
"Kalian beli tomat sebanyak ini?" Tutih menatap Ayumi juga Randy yang baru saja sampai.
Dua orang yang duduk di sofa ruang tengah pun hanya tersenyum. Sangat berbeda dengan Sumi, Maria, Tutih dan Ali yang terlihat begitu heran.
"Ayumi yang beli, buat stok." Perempuan itu menjawab dengan senyum merekah yang selalu dia perlihatkan.
Suasana terasa begitu hangat. Semua orang tua berkumpul untuk menikmati kebersamaan di desa kelahiran mereka. Ditemani berbagai macam makanan dan minum, juga beberapa kue jadul yang memang sengaja Maria bawa sebagai buah tangan untuk berkunjung ke rumah besannya.
Namun, lagi-lagi salah satu anggota rumah Ali tidak ikut bergabung. Seperti biasa Amar memilih pergi daripada bertegur sapa dengan orang-orang, termasuk Ayumi yang masih sangat dia benci.
Pria itu benar-benar belum bisa berdamai dengan rasa sakit hati di masa lalunya.
"Sebelum menikmati makan siang, kita mau menunjukan sesuatu dulu." Ucap Randy kepada seluruh orang tua.
Kemudian menoleh, menatap Ayumi yang langsung menganggukan kepala.
"Sebentar!" Ayumi segera meraih satu paperbag kecil, dan meletakkannya di atas meja, membuat para wanita saling memandang satu sama lain, semantara Ali terlihat senyum memperhatikannya.
"Apa ini?" Maria bereaksi terlebih dulu.
"Apa kalian membeli sebuah hadiah?" Sumi ikut bertanya, saat melihat satu kotak berukuran kecil di dalamnya.
"Iya, … ini hadiah dari Ayumi! Bukalah." Tukas Randy.
Tutih mengangguk, kemudian menoleh ke arah Maria juga Sumi.
"Silahkan, mau Bu Sumi atau Bu Maria!"
"Bu Tutih saja!" Jawab keduanya bersamaan.
Tutih terdiam, dia merasa tidak enak hati. Apalagi kepada Sumi. Mereka memang belum terbiasa bersama, sampai sedikit rasa cemburunya terhadap hubungan baru ibu dan anak itu membuat keadaan sedikit menjadi lebih canggung.
Apa Tutih cemburu? Tentu saja. Ibu mana yang bisa segera menerima jika putri yang di besarkannya kini memanggil Mama kepada wanita lain.
Walaupun Sumi yang melahirkan Ayumi. Tentu di dalam benaknya Tutih lah yang menelantarkan Ayumi, dan setelah dia berhasil membesarkannya, kini Sumi datang untuk menggeser posisinya sebagai seorang ibu.
Pikiran Sumi berkecamuk.
"Bu? Ayo dibuka, Bu Sumi dan Bu Maria sudah menunggu!" Ucapan dari Ali jelas membuat Tutih tersentak, saat lamunannya buyar begitu saja.
"Ayo Bu, dibuka." Sambung Randy dengan raut wajah berbinar.
Akhirnya Tutih mengangguk, dia membawa satu kotak berukuran kecil, menoleh ke arah Sumi dan Maria, lalu mulai membukanya dengan perlahan.
"Apa ini? Maria mendekatkan pandangan, melihat dua benda berukuran kecil di dalam sana.
"Ini …" Tanyanya saat melihat benda kecil itu dengan dua garis merah.
Sumi langsung menatap Ayumi, dengan raut wajah tidak percaya, seolah mencari pembenaran dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
Ayumi menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan senyum dengan mata yang berkaca-kaca, dan segera menganggukan kepalanya.
"Kamu hamil, Nak?" Sumi bereaksi.
Matanya ikut berkaca-kaca.
"Iya, pemeriksaan awal baru 2-3 Minggu. Tapi agar lebih pasti harus periksa ke Dokter kandungan!" Jelas Ayumi.
Mendengar penuturan itu Tutih bungkam, dia tidak bisa berkata-kata. Sementara Sumi langsung mendekat, dan memeluk Ayumi erat, bahkan dua perempuan berbeda usia itu menangis, menyalurkan rasa bahagia satu sama lain.
"Ya ampun, kita akan segera mempunyai cucu." Maria tersenyum merekah.
Begitu pun dengan Ali, raut kebahagiaan dia perlihatkan kepada Randy.
