
Bianca duduk di sofa besar kamarnya, bersandar dengan pandangan lurus kearah depan, dimana kaca besar berada.
Langit biru yang mulai menghitam. Namun masih memperlihatkan siluet kuning keemasan, membuat suasana sore hari ini begitu indah juga menawan.
Dia mengusap perutnya yang mulai membulat, saat kandungannya kini mulai memasuki trimester kedua.
"Yank?" Panggil Junior.
Suara bariton itu membuat Bianca menoleh, lalu tersenyum saat Junior keluar dari walk in closet dalam keadaan segar.
Dia berjalan kearahnya.
"Iya?" Bianca menoleh.
Junior tersenyum, dia duduk tepat di samping sang istri, kemudian membungkuk untuk mencium perut Bianca yang sudah terlihat sedikit membulat.
"Hey? apa kamu nakal hari ini?" Junior berbicara.
Melihat itu Bianca kembali tersenyum, seraya mengusap kepala suaminya dengan lembut.
"Tidak Papa, hari ini Adek baik. Tidak membuat Mama pusing, apalagi muntah."
Junior bangkit, lalu menatap wajah polos tanpa makeup itu dengan perasaan yang tidak biasa dia jabarkan dengan kata-kata.
Gadis kecil yang selalu menjadi temannya bermain, lalu menjadi teman satu sekolah. Sempat di pisahkan oleh Universitas, dan masalah, tapi mereka kini benar-benar bisa bersama dan membuktikan semuanya.
"Jangan menatap ku seperti itu, aku malu!" Bianca mengusap wajah suaminya.
"Aku masih belum percaya tahu." Ujar pria itu sambil tersenyum samar.
Kening Bianca berkerut, lalu perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini, ... itu saja yang di bahas."
"Kamu beneran istri aku yah? terus yang ada di dalam perut sini anak kita?" Senyumnya merekah.
Junior meraih tangan Bianca, dan menggenggam nya erat.
Bianca diam, dia menatap wajah tampan itu dengan hati yang berdebar-debar. Tentu saja, dia pun sama seperti suaminya, terkadang Bianca tidak menyangka bisa menikah dengan sahabatnya sendiri, terlebih keduanya pernah di pisahkan karena sebuah kesalahan yang dilakukan temannya sendiri.
"Aduh aku sedih kalau ingat itu!" Tiba-tiba saja Bianca tertawa kencang. "Kita sudah bersama sejak dari kecil, pernah satu sekolah, sahabatan juga, tapi kenapa Papa kamu nggak setuju sama aku yah? sampe kamu di jodohin sama Ayumi. Sesak rasanya kalau ingat kesana." Dia terus tertawa, bahkan kali ini kepalanya mendongak kebelakang.
"Eh!" Junior merangsek lebih mendekat, kembali meraih tangan Bianca yang saat ini terlihat mengusap kedua sudut matanya. "Aku nggak niat kesana lho, kok kamu malah inget itu lagi? aku lagi kagum sama kamu tahu!"
Pria itu segera meraih pundak Bianca, lalu menariknya sampai Bianca masuk kedalam pelukan hangatnya.
"Sudahlah, jangan mengingat keadaan itu lagi. Kita sedang baik-baik saja, sudah berapa kali kita bertengkar cuma gara-gara itu." Suara Junior terdengar lembut.
Dia memeluk Bianca erat, lalu mencium kening wanita itu beberapa kali.
"Sekarang kamu menantu kesayangan Papa tahu. Dia sudah sadar jika kamu tidak seperti yang dia pikirkan, kamu gadis sederhana yang dia inginkan, apalagi sekarang sedang ada cucunya di dalam sini." Junior mengusap perut sang istri.
Namun penjelasan itu tak cukup, raut wajah itu masih terlihat sendu. Kesedihan tentang itu memang sulit di lupakan Bianca, sampai perempuan itu kini sedikit tidak menyukai wanita yang sempat akan di jodohkan dengan suaminya.
"Jangan sedih! toh waktu itu juga kita sama-sama menolak. Ayumi tidak mau, aku pun apalagi."
"Iya tapi sekarang Papa masih sangat perhatian sama Ayumi. Bahkan masuk kerja pun Papa kamu yang meminta kepada Papa dan Ka Balqis."
"Itu karena dia memang sangat membutuhkan. Kamu tahu sayang? orang tua Ayumi terlilit hutang, lalu apa yang bisa kami bantu jika bukan memberikan sebuah pekerjaan kepada dia?"
