My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 152 (Suasana Pagi)


__ADS_3

Randy memijat tengkuk bagian belakang Ayumi, ketika perempuan itu membungkuk di hadapan wastafel sambil terus berusaha memuntahkan isi perutnya.


"Sudah?" Randy menatap istrinya dari pantulan cermin.


Ayumi mengangguk, dia menyalakan kran air, dan segera membasuh wajahnya yang terlihat sangat pucat.


"Hhhahh!" Dia menegakkan tubuhnya, kemudian berbalik, dan memeluk tubuh pria yang terus berdiri di belakangnya sedari tadi.


Randy membalas pelukan Ayumi, mengusap kepala, turun ke punggung, bahkan beberapa kali dia mencium kening istrinya.


"Kenapa aku pusing, mual dan muntah ya?" Ucap Ayumi dengan suara pelan. "Padahal ada Abang, kemarin aja aku baik-baik saja. Asal ada baju itu, mual sedikit di cium mualnya langsung hilang, kok pagi sekarang nggak yah!" Perempuan itu mengeluh.


Pria yang terus memeluknya, diam tidak menjawab, dia hanya terus mengusap punggungnya dengan sangat perlahan.


Ayumi mendorong tubuh Randy, menengadahkan pandangan lalu menatap wajah tampan suaminya. Wajah yang sembab, juga rambut yang acak-acakan, namun tak membuat ketampanan memudar sedikit pun.


Tiba-tiba saja Ayumi tersenyum, dan itu membuat Randy mengerutkan dahinya.


"Ada yang lucu? Atau aneh dari wajahku? Kenapa kamu tersenyum seperti itu, Ay!?"


Orang yang di maksud menggelengkan kepala.


"Kamu ganteng!"


"Pagi-pagi sudah gombali."


Ayumi tersenyum lagi, kali ini lebih lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang begitu rapih.


"Ayo gendong ke kamar, kaki aku lemas." Pintanya.


Randy segera membungkuk, meraih kaki istrinya, kemudian mengangkat dan membawa Ayumi kembali masuk kedalam kamar tidur, seraya meletakan dia di atas ranjang tidur dengan sangat perlahan.


"Mau sesuatu?"


"Minum itu saja!" Ayumi menunjuk satu botol air mineral bekas mereka minum.


Randy meraih benda tersebut, dan memberikan kepada Ayumi.


Dengan sabar Randy menunggu, memperhatikan istrinya yang tampak lemas, bahkan tangannya sedikit gemetar saat mengangkat botol kemasan air tersebut.


"Mau tidur lagi?"


Randy meraih botol air, menutupnya, kemudian menyimpan di tempat yang sama.


Ayumi tidak menjawab, namun perempuan itu menepuk tempat Randy tadi tertidur.

__ADS_1


"Nggak tidur, tapi mau pelukan boleh?"


Mendengarnya Randy tertawa pelan, berjalan memutari ranjang, lalu naik dan segera berbaring, yang langsung disambut Ayumi dengan pelukan seperti biasa. Hal pertama yang Ayumi lakukan adalah membenamkan wajah di dada bidang suaminya, menghirup aroma Randy yang sangat dia sukai dalam-dalam.


"Untung hari Sabtu yah!" Kata Ayumi.


"Hemmm, … aku bisa menemani kalian disini!" Dia mengusap rambut panjang Ayumi yang dibiarkan terurai.


"Ayo kita lihat sunrise!"


Kepalanya mendongak, sampai pandangan keduanya kembali beradu.


"Masih jam setengah lima, sayang." Ucap Randy dengan suara lembutnya.


"Tapi aku mau keluar sekarang, udaranya pasti sangat segar, … ayolah Daddy, adik bayi mau jalan-jalan pagi." Perempuan itu merengek manja.


Randy menghela nafas, memutar kedua bola mata, namun tak urung dia pun segera bangkit.


"Baik, ayo pakai jaketmu."


Mendengar itu Ayumi tersenyum sumringah. Dia bagkit, menurunkan kedua kaki, kemudian berjalan ke arah tas berukuran sedang yang sengaja mereka bawa, lalu menarik satu pakaian hangat miliknya.


***


Sumi duduk di kursi kayu yang berjarak sedikit jauh dari Villa tempatnya menginap. Menggunakan baju hangat, juga menggenggam mug berisikan teh manis hangat.


Tidak pernah Sumi merasakan perasaannya setenang sekarang. Segara rasa marah, kecewa, kini hilang entah kemana, karena memang dia sudah mengikhlaskan apa yang terjadi, dan Sumi meyakini itulah jalan takdirnya yang Tuhan gariskan.


Satu yang dia sangat yakini saat ini. Jika di setiap gelap maka terbitlah terang, maka setelah dia merasakan begitu sakit dan kecewa beberapa kali, maka Tuhan sudah pasti menyiapkan hidup yang lebih baik daripada sebelumnya.


