
Ayumi segera bersiap, setelah Randy memberitahukan jika sebentar lagi orang tuanya akan segera sampai. Dia memakai Hoodie bekas pakai suaminya, lalu berlari ke arah tempat tidur, dan membawa kaos kotor milik Randy, kemudian memeluknya erat-erat, seolah takut akan ada yang mengambilnya tanpa sepengetahuan Ayumi.
"Ayo kita berangkat sekarang." Ajak perempuan itu dengan senyum sumringah.
Tampaknya Ayumi sangat antusias sekali, sementara Randy terdiam mematung, menatap tingkah Ayumi yang menurutnya semakin aneh.
Cuaca di luar begitu terik, dan dia memakai Hoodie tebal dengan rambut yang dibiarkan terurai, belum lagi pakaian kotor yang dia ketahui kini berada di dalam pelukan Ayumi.
Ini sungguh aneh!
Batin pria itu berbicara.
"Abang?" Ayumi berusaha menyadarkan suaminya yang terus membisu seraya menatap dirinya dengan mata yang hampir tak berkedip sama sekali.
"Sayang?!" Dia menepuk pundak Randy cukup kencang.
Membuat tubuh pria itu sedikit tersentak.
"A-ayo … ayo kita berangkat! Tapi apa kamu tidak kepanasan? Atau jimatnya kamu simpan dulu tidak usah dibawa." Tukas Randy sambil tersenyum samar.
Namun Ayumi segera menggelengkan kepalanya, dia menolak usulan sang suami.
"Aku takut mual, jadi aku pakai Hoodie kamu. Terus untuk jimatnya, aku nggak mau simpan, nanti kamu bawa ke laundry!" Jelas Ayumi.
Tentu saja dia mengingat dimana Randy berusaha mengganti kaos kotornya dengan pakaian bersih saat hampir terlelap, namun itu bisa digagalkan karena ia belum benar-benar tertidur.
Mulut Randy mengatup, tertutup rapat dengan mata yang terus memperhatikan senyum sumringah di wajah istrinya.
Hah, aku semakin bingung!
"Daddy? Cepat! Nanti mereka menunggu terlalu lama!" Ayumi mengguncang tangan kekar milik pria di hadapannya.
Randy tersenyum, kakinya maju satu langkah, membungkuk seraya memiringkan kepala, lalu meraih bibir merah yang terlihat begitu manis, apalagi saat perempuan itu terus tersenyum, membuat deretan gigi rapih juga gusinya terlihat jelas.
"Jangan membuat aku merasa gemas seperti ini! Aku tidak akan tahan." Bisik Randy tepat di dalam jarak yang begitu dekat.
"Ish, … masih siang sudah mesum!" Dia memukul dada Randy, sambil tertawa kencang.
Randy menghela nafas, dengan segera menegakan tubuh, dan meraih tangan Ayumi untuk kemudian menariknya ke arah luar.
Sebelum benar-benar keluar, seperti biasa Randy meraih laci penyimpanan kunci mobil terlebih dulu, lalu membawa satu kunci mobil yang selalu dia pakaian.
Ya, lagi-lagi Lexus abu-abu menjadi kendaraan favoritnya, yang menjadi hadiah atas kerja kerasnya dari sang atasan, Raga Biantara.
__ADS_1
Randy membiarkan Ayumi keluar lebih dulu, disusulnya yang segera menutup pintu rumah, menekan salah satu tombol sampai kunci pintu mobilnya terbuka.
Dreuk!
Ayumi masuk lebih dulu di bangku samping kemudi. Perempuan itu memang terlihat begitu semangat, entah apa yang membuatnya seceria ini, hormon kehamilan atau karena kedatangan Sumi.
Tentu saja Randy menyadari itu. Terpisahkan dengan jangka waktu yang tidak sebentar, membuat hati kecil Ayumi seperti tengah menagih sesuatu yang tidak pernah Sumi lakukan terhadap istrinya, sampai Ayumi cenderung terlihat meminta perhatian lebih pada wanita itu akhir-akhir ini.
Mobil yang berada di bawah kendali Randy mulai mundur. Keluar dari garasi rumah, dan melesat setelah kendaraan roda empat itu berada di tepi jalan.
***
"Sayang? Nanti malam aku mau kesana yah!" Ayumi menunjuk salah satu lokasi food court yang terlihat masih sepi.
Randy tersenyum, kemudian menganggukan kepala.
"Aku mau Surabi Duren, mau pisang bakar, sate Padang, cimol kentang sama bilor." Ayumi mendiktekan apa saya makanan yang saat ini ada di dalam pikirannya.
Randy mengangguk lagi, dia tetap fokus pada jalanan di hadapannya, yang terlihat begitu padat, namun masih bisa membuat beberapa kendaraan melaju dengan lancar meski dengan kecepatan rendah.
