My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 131 (Alamat rumah)


__ADS_3

Sumi mematikan kompor, saat mendengar pintu rumahnya diketuk beberapa kali sedikit lebih sangat kencang. Dengan segera wanita itu berjalan ke arah ruangan depan dimana pintu utama rumah berada.


Klek!


Sumi menarik pintu tersebut sampai terbuka sangat lebar. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Ayumi berdiri di hadapannya dengan senyum lebar juga ekspresi penuh kegembiraan.


"Mama lama buka pintunya!" Protes Ayumi.


Dia segera maju, dan memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat. Membuat Sumi menatap pria tinggi yang berdiri di belakang putrinya penuh tanya.


"Sejak jam tiga pagi dia terus merengek ingin kesini. Dan tidak bisa aku hentikan dengan kata 'nanti sudah siang' dia terus memaksa untuk segera berangkat, dan hasilnya kita sampai sepagi ini." Jelas Randy dengan wajah yang terlihat kusut.


Mata merah juga pakaian tidur yang tak sempat Randy ganti.


Ayumi mengurai pelukannya, lagi-lagi dia menatap sang ibu dengan senyum sumringah, menampakan deretan gigi juga gusinya yang membuat senyuman Ayumi selalu terlihat lebih manis.


"Kamu tega membuat suamimu berkendara sepagi itu?" Sumi membingkai wajah putrinya yang polos tanpa polesan make up, namun tak mengurangi kecantikan calon ibu muda itu sedikitpun.


Ayumi mengulum senyum, dia menoleh ke arah belakang dimana suaminya berada.


"Abang keberatan nganterin aku kesini?" Ayumi segera bertanya.


Randy langsung menggelengkan kepalanya.


"Ti-tidak, … tentu saja tidak. Apa aku bisa menolak jika kamu sudah merengek? Dan mengatakan jika ini keinginan anakku?" Pria itu menunjuk dirinya sendiri.


Ayumi tersenyum lagi, dan kembali menatap Sumi.


"Abang tidak keberatan, Ma! Dia malah senang." Jelas Ayumi. "Iya kan Daddy?" Ayumi mengalihkan pandangannya ke arah Randy lagi.


Dan pria itu hanya mengangguk, mengiyakan semua perkataan istrinya.


"Ya sudah, ayo masuk. Kebetulan Mama sedang membuat nasi goreng, kamu mau? Atau sudah membeli sarapan di jalan?"


Sumi menarik Ayumi masuk, di ikuti Randy yang berjalan di belakang dua wanita berbeda usia, dengan langkah gontai.


"Sudah, tadi Abang beliin nasi uduk. Jadi tinggal santai saja soalnya minum vitamin juga udah." Kata Ayumi.


"Mau istirahat?"


Ayumi tidak menjawab, dia justru menoleh ke arah belakang, menatap suaminya yang memaksakan senyum.


"Abang mau tidur lagi? Kalau mau kita pinjam kamar Mama."


Randy menatap Sumi.


"Emmm, … kalo kamu mau disini, aku pulang saja ke rumah Ibu deh, nggak sopan pakai kamar Mama kamu, Ay!"


Ayumi beralih menatap Sumi, seolah meminta jawaban atas apa yang baru saja Randy ucapkan.


"Jika mau pakai saja, sudah Mama rapikan." Tukas Sumi.


"Kalau begitu aku numpang istirahat boleh? Nanti agak siangan mau ke rumah Ibu sebentar, terus balik lagi kesini mau menginap beberapa hari." Seru Ayumi.


Suami mengangguk, sementara Randy menghela nafasnya. Entah kenapa mendengar kata itu dia sedikit tidak rela, apalagi Ayumi akan meninggalkannya di rumah sendiri untuk waktu yang tidak sebentar, dan dia benar-benar tidak bisa.


"Tidak bisakah kita pulang nanti siang atau sore saja? Tidak usah menginap. Apa tega kamu meninggalkan suamimu sendirian di rumah." Kata Randy tak bersemangat.


"Hanya tiga hari, paling lama seminggu, Dad!"


"Hhhheuh!" Randy menghela nafasnya. "Ma, aku ikut tidur sebentar. Mendengar Ayumi terus berbicara seperti itu rasanya bertambah rasa pusing ini." Pria itu mengeluh.


Randy langsung memasuki pintu kamar yang tidak jauh dari tempat ibu mertua dan istrinya berdiri saat ini, kemudian menaiki tempat tidur kecil dan berbaring disana.


Ibu dan anak itu saling menatap, lalu tersenyum satu sama lain.


"Kamu atau Baby nya yang nakal? Senang sekali membuat Daddy nya pusing seperti itu?" Bisik Sumi sambil menahan senyum.


"Mmmm, … kami berdua, entah kenapa melihat Abang seperti itu membuat aku senang, karena dia terlihat begitu menggemaskan." Ayumi terkekeh pelan.


