My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 97 (Cemburuan)


__ADS_3

"Ya ampun!" Aira mengguncang lengan Ayumi, saat gadis itu mendapati sang idola berada disana bersama beberapa pemain bola yang juga Aira kenali.


Rambut klimis yang terlihat begitu rapi, mengenakan kemeja batik lengan panjang, juga celana bahan berwarna hitam, membuat pria itu terlihat begitu berbeda dari pada biasanya yang Aira lihat hanya mengenakan Jersey bola.


"Ganteng banget aslinya, Ay!" Cicit Aira lagi, kini dia memegangi dadanya, saat jantung berdetak lebih cepat lagi dan lagi.


Ayumi menoleh, menatap wajah sahabatnya yang begitu memerah. Lalu dia menoleh ke arah Una, gadis itu tampak tak terganggu, dia hanya fokus melahap setiap hidangan yang dia ambil di tempat yang sudah tersedia.


"Una?" Panggil Ayumi.


"Hah? Apa?" Dia segera menoleh.


"Makan melulu! Nggak mau cuci mata? Itu ada para pemain bola, … nggak mau caper atau apa gitu?" Ayumi menatap Una lekat-lekat.


Una mengendikan kedua bahunya, lalu menggelengkan kepala.


"Zuppa soup, iced mojito, puding, banana cheese. Itu lebih menggoda dari pada mereka, Ay!" Jawab Una seraya kembali menyantap beberapa makanan yang baru saja diambilnya.


"Dasar tukang makan, isi otaknya makanan melulu!"


(Dih, nggak sadar dia gimana)


Kata readers.


Ayumi memutar bola mata, lalu dia kembali melihat Aira yang masih memperhatikan Egy. Pria bertubuh kekar dan tinggi, tampak berbincang-bincang dengan kawan-kawannya termasuk Randy.


"Mau gue kenalin?"


Aira menatap Ayumi, lalu menggelengkan kepala.


"Nggak usah." Jawabnya singkat.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa." Aira singkat, bahkan dia cenderung malas menjawab setiap pertanyaan Ayumi hanya untuk memperhatikan idolanya.


"Abang?" Dia berteriak.


Ayumi memanggil suaminya, kemudian melambaikan tangan ketika suaminya menoleh. Dengan segera Randy datang menghampiri, lalu bertanya;


'Ya? Kamu sudah mau istirahat? Ayo. Sisa teman-teman aku, Om Al, Tante Sisil dan yang lain yang masih betah ngobrol sama Bapak Ibu." Males Randy.


Namun Ayumi menggelengkan kepala.


"Lalu? Mau aku ambilkan sesuatu?"


"Bukan. Tolong panggilin Egy kesini, … Aira fans nya Egy, mau ketemu, minta foto sama tanda tangan." Pinta Ayumi kepada suaminya.


Randy mengangguk.


Sementara Aira membelalakan mata, mencubit lengan Ayumi sampai perempuan itu mengaduh kesakitan.


"Dih jahat."


"Kamu! Ngapain nyuruh Pak Randy panggil Egy kesini, … aku kan malu, … grogi juga."


Ayumi tersenyum.


Dan tidak lama setelah itu Egy tampak melirik, membuat Aira terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Seketika Aira merasakan tubuhnya gemetar, degupan jantungnya semakin meningkat, dengan nafas yang terasa begitu berat, membuat dadanya naik turun dengan cepat, juga kening yang mulai berkeringat.

__ADS_1


"Hay!" Sapa Egy. "Aku ikut duduk disini yah!" Dia berbasa basi, lalu duduk di kursi samping Aira, membuat tubuh Aira semakin menegang.


"Randy mengatakan ada yang mengidolakan aku? Yang mana?" Pria itu tersenyum.


"Oh, ini!" Ayumi menujuk Aira yang berusaha menghindar, bahkan dia mengalihkan tatapannya ke arah lain, berusaha mengacuhkan Egy yang terlihat terus tersenyum.


"Ay!" Cicit Aira pelan.


Dia mulai panik.


"Ra! Itu cepetan. Giliran poster di cium-cium, nama sama nomor punggungnya nempel di baju kamu, masa pas ada orangnya kamu cuekin." Celetuk Ayumi lagi.


Aira menoleh, lalu memaksakan diri untuk tersenyum.


Dia malu.


"Hay, … Egy!" Sapa Aira.


"Halo!"


"Kalian ngobrol aja yah! Aku ke Ibu dulu, nggak enak dari tadi keluarga Om Al aku anggurin."


Ayumi langsung bangkit setelah mendapatkan anggukan dari Una. Lalu beranjak pergi mendekati kedua Ibu juga ayahnya, yang masih asik berbincang bersama Sisil dan Alvaro.


"Ay?!" Aira panik.


Ayumi hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Mau tidak mau Aira segera memulai obrolan, saat dengan ramahnya Egy terus bertanya, hingga rasa gugup itu pun perlahan mulai menghilang, dan keduanya berbicara banyakhal, dengan canda tawa sampai kekehan pelan terus terdengar.


***


Malam beranjak semakin larut. Tamu-tamu undangan sudah benar-benar meninggalkan tempat diadakannya acara, hanya menyisakan Alvaro juga Raga disana, sementara Junior sudah pamit lebih dulu karena ke adaan Bianca yang sudah hamil besar dan harus banyak istirahat.


Alvaro mulai berdiri, di susul anak juga istrinya.


"Iya, Om. Terimakasih sudah berkenan memenuhi undangan saya."


