendengar penjelasan itu Maria dan Tutih segera mengangguk.
"Oh, aku order makanan dulu untuk kalian." Randy berdiri, berniat untuk pergi.
__ADS_1
Namun Amar segera menahannya.
"Mau apa? Istrimu sedang disana membutuhkanmu!"
"Membeli makanan, memangnya kalian tidak lapar?"
Amar menadahkan tangannya.
"Berikan kunci mobilmu, aku saja yang pergi."
Randy mengangguk, dia merogoh kunci mobilnya dan memberikan kepada Amar.
"Beli apapun yang menurutmu dapat mengganjal perut." Pinta Randy.
Dia membawa dompetnya, mengeluarkan beberapa uang dan memberikannya kepada Amar. Tapi lagi-lagi pria itu menolaknya.
"Gajiku naik." Dan setelah mengatakan itu dia pergi ke arah luar.
"Jangan diambil hati. Amar memang begitu!" Tutih menatap menantunya.
Randy hanya tersenyum, dia kembali mendekati istrinya, dan menggenggam tangan itu seolah takut jika Ayumi akan pergi.
"Aku mau makan. Tapi belum kentut!"
Ucapan itu sontak membuat semua orang tertawa.
"Sabar dulu, nanti kalau sudah kentut apapun boleh kamu makan."
Ayumi menghela nafas.
"Anak kita gimana? Aku belum lihat, tadi katanya belum boleh lihat bayi, aku harus istirahat dulu."
Randy mengangguk.
"Mungkin besok dia dibawa kesini, sekarang istirahat saja dulu. Kamu kamu pasti lelah, atau mungkin mengantuk, … jadi ayo tidur." Pinta Randy dengan ekspresi bahagia.
"Kamu juga istirahat, Ran!" Maria meminta.
Randy menatap istrinya.
"Kalau ngantuk, tidur aja tidak apa-apa." Ayumi menyentuh pipi Randy, lalu mengusapnya.
Dia tahu betul jika semalam Randy terjaga, hanya karena ingin memastikan dirinya baik-baik saja. Khususnya bayi di dalam kandungan yang terdeteksi semakin melemah, sampai pada pagi harinya operasi Ayumi sedikit dipercepat, karena khawatir terjadi sesuatu yang fatal.
"Tidak apa-apa? Semalam aku tidak bisa tidur." Katanya, dia terus tersenyum kepada Ayumi.
Perempuan itu mengangguk.
Dan langsung saja Randy bangkit, dia berjalan mendekati sofa lainnya yang kosong, dan mulai berbaring disana, berniat mengistirahatkan diri dari segala rasa lelah yang bahkan pria itu rasakan sejak semalam.
......................
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan hadiahhh!!