My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Saudara ipar


__ADS_3

Sebuah taman area belakang rumah menjadi pilihan tempat untuk berkumpul. Duduk lesehan di atas tikar yang di gelar di atas rumput, dengan berbagai macam makanan yang juga tersuguh di sana.


Kemasan-kemasan makanan ringan, ada keripik singkong, talas dan kentang. Belum lagi minuman-minuman kaleng berbagai macam rasa, tak lupa potongan buah, pusing juga brownies panggang buatan Maria.


Yang wanginya terus menguar, hampir ke setiap sudut area sana.


"Mama dan Papa mu sudah tahu?" Tanya Ali.


Pria itu benar-benar terlihat sangat bahagia dengan kabar kehamilan kedua putri asuhnya. Ayumi yang tengah asik mengunyah makanan ringan pun mengangguk.


"Mereka cukup intens menghubungi, hanya untuk memberi kabar dan melihat tumbuh kembang Raizel," Maria menimpali.


Wanita itu tak hentinya mengusap rambut panjang sang cucu, yang saat ini sedang berbaring di atas pangkuannya, dengan iPad menyala, menayangkan sebuah tontonan anak-anak yang begitu menggemaskan.


"Itu bagus, jarak tidak menutup kita untuk tetap terus saling berkomunikasi," ujar Ali.


"Kalian tidak ada niatan untuk berkunjung ke sana? Sekalian ajak El liburan juga?" Tanya Tutih.


Dia meraih satu tempat berisikan puding coklat, menuangkan vla, kemudian mulai memakannya.


"Tunggu kerjaan Abang selesai dulu, biar liburannya tenang," katanya.


Tutih hanya mengangguk, dan kembali fokus menikmati puding yang dihidangkan oleh Maria.


Lalu pandangan semua orang beralih, ketika mendengar suara langkah kaki dari arah dalam. Tampaknya Randy sudah selesai dengan beberapa berkas yang ia bawa ke rumah, sehingga memutuskan untuk segera bergabung. Walau sebelumnya pria itu memilih untuk fokus mengerjakan sisa pekerjaannya.


Polo shirt lengan pendek berwarna hitam, dengan celana chinos berwarna senada, rambut memanjang yang tampak sedikit ikat, membuat pria berusia 36 tahun itu terlihat tampan. Apalagi saat tato di tangannya terekspos dengan sangat jelas, menimbulkan kesan lain pada laki-laki beranak satu itu.


"Dimana Amar? Ada harus berbicara, dan ini sangat penting."


Randy membuka sandal rumahan miliknya, lalu duduk tepat di samping sang istri, seraya mencium pipi perempuan itu bertubi-tubi.


"Tidak tahu kemana dulu, katanya tadi ada perlu sebentar," tutur Ali.


"Oh, aku kira dia tidak ikut."


Ayumi mengarahkan pandangan pada suaminya, menatap pria itu penuh tanya.


"Tumben nyariin Bang Amar?" Kata Ayumi.


"Ada pekerjaan yang cukup bagus, Mom. Sayang kalau nanti aku tawarkan ke orang lain, atau bahkan pihak resort membuka lowongan. Jadi sebelum itu aku akan merekomendasikan Amar lebih dulu, toh dia sudah mempunyai pengalaman juga kan?"


Ayumi menatap kedua orang tua asuhnya secara bergantian, seolah mencari sebuah pembenaran. Dan ya, Ali pun mengangguk, menjawab kebingungan dari Ayumi.


"Minggu lalu Randy menghubungi Bapak, dan menanyakan pekerjaan Amar yang sekarang. Apakah Abangmu masih bekerja, atau sudah berhenti."


Ayumi mengangguk, lalu dia kembali menatap suaminya.


"Emangnya resot tempat kerja Bang Amar milik Pak Raga?"


Randy menimpali pertanyaan Ayumi dengan gelengan kepala. Pria itu meraih puding, lalu memakannya lebih dulu. Tak lupa menawarkan kepada Raizel, dan mencoba membuyarkan fokus gadis itu dari iPad miliknya.


"Jangan di ganggu, anaknya lagi anteng juga!" Maria menepuk lengan putranya sangat kencang.