Apa setelah ini Ayumi akan benar-benar melupakan aku? Melupakan ibu yang membesarkannya, dan menggeser aku dan menggantikan posisi ini dengan Sumi, ibu kandungnya?
Batin Tutih menjerit saat melihat interaksi Ayumi dan Sumi.
Keduanya terlihat begitu dekat. Bahkan dia mampu merasakan begitu banyak perbedaan, antara sikap Ayumi kepada dirinya, dengan sikap Ayumi kepada Sumi.
Tentu saja, yang mereka miliki bukan hanya rasa cinta dan kasih, namun ikatan batin yang begitu kuat.
Apa aku mulai tidak terima? Apa aku mulai takut Ayumi akan benar-benar pergi? Dan memilih hidup dengan ibu kandungnya? Dan melupakan aku sebagai ibu yang dia sangat sayangi?
"Bu?" Panggil Ali saat melihat istrinya terdiam, menatap interaksi Ayumi juga Sumi.
"Apa Ibu sangat terkejut?" Randy terkekeh saat mulai menyadari.
"Bu Tutih?" Maria menepuk pundaknya.
Dan akhirnya wanita itu tersadar lagi, dia menatap Maria, beralih pada sang suami, kemudian Randy yang sedang tersenyum kepada dirinya.
"Emmm, … ini kejutan yang sangat luar biasa, Ibu sampai tidak bisa berkata-kata." Tutih tersenyum samar.
"Selamat, kamu akan segera menjadi Mommy!" Sumi menatap lekat-lekat wajah putrinya, mengusap kedua pipi Ayumi dengan sangat lembut.
"Iya, Ma."
"Ba-bagaimana kandungannya? Maksud Ibu, apa keadaan janinnya baik dan sehat?"
"Sehat, Bu." Jawab Ayumi sambil tersenyum seperti biasa.
Tutih mengangguk, kemudian meletakan kotak tersebut.
"Bapak ikut bahagia mendengar kabar ini, Ay!"
__ADS_1
Ayumi tersenyum.
"Baiklah, ini sudah lewat siang hari. Mari kita kebelakang, makan siang kita sudah berada di bale-bale."
Ali segera berdiri, berjalan lebih dulu ke arah pintu belakang, menuju bale-bale yang terletak di halaman belakang rumah.
Setelah itu Tutih ikut bangkit, mengikuti kemana suaminya melangkah, di susul Maria, Randy, Ayumi dan Sumi setelahnya.
***
Dan setelah melakukan makan siang bersama. Mereka terlihat berbincang-bincang santai, tapi tidak dengan Tutih, dia memilih mendekati Ayumi yang sedang asik menikmati potongan tomat segar buatan Randy yang dicampurkan dengan gula pasir.
"Ay?"
Ayumi segera mengangkat pandangan, menatap ke arah suara saat ibunya memanggil dengan suara cukup pelan.
Dia tersenyum.
"Ibu, mau coba?" Tawarnya dengan senyum manis dan hangat yang selalu Ayumi perlihatkan.
Namun entah kenapa, gundah gulananya tak kunjung hilang, walau hatinya terus berkata jika Ayumi tetaplah putrinya.
Sumi menggelengkan kepala, kemudian duduk di samping Ayumi yang kembali sibuk menyantap potongan tomat yang diletakkan di dalam mangkuk berukuran sedang.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku baik, Bu!"
"Kamu membuat Ibu sangat khawatir saat kamu tiba-tiba pergi, dan menemui Bu Sumi."
"Aku baik-baik saja." Ayumi terus fokus pada mangkuknya.
"Lain kali jangan seperti itu."
"Tidak akan, aku sudah menemukan Mama. Jadi tidak akan lagi seperti itu!"
Tutih hendak menjawab. Namun kedatangan Maria Randy dan Sumi membuatnya mengurungkan niat.
"Kami pamit pulang dulu, kapan-kapan kita harus berkumpul lagi, agar Ayumi tidak merasa kesepian." Pamit Maria kepada Tutih.
"Iya, Bu Maria."
"Saya juga pamit pulang Bu." Sumi tersenyum, yang segera dijawab anggukan oleh Tutih.
"Ay, Mama pulang yah. Malam ini bermalam di rumah Bu Maria, tidak usah khawatir."
"Iya Ma." Dia meletakan mangkoknya, bangkit lalu memeluk Sumi, juga mencium kedua pipi wanita itu.