"Ayumi sudah saya anggap anak sendiri. Sebenarnya dulu saya berharap dia menjadi menantu saya, tapi bukan jodoh." Ucap Alvaro penuh candaan, dengan kekehan khasnya.


Randy bungkam, dia hanya tersenyum samar. Entah kenapa dadanya tiba-tiba terasa bergemuruh.


Pantas saja Junior sangat perhatian kepada Ayumi, mereka pernah menjalin hubungan yah!


Batin Randy berbicara.


Alvaro beralih berpamitan kepada Maria, Tutih juga Ali. Setelah itu mereka beranjak pergi, di susul Raga dan Balqis setelahnya.


Randy dan Ayumi memutuskan untuk segera naik ke lantai atas, dimana kamar mereka berada, semenatara para orang tua menmilih untuk pulang.


Plip!


Suara itu terdengar saat Randy menempelkan acses card pada handle pintu.


Randy mendorong benda itu menggunakan lengannya, masuk lebih dulu, di susul Ayumi yang langsung menutup pintu ruangan itu.


Pria itu mulai membuka jasnya, beralih kepada dasi, membuka kancing kemeja satu-persatu, lalu melemparkan kemejanya begitu saja.


Brugh!!


Randy menjatukan tubuhnya pada sofa.


"Abang kenapa sih? Kok dari tadi diem, nggak kaya biasanya."

__ADS_1


Randy bungkam, dia hanya memejamkan mata sembari memijat pelipisnya lembut.


Ayumi membuka sepatu high heels nya, duduk di depan kaca mejarias, dan mulai melepaskan beberapa aksesoris, sebelum perempuan itu membersihkan makeup.


"Sayang yah! Bi Sumi nggak dateng, padahal kalau Bi Sumi ada, rasa sedihnya pasti hilang. Kenapa juga di telpon nggak di angkat, harusnya kamu jemput Bi Sumi, dia pasti ada di rumahnya." Tukas Ayuminkepada suaminya.


"Mungkin maunya dia seperti itu, biarkan saja." Randy menghela nafas, lalu bangkit dan mendekati lemari untuk membawa bathrobe yang tersedia di sana.


Merasa ada yang berbeda, Ayumi pun menoleh, pandangannya mengikuti sang suami, yang malah ini tiba-tiba terlihat begitu lesu.


"Kamu lelah atau bagaimana? Perasan tadi ngorbrol sama Evan sambil ketawa-ketawa. Kok sekarang lemes?"


Randy tak menjab, dia melangkah mendekati pintu kamar mandi yang tertutup sangat rapat.


"Abang!?"


Langkah kaki Randy berhenti.


"Aku baru tahu, kalau kamu mempunyai hubungan dengan Junior dulu." Akhirnya Randy mengutarakan rasa gundah gulananya.


Kening Ayumi menjengit.


"Maksudnya?"


"Kamu tidak dengar yah? Om Al bilang dia mau kamu menjadi menantunya, tapi tidak jodoh."


"Itu cuma basa-basi!" Jawab Ayumi.


"Tidak, kelihatannya Om Al serius. Dan lagi, … Junior selama ini memang sangat perhatian kepadamu."


Ayumi memincingkan mata, menahan senyum, kemudian bangkit dan berjalan mendekati suaminya, yang langsung Ayumi peluk dari arah belakang.


"Dasar cemburuan. Cuma Om Al bilang begitu saja sampai kehilangan semangat hidup, padahal kamu tahu sendiri, semua yang aku lakukan, … itu baru sama kamu."


Randy tidak menjawab, dia kehilangan kata-kata, karena apa yang Ayumi katakan benar adanya.


"Kalau mau cemburu. Seharusnya aku yang cemburu sama kamu! Kamu begitu dekat dengan Dokter Aleesa, mempunyai masa lalu yang begitu indah bagi anak-anak muda seperti kamu. Hidup kamu enak, didekati banyak wanita-wanita cantik dan seksi, bahkan dengan mudahnya kamu mendapatkan mereka tanpa hubungan atau status apapun." Kata Ayumi pelan.


Randy memutar tubuhnya, membuat pandangan mereka beradu. Ayumi tersenyum, lalu kakinya berjinjit sampai bibir itu bertemu.


"Jangan cemburuan yah! Aku sedikit takut kalau mood kamu turun." Katanya sambil mengusap bibir tebal merah alami milik Randy.


Randy ikut tersenyum.


"Abang kalau lagi marah jelek, aku nggak suka. Aku juga kalau lagi marah jelek, egois keras kepala. Jadi jangan bikin hubungan yang baru kita mulai berantakan cuma gara-gara hal sepele."


Randy menahan senyum, meraih pinggang Ayumi, memeluknya erat sampai tubuh keduanya saling menempel.


"Memang benar kata Ibu. Kamu lebih dewasa dari aku!" Dia menyatukan keningnya kepada Ayumi.


"Dalam segi pemikiran, … iya! Tapi dalam hal lain aku masih anak kecil yang tidak tahu apa-apa."


Randy terkekeh.


"Hal lain yang mana?" Bisik Randy, suaranya terdengar begitu pelan, namun seksi.


"Membuat bayi misalnya." Ayumi balas berbisik.


"Mau?"


"Apa?" Pipi Ayumi seketika merah.

__ADS_1


"Mambuat Bayi. Kamu mau? Setidaknya kamu tidak akan merasa kesepian jika ada anak kita nantinya, dia bisa menjadi temanmu."


Ayumi tidak menjawab. Namun Randy tidak peduli, dia segera mengangkat tubuh istrinya, membawa Ayumi sampai benar-benar berbaring di atas ranjang besar yang begitu nyaman.


__ADS_2