My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 108 (RT ganteng)


__ADS_3

Klek!!


Pintu rumahnya terdengar kembali di tutup setelah beberapa saat lalu Sumi menghampirinya, di ikuti suara langkah kaki yang terdengar semakin mendekat.


"Sudah bertemu Pak RT nya, Ma?" Tanya Ayumi tanpa mengalihkan pandangan dari televisi yang ada di hadapannya.


"Sudah," Ucap Sumi. "RT ganteng!" Sambungnya lagi dengan senyum lebar yang Sumi perlihatkan.


Ayumi mengarahkan pandangannya ke arah belakang. Hingga tampak jelas seorang pria menjulang tinggi, yang berdiri di samping ibunya.


Langsung saja Ayumi bangkit, berjalan cepat untuk mendekat, kemudian sedikit melompat yang segera Randy tangkap sampai membuat tubuhnya sedikit terjerembab ke belakang.


"Hati-hati!" Sumi memperingati.


Wanita itu sedikit ngeri dengan kelakuan anaknya, yang melompat tanpa aba-aba, tapi untung saja Randy menangkapnya dengan segera, kini Ayumi berada dalam gendongannya, melilitkan kedua kaki di pinggang Randy sampai terlihat persis seperti Koala yang sedang berada dalam gendongan induknya.


"Kangen." Rengeknya pelan seraya membenamkan wajah di leher suaminya yang memang selalu berbau wangi.


Wangi parfum yang begitu khas, dan Ayumi sangat menyukainya.


Sementara Randy masih terdiam, memegangi tubuh Ayumi dengan mata yang saling beradu pandang dengan Sumi.


Mereka sama-sama tersenyum.


Ketakutannya akan ditolak Ayumi seketika sirna. Berganti dengan rasa bahagia saat berkali-kali Ayumi mengutarakan rasa rindunya, dengan hidung yang tak berhenti mengendus tengkuknya.


"Kangen?" Randy mengulangi ucapan istrinya.


Ayumi mengangguk, lalu menarik kepala sampai sedikit berjalak, dan dia mampu menatap suami tampannya dari jarak yang sangat dekat.


"Kamu wangi, habis dari mana?"


"Tidak dari mana-mana, selesai mengantar Ibu pulang, aku langsung kesini." Randy mengulum senyum.


Satu tangannya bergerak menyentuh rambut Ayumi, dan menyelipkannya di daun telinga.


Sumi segera beranjak pergi ke arah dapur, sedikit memberi waktu pasutri itu untuk saling mengungkapkan rasa rindu setelah satu hari satu malam tidak bertemu.


"Bagaimana keadaanmu, hum?" Tanya Randy dengan suara pelan, dan terus berdiri memeluk Ayumi gang kini tetap ada dalam gendongannya.


Perempuan itu tidak menjawab, dia justru tersenyum-senyum, menatap lekat wajah suaminya yang terasa semakin tampan.


Cup!


Ayumi mencium singkat bibir Randy.


"Aku kangen!" Rengeknya lagi, dan kembali memeluk bahu Randy sembari membenamkan wajah di ceruk leher pria tersebut.


Randy membalas kecupan di bibir Ayumi tak kalah manisnya, kemudian membawa Ayumi ke arah kursi rotan, dan duduk di sana dengan posisi yang tetap sama.


Tak hentinya Randy tersenyum. Kali ini dia benar-benar merasa sangat diinginkan istrinya, terbukti dari lengketnya Ayumi bahkan saat pertama dia datang kerumah kecil dan sederhana itu.


"Sudah minum obat?"


Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Sudah makan?" Tanya Randy lagi sambil terus memainkan rambut kecoklatan milik Ayumi yang saat ini dibiarkan terurai.


"Aku sudah makan terus hari ini. Kamu pasti tidak akan percaya, aku makan sangat banyak!".Ayumi berujar.


Sumi kembali terlihat datang menghampiri, membawa nampan dengan gelas berisikan Teh hangat juga semangkuk singkong yang sempat dia buat tadi.


"Hanya ada Teh tawar hangat dan singkong." Sumi menatap Randy, pria yang terus memeluk Ayumi seperti sedang menenangkan seorang gadis kecil.


Pria itu mengangguk.


"Terimakasih, ini sudah sangat cukup!" Ucap Randy.


Ayumi mengurai pelukannya, lalu menoleh ke arah sang Ibu.


"Mama mau istirahat sekarang?"


"Sepertinya iya, Mama masuk kamar duluan yah! Nanti kalau ada apa-apa di panggil saja."


Sumi mengangguk.


"Nanti aku nyusul." Kata Ayumi.


"Memangnya tidak mau pulang?" Wanita itu menatap wajah Ayumi sambil terus tersenyum.


"Aku masih mau disini."


"Coba tanya suaminya, masih boleh menginap atau tidak."


Sumi meletakan nampan di atas meja televisi, kemudian berjalan mendekati pintu kamar yang tampak tertutup, dan segera masuk meninggalkan Ayumi dan Randy hanya berdua.


