My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 16 (Keras kepala)


__ADS_3

Keesokan harinya.


Jam sudah menunjukan pukul lima sore hari. Beberapa orang tampak berhamburan keluar saat jam pulang kerja sudah tiba.


Sementara Randy terus berdiri, menyandarkan punggung pada mobilnya dengan mata yang juga terus mencari keberadaan Ayumi.


Sosok yang sangat dia rindukan kehadirannya.


Jelas, sesudah kejadian malam itu dia tak lagi berani menghubungi Ayumi, kesalahannya sangat fatal sampai Randy berfikir bahwa ia tak bisa menyelesaikannya jika hanya berbicara melalui sambungan telfon.


"Apa dia lembur lagi?" Pria itu berbisik pelan, seraya menatap arloji yang melingkar di penggelangan tangannya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Randy memutuskan untuk mencari gadis itu di tempat kerjanya. Pria itu bergegas, berjalan hendak memasuki gedung tempat dimana Ayumi bekerja.


"Selamat sore, Pak Randy?"


Seorang security menyapa.


"Ya sore."


"Bapak mau cari Bu Balqis? beliau sudah pulang sejak pukul tiga sore, Pak Raga yang menjemputnya." Jelas petugas keamanan itu.


"Saya mau, ..."


Randy berhenti berbicara, saat matanya menangkap sosok gadis yang saat ini tampak berjalan kearahnya.


"Bapak?" Dia menyapa terlebih dulu.


"Una. Dimana Ayumi? kenapa dia belum keluar juga?" Cecar Randy kepada sahabat kekasihnya itu.


Namun Una diam membisu, dia cukup terkejut saat Randy yang kini lebih banyak bicara, tak seperti saat sebelum-sebelumnya mereka bertemu, pria itu lebih banyak diam bahkan terlihat seolah malas berbicara.


"Tolong panggilkan boleh?" Randy menatap Una penuh permohonan.


"Ng, ... itu ... Ayumi tidak masuk kerja, dia tidak mengabari Bapak?" Jawab Una, gadis itu beralih menatap seorang security yang terus berdiri di hadapannya.


"Oh iya Pak, Ayumi tidak masuk kerja." Security itu menimpali.


Randy sedikit terhenyak, dengan rasa bersalah yang terus memenuhi diri.


"Dia dimana?"


"Ada di kost-annya, semalam Ayumi terjebak macet, mungkin kelelahan jadi izin tidak masuk kerja."


"Kalau begitu saya pamit pulang duluan, hari semakin larut, langit juga semakin gelap. Mari Pak satpam, ... Pak Randy."


Setelah berpamitan Una segera pergi, meninggalkan dua pria berbeda usia yang saat ini berdiri bersisian.


"Saya juga pamit kalau begitu, mari!"


Pria berseragam itu tersenyum tipis, kemudian menganggukan kepala, menatap langkah Randy yang terlihat cukup tergesa-gesa.


"Anak muda. Tidak bertemu sebentar saja sudah kelimpungan seperti itu." Katanya sembari tersenyum penuh arti, saat melihat tingkah Randy yang benar-benar terlihat berbeda dari pada biasanya.


***


Pria yang sedang kalang kabut oleh cinta itu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sampai tak perlu waktu lama. Dia sampai di depan gerbang tempat Ayumi tinggal selama dia berada di Ibu kota Jakarta.


Buru-buru Randy keluar, berlari kearah dalam tanpa memperdulikan Amel yang berusaha menghentikannya.


"Tunggu! sampean cari siapa?" Amel berteriak, dia berjalan cepat berusaha mengimbangi langkah besar Randy.

__ADS_1


Randy menoleh.


"Ayumi." Jawab Randy singkat.


"Ohh, ... tapi Ayumi sedang keluar, sekitar sepuluh menit yang lalu dia keluar. Mungkin untuk mencari makan, soalnya dari kemari dia tidak keluar-keluar lagi." Jelas Amel kepada pria tinggi yang berdiri di hadapannya.


Randy terdiam, pikirannya tiba-tiba saja kosong. Bahkan terlihat seperti orang linglung.


"Dia baru keluar? lalu apa yang dia lakukan di dalam sana selama itu." Pikir Randy.


"Jika mau menunggu silahkan, tapi saya tidak bisa menjamin Ayumi akan pulang cepat, karena dia selalu jalan kaki kemana pun dia pergi."


"Sa-saya tunggu di luar saja, Bu. Tidak apa-apa jika mobil saya terus di parkir di depan?" Randy menatap wanita pemilik kost itu penuh permohonan.


Amelia tersenyum.


"Tidak apa-apa, cuma sampean yang bawa mobil kesini, yang lain tidak pernah, ... jadi tidak akan mengganggu siapapun."


"Terimakasih."


"Baik, saya kembali ke warung dulu kalau begitu." Pamit Amelia, yang langsung mendapatkan anggukan dari Randy.


Wanita itu berbalik arah, berjalan kearah sebuah warung yang terletak di bagian paling depan bangunan itu.


Klek!


Salah satu pintu kamar terbuka. Dan munculah seorang pria tinggi, dengan kacamatanya seperti biasa.


