
"Eh ada apa rame-rame!?" Una berlari ke arah depan, dimana banyak para karyawan berkerumun, termasuk Aira yang terlihat sudah berada disana.
Gadis itu tertegun, saat melihat Randy membawa Ayumi dalam gendongannya. Dan yang membuatnya semakin terkejut adalah keadaan Ayumi yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Astaga ada apa lagi!" Seseorang berbicara.
Rambut yang berantakan, juga seragam yang terlihat basah kuyup, dia memeluk erat pundak Randy, dan menyembunyikan wajah di dada bidang kekasihnya.
"Ayumi kenapa?" Una beralih pada sahabat yang berdiri tepat beberapa langkah di depannya.
"Nggak tahu! Itu Pak Randy bawa dia dari atas dalam keadaan begitu." Jawab Aira tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
Una terdiam untuk beberapa saat, menatap Aira dengan ekspresi wajah yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata.
"Pasti ada yang nggak beres." Tukas Una sedikit berbisik.
"Sepertinya memang begitu." Aira mengamini.
Mereka terus menatap ke arah sana, dimana Randy mulai menghilang saat berbelok menuju parkiran, diantara Pak Umar yang berlari di belakangnya.
Dreuk!!
Pak Umar membukakan pintu untuk Randy.
"Terimakasih, Pak Umar." Randy berucap, dia membungkukan tubuh tingginya, lalu mendudukkan Ayumi di kursi mobil, dan membantu memasangkan tali seatbeltnya.
Raut wajah sendu itu mendongak, menatap Randy tanpa berucap apapun.
"Mereka kadang keterlaluan, Pak." Umar berbicara pelan.
Pria paruh baya itu berkata seolah sudah mengetahui semuanya.
Randy yang kini sedang membuka jas miliknya hanya mengangguk.
"Nah pakailah!" Randy menyampirkan jas tersebut pada tubuh Ayumi.
"Pak? Jika nanti Balqis dan Nior bertanya, minta mereka untuk menghubungi saja." Randy berpesan.
"Siap."
"Baiklah kalau begitu terima kasih, saya pamit dulu."
Randy menutup pintu mobil di sebelah Ayumi, berlari memutari mobil, kemudian masuk menyusul Ayumi yang sudah lebih dulu duduk di dalam sana.
Mobil yang ada dalam kendali Randy mulai melaju, meninggalkan parkiran kantor tempat Ayumi bekerja dengan kecepatan sedang.
***
Klek!!
Ayumi membuka pintu kamar kostnya setelah selesai berganti pakaian, mempersilahkan Randy masuk setelah puluhan menit lamanya menunggu di luar dengan perasaan khawatir.
"Sudah selesai?" Tanya Randy sambil mengulum senyum, yang langsung dijawab Ayumi dengan anggukan.
Dia membuka sepatunya, lalu masuk ke dalam mendekati Ayumi yang sudah duduk diatas tempat tidur berukuran kecil miliknya.
Perlahan pintu kamar kost itu tertutup dengan sendirinya.
__ADS_1
"Mau makan?" Dia bertanya kepada kekasihnya.
Ayumi menggelengkan kepala, kemudian merebahkan tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, Abang kalo mau kerja lagi aku nggak apa-apa." Suara Ayumi terdengar lirih.
Pria itu menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Masih ada waktu." Katanya saat melihat jarum jam yang masih menunjukan pukul satu siang hari.
"Mau makan apa? Biar aku pesankan?" Randy mendekat, dan ikut berbaring di samping Ayumi.
"Tempat tidurnya sempit." Pria itu terkekeh.
"Memang, lalu kenapa Abang malah ikut tiduran!"
Randy tidak menjawab, dia justru membawa ponselnya, dan membuka salah satu aplikasi untuk memesan makanan via online.
Dia hendak memberikan benda pipih itu kepada Ayumi.
"Pilih makanan apa yang kamu inginkan."
Gadis itu diam.
"Pegang."
Namun Ayumi menggelengkan kepala.
"Nanti kalo mau makan aku beli sendiri, uang dari Abang masih ada."
Ayumi menggelengkan kepalanya lagi, dia benar-benar terus menolak, dan itu membuat Randy sedikit kebingungan.
"Kamu ini kenapa?"
Ayumi menghembuskan nafasnya kencang.