Dan setelah 20 menit berkendara, akhirnya Randy melambankan laju mobilnya, semakin menepi, dan berhenti tepat di salah satu halte, untuk menunggu kedatangan bus yang mungkin ditumpangi orang-orang yang mereka tunggu.
"Sayang! Kaosnya disimpan dulu di dalam mobil." Ujar Randy ketika melihat Ayumi turun membawa baju kotor miliknya.
Dan itu terlihat sangat menyenangkan, seperti ada hal spesial yang Ayumi dapatkan saat mencium pakaian kotor milik suaminya.
"Ay? Orang-orang memperhatikan kita." Bisik Randy.
Ayumi menoleh ke arah kiri dan kanan. Benar saja beberapa orang mencuri-curi pandang, menatap heran Ayumi yang saat ini memakai Hoodie, juga memeluk kain hitam yang terus dia endus.
"Mereka aneh." Ucap Ayumi santai, membuak Randy melongo.
Astaga! Benarkah? Apa seperti ini hormon kehamilan? Bahkan dia tidak sadar pada dirinya sendiri sampai mengatakan jika orang-orang di sekelilingnya yang aneh!
Dia berbicara di dalam hati. Dan seulas senyum tipis pun terlihat.
"Terserah kamu saja. Yang penting kamu senang, dan anak kita sehat!" Randy tertawa pelan, kemudian mengusak rambut Ayumi sampai perempuan itu sedikit menghindar.
Tidak lama mereka menunggu. Akhirnya satu bus datang, dan berhenti tepat di hadapan Ayumi. Dia segera berdiri, menatap ke arah dalam, dimana terlihat wanita yang sudah sangat dia rindukan berjalan memeluk sebuah tas berukuran sedang.
Sumi tampak berdiri di ambang pintu, menatap ke arah Ayumi berdiri, lalu tersenyum penuh arti.
Ayumi melompat-lompat kegirangan.
__ADS_1
"Mama!" Teriaknya seperti anak kecil yang sedang menunggu kedatangan sang ibu, setelah lama ditinggalkan.
Ah bukankah memang begitu? Dia memang besar dengan keluarga lengkap, namun keberadaan Sumi membuat jati diri Ayumi yang sesungguhnya benar-benar terlihat. Jika perempuan itu biasa terlihat selalu tegar di hadapan Ali dan Tutih, kali ini Ayumi terlihat begitu manja saat bersama ibu kandungnya.
"Kalian sudah menunggu lama?" Sumi tersenyum, dia berjalan mendekat, tapi tanpa aba-aba Ayumi langsung berlari dan memeluknya.
Sementara Tutih terdiam dengan perasaan sesak. Lagi-lagi rasa takut itu muncul. Bagaimana jika Ayumi akan melupakannya? Bagaimana jika Ayumi tidak lagi membutuhkan kasih sayangnya? Apa Ayumi akan pergi jauh meninggalkan dirinya sendiri setelah ini?
"Buang jauh-jauh pikiran burukmu!" Bisik Ali kepada istrinya.
Tutih hanya menoleh, kemudian mengangguk pelan.
"Eh, Ibu juga datang. Wah aku senang rumah jadi ramai." Dia melepaskan Sumi, kemudian beralih menghambur ke dalam pelukan wanita yang sudah membesarkannya dengan cinta dan kasih.
Ali tersenyum melihat itu, begitu juga dengan Randy, Sumi dan satu wanita muda yang terlihat masih gugup dan malu-malu.
"Bagaimana keadaanmu? Ibu khawatir setelah kamu pulang dalam keadaan bertengkar dengan Amar." Tutih mendorong kedua bahu Ayumi, membuat upandangannya beradu.
Ayumi tersenyum ceria saat Tutih menatapnya begitu lembut.
"Aku baik, ada Abang yang jagain aku." Senyumnya semakin terpancar.
Sepertinya suasana hati Ayumi hati ini benar-benar bagus, sampai tak hentinya dia tersenyum dengan raut wajah berbinar.
"Ini apa?" Ali hendak meraih kain hitam yang terus berada dalam genggamannya.
Namun Ayumi segera mundur dan menjauhkan dari pria paruh baya itu.
"Nggak boleh."
Ali terlihat bingung, sementara Randy hanya tertawa.
"Setelah hamil dia jadi seperti itu. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi biarkan saja asalkan dia senang juga tidak merasa pusing, mual lalu muntah."
"Begitu yah!?" Ali mengangguk-anggukan kepalanya.
"Baik, kalau begitu mari masuk mobil. Kita langsung pulang saja." Ajak Randy.
"Asik ada dua Ibu di rumah." Dia bertepuk tangan lagi.
Ayumi terlihat begitu bahagia.
Mereka segera beringsut mendekat ke arah mobil yang terparkir, masuk perlahan dengan tertib, dan beranjak pergi setelah semua penumpang masuk dan duduk dengan nyaman, menuju rumah Randy yang berjarak hanya puluhan menit dari halte bus sana.
__ADS_1