Bianca diam, dia menundukan kepala.
"Jangan membenci Ayumi. Dia tidak salah!"
"Aku nggak benci, cuma kesel." Bianca mengelak.
Junior menghembuskan nafasnya perlahan.
"Ya ya ya, terserah kamu saja. Yang penting sekarang jangan sedih, jangan cemburu juga, aku tidak akan menjadikan Ayumi sekertaris aku, ... dan sepertinya dia tidak akan mau, toh cepat atau lambat dia akan berhenti bekerja."
"Lho! kok berhenti? aku nggak minta di berhenti."
"Bukan itu. Sepertinya Ayumi sedang dekat dengan Asistennya Ka Raga, dan siapa yang tahu, mungkin saja kekasihnya akan meminta Ayumi berhenti." Jelas Junior.
Bianca masih terlihat bingung.
"Setiap hari dia menjemput Ayumi, sepertinya pria itu benar-benar serius dengan Ayumi. Dan itu bagus, kamu tidak akan cemburu lagi karena aku dan Ayumi satu kantor."
"Hemm, ... aku ..."
"Shutttt!" Junior menggelangkan kepalanya. "Jangan bahas lagi, aku tidak mau ini terus berlarut-larut."
"Baiklah."
Junior tersenyum.
"Sudah makan?"
"Belum, aku nungguin kamu."
__ADS_1
"Oh, berarti susu dan vitaminnya belum juga yah?"
"Hu'um." Bianca mengangguk.
"Yasudah ayok kita makan, setelah itu aku buatkan susu, dan jangan lupa minum vitaminya agar dia semakin sehat."
Junior bangkit terlebih dulu, mengulurkan tangan untuk membantu Bianca berdiri, lalu membawa perempuan itu keluar kamar dengan kedua tangan yang saling terpaut, menggenggam satu sama lain.
***
Sementara itu di tempat lain.
Bukannya mengantar Ayumi segera pulang, Randy justru membawa gadis itu ketempat sebuah perbelanjaan yang berada di pusat kota.
"Ngapain kesini?" Ayumi menoleh, saat mobil itu berhenti di sebuah parkiran bawah tanah.
"Kita beli sesuatu." Jawab Randy sembari membuka sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuh kekarnya.
Ayumi melihat sekitar. Menatap banyaknya mobil yang terparkir memenuhi tempat tersebut.
"Rame banget, Bang!" Pekik Ayumi.
"Ya anak muda biasanya keluar malam hari, seperti kita misalnya." Pria itu tertawa kencang.
Ya, dia memang kembali merasa lebih muda, apalagi setelah hubungannya dengan Ayumi resmi, dan keduanya sering menghabiskan waktu bersama, di sela kesibukan masing-masing tentunya.
"Anak muda apanya, kamu sebentar lagi akan menjadi Ahjussi." Celetuk Ayumi, dengan ekspresi datar.
Sementara pria di sampingnya membulatkan kedua bola matanya, lalu menoleh dan menatap gadis itu tajam.
"Apa kata mu?"
"Ahjussi."
"Om-om?"
Ayumi mengangguk.
"Ck!" Randy berdecak sebal, lalu tersenyum mengejek. "Lalu kenapa kamu menyukai Om-om seperti aku? bukan kah seharusnya kau malu karena memiliki kekasih tua seperti aku ini?" Ucapnya ketus.
Randy mengalihkan pandangannya kearah lain, kemudian bersedekap.
"Ish ish ish, ... makin gumush kalo ambekan kaya gini. Gantengnya berlipat ganda." Ayumi meraih pipi Randy, dan mencubitnya perlahan.
"Ay!" Dia menepis tangan Ayumi kencang.
Hah! sifat pemarahnya sulit di hilangkan.
"Jadi marah nih ceritanya?" Ayumi mencondongkan tubuhnya.
Randy diam.
"Abang?"
Randy masih diam.
Ayumi menepuk-nepuk lengan Randy, berusaha membuat moodnya kembali membaik.
"Yaudah maafin aku, ayok kita belanja. Biar aku habiskan uang tabungan kamu!" Ucap Ayumi penuh candaan.
Keadaan hening untuk beberapa saat. Membuat Ayumi kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Mereka diam.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
"Kamu marahnya beneran yah?" Gadis itu mulai membuka suara.