"Aku nggak mau, Abang kalo mau pesan saja. Aku nggak lapar, aku mau tidur saja! Aku capek." Ucapnya sedikit ketus.
Mata Randy memincing, dengan kening yang berkerut.
"Kamu ada masalah apa?"
"Aku nggak mau Bu Tara ngomong macem-macem lagi" Terang Ayumi.
Randy semakin bingung, dia kembali bangkit, mengubah posisinya sampai duduk menghadap Ayumi.
"Memangnya apa yang mereka katakan kepadamu?" Suaranya terdengar pelan.
"Banyak."
"Dan kamu masih ingin mendengarkan setiap ucapan itu?"
"Aku jadi tidak bisa mengelak, karena setiap ucapan yang diucapkan Bu Tara memang benar adanya. Hidup aku di permudah semua orang! Masuk kerja karena bantuan Om Al, dan sekarang aku dihidupi kamu. Rasanya aku malu, … tapi aku tidak bisa mengatakan apapun, karena apa yang mereka gunjingkan itu benar adanya."
Untuk beberapa menit keadaan menjadi hening. Randy menatap Ayumi penuh tidak kepercayaan, sementara Ayumi memejamkan mata dan pura-pura tertidur.
"Bagus sekali. Wanita itu yang melakukan kejahatan, lalu aku yang menerima kemarahanmu!" Gumam Randy dengan nada ketus.
__ADS_1
Ayumi tidak menjawab, dia terus memejamkan mata, sambil menahan air mata yang mungkin sebentar lagi tak akan bisa dibendungnya lagi.
"Mulai besok aku tidak mengizinkanmu masuk kerja. Berhenti saja, biar aku yang menyampaikan ini kepada Balqis atau Junior." Tegas Randy.
Gadis itu tak merespon.
"Apa kamu akan terus diam? Aku tahu kamu hanya pura-pura tertidur!"
Hening.
"Baiklah, aku pergi dulu. Marahlah sepuasnya, aku tidak akan mengganggumu, hingga kamu yang mencari ku sendiri."
Randy bangkit, berjalan ke arah pintu luar.
"Memang sebaiknya kita tidak bersama dulu! Terlalu banyak rumor yang terus aku dengar, dan itu sangat mengganggu. Entah mereka yang tidak mengerti, atau aku yang memang tidak pantas bersamamu." Gumam Ayumi pelan.
Namun Randy bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Randy kembali masuk, dan berdiri beberapa langkah dari Ayumi.
"Apa sekarang kau sedang meminta putus?" Pria itu tertawa getir.
"Tidak. Aku hanya butuh waktu! Mungkin sebaiknya kita jalan masing-masing dulu, Abang nggak usah antar jemput aku, atau sengaja datang ke kantor. Hubungan kita tetap seperti ini, tapi lebih baik …."
"Kamu meminta berpisah? Sementara aku hendak mengurus semuanya!?" Sergah Randy, dia memotong ucapan Ayumi.
Suaranya sedikit meninggi.
Merasa kekasihnya mulai tersulut emosi, Ayumi pun membuka mata, dia bangkit.
"Jangan salah mengartikan, kita hanya sedikit memberi jarak. Bukan memutuskan hubungan. Aku malu ketika Bu Tara mengatakan jika aku hanya seorang parasit bagi semua orang." Ayumi berusaha menjelaskan.
"Ck!" Randy menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menatap Ayumi dengan mata yang sudah memerah.
"Hanya sedikit memberi jarak." Sambung Ayumi lagi, dengan suara pelan.
"Kau ini sangat kekanak-kanakan sekali! Kenapa harus aku yang menanggung semua ini? Bukankah sudah aku katakan? Kau harus bisa melawan, jangan mau diinjak!"
"Aku tahu." Kepala Ayumi mendongak, menatap raut wajah penuh amarah.
"Kamu mau kita sedikit berjarak?"
Ayumi mengangguk.
"Dan aku tidak melakukan banyak hal lagi untuk mu?"
Ayumi mengangguk lagi.
"Maaf tapi …"
"Baik. Aku pergi, terserah pada mu saja sekarang."
Randy berbalik badan, memakai sepatunya, dan segera pergi meninggalkan kediaman Ayumi dengan perasaan kecewa.
......................
Eh, ... kok ... malah jadi marahan🥺
__ADS_1