Namun, tidak membuat pria itu menghentikan keusilannya. Dia mencolek pipi Raizel, yang langsung di tepis anak itu, lalu menyodorkan sendok puding, meskipun berkali-kali Raizel tolak dengan rengekan kesal.


"Dad!" Bentak Raizel.


Gadis kecil itu menatap wajah ayahnya tajam, lalu mendelikan mata, sambil menyusut bibirnya.


"Terus bagaimana? Bang Amar mau?" Ayumi menarik tangan suaminya, berusaha menghentikan keusialan pria itu.


"Belum tahu, kan belum ngobrol."

__ADS_1


"Tapi kayaknya kalau pekerjaannya lebih bagus, pasti Bang Amar mau sih," ujar Ayumi.


"Memangnya kerjaan apa?"


Tiba-tiba saja suara Amar terdengar, membuat semua pandangan menoleh ke arah suara terdengar. Tidak terkecuali Raizel, gadis itu bahkan langsung bangkit, dan berlari mendekati pamannya.


"Om!"


Dengan suara melengking Raizel berteriak, kemudian melompat ke atas gendongan Amar. Beruntung pria itu menerimanya dengan sigap, sehingga membuat Raizel menempel seperti koala yang sedang memeluk dahan pohon.


"Bukan Om, El! Tapi Uwa," Kata Tutih.


"Nggak, Nenek. Ini Om!"


Raizel memeluk pundak Amar semakin kencang, membuat pria yang mendapatkan perlakuan itu tertawa cukup kencang.


"Om bawa jajanan?"


"Tidak sayang, Om lupa tadi!"


"Terus kemana saja kamu selama itu? Ibu kira mampir ke mini market untuk belikan jajanan El," ujar Tutih.


Amar tidak menjawab, dia malah berjalan ke sisi lain tempat itu, mendekati sebuah ayunan, dan meletakan Raizel di atas sana. Perlahan Amar mendorong punggung Raizel, membuat benda itu mengayun dengan perlahan-lahan.


"Biarkan El disana, kau kemarilah. Ada sesuatu yang sangat penting untuk kita bicarakan," pinta Randy sambil mengatakan pandangan pada dirinya.


Amar mengangguk, kemudian beranjak menjauh dari Raizel setelah meminta izin lebih dulu.


"Bagaimana pekerjaan kau di resort sekarang?"


"Tidak bagaimana-bagaimana mana."


"Nyaman?" Randy terus menatap Amara.


"Ya, … namanya pekerjaan, kadang nyaman, kadang juga nggak nyaman. Tergantung kondisi!" Katanya.


Lalu Amar meraih kaleng minuman rasa jambu, untuk kemudian meneguknya hingga hampir tandas. Suasana hening untuk beberapa saat, para orang tua bahkan mulai menyimak pembahasan Randy yang terlihat sangat serius, sementara Raizel turun dari atas ayunan dan berjalan mendekati tanaman tomat kesayangannya.


"Sampai kapan kamu mau menjadi housekeeper?"


"Ini pekerjaan yang cukup bagus, gajinya lebih besar dari pada di bengkel, … aku rasa bagus untuk dipertahankan. Setidaknya anak istriku tidak akan kekurangan jika kepala rumah tangga mereka mempunyai penghasilan tetap," jawab Amar.


Randy mengangguk-anggukan kepala.


"Jika ada pekerjaan yang lebih baik, kau mau?" Untuk pertama kalinya Randy berbicara banyak hal dengan iparnya.


Sikap Amar yang cukup buruk kepada Ayumi dahulu, membuat Randy selalu merasakan kesal, bahkan hanya karena melihat wajah Amar. Namun, tampaknya mereka berdua sudah sama-sama berdamai dengan keadaan, sehingga membuat semuanya terlihat baik-baik saja.


"Kalau lebih baik, lebih menjanjikan. Ya kenapa tidak?"


"Tapi janji, lho. Kalau Daddy nya El masukin kerja Bang Amar jangan macem-macem yah?!" Ayumi memberi peringatan.


Amar hanya mengangguk.


"Ya di coba saja dulu. Siapa tahu nyaman juga kan?" Maria ikut berbicara.