"Mau sarapan lagi?" Tawar Sumi kepada Ayumi.


"Mau, sepertinya aku juga sudah lapar lagi."


"Baik, ayo kita ambil nasi gorengnya."


Sumi menuntun Ayumi ke arah dapur, membiarkan Randy yang hendak beristirahat karena merasa kelelahan setelah berkendara hampir 2 jam lamanya.


Satu porsi nasi goreng tanpa kecap Sumi serahkan kepada putrinya. Tidak ada pelengkap apapun selain daun bawang dan telur orak-arik, tapi Ayumi terlihat begitu antusias saat suapan pertama masuk kedalam mulutnya.


"Suka?" Sumi menatap Ayumi yang begitu lahap.


"Suka, enak. Apalagi tidak pakai kecap, rasanya gurih." Puji Ayumi.


Sumi tersenyum, niat awal yang ingin sarapan bersama tiba-tiba sirna. Melihat Ayumi makan dengan lahap pun sudah cukup, tiba-tiba saja perutnya terasa kenyang, dan Sumi hanya ingin menatap Ayumi tanpa memakan nasi goreng miliknya.


"Mama tidak makan?"


"Sepertinya Mama sudah kenyang." Jawab Sumi.


Ayumi melirik sekilas.


"Mama sama Abang sama. Suka melihat aku sambil tersenyum-senyum saat aku lagi makan, … aku kan jadi malu kalau di lihatin begini. Makan aku banyak soalnya!" Ayumi berujar.


"Tidak usah malu, habiskan. Setelah makan kita petik buah markisa di belakang, buahnya semakin lebat setelah kamu memetiknya waktu itu."


"Iya?"


"Huum, sepertinya pohon markisa nya senang."


"Memangnya pohon bisa senang juga?"


Ayumi berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanannya.


"Habiskan dulu, nanti kita petik markisanya yang banyak, sekalian bawakan untuk Ibu Tutih nanti, Oke?"


Ayumi mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian mengacungkan satu ibu jari ke arah Sumi.


Dan setelah selesai menghabiskan sarapannya. Ayumi juga Sumi segera keluar, berjalan ke arah belakang rumah dimana tanaman merambat yang saat ini sedang berbuah lebat berada. Pandangan Ayumi menengadah, melihat buah markisa yang terlihat begitu banyak, dengan warna hijau yang mulai menguning.

__ADS_1


"Whoa, kali ini lebih banyak dari pada waktu itu ya, Ma?" Ayumi berdecak kagum.


"Bagus bukan? Kita bisa petik semua. Nanti kita berikan kepada dua Ibumu. Bu Tutih dan Bu Maria."


Ayumi mengangguk. Dia berjalan semakin mendekat, dan mulai memetik satu-persatu buah markisa yang menjuntai lebih ke bawah, sampai membuat Ayumi tidak kesulitan saat mengambilnya.


"Ada juga yang rasanya manis, hanya saja adanya di kebun atas. Cukup jauh!"


"Bedanya apa?" Tanya Ayumi.


"Ya manis." Sumi tertawa.


"Maksud aku selain rasanya yang manis."


"Oh, … kalo orang sini bilangnya buah 'Konyal' rasanya manis dan warnanya berwarna putih, beda dengan markisa yang sedang kamu petik sekarang, selain ukurannya lebih kecil, dalamnya juga berwarna kuning dan mempunyai rasa yang begitu asam."


Ayumi datang mendekat, membawa markisa hasil petikannya dan memasukan kedalam keranjang yang kini berada di alam genggaman Sumi.


"Ini sajalah, aku tidak terlalu suka yang terlalu manis." Ayumi kembali melihat-lihat tanaman merambat itu.


"Ay? Apa jika Mama mengatakan ini kamu akan takut? Atau tersinggung?"


Sumi berjalan mendekat.


"Apa? Katakan saja."


Sumi menatap punggung putrinya yang terus berjalan kesana dan kemari dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata.


"Ma?"


"Ah sepertinya kamu tidak usah tahu yah, … biar Mama saja."


Ayumi kembali mendekat, meletakan merkisa kedalam keranjang yang hampir penuh, lalu melihat raut wajah Sumi yang tampak sedang memikirkan banyak hal.


"Para tetangga menggunjing Mama lagi?"


"Bukan."


"Lalu?" Ayumi menatap ibunya lekat-lekat, menyelami iris kelam wanita dihadapannya.


"Mah?" Panggil Ayumi lagi, saat Sumi terus mematung dan mengunci pandangan kepada dirinya.


"Itu …"


"Ya, katakan saja. Sekarang Mama ada teman untuk berbagi cerita, maka katakan saja padaku, dan jangan dipendam sendiri seperti biasanya." Ayumi mencoba untuk meyakinkan keraguan ibu kandungnya.


