
"Jadi kalian sudah benar-benar menikah yah!?" Raga menyandarkan punggungnya, lalu menari ujung jas depan, dan melipat tangan diatas dada.
Randy meletakan gelas berisikan kopi hitam miliknya, lalu mengangguk pelan.
"Apa kau melakukan sedikit pemaksaan?" Mata Raga memincing, seolah tengah mencurigai sesuatu yang mungkin saja Asistennya lakukan.
Tentu saja dengan segala hal yang mampu dia lakukan.
Randy mengarahkan tatapan matanya keatas, berlagak sedang berfikir, lalu mengendikan kedua bahunya.
"Saya tidak memaksa, hanya saja melakukan semuanya secara dadakan." Balasnya sedikit santai.
"Maksudmu?" Dahi Raga mengkerut.
"Ya, … awalnya kami sepakat untuk mempertemukan kedua orang tua Ayumi dengan Ibu saya. Tapi karena saya pernah mendengar ayahnya Junior mengatakan jika niat baik tidak boleh ditunda, jadi saya sedikit memanfaatkan keadaan itu." Jelas Randy yang langsung membuat mata Raga memutar, dengan raut wajah jengah.
"Secara tidak langsung kau sudah memaksa, tuan Danendra!"
"Oh ya? Saya tidak merasa begitu, Pak." Dengan santainya Randy menjawab, dia kembali meraih cangkirnya, lalu menyesap kopi hitam yang diberikan seorang OB beberapa waktu lalu.
Dua pria yang terpaut usia tidak terlalu jauh itu sama-sama diam, menikmati kopi hitam masing-masing.
"Bagaimana keadaan Ayumi? Apa kamu akan mengizinkan dia untuk kembali bekerja di perusahaan istri saya?"
Randy menggelengkan kepala.
"Untuk soal itu, saya serahkan kepada Ayumi langsung. Entah dia mau bekerja, atau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, … sebagai suami saya hanya akan mendukung apapun keputusannya."
"Wow, bicaramu sudah seperti bapak-bapak sekarang." Raga tertawa kencang.
"Mungkin sebentar lagi, Pak. Saya sudah menanam saham, tapi hasilnya belum kelihatan." Randy menjelaskan dengan perasaan bangga.
"Kelihatan bangga sekali kau!"
"Tentu saja, aku membuka segel pabrik nya dengan sangat susah payah, dan setelah itu aku berinvestasi disana."
Tawa Raga segera menyembur, saat mendengar ucapan nyeleneh dari Asistennya.
"Bapak ketawa-ketawa terus dari tadi, apa Bara akan segera mempunyai adik?" Randy bertanya dengan raut wajah datar.
Namun bukannya membuat Raga berhenti, kata-kata dan ekspresi Randy membuatnya semakin tertawa terbahak-bahak.
"Kau ini kenapa? Wajahmu bisa sedatar itu, tapi setiap kata yang keluar dari mulutmu mengandung sebuah komedi tingkat tinggi."
"Mengandung?"
"Iya, ucapanmu lucu."
"Saya bahkan merasa bingung, lucunya dimana."
"Duh!" Tawa Raga semakin kencang, dia sampai memejamkan mata, dengan kepala mendongak keatas, dengan kedua tangan memegangi perut yang mulai terasa sedikit kram.
Sementara Randy hanya diam menikmati kopi pahitnya.
__ADS_1
"Astaga, kenapa aku ini!" Raga mengusap kedua sudut matanya.
Randy menggelengkan kepala.
"Apa hari ini kamu tidak akan mengurus sesuatu? Seperti mencari gedung, katering, atau fitting baju muasalnya!"
"Saya bingung. Keadaan Ayumi tidak memungkinkan jika saya mengundang banyak orang, Bapak tahu? Kesehatan mentalnya sedang tidak baik, kepercayaan dirinya seketika menghilang, atau bahkan panik saat bertemu orang-orang baru, apalagi dengan jumlah yang cukup banyak."
Raga diam menyimak.
"Menurut Bapak bagaimana? Apa saya adakan pesta? Lalu bagaimana dengan keadaan Ayumi nanti?"
"Saya tidak tahu, kenapa tanya saya."
"Apa Dokter masih meresepkan obat untuk Bapak?"
Raga pun mengangguk.
"Sampai sekarang yah, kadang-kadang juga saya mengikuti terapi. Tapi obat yang Dokter berikan sekarang tentunya dengan dosis lebih rendah, karena bisa dikatakan saya masih merasakan cemas di hal-hal tertentu." Jelas Raga.
"Apa menurut Bapak mengadakan pesta yang cukup meriah baik untuk Ayumi?"
"Tidak tahu. Yang merasakan Ayumi, coba kamu tanya dia, jika dia tidak mau ya jangan dipaksa, kadang orang-orang yang tidak mengalami, tidak mengerti keadaan kita."
Randy mengangguk lagi.
Raga meneguk habis kopi pahitnya, lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Bapak masih membutuhkan sesuatu?" Randy menjawab dengan sebuah pertanyaan kembali.
"Tidak, sepertinya saya juga harus pulang. Pekerjaan kita sudah selesai, dan bersyukur akhir-akhir ini kita akan sedikit santai, karena memang tinggal menunggu keluarnya Jersey baru, sebelum pertandingan persahabatan nanti." Jelas Raga.