"Pagi-pagi sekali kau sudah ada disini?"


Seorang pria yang juga tengah menikmati udara pagi menyadari keberadaan Sumi, sampai dia memilih mendekat meski perasaan takut ditolak begitu terasa.


Sumi menoleh, pandangannya mendongak, menatap pria tinggi yang berdiri tidak jauh darinya dengan kaos lengan pendek, celana Jogger panjang juga kedua tangan yang disembunyikan di dalam saku celana.


"Boleh aku duduk?" Valter bertanya.


Sumi menggeser tubuhnya sedikit lebih ingin, lalu mengangguk.


"Duduklah, kursinya masih sangat luas." Kata Sumi seraya kembali menyesap teh manis hangatnya yang mulai terasa dingin.


Valter berjalan lebih mendekat. Duduk tegap bersisian dengan mantan kekasihnya terdahulu.


Ya, mantan kekasih yang sangat membencinya sekarang.

__ADS_1


Keadaan hening. Hanya ombak dan kicauan burung yang terdengar, sementara keduanya memilih terdiam dengan pikiran dan perasaan masing-masing.


"Pagi-pagi begini sudah berkeliling pantai? Masih gelap dan tidak ada yang bisa di lihat." Sumi memulai pembicaraan.


Valter menoleh.


"Seperti biasa. Aku masih belum bisa mengubah kebiasaan ku yang satu ini!" Pria itu menjawab.


"Hemm, … tidak aneh jika tubuhmu masih terlihat bugar. Rupanya kebiasaan baikmu tidak pernah kau lupakan."


"Lalu untuk apa kamu disini? Anginnya kencang, sepi, lalu memandang ke arah laut yang tertu saja kamu tidak dapat melihat apapun di sana, hanya deburan ombak yang kau dengar saat air itu menghantam batu karang.


"Hanya menikmati angin pagi, dengan segelas teh hangat yang sudah dingin."


Sumi tersenyum, kemudian menundukan kepala.


Valter diam memperhatikan.


"Aku merasa, … sekarang hidupku tidak baik-baik saja." Ujar Sumi. "Padahal aku sudah hidup lebih baik, menemukan Ayumi dengan cinta yang begitu besar, tapi aku menyesal tidak akan pernah bisa melihat ayah dan ibuku lagi sekarang." Sumi melanjutkan ucapannya dengan suara yang terdengar semakin lirih.


Valter masih bungkam.


"Aku tidak tahu dosa apa yang aku lakukan. Sampai Tuhan menghukumku seperti ini!"


"Kematian seseorang, tidak ada sangkut pautnya dengan dosa manusia lain. Dan harus aku tegaskan, yang berdosa jelas aku, karena tidak bisa menghentikan Susi untuk terus memberikan ancaman kepada kedua orang tuamu!"


Wanita itu menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali. Berusaha menyingkirkan rasa sesak di dalam dadanya.


Dia begitu sedih, terpukul. Namun tidak ada yang dapat dia lakukan, semuanya terlambat.


"Bolehkan aku mendengar sedikit cerita tentang mereka sebelum benar-benar pergi untuk selamanya."


Valter menatap Sumi lekat-lekat.


"Kumohon. Aku butuh itu, aku merindukan mereka."


"Mereka sangat menyayangimu. Mencintaimu, jika kamu bertanya-tanya kenapa kami tidak bisa berbuat apa-apa, Susi pernah mengancam membunuh bayi kita sebelum dia benar-benar meletakan di salah satu tempat yang begitu gelap, dengan sya …"


"Bukan yang itu. Aku mau mereka yang hidup setelahnya."


"Ibumu terus menangis bahkan di setiap waktu, dan yang selalu menangkan adalah ayahmu. Dia meminta untuk pulang beberapa kali, tapi Susi selalu berulah, sepertinya tanpa harus aku jelaskan kau sudah tahu bagaimana sifat kakakmu jika ada satu hal yang tidak sejalan dengan keinginannya. Dia memberontak, marah, berteriak, dan selalu menghancurkan barang-barang apapun di rumah. Gelas, piring, bahkan dia menyimpan satu pisau kecil hanya untuk memotong urat nadinya. Dan setelah kejadian itu mereka tidak lagi meminta pulang, mereka menyalurkan rasa rindunya dengan cara berdoa di setiap pagi dan sore. Menatap langit sambil menangis pelan. Memohon kepada Tuhan agar hidup putri bungsunya baik-baik saja." Valter berbicara.


Sumi menangis.


"Jadi cukup benci aku, jangan membenci mereka."

__ADS_1


Ucapan itu semakin membuat perasaannya tak menentu. 20 tahun dia berusaha tegar, membuat semuanya terlihat baik-baik saja meski keadaan tidak seperti itu. Tapi kali ini Sumi menyerah, dia tidak sanggup dengan kenyataan hidup yang benar-benar rumit.


__ADS_2