"Dia lagi!" Ucap Randy pelan, seraya mendengus sebal.


Entahlah, melihat wajah Gani saja Randy sudah merasa muak, apalagi harus berbicara banyak hal dengan pria itu.


"Biasanya Ayumi nyari mie rebus. Coba masnya cari di warung mie terdekat!" Tiba-tiba saja Gani mengatakan hal itu.


"Atau masnya mau nunggu di kamar saya? silahkan saja, tidak akan lama lagi Ayumi pasti pulang."


"Terus saja, bersikaplah seolah kau tahu semuanya tentang kekasih ku!" Gumam Randy dengan perasaan kesal.


"Mas, ayok silahkan ma, ..."


"Tidak usah repot-repot, saya akan menunggu di depan saja." Jawab Randy singkat, lalu pergi begitu saja.


Pandangan Gani mengikuti kemana Randy berjalan, menatap pria dengan stelan jas itu dengan heran.


"Sensi sekali sepertinya, tidak ramah untuk gadis berhati lembut seperti Ayumi." Gani bermonolog.


***


Sementara disisi lain, yang tidak jauh dari tempat itu.


Ayumi terlihat berjalan pelan, menenteng sebuah kantung plastik bening. Berisikan satu bungkus mie rebus yang dia beli dari warmindo terdekat dari kost-kostannya.


Hilir angin menerpa, membuat rambut panjang Ayumi tersapu, sampai menutupi wajah cantiknya yang saat ini terlihat sedikit sembab.


Saat sudut matanya melihat sebuah pergerakan. Dengan segera Randy menoleh, lalu menegakan tubuh yang sedari tadi bersandar di body mobil.


Ayumi dan Randy saling beradu pandang, saat tatapan keduanya beradu.


Langkah Ayumi terhenti. Gadis itu menatap Randy dengan seksama.


"Hey?" Randy tersenyum, dan segera berjalan mendekat.

__ADS_1


Ayumi diam.


"Kamu tidak masuk kerja? aku mencari mu kesana tadi!"


Randy berbasa-basi, bahkan kali ini suara Randy terdengar sangat lembut, begitupun dengan tatapan mata tajamnya.


Namun Ayumi masih diam, dia jelas kecewa dengan sikap Randy beberapa hari yang lalu.


"Katakanlah sesuatu."


Randy hendak meraih tangan Ayumi, tapi gadis itu mundur satu langkah.


"Kenapa Bapak ada disini?" Dia bertanya.


Ekspresi wajahnya datar.


"Saya mau bicara." Dia kembali meraih tangan itu dan berhasil.


Randy meremat jemari Ayumi yang sudah berada di dalam genggamannya cukup kencang.


"Apa lagi?"


"Tentang kita, aku mau ..."


"Bukankah Bapak sudah tidak peduli? maka pergilah, tidak usah mencari aku lagi. Aku juga yakin pekerjaan Bapak banyak, maka lakukan itu, dari pada menghabiskan waktu untuk mengurusi saya yang bukan lagi siapapun di hidup Bapak."


Tatapan pria itu sendu, lalu menggelengkan kepala. Berjalan mendekat satu langkah, sampai jarak mereka kini terbilang sangat dekat.


"Maaf."


"Ya, ... aku sudah melupakan kejadian semalam, jadi sebaiknya Bapak kembali saja. Aku juga mau makan, nanti mienya keburu ngembang."


Ayumi berusaha menarik tangannya, tapi tidak bisa karena genggaman itu cukup kencang apalagi saat Randy berusaha mempertahankannya.


"Ay, ... saya mau bicara!"


"Maka bicaralah."


"Tidak disini, ayok ikut."


Randy menarik Ayumi.


"Aku nggak mau!" Pekik Ayumi kencang.


"Hey ayoklah, kumohon! kamu boleh marah, tapi biarkan aku meminta maaf dengan cara yang benar. Ada beberapa hal yang harus aku jelaskan, ... jadi menurutlah."


Suara pria itu terdengar rendah, tetapi masih sangat lembut.


"Aku ..."


"Ayumi saya mohon, biarkan saya memperbaiki semuanya. Maafkan aku!"


"Aku sudah maafkan, jadi biarkan saja aku pulang."


Randy menggelengkan kepalanya lagi, dia meraih kantong plastik bening itu, merebutnya sampai terlepas dari genggaman Ayumi, dan melemparnya kearah tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempat keduanya berdiri.


Mulut Ayumi menganga, juga mata yang membulat sempurna.


"Itu, ... astaga aku membelinya dengan uang ku sendiri."


"Tidak sehat makan mie instan terus, ayok kita makan dan setelah itu kita bicara serius." Langsung saja Randy menarik tangan Ayumi, membawa gadis itu sampai masuk kedalam mobil Lexus abu-abu mengkilap miliknya.

__ADS_1


Dengan keadaan yang sedikit kesal juga marah. Ayumi hanya bisa diam dan menuruti apa yang Randy mau, karena menolak pun tidak akan bisa, sifatnya yang keras kepala jelas membuat Ayumi harus mengalah lagi dan lagi.


__ADS_2