"Iya, kadang kan yang gajinya besar aja masih bisa bikin kita nggak nyaman," sambung Tutih.


"Betul," Ali mengamini.


"Jadi apa pekerjaanya?" Amar penasaran.


"Balqis baru saja membuat resort, tepat di area pantai dekat rumah Bapak dan Ibu, … kebetulan juga dia meminta aku untuk mencari seseorang yang bisa di percaya. Dan kau tahu jabatan yang dia tawarankan apa?" Randy tampak bersungut-sungut.

__ADS_1


"Apa?" Semua orang bertanya bersama-sama.


"Manager."


Amar langsung terdiam, dengan ekspresi penuh keterkejutan. Tentu saja, tidak pernah dia bermimpi akan mendapatkan pekerjaan sebagus itu, bertahun-tahun menjadi pengangguran karena terbatasnya lowongan kerja, kemudian menjadi housekeeping atas rekomendasi Randy, dan setelah ini pekerjaan yang sangat menjanjikan juga menantinya, itu pun atas rekomendasi sang adik ipar.


Padahal sebelumnya ia hanya seorang buruh bengkel, yang dibayar tak tentu waktu.


"Oh jadi resort baru itu milik Bu Balqis, ya?" Tanya Ayumi.


Randy mengulum senyum sambil mengangguk.


"Tapi, sebelumnya tetap menjadi karyawan biasa dulu. Kata Balqis biar nggak keliatan punya orang dalem," Randy beralih kepada Amar.


"Emang tahu kalau kamu mau bawa Bang Amar?"


Randy mengangguk lagi.


"Sebenarnya tau karena Amar kerja housekeeping. Jadi nawarin kerjaan yang lebih bagusan sedikit lah!"


Ayumi mengangguk, sementara Ali dan Tutih terlihat sangat senang. Terbukti dari raut wajah keduanya yang tampak berbinar.


"Kalian lanjut ngobrol sajalah. Ibu mau nemenin El dulu, … sebentar saja tanpa pengawasan dia bisa mainin cacing, mending kalau di mainin doang, ini di potong-potong jadi tujuh bagian."


Maria tampak khawatir, apalagi saat melihat Raizel mulai bermain tanah.


"Ngeri juga si gemoy itu!" Gumam Amar.


"Jadi bagaimana? Kamu sanggup? Menjadi manager tidaklah segampang menjadi housekeeping. Ada banyak hal yang harus kamu perhatikan, tidak soal kerjaan saja, tapi membuat tim bekerjasama dengan baik agar semuanya berjalan lancar dan sesuai."


Tanpa berpikir panjang, Amar pun menganggukan kepala tanda setuju. Memangnya siapa yang akan menolak tawaran sebagus itu?


"Aku akan berusaha. Tapi sebelumnya apa boleh aku meminta beberapa saran, atau apapun untuk aku pelajari?"


Randy mengangguk.


"Tentu, aku akan memantaumu. Sebelum nanti kau harus bertanggung jawab sendiri."


Amar tersenyum sumringah, rasa bahagia jelas menggulung di dalam dirinya. Apalagi saat membayangkan kehidupannya setelah sukses nanti, bersama seorang gadis yang sangat dia cintai.


"Apa aku boleh memelukmu adik ipar?"


"Oh tidak, aku akan memeluk adikmu saja!" Tolak Randy.


Dia menarik lengan Ayumi, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya.


"Yah jomblo!" Ledek Ayumi.


"Sok tahu!"


Amar bangkit, lalu dia mendekati Maria juga Raizel yang tengah asik bermain tanah. Sementara Ayumi, Randy, Ali dan Tutih tertawa karena melihat tingkah Amar.


"Tidak tahu kapan dia akan mendapatkan pasangan," Gumam Ali.


"Mungkin nanti, nunggu cewek yang bisa Nerima sikap galaknya Bang Amar."


Perempuan itu tertawa lagi, dan kali ini lebih kencang. Sehingga membuat Amar mengarahkan sorot mata tajamnya ke arah Ayumi.


"Aku dengar!"


"Ya ya ya, maaf Bang jomblo."


"Haih," Amar mendengus kencang.

__ADS_1


__ADS_2