
"Tuing, … Tuing, … ayo tendang lagi!" Ayumi terkekeh, seraya menusuk-nusuk perutnya menggunakan dua jari telunjuk tangannya.
Perempuan itu berada di atas tempat tidur, setelah berbaring dengan punggung yang bersandar di beberapa tumpukan bantal di belakangnya.
Sementara Randy berada duduk di atas sofa kamar, menatap laptop dengan suara dentikan keyboard yang jelas terdengar.
"Nah, bagus! Ayo tendang lagi." Ayumi mengusap perut bulatnya, lalu dia tertawa kencang.
Randy yang berusaha memfokuskan diri pada pekerjaannya pun akhirnya menyerah. Interaksi Ayumi dengan bayi di dalam kandungannya benar-benar membuat Randy merasa tak tahan, apalagi ketika anaknya benar-benar selalu membuat dirinya gemas, ketika pergerakannya selalu berhenti tatkala tangannya menyentuh perut Ayumi.
Ayumi tersenyum, lalu terkekeh, dan berakhir dengan tawa yang cukup kencang, saat melihat perutnya yang terus bergerak tak tentu arah. Terkadang pergerakan itu terlihat dari samping ke samping, atau dari atas ke bawah. Membuat bentuk perutnya tiba-tiba menjadi sangat lucu.
"Anak pintar!"
Randy memejamkan matanya, menghela nafas kencang, lalu kemudian meletakan laptop begitu saja, dan beranjak mendekati Ayumi yang kini berada di atas tempat tidur.
"Teruslah berbicara, agar dia tahu kamu yang sedang mengusapnya." Randy berbisik tepat di daun telinga Ayumi.
Sementara perempuan itu mengangguk tanpa bersuara apapun. Seperti kedua orang tua yang bersekongkol untuk mengelabui anaknya.
"Sayang, ayo tendang lagi." Pinta Ayumi.
Randy menyentuh perut istrinya, seraya mendekatkan wajah agar dapat melihat pergerakan yang anaknya lakukan lebih jelas lagi.
Sepuluh detik.
Tiga puluh detik.
Satu menit.
Suasana tiba-tiba menjadi sangat hening. Dua manusia itu terdiam menunggu bayinya untuk kembali bergerak. Namun sayang, sepertinya bayi itu benar-benar tahu yang sedang memegangi perut ibunya adalah orang lain.
"Panggil dia." Bisik Randy.
"Nak? Ayo bergerak sayang. Ini Mommy!" Kata Ayumi, dia menuruti permintaan suaminya.
Namun sayang, sepertinya bayi itu benar-benar tahu siapa yang sedang menyentuh perut ibunya.
"Ini Mommy, sayang. Ayo tendang lagi!"
Randy menunggu dengan perasaan harap-harap cemas, menantikan momen yang sangat dia tunggu bahkan sampai enam bulan lamanya Ayumi mengandung. Namun dari awal bergerak hingga sekarang, Randy belum merasakan tendangan sang jabang bayi.
"Ay!" Randy merengek, seolah memohon agar dapat membuat anaknya kembali bergerak.
"Mungkin dia tidak mau di bohongi. Coba Daddy nya yang minta, siapa tau Baby Tomato mau bergerak." Ayumi mengusap kepala suaminya, yang saat ini tengah menatap dengan penuh permohonan.
Pria itu menghadapkan wajah ke arah perut, dua sikutnya bertumpu di atas tempat tidur, sementara telapak tangannya memegangi kedua sisi perut Ayumi, bersiap dengan tendangan bayinya.
"Sayang? Ayolah. Daddy sedang bekerja, sekali saja tidak apa-apa, yang penting kamu bergerak walaupun tendangannya pelan, … Daddy senang karena kamu sudah mau berinteraksi dengan Daddy." Katanya lalu mencium perut Ayumi, dan berlama-lama menyentuhkan bibirnya disana.
Namun masih belum ada tanda-tanda jika anaknya akan kembali bergerak.
Randy menghe nafasnya dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
"Baiklah, … kalau begitu Daddy tidak akan mau menyapamu lagi!"
Randy bangkit, segera menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, hendak kembali ke atas sofa, namun panggilan Ayumi menghentikannya.
"Dad! Kemarilah." Ayumi dengan raut wajah berbinar.
Randy menoleh.
"Sepertinya dia takut dengan ancamanmu!" Ayumi tertawa. "Dia bergerak, kemarilah." Panggil Ayumi lagi.
Senyum di bibir Randy merekah, dia segera berlari, bahkan melompat sampai dia kini sudah berada di atas tempat tidur, menyingkap pakaian yang Ayumi kenakan, dan menatap langsung perut bulat tanpa penghalang.
Cup!
"Ayolah, lebih kencang lagi!"
Randy mengusapnya dengan perasaan gemas. Diman kulit perut Ayumi terlihat bergerak menyerupai gelombang, lalu tendangan di beberapa titik.
"Tidak! Tidak boleh kencang-kencang, … Mommy tidak kuat kalau kamu menendang terlalu kencang."
Randy terkekeh, dia terharu.
"Kenapa harus mendengar Daddy mengancam dulu, hmm? Sudah dari dua bulan lalu kamu bergerak, tapi kenapa baru sekarang kamu benar-benar menyapa Daddy."