Randy mengangguk, kemudian dia bangkit, dan merapikan jasnya setelah terduduk cukup lama. Disusul Raga yang segera berdiri, kemudian Asisten dan atasan itu berjalan beriringan, keluar dari kantor tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu, dan berpisah setelah masuk kedalam mobil masing-masing.
***
Ayumi datang menghampiri Sumi, wanita yang tengah disibukan dengan beberapa bahan masakan dan perkakas dapur, saat hendak memasak untuk makan siang.
Sementara Maria, dia terlihat asik mengaduk panci diatas kompor menyala, dengan uap yang mulai meletup-letup.
"Butuh bantuan?" Ayumi beralih mendekati ibu mertuanya.
"Tidak, kamu istirahatlah."
"Istirahat apanya? Aku tidak mengerjakan apapun sejak dari tadi, Ibu melarang aku melakukan semuanya." Perempuan itu terkekeh.
Maria tersenyum.
"Karena kamu anak Ibu, jadi diam dan bermanja-manja lah, itu akan membuat Ibu semakin senang."
Ucapan Maria membuat perasaan Ayumi menghangat, lalu dia tersenyum, menatap ibu mertuanya lekat-lekat, dan memeluknya. Betapa beruntung Ayumi, bisa di dekatkan dengan orang-orang baik, apa ini cara Tuhan mengasihinya? Setelah puluhan tahun dia di buang begitu saja oleh seorang yang seharusnya menjadi sosok pelindung paling utama.
Terimakasih, Tuhan. Engkau memberiku kedua orang tua yang sangat baik, ibu mertua dan suami yang sangat pengertian, belum lagi cinta kasih orang-orang, seperti Om Al, Tante Sisil, Bu Balqis.
__ADS_1
Dia mengucapkan rasa syukur, dengan apapun yang sudah Tuhan berikan.
"Ibu membuat puding" Tanya Ayumi.
"Iya, kata Randy kamu sangat menyukai puding? Ibu buatkan yang banyak, kalau beli di luar tidak akan puas." Katanya yang membuat senyum Ayumi semakin merekah.
Dan sepertinya kebahagiaan Ayumi menular, terbukti dari Sumi yang terlihat ikut tersenyum. Meski dia tampak sibuk, tapi dia dapat melihat interaksi antara menantu dan mertua yang terjalin begitu harmonis.
"Cepat duduk, nyalakan tv nya. Cari acara atau drama kesukaan kamu."
"Tapi aku mau disini, melihat ibu-ibu yang sedang adu skill memasak. Bu Sumi masak untuk makan siang, dan Ibu dari suami aku sedang membuatkan puding." Ayumi tersenyum lebar, sampai menampakan deretan giginya yang begitu rapih.
"Tunggulah sana." Maria mengusirnya lagi.
"Ah Ibu, padahal aku bantuin, … tuang pudingnya deh, yah!?"
"Tidak, biar Ibu saja. Kapan lagi Ibu akan memanjakan kalian, sementara besok sudah harus kembali, karena toko kue tidak bisa ditinggalkan terlalu lama."
"Ibu mau aku ke rumah Ibu? Bantuin jualan? Aku suka bikin-bikin." Kata Ayumi dengan sangat antusias.
"Ya sudah, kalo suka bikin-bikin, … bikinin Ibu cucu yang banyak." Pinta Maria.
"Hemmm?" Ayumi terkejut saat Maria mengatakan itu.
Entah kenapa dia merasa sangat malu. Padahal itu hanya sebuah guyonan, tapi Ayumi merasa jika Maria sudah mengetahui sesuatu sampai wanita paruh baya itu meminda hal demikian.
"Bikinin cucu?"
Tiba-tiba saja Randy muncul, membuat tiga perempuan berbeda usia itu menoleh ke arah suara terdengar.
"Iya, Ayumi mau Ibu mengajaknya pulang, bantu bikin kue, tapi Ibu mau kalian bikinin Ibu cucu, kalau masalah bikin dan jualan kue Ibu sudah bisa sendiri." Maria tertawa pelan.
Wajah Ayumi semakin terlihat merah, bahkan dia menundukan kepala sembari menahan senyum.
Ya, dia sangat malu perihal Maria yang memintanya cucu. Bukan masalah cucunya, tapi Ayumi membayangkan sebuah proses pembuatan cucu tersebut, yang bahkan selalu mereka lakukan hampir di setiap ada kesempatan.
"Bu Sumi masak apa?" Randy menatapnya.
"Sayur asem, tahu tempat goreng, kerupuk sama sambel terasi." Sumi menjawab.
Randy mengangguk.
"Bu Maria bikin puding?" Dia beralih kepada ibunya.
Maria mengangguk.
"Baiklah sayang, ayo kita bikin cucu untuk Ibu!" Dia segera meraih tangan Ayumi, lalu membawanya pergi dari dapur sana.
"Abang!" Suara Ayumi memekik pelan, seraya memukul-mukul lengan suaminya.
"Diamlah, apa kamu tidak malu? Para ibu-ibu sibuk membuat sesuatu, maka kita setarakan dengan membuat anak."
Sumi dan Maria saling melemparkan senyum, sementara rengekan Ayumi terdengar, bersahutan dengan suara kekehan Randy saat istrinya mengeluh malu dengan kata-kata konyol yang Randy ucapkan.
__ADS_1