"Ini, … ada hubungannya dengan ayah kandungmu!"


Ayumi diam.


"Dia mengirimkan beberapa surat. Tidak, maksud Mama menyimpan beberapa surat di rumah lama, tiga sudah Mama baca, dan satu lagi masih Mama simpan, Mama tidak mau isi surat itu."


"Dia datang?"


Sumi mengangguk.


"Mama merasa terganggu? Atau terancam?"


Sumi meletakan keranjangnya begitu saja, lalu terduduk di atas rerumputan hijau.


"Mama takut ini akan membuat mental health kamu memburuk lagi. Awalnya Mama tidak berniat memberi tahu, tapi rasanya tidak kuat untuk menahan ini sendirian."


Ayumi ikut duduk.


"Tidak akan. Mama bisa berbagi cerita sekarang sama aku!" Dia menyentuh tangan ibunya.


"Valter sempat datang."


"Untuk apa dia mencari Mama? Untuk meminta maaf? Atau meminta kembali? Kenapa jalannya selalu begitu, mereka harus menyesal dulu baru mau mencari dan meminta maaf, bahkan ini sudah terlalu lama, Mah. 20 tahun bukan waktu yang sebentar."


Sumi menatap Ayumi, perempuan itu terlihat sedikit marah.


"Ya, dia meminta untuk bertemu. Istrinya sedang berjuang sakit kanker serviks stadium akhir … dia ingin bertemu dengan Mama." Raut wajahnya sendu.


"Tidak! Mama tidak boleh merasa bersalah, itu hukuman untuk mereka." Kata Ayumi.


"Apa salah jika nanti Mama bersedia menemui mereka?"


Ayumi menggelengkan kepala.


"Hanya saja sakit di balas kata memaafkan itu tidak adil, Ma!"


Sumi mengangguk, juga mengulum senyum, seraya menyentuh pipi Ayumi dan mengusapnya dengan sangat pelan.


"Mama mengatakan ini bukan tanpa alasan. Tapi kita harus siap, cepat atau lambat. Waktu itu akan tiba, dimana kamu harus menemui ayahmu. Mama tidak memaksa, hanya saja dia harus tahu, anak yang dia tinggalkan tumbuh besar dan menjadi gadis yang sangat cantik."


Ayumi mengangguk.


"Kita bisa hadapi ini sama-sama, atau minta bantuan Abang kalau Mama benar-benar butuh bantuan."


"Tidak tidak, Mama hanya ingin memberitahu agar kamu tidak terkejut nantinya."


"Mama bilang ada satu surat yang belum di baca? Maka ambil surat itu, ayo kita lihat isinya bersama-sama, sekarang Mama punya aku, tempat untuk berbagi cerita dan berkeluh kesah." Ayumi beringsut lebih mendekat, dan memeluk ibunya, berusaha sedikit menenangkan hati dan pikiran yang mungkin saja sedang merasa gelisah dan tidak baik-baik saja.


Setelah itu keduanya segera kembali. Menyimpan satu keranjang berukuran sedang di meja teras rumah. Ayumi duduk di kursi sana, sementara Sumi berniat membawa satu amplop yang belum dia buka.


Sumi masuk kedalam kamar, melihat Randy yang masih terlelap, berjongkok lalu membuka laci dan membawa benda tersebut keluar.


"Nah, bukalah."


Sumi memberikan kepada Ayumi.


"Tidak Mama saja yang buka? Kenapa harus aku?"


"Setidaknya lihatlah tulisan tangan ayahmu untuk pertama kalinya." Sumi duduk di samping Ayumi.


"Kadang aku nggak nyangka, ternyata aku ini berdarah Jerman yah." Ayumi tertawa pelan sembari membuka amplop tersebut.


Perlahan Ayumi mulai menyobeknya, menarik keluar sebuah lipatan kertas berwarna putih, dengan warna tinta hitam yang sudah menembus kertas itu.

__ADS_1


"Sepertinya ini sudah agak lama." Kata Ayumi.


"Memang, tiga atau empat bulan yang lalu Ayahmu datang. Tapi dia tidak dapat menemukan Mama disini, karena dia datang ke rumah lama dan tidak ada yang memberitahukan rumah Mama sekarang, … itu salah satu permintaan Ibu kepada tetangga disana." Jelas Sumi.


Ayumi diam, perempuan itu fokus membuka lipatan kertas tadi.


"Ma?"


"Iya? Apa kamu tidak bisa mengerti? Mungkin bahasa Indonesia nya belum terlalu bagus, tapi cobalah untuk mengerti."


"Bukan. Ini alamat rumah dan sebuah nomor handphone!"


Ayumi menyodorkan benda itu kepada ibunya, memperlihatkan isi tulisan juga nomor yang diminta untuk segera Sumi hubungi.