"Aku masih mau disini, boleh?" Ayumi beralih kepada suaminya.


Randy tidak menjawab, dia justru meraup wajah Ayumi, kembali memagut bibir istrinya lebih dalam dan lebih lama.


"Abang! Ingat kita sedang ada dimana." Bisik Ayumi setelah ciuman mereka terlepas.

__ADS_1


Randy hanya tersenyum, memindai wajah yang semakin hari terlihat semakin cantik.


"Apa aku tidak boleh tidur bersamamu?" Suara pria itu terdengar begitu rendah, tapi begitu menggoda.


"Rumah ini hanya memiliki satu kamar, ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Kasurnya juga kecil, hanya muat untuk aku dan Mama, … kamu tidak akan bisa, badan kamu besar." Jelas Ayumi.


"Jadi dimana kita harus tidur?" Randy berbisik lagi, sepertinya dia sedang menggoda pertahanan Ayumi agar segera runtuh.


Karena dia merindukan istrinya.


"Aku disini bersama Mama. Kamu pulang kerumah, Ibu!" Ayumi tersenyum.


Kening Randy berkerut.


"Aku belum bisa ninggalin Mama sendirian."


"Mama?"


"Hu'um. Aku nggak bisa, cukup mereka … tidak dengan aku!" Raut wajah Ayumi berubah menjadi sendu.


Satu tangan Randy mengusap pipi Ayumi, sementara satunya lagi memeluk pinggang perempuan itu agar tidak terjatuh.


"Berjanjilah untuk tidak seperti kemarin! Aku takut, sangat takut … jika kamu mau tahu."


Ayumi diam.


"Aku tahu kamu pasti kecewa, tapi aku juga tidak bisa mengubah apapun. Mintalah kepadaku jika ingin menemui Ibumu, tapi jangan pergi sendiri, itu sangat membahayakan kamu. Kamu ini seorang wanita, cantik, lalu malam-malam keluar sendiri, apa kamu tidak takut?"


Randy mulai mengutarakan rasa gundah gulananya.


"Aku nggak bisa mikir waktu itu, … maaf!"


"Kamu juga meninggalkan ponsel, dan itu sudah sangat fatal. Seharusnya kamu mendapatkan hukuman sekarang!"


Suara itu perlahan terdengar semakin rendah, membuat Ayumi berpikir sesuatu, yang juga mungkin sedang Randy pikirkan.


"Aku tahu pikiran Abang." Matanya memicing.


Sementara pria yang terus memangkunya tertawa sampai membuat kepalanya mendongak ke belakang.


"Kamu mulai paham apapun sinyal yang aku berikan."


"Aku tahu kalau Abang lagi ngaco!"


Randy tertawa lagi.


Tubuh Ayumi bergerak, berusaha melepaskan satu tangan yang terus memeluk pinggangnya, kemudian turun dan duduk di samping suaminya.


"Tidak ada. Tapi kamu harus meminum Teh nya dulu, lalu coba singkong masakan Mama, … rasanya enak, aku pun suka." Jelas Ayumi.


Randy segera meraih gelas berisikan air Teh hangatnya, meminum beberapa teguk dan beralih menikmati singkong yang Ayumi maksud.


Kepalanya mengangguk-angguk, mulutnya terus mengunyah, menandakan jika pria itu pun menyukai makanan itu seperti dirinya.


Sementara Ayumi, dia terdiam dengan bibir tersenyum. Menatap pria dengan Hoodie berwarna abu-abu, celana jeans hitam, mampu membuat Ayumi tak berhenti mengagumi ketampanan suaminya sendiri.


Jantungnya terus berdebar lebih kencang dari pada biasanya, juga Dada yang baik turun dengan cepat, nafasnya terasa memburu, dan jangan lupakan sesuatu yang terasa berdesir di dalam perutnya, seolah ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam sana.


"Abang suka?" Tanya Ayumi dengan perasaan berdebar yang tak berhenti.


Randy mengalihkan pandangannya, menatap Ayumi lalu mengangguk.


"Tapi ada yang lebih aku sukai, dan tidak ada tandingannya."


"Apa?"


"Kamu. Aku sangat menyukaimu, dan itu tak bisa aku dapatkan dari mana pun."


Pipi Ayumi langsung memerah, sedikit menimbulkan rasa panas. Begitupun dengan hatinya, setiap gombalan dari Randy seakan membuat hatinya akan segera meledak saat itu juga.


"Mau pergi ke suatu tempat?" Randy bertanya.


"Mau."


"Kemana?"


"Kemana saja terserah Abang." Ayumi tersenyum.


"Baiklah, pakai baju hangatmu. Lalu panggil Mama untuk ikut dan menunggu di rumah Ibu." Jelas Randy yang langsung dijawab anggukan oleh istrinya.


Segera Ayumi beranjak memasuki pintu kamar yang tertutup, kemudian menutup nya kembali, dan dua wanita itu terdengar bercakap-cakap. Bahkan rengekan Ayumi penuh permohonan jelas terdengar, saat Sumi terus menolak dengan berbagai macam alasan.


