My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 196 (Panik)


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Randy memutar setir mobilnya, memasuki sebuah garasi rumah yang terletak di cluster elite yang sudah dia huni kurang lebih 5 tahun lamanya, dan 1 tahun belangan bersama wanita yang sangat dia cintai.


Tepat pukul 16.00 WIB Randy pulang dari kesibukannya sebagai seorang asisten pribadi. Memasuki rumah besar yang terasa begitu sunyi. Randy mulai melepaskan jas yang dia kenakan, seraya menelisik setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan istrinya.


Dia masuk kedalam kamar, namun Ayumi tidak ada di dalam sana, membuat Randy kembali dan melangkahkan kaki ke arah pintu taman belakang yang terlihat di buka selebar mungkin seperti biasa, tapi Randy tetap tidak menemukan istrinya disana.


"Bi? Lihat Ayumi?" 


Randy bertanya ketika asisten rumahnya segera datang menghampiri.


"Tadi masuk ke kamar bayi, Den." Katanya.


Pria itu mengangguk, dan dengan langkah cepat Randy mendekati pintu kamar yang terdapat aksesoris bulan dan bintang yang menempel di sana, lalu masuk dengan perlahan.


Dia menyembulkan kepalanya, mengintip ke arah dalam tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Nuansa ungu muda langsung terlihat. Dengan beberapa furniture berwarna putih, dan sudah terdapat box bayi beserta boneka dan bantal dengan bentuk yang sangat menggemaskan.


Dan disanalah Ayumi. Berbaring mirip di atas sofa, memeluk perut besarnya sendiri, dengan kelopak mata yang terpejam erat.


Randy menghela nafasnya, dia masuk dengan senyuman yang terlihat.


"Sayang? Kenapa kamu tidur disini?" Dia segera berjongkok tepat di hadapan istrinya yang sedang terlelap.


Tangannya bergerak menyentuh wajah Ayumi, menyingkirkan beberapa helai rambut yang terlihat mengganggu wajah cantiknya. Kemudian Randy beralih kepada perut bulat yang sudah benar-benar besar, mengusap dan memberikan kecupan seperti biasa ketika dia hendak berangkat, ataupun pulang bekerja.


Tidak seperti biasanya. Randy tak mendapatkan respon dari dalam perut sana.


"Abang sudah pulang?" Suaranya terdengar parau.


Dia berusaha untuk bangkit, untuk mengubah posisinya menjadi duduk. Namun nyatanya tidak semudah itu, meskipun dia berusaha sendiri, Ayumi tetap membutuhkan bantuan Randy, karena ruang geraknya yang mulai terbatas karena perutnya sudah sangat membesar.


"Padahal aku tidak berniat membangunkan mu!" Kata Randy setelah membuat Ayumi duduk dengan benar.


Pandangan Ayumi mendongak, menatap jam yang menempel di dinding kamar putrinya.


"Ya ampun, aku ketiduran dan jam 2 siang." Katanya sambil tertawa.


"Kamu kelelahan? Memangnya apa saja yang kamu lakukan? Lalu bagaimana? Susu, vitamin, dan obatnya kamu minum?" 


Ayumi mengangguk.


"Kamu mengingatkan aku terus, … lalu bagaimana aku bisa melupakannya?" Perempuan itu terkekeh.


Randy tersenyum, dia menarik hidung Ayumi dengan gemas, sampai meninggalkan bekas merah di sana.

__ADS_1


"Daddy!" 


"Apa kamu mencuci pakaian lagi? Lalu menatanya di dalam laci pakaian?" Randy memicingkan mata.


Senyum Ayumi tertahan, lalu kemudian dia mengangguk.


"Aku tidak tahan. Tadinya mau aku cuci langsung sekaligus semua pakaian yang dia punya. Hitung-hitung menunggu tanda-tanda lahiran yang belum aku rasakan bahkan sampai sekarang. Ini sudah lewat dua hari dari HPL." Jelas Ayumi.


Randy terdiam mendengarkan.


"Hanya untuk mempersiapkan saja, sayang. Nanti kalau sudah lahiran kan nggak bisa ngapa-ngapain selain jaga Adek!" 


Randy bangkit, lalu membuka laci pakaian satu persatu. Dan betapa terkejutnya Randy, selain rapih. Nyatanya Ayumi menyusun pakaian sesuai dengan warnanya.


"Ya ampun Ayumi Kirana!" 


Perempuan itu tersenyum canggung.


"Besok-besok tidak boleh melakukan ini lagi. Biarkan Bibi yang mengerjakannya, … atau sesuatu akan terjadi, … dan aku tidak mau kamu mengalami hal konyol karena kelelahan!" 