Ayumi diam menyimak suaminya yang sedang berbicara tepat di hadapan perut. Tak jarang dia memberikan ciuman basah, yang menghadirkan sedikit rasa geli.
"Anak pintar. Tiga bulan lagi kita bertemu oke? Bantu Mommy, kalian harus bekerja sama agar semuanya berjalan lancar." Dia mencium perutnya lagi.
Dan setelah itu Randy benar-benar kembali ke arah sofa, dan kembali memeriksakan beberapa proposal yang Raga kirimkan.
Randy menggelengkan kepala. Namun segera menepuk sisi kosong tepat di sampingnya.
"Kemarilah. Cukup temani saja agar cepat selesai." Kata Randy.
Perempuan itu menurut, dia duduk disana, bersandar dengan pandangan mata tertuju kepada layar laptop, dimana tulisan dengan huruf kecil tertera.
"Aku tidak bisa melihat itu dengan jelas." Ayumi mencondongkan tubuhnya.
"Benarkah?"
"Iya. Apa kamu bisa melihat dan membacanya dengan benar?"
"Bisa. Tapi seharusnya aku pakai kacamata!"
"Lalu?"
"Kacamatanya tertinggal di laci meja kerjaku, sayang. Diamlah, aku sedang fokus membaca."
Tangannya terulur, lalu mengusap perut Ayumi.
"Aku mau ambil kue dulu, … aku laper lagi."
Dia segera bangkit, dan pergi dari dalam kamar sana, ke arah luar kamar dimana lampu-lampu ruangan sudah dimatikan. Maklum saja, jarum jam sudah menunjukan pukul sebelah, dan sudah pasti Dini sudah terlelap. Aktivitasnya cukup padat, jadi dia harus benar-benar menjaga stamina tubuh dengan istirahat yang cukup.
__ADS_1
Dengan suasana temaram Ayumi berlama mendekati meja kompor dapur bersih. Kakinya berjinjit untuk membuka sebuka pintu lemari, yang terdapat beberapa toples kue hasil buatan Maria, Ibu mertuanya.
"Non?"
"Astaga!"
Ayumi hampir saja menjatuhkan toples berbahan dasar kaca yang ada di dalam genggamannya.
"Saya kira apa, … kok ada suara-suara makanya saya periksa, mungkin kalau lampunya menyala saya pasti tidak khawatir, ini lampunya mati tapi ada yang terdengar membuka rak penyimpanan."
Ayumi tersenyum.
"Maaf. Kalau begitu kita sama-sama terkejut yah!" Dia terkekeh.
"Ada yang lain?"
"Tolong buatkan teh manis hangat deh, jangan terlalu manis yah. Buat Abang soalnya!" Pinta Ayumi, yang langsung di jawab anggukan oleh sang asisten rumah.
Ayumi segera kembali ke arah kamar, membawa satu toples berukuran besar, berisikan kue coklat kacang mete.
"Kue apa itu?" Tanya Randy tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari layar laptopnya.
Ayumi meletakan benda itu di atas meja, lalu duduk.
"Kue coklat kacang mete yang Ibu buat kemarin."
"Pintunya kenapa tidak di tutup?"
"Nanti Bi Dini kesini, aku minta buatkan teh manis hangat untuk kamu."
Randy menekan tombol 'save' kemudian mematikan benda itu, dan menyimpannya di atas meja yang sama.
"Kamu pengertian sekali." Kata Randy sambil tersenyum. "Aaaaaa, … aku mau!"
Katanya lalu membuka mulut, meminta Ayumi membawakan satu kue yang mempunyai wangi yang begitu lezat.
"Selain kue akar kelapa. Ini kue yang aku suka peringkat kedua, buatan Ibu Maria."
"Hemm, … dia sangat mencintai menantunya, sampai melupakan aku jika kalian sedang bersama."
"Masa?" Dia menjejalkan kue kedalam mulutnya. "Kayaknya sama aja, deh!"
"Beda!"
Tok tok tok!!
"Teh manis hangatnya, Non!"
Dini berdiri di ambang pintu.
Ayumi segera melambaikan tangan, meminta wanita itu masuk dan meletakan mug berukuran besar itu di atas meja. Setelah itu Dini kembali, tak lupa menarik pintu itu sampai tertutup rapat.
Keduanya menikmati kue dengan satu mug besar teh manis hangat. Sambil bercerita banyak hal, dari pertama mereka bertemu, lalu Randy yang mulai mempunyai rasa dan ketertarikan terhadap perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya. Tak lupa Randy menceritakan sebuah kisah dari ibunya, yang pernah bertemu dengan sosok gadis cantik baik hati, yang tidak lain adalah Ayumi bersama Una dan Aira, ketika mereka hendak mencari nasi kucing, sebagai santapan malam yang murah meriah.
__ADS_1
"Dunia memang sempit yah!" Ayumi tertawa, dan melayangkan pukulan kencang kepada Randy seperti biasa.
Sikap refleks yang belum benar-benar bisa Ayumi hilangkan. Yaitu memukul suaminya saat dia tertawa kencang dan merasa senang.