Randy hanya tersenyum mendengarnya, dia cukup merasa lega.


Dan setelah membujuk Sumi dengan susah payah. Akhirnya wanita itu menyerah, dia menuruti keinginan putrinya untuk ikut bersama mereka.


Wanita itu menikmati suasana malam saat mobil yang dia tunggangi melaju dengan kecepatan sedang, sementara dua orang di depan terus mendebatkan hal-hal yang tidak penting.


Seperti Randy yang protes karena Ayumi tidak mau mengganti daster tidurnya. Dan Ayumi terus beralasan jika pakaiannya baru saja dicuci, dan belum kering.


Sumi mengulum senyum.

__ADS_1


Betapa bahagianya dia melihat Ayumi se bawel itu, karena Sumi tahu jika Ayumi sudah banyak bicara maka bisa dipastikan jika perempuan itumemang sudah baik-baik saja.


Randy memelankan laju mobilnya, lalu menepi tepat di depan pintu gerbang besi berwarna hitam, dia turun begitupun dengan Sumi, sementara Ayumi menunggu di dalam mobil, membiarkan suaminya mengantar sang Ibu masuk kedalam rumah Maria.


***


Ayumi menoleh ke arah suaminya, saat mobil itu berbelok memasuki sebuah resort pada hampir pukul sembilan malam.


"Kita ngapain kesini?"


"Bisa ngapain aja. Menikmati suasana laut pada malam hari, makan seafood, mie, jagung, atau cemilan-cemilan lainnya." Jelas Randy seraya membuka seatbelt dan segera turun.


"Aku yakin yang tadi Abang sebutkan hanya sebuah alasan belaka." Gumam Ayumi pelan, kemudian ikut turun menyusul Randy yang sudah berdiri menunggunya.


"Ini bukan kawasan yang waktu itu kita datangi bersama Pak Raga!"


"Memang, ini resort dengan fasilitasnya lebih bagus dan lengkap!" Randy menekan satu tombol di remot yang tergantung di kunci mobilnya, sampai lampu mobil itu berkedip menandakan jika kendaraan roda empat miliknya sudah terkunci secara otomatis.


Randy mengulurkan tangan. Dan segera di raih Ayumi sampai jemarinya saling bertautan.


"Sudah pernah kesini?"


"Belum, ini pertama kali." Kata Ayumi jujur.


Randy mengangguk.


"Abang pernah?"


"Pernah." Jawab Randy singkat.


Kepala Ayumi terangkat, menatap Randy yang tengah menatap lurus kedepan.


"Sama siapa? Pasti untuk olahraga malam yah?!"


Tiba-tiba saja dirinya merasa kesal. Dadanya sesak dengan pikiran yang buruk mulai memenuhi isi kepala.


"Maksud kamu?" Kening Randy berkerut.


Namu, Ayumi tidak menjawab saat mereka sampai di depan meja resepsionis, dan Randy segera melakukan transaksi untuk menyewa satu kamar malam ini.


"Silahkan." Seorang resepsionis perempuan cantik itu menyerahkan sebuah access card.


"Baik, terimakasih." Randy meraihnya, dan kembali menggenggam tangan Ayumi, membuat mereka segera berjalan mendekati pintu lift.


Randy menekan tombol, kemudian mundur untuk menunggu pintu besi itu segera terbuka.


Ting!


"Ayo!" Randy melirik Ayumi.


Perempuan itu tak berekspresi apapun, dia hanya melangkah mengikuti kemana Randy membawanya.


Ayumi kesal.


"Aku menginap dengan Pak Raga setelah menemui beberapa sponsor, … kalau dengan mereka ya tidak di hotel seperti ini!" Jelas Randy.


Benda itu terasa mulai bergerak, setelah pintunya tertutup dan Randy menekan tombol angka 8.


"Ah mana mau kamu ngaku!"


"Tidak disini, Ay!"


"Terus dimana?"


"Ada lah, kamu nggak usah tahu. Lagi pula jangan bahas ini nanti kita berantem."


"Dimana!?"


"Ay!"


Ting!


Pintu lift itu kembali berdenging, berbarengan dengan pintu besi itu yang mulai terbuka dengan perlahan-lahan.


"Ayo. Tunggu apa lagi!" Ajak Randy saat Ayumi terus diam menatapnya dengan bibir mengerucut.


Ayumi dia terlihat merajuk.


"Ayo nanti liftnya keburu tertutup lagi." Cicit pria itu sembari menahan pintu lift dengan telapak tangannya.


"Dimana?"


"Aku tidak mau menjawab, nanti kita benar-benar bertengkar!"


"Ya sudah aku tidak mau ikut, aku pulang saja." Dia melipat kedua tangannya di atas dada.


Randy menghela nafas.


"Ya sudah aku mau pu …"


"Di apartemen mereka! Puas? Cepat atau liftnya akan error'." Randy menyambar tangan Ayumi, dan membawanya keluar dari dalam lift sana dengan langkah cepat.

__ADS_1


__ADS_2