Randy hanya menghela nafas.
"Yasudah ayok pulang, nanti kamu makin emosi kalo sama aku terus." Ujar Ayumi.
Kini Randy menatap kearah Ayumi.
"Sekarang kamu yang marah?"
"Aku nggak marah, aku cuma berusaha ngertiin Abang. Aku nggak mau kita bertengkar sampai besok, atau sampai berhari-hari, jadi sebaiknya aku pulang saja dan besok kita akan kembali baik-baik saja."
Pria itu memejamkan matanya, menghirup oksigen sebanyak mungkin, lalu menghembuskan nafasnya perlahan, dan itu Randy lakukan berulang kali.
"Baiklah, maafkan aku. Ayok kita turun!"
Kini keduanya saling beradu pandang.
"Maaf." Suara pria itu terdengar pelan.
__ADS_1
Ayumi mengulum senyum, lalu menganggukan kepala.
"Aku maafkan."
"Kenapa?" Randy bertanya.
"Apanya?"
"Dari sekian banyak nya perempuan yang aku temui, hanya kamu yang bersikap lembut disaat emosi ku ..."
"Jangan bahas!" Sergah Ayumi "Ayok turun." Sambung Ayumi.
Lalu dia keluar terlebih dulu, di susul Randy setelahnya.
"Jadi mau belanja apa kita?" Ayumi tersenyum antusias.
"Apapun, yang kamu mau dan butuh kan."
Ayumi mengangguk, dia berjalan seraya merentangkan tangan. Bersamaan dengan itu Randy meraih tangan Ayumi, dan mereka berjalan masuk dengan tangan yang saling berpegangan.
"Lihatlah, kita adalah orang tersantai. Kamu kaos dan celana joger, dan aku ... celana pendek dengan kaos kedodoran punya kamu." Ayumi berbisik, lalu terkekeh.
"Yang penting kita cantik dan tampan." Kata Randy dengan kepercayaan diri penuh.
"Memangnya aku cantik?"
"Jika tidak cantik, mana mungkin aku menyukai mu."
Ayumi mengangguk lagi, dengan kedua pipi yang tampak memerah. Pandangan Ayumi menunduk, menatap tangan kanan Randy yang kini menggenggam tangannya, tapi bukan itu yang membuat Ayumi tersenyum tipis, melainkan tato ular yang terlihat sangat menakjubkan.
Nggak wajah, nggak tangan! Dua-duanya ganteng. Puji Ayumi.
"Jadi, ... mau kemana kita?" Ayumi bertanya.
"Emmmm, ... ketempat pakaian perempuan kali yah." Usul Randy.
"Eh. Aku nggak lagi butuh baju!"
"Mungkin nanti butuh, kita akan kepantai, ingat?"
"Pakai kaos sama celana legging juga nggak apa-apa aku mah."
"Itu kamu sudah punya kan? nah aku mau cari yang nggak kamu punya, dan pastinya kita butuhkan."
"Baju renang? aku nggak mau berenang."
"Bukan." Randy menggelengkan kepalanya.
"Apa dong?"
"B*kini misalnya, aku mau kamu memakai itu nanti ..."
"Apa!" Ayumi berteriak sangat kencang, hingga dia juga Randy menjadi pusat perhatian.
"Kamu ini, biasa saja kagetnya." Randy berbisik.
"Mana bisa begitu, aku nggak mau."
Randy tertawa.
"Kenapa aku harus memakai itu? nanti kamu ngaco tahu, aku pakai kaos kedodoran punya kamu aja pikiran kamu ngaco terus."
"Ya." Randy mengakuinya.
"Kamu aneh."
"Aneh kenapa?"
"Kamu tahu tokoh pria yang ada di novel? mereka cenderung melarang wanitanya berpakaian se*si."
Mereka terus berbicara, dengan kaki yang terus melangkah, sesekali keduanya meneliti sekitar, mencari toko yang Randy maksud.
"Mereka terlalu naif."
"Jadi kalau begitu aku boleh memakai pakaian se*si?"
Randy mengangguk.
"Asal ada aku."
"Boleh minum-minum? pergi ke diskotik?"
"Asal ada aku." Randy menjawab lagi.
"Kalau mau gambar tato kaya kamu juga boleh?"
Sontak Randy menghentikan langkahnya, lalu dia menatap Ayumi dengan tatapan tajamnya.
......................
__ADS_1
Aduh🙈