Dan pemandangan itu kembali membuat dada Tutih terasa sesak. Akal sehatnya benar-benar tidak bisa menerima jika ada wanita lain yang datang secara tiba-tiba, dan merebut perhatian juga cinta kasih Ayumi yang awalnya hanya gadis itu berikan untuk dirinya.
"Iya." Jawab Ayumi.
Ketika orang itu segera beranjak.
"Ibu antar mereka dulu, tidak apa-apa Ibu tinggal disini bersama Bapak?"
"Iya, Bu."
***
Amar menatap kepergian Randy bersama dua wanita dari kejauhan. Dan setelah itu dia beralih melihat wanita yang berdiri di ambang pintu, dia terlihat diam, dengan raut wajah yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata, tapi Amar tahu saat ini ibunya sedang merasa tidak baik-baik saja.
Perlahan kakinya kembali melangkah, mendekati pintu rumah yang hampir saja Tutih tutup.
"Mereka sudah pulang?" Amar menahan pintu rumahnya.
Tutih sedikit terkejut, dia menatap putranya yang baru saja tiba, lalu melebarkan pintu dan membiarkan Amar masuk tanpa menjawab pertanyaan Amar.
"Ibu sedih?"
Tutih menutup pintu, lalu menggelangkan kepalanya.
"Ibu bohong!"
"Tidak, Mar. Ibu hanya takut saja, dan takut yang Ibu rasakan tidak beralasan!"
Wanita itu segera duduk di sofa ruang tamu, di susul Amar yang langsung duduk di samping Ibunya.
Pria itu merasa sangat khawatir.
"Takut apa? Ada aku disini sekarang! Tidak mungkin ada rentenir yang akan mengancam kalian lagi, kali ini biarkan aku yang pasang badan. Lagi pula bukannya hutang kalian sudah Ayumi lunasi?"
Tutih tidak manehab. Dia hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, kemudian memejamkan mata, merasakan sesuatu yang terasa mulai menghilang dari bagiannya.
"Bu?"
"Kamu tahu Adikmu sudah menemukan Ibu kandungnya?" Tanya Tutih tanpa mengubah apapun.
Dia terus dengan posisi yang sama dengan mata terpejam.
"Iya, Ibu bicara kemarin malam. Bahkan sampai tadi pagi Ibu terus membahasnya."
Tutih menghela nafas.
"Apa terjadi sesuatu? Dia mengatakan sesuatu kepada Ibu? Sampai membuat Ibu menjadi gundah gulana seperti ini?"
__ADS_1
Amar merangsek lebih mendekat, menatap wajah gusar ibunya dengan seksama.
"Tidak ada. Hanya saja Ibu sedang merasa tersaingi saat ini. Ada seseorang masuk, dan dia merebut semua perhatian Ayumi."
Amar diam, raut wajahnya mulai berubah.
"Ibu takut Ayumi akan melupakan kita. Ibu tidak bisa tanpa Ayumi, dia kehidupan Ibu, Ibu membesarkannya dan Ibu tidak mau berbagi cinta Ayumi kepada siapapun."
Amar terus diam. Emosinya tiba-tiba saja terasa memuncak, dia tidak terima jika Ayumi membuat Ibunya merasa gelisah dan bersedih.
Cukup lama Amar memperhatikan, menatap wajah Tutih lekat-lekat dengan segala pikiran yang ada di dalam isi kepala.
"Dia berbuat sesuatu? Sampai membuat Ibu berpikiran seperti itu?"
Tutih diam, dengan sudut mata yang mulai mengeluarkan air.
"Anak itu benar-benar yah!"
Amar segera bangkit, kemudian berjalan ke arah pintu belakang rumah.
Tutih terkesiap, dia ikut bangkit dan berusaha meredam Amarah putranya yang mungkin saja akan meledak.
"Amar!?"
Pria itu berdiri di ambang pintu, menatap Ayumi yang sedang menikmati sesuatu, ditemani ayahnya sampai kedua ayah dan anak itu tertawa-tawa pelan.
"Amar!"
Panggil Tutih lagi, tapi dia tidak mendengar. Amar kembali melangkahkan kaki, mendekati Ayumi dengan langkah cepat, dan tanpa basa-basi dia menepis mangkuk Ayumi, sampai potongan tomat berserakan di atas tanah saat wadah berukuran sedang itu terjatuh.
Pandangan Ayumi menengadah, menatap Amar penuh tanya.
"Mar? Kenapa ini?" Ali langsung bereaksi.