"Untuk apa dia mengirim alamat rumah mereka, Mama tidak mungkin kesana kan?" Kata Ayumi.


Sumi menghela nafas. Alamat rumah yang tertera, juga nomor yang bisa segera Sumi hubungi membuat ucapan Nur kembali berputar-putar di dalam ingatannya.


Apa dia benar-benar ingin memintaku datang kesana? Dan menemui ka Susi?


Batin Sumi berbicara.


"Ma?"


"I-iya, Ay?"


"Mama tidak mungkin kesana kan? Tidak mungkin Mama meninggalkan aku lagi! Aku tidak mengizinkan."


Sumi tersenyum.


"Uang dari mana? Tidak mungkin Mama kesana, jadi biarkan saja."


Sumi melipat kertas tadi, memasukannya kembali kedalam amplop dan kembali ke arah salam, untuk dia simpan di dalam laci seperti semula.


***


"Iya, Pak. Sekali lagi maaf." Randy berbicara dengan ponsel yang menempel di daun telinganya.


Pria itu terus mengangguk-anggukkan, sementara Ayumi memperhatikan suaminya dalam diam, juga rasa bersalah karena telah membuat suaminya berada dalam masalah.


"Baik, Pak. Besok saya tidak akan izin, hanya hari ini saja mengantar Ayumi karena ingin menemui Ibunya." Kata Randy lagi.


Dan setelah itu dia menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, menekan tombol merah, kemudian meletakan di atas tempat tidur.


"Pak Raga marah?"


"Ya, apalagi? Tidak ada pemberitahuan, tahu-tahu aku tidak masuk dan membuat semua miting yang harus aku lakukan di ambil alih olehnya."


Ayumi tersenyum gugup, dia mendekat dan memeluk tubuh Randy, menyandarkan pipi di lengan di bahu suaminya.


"Maaf ya!" Kata Ayumi pelan.


"Hemmmm." Balas Randy dengan bergumam pelan.


Dia menyugar rambutnya yang sedikit ikat, mengusap wajah, dan sedikit menggerakan tubuh untuk meregangkan otot-otot yang terasa kaku.


"Kamu masih mau disini? Aku mau ke rumah Ibu, mau mandi." Kata Randy.


"Kok nanya nya gitu? Emangnya aku nggak boleh ikut. Bukannya di ajakin malah nanya."


"Iya siapa tahu masih mau disini. Nanti aku jemput lagi kalau mau ke rumah Bapak."


Kepala Ayumi terangkat, menatap wajah sembab suaminya.


"Tidak boleh ikut?"


"Boleh, Ay! Siapa yang bilang tidak boleh?"


"Tadi Abang! Nggak ngajak aku."


"Ya sudah, ayo kita ke rumah Ibu, aku mau mandi."


Ayumi mengangguk, dia tersenyum manis.


"Aku sudah panen markisa sama Mama. Mau aku kasih sama Ibu kamu dan Ibu aku."


Randy bangkit, dia mulai beranjak ke arah luar. Diikuti Ayumi yang berjalan di belakangnya.


"Panen dimana?"


"Di belakang rumah."


"Oh."


"Mau ke rumah Bu Tutih sekarang?" Sumi muncul dari arah dapur.


"Bukan, Abang mau ke rumah Ibu Maria. Mau mandi katanya udah bau iler."


"Astaga!" Randy menghela nafasnya perlahan.


"Ya sudah, jangan lupa markisanya di bawa. Sekalian juga untuk Ibu kamu, nanti dari rumah Bu Maria langsung ke rumah Bu Tutih saja yah!"


"Mama ngusir aku yah?"


"Tidak, tapi Bu Tutih juga pasti sedang mengharapkan kedatangan anaknya. Jadi kesana saja langsung, setelah puas nanti baru pulang kesini, … dan jangan lupa izin, bilang kalau Ayumi mau tidur di rumah sini!"


Ayumi mengulum senyum.


Dia berjalan ke arah luar terlebih dahulu, meraih dua plastik bening berisikan buah markisa yang dipetik Ayumi tadi pagi bersama Sumi.


"Ma, kami pamit ke rumah Ibu dulu." Randy meraih tangan Sumi, dan mencium punggung tangannya.


Hal yang sama Ayumi lakukan, mencium punggung tangan, juga kedua pipi wanita itu.


"Aku pamit dulu ya, Ma." Ayumi melambaikan tangan.


"Mobil kalian dimana?"


"Di depan, titip di rumah Pak RW." Kata Randy.

__ADS_1


Sumi hanya mengangguk memperhatikan kedua anaknya yang berjalan semakin jauh. Setelah itu Sumi kembali ke dalam, saat merasa tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian beberapa tetangga di samping rumahnya.


__ADS_2