"Tidak akan. Semuanya sudah selesai. Mungkin nanti malam aku mau masukin baju aku, kamu sama Adek buat nanti di rumah sakit."


"Tidak bisa Bibi saja?" 


Ayumi menggelengkan kepala.


Randy menatap Ayumi tidak percaya. Dan lagi-lagi dia menghela nafasnya kencang.


"Aku cuma udah nggak sabar nungguin Adek. Dia kok belum menunjukan tanda-tanda mau keluar yah!"


"Belum." 


Randy kembali berjalan mendekati istrinya, lalu duduk di samping Ayumi, dengan tangan kanan yang dia letakan di atas perut Ayumi.


"Padahal sudah sering kamu jengukin. Tapi dia masih betah di dalam sini!" 


Randy tertawa kencang mendengar itu, hingga kepalanya mendongak kebelakang, dengan mata yang terpejam.


"Kok ketawa!" Ayumi menepuk lengan suaminya. "Itu saran dari Dokter lho, katanya harus Daddy-nya tengokin agar bisa …"


"Sudah-sudah. Aku lelah, tapi pikiran aku bisa kemana-mana hanya karena kamu menjelaskan sebuah proses jalan lahir." 


"Hilih. Orang aku lagi serius ngomong!"


"Hummm, … omongan kamu bikin pikiran aku kacau."


Randy bangkit, meudian mengulurkan tangannya kepada Ayumi.

__ADS_1


"Ayo. Aku harus mandi, setelah itu kita jalan-jalan sore keliling komplek, … kamu juga harus banyak jalan kaki, selain melakukan sesuatu bersamaku nanti malam." Katanya lalu membawa Ayumi keluar dari kamar putri mereka.


***


"Ada sesuatu?" Randy mengalihkan pandangan dari layar ponselnya sekilas, menatap Ayumi yang sedang duduk setengah berbaring di atas tempat tidur, dengan televisi menyala, menayangkan siaran malam hari.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Dia bergerak?" Tanya Randy lagi ketika mendapati Ayumi terus mengusap-usap perutnya.


"Ngggg, … justru dia belum bergerak hari ini! Aku takut, kenapa yah?" Raut wajahnya terlihat memucat.


Bayangan-bayangan mengerikan Ayumi dapatkan, sehingga membuat kepalanya terasa berisik, seolah sedang berteriak memberikan sebuah peringatan, jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Abang ayo kita ke rumah sakit. Kita periksa Adek, kok dia belum bergerak yah! Biasanya aktif kalau malam-malam begini, dia pasti berputar-putar. Tapi hari ini sejak dari pagi belum bergerak sama sekali." Jelas Ayumi.


Randy meletakan ponselnya di atas sofa bergitu saja, dia bangkit lalu mendekati Ayumi dan duduk di tepi ranjang.


"Kenapa baru bilang sekarang?" 


"Tadi pagi aku kira dia hanya sedang istirahat. Tapi aku tunggu sampai sekarang justru malah tidak ada pergerakan sama sekali." Ayumi kelihatan semakin gelisah.


Randy membungkuk, mendekatkan telinganya sampai menempel di perut Ayumi.


"Hey? Kamu sedang tidur?" Randy berbicara dengan putrinya yang masih ada di dalam perut.


Tidak ada respon. Bahkan hanya getaran kecil saja, dan itu membuat Ayumi semakin takut.


"Bahkan dia selalu merespon sapaan Daddy nya!" Cicit Ayumi dengan suara lirih.


"Sayang? Ini Daddy? Kenapa kamu tidak bergerak? Kamu tidak mau merespon Daddy lagi? Baiklah kali begitu Daddy tidak akan menyapa kamu lagi." 


Randy mengangkat pandanganya, menatap Ayumi yang juga sedang menundukan pandangan.


"Dia masih tidak bergerak! Ayo kita ke rumah sakit sekarang." Pekik Ayumi.


"Baiklah, ayo. Apa saja yang harus aku bawa?"


"Satu koper yang sudah aku siapkan tadi. Hanya itu dan ayo berangkat sebelum semuanya terlambat." Ayumi mulai menangis.


"Urusan koper, kita urus nanti. Sekarang biarkan aku membantumu dulu!" 


Ayumi tidak menjawab lagi. Dia hanya menghambur ke arah luar, tanpa mempedulikan apapun, entah itu handphone atau tas kecil milikinya yang selalu di bawa kemanapun Ayumi pergi.


Satu hal yang Ayumi ingat. Yaitu memeriksakan keadaan putrinya dengan segera.


 

__ADS_1


__ADS_2