"Dasar anak nggak tahu diri, pembawa sial, nggak tahu di untung!" Pria itu berteriak.
"Amar!" Tutih meraih lengan Amar, namun dengan sekali gerakan Tutih terhuyung ke belakang sampai terjatuh.
"Ada apa ini?" Ali ikut berdiri, dia mendekati Amar, berusaha meredam amarah anak pertamanya yang selalu meledak-ledak, bahkan tanpa sebuah alasan.
"Dia ini tidak tahu diri sekali. Di urus dari Bayi, sudah besar, mempunyai suami yang kaya, lalu menemukan Ibu kandungnya, dan dengan sangat gampangnya dia melupakan Ibu!" Amar berteriak kencang.
"Maksudnya?" Ayumi bingung, dengan raut ketakutan yang sangat jelas terlihat.
Amar segera meraih kerah dress yang Ayumi kenakan, mencengkramnya kencang, membuat Ali segera menariknya, namun lagi-lagi Amar mendorongnya dengan sangat kencang, sampai terjatuh.
Hingga tidak ada yang bisa mendekatinya sedikit pun.
"Tidak tahu diri! Bisa-bisanya kau melakukan itu kepada Ibuku, setelah apa yang sudah dia lakukan kepadamu!" Geram Amar.
"Amar hentikan!" Tutih berteriak, dia berusaha menarik Amar.
"Aku tidak berbuat apapun." Jawab Ayumi dengan suara bergetar.
Tubuh Ayumi mulai bergetar, apalagi saat melihat kilat kemarahan di dalam manik Kaka laki-laki nya.
"Dasar anak pungut, tidak tahu diri, cacat, penyakitan!" Amar kembali mengucapkan kata-kata menyakitkan itu.
"Hey!!"
Tiba-tiba saja suara teriakan seorang pria terdengar.
Randy berlari mendekat, meraih tubuh Amar dan langsung mendaratkan beberapa pukulan di wajah.
"Apa yang kau lakukan kepada istriku, hah!?" Randy berteriak sangat kencang tepat di hadapan wajah Amar.
Ini kali pertama mereka bertemu, namun terkesan tidak baik karena Randy mendapati Amar melontarkan kata-kata tidak pantas kepada kekasih hatinya.
"Bukan urusanmu!" Amar membalas pukulan di wajah Randy.
Membuat Ayumi berteriak histeris, dan segera mendekati suaminya.
"Abang!?" Ayumi berusaha menjauhkan Randy dari Kaka laki-lakinya.
"Dasar bajingan, lawanmu bukan istriku, lawanlah aku. Kita sepadan jika harus saling berbagi pukulan." Randy menggeram, menahan emosi yang sudah meluap.
Dia sudah pasti menghabisi Amar, setidaknya luka ringan yang akan pria itu dapatkan adalah tulang rahang yang bergeser, hanya saja Ayumi terus menarik tangannya sambil terus memohon.
"Sayang sudah, aku mohon jangan begini, bibir kamu sudah berdarah!" Ayumi menyentuh dada suaminya yang terasa berdebar-debar.
"Sekali lagi kau berbuat buruk kepada istriku, maka pilihanmu ada dua. Kuburan atau rumah sakit." Randy.
"Sayang!" Cicit Ayumi pelan, dia terus mendorong tubuh Randy untuk menjauh. "Jangan aku mohon!" Ayumi memohon lagi.
"Jika Ibu dan Bapak mau menemui Ayumi, maka datang ke rumah kami. Saya tidak mengizinkan Ayumi datang kesini lagi, bajingan itu akan kembali membuat keadaan mentalnya down, setelah aku berusaha menyembunyikannya." Jelas Randy.
Dia berbalik badan, lalu menarik Ayumi pergi dari sana.
Sementara Ali dan Tutih menatap Amar dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Lagi-lagi kamu membuat masalah, Mar!" Ali bangkit, lalu melenggang ke dalam rumah.
"Kenapa kamu selalu bertindak semena-mena? Setidaknya dengarkan saja Ibu jika Ibu sedang meluapkan rasa risau, tidak usah bertindak berlebihan." Tutih ikut kecewa.
Dia pun pergi meninggalkan Amar.
__ADS_1
"Cih! Bahkan saat aku membela Ibu, dan Ibu terus membela dia." Katanya sembari memegangi pipinya yang terasa begitu sakit, juga perih di sudut bibirnya yang robek, hasil pukulan Randy yang sangat kencang.