My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 187 (Cilok Ayam)


__ADS_3

"Mau beli sesuatu lagi sebelum kita kembali ke resort?" Randy segera bangkit setelah merasa selesai dengan semangkuk mie dan jagung bakarnya.


Ayumi menengadahkan pandangan, menatap Randy untuk beberapa saat, kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Langsung pulang saja ke resort, aku cape." Katanya, lalu bangkit, dan berjalan tepat di belakang tubuh suaminya.


Randy mendekati dua orang tua pemilik warung untuk melakukan pembayaran, sementara Ayumi lebih dulu berjalan keluar, mendekati mobil suaminya yang terparkir tepat di depan warung sana. Hingga sesuatu mengganggu indra penciumannya.


Sesuatu berbau lezat Ayumi rasakan sampai pandangannya mengedar, mencari keberadaan pedagang tersebut.


Sorot matanya terkunci, ketika melihat seorang penjual menggunakan sepeda, dengan sesuatu di bagian belakangnya. Lalu Ayumi beralih pada tulis cukup besar menempel (Cilok Ayam).


"Mang!" Segera Ayumi berteriak sambil melambaikan tangan. "Saya mau, Mang!" Katanya lagi.


Penjual itu mengangguk, lalu berjalan lebih mendekati Ayumi.


"Mau berapa Neng?" Pria dengan jaket tebal dan sebuah topi kupluk rajut itu bertanya.


"Berapaan, Mang?" Tanya Ayumi.


Randy yang baru saja keluar dari warung sederhana itu menjengit. Ketika melihat Ayumi berjalan sedikit menjauh dari mobilnya, mendekati seseorang dan terdengar sedikit bercakap-cakap dengan suara samar.


"Mau 20 ribu. Dibagi dua ya Mang! Yang satu polosan yang satunya lagi pakai saos sambal, tapi jangan pakai kecap." Pesan Ayumi.


Pedagang itu mengangguk.


"Sayang?"


Ayumi berbalik badan, dan dia mendapati Randy yang sedang berjalan mendekatinya.


"Aku jajan cilok dulu." Perempuan itu tersenyum, yang di balas senyuman juga oleh Randy.


Pria itu berjalan semakin mendekat, dan karena rasa penasarannya dia melihat ke arah panci yang mengepulkan banyak asap, juga menimbulkan bau yang begitu lezat.


"Cilok ayam?" Randy meracau.


"Satu polosan, satunya lagi pakai saos sambal tidak pakai kecap?" Pedagang itu menatap Ayumi.


"Iya, Mang."


Satu plastik cilok tanpa bumbu dilengkapi satu tusukan di berikan kepada Ayumi, yang diterima dengan sangat riang. Kemudian pria itu memberikan satu plastik lagi, berisikan cilok Ayam yang di tambahkan saus sambal sesuai pesanan ibu hamil itu.


"Abang?" Dia beralih kepada suaminya sambil tersenyum. "Bayarin yah! Cuma 20 ribu." Ayumi terkekeh.


Randy mengangguk, dia merogoh dompet di dalam saku celana, mengeluarkan satu lembar uang, kemudian memberikannya kepada sang penjual cilok keliling itu.


"Nggak ada uang pas aja, Pak?" Pedagang itu tersenyum ramah.


Randy menggelengkan kepala. Kemudian dia merogoh saku jaket denimnya, dan membawa keluar receh kembalian saat dia membayar mie dan jagung bakar tadi.


"Cuma ada 9 ribu Mas!" Kata Randy sambil menghitung uang receh tersebut.


"Kalau begitu saya cari kembaliannya dulu." Penjual cilok itu kembali menggenggam selembar uang yang sempat Randy berikan, hendak pergi ke arah sebuah warung, namun teriakan Randy jelas menghentikan langkahnya.


"Ambil saja kembaliannya, Mas!" Kata Randy.


"Tidak usah, Pak kebayangkan." Dia kembali berniat melanjutkan niatnya, namun lagi-lagi teriakan Randy membuat dia berhenti dan berbalik badan.


"Sudah simpan saja." Randy segera beranjak mendekati mobil, kemudian membuka pintu sebelah kanan, masuk dan menutupnya kembali.


Lampu belakang mobil Randy terlihat menyala, kemudian segera berbelok melaju memasuki jalanan utama, meninggalkan seorang pedagang cilok yang kebingungan, menatap mobil, lalu beralih menatap uang 50 ribu di tangannya.


Tak lama setelah itu senyum terlihat di antara kedua sudut bibirnya, dengan telapak tangan yang mengusap dada, dengan rasa syukur yang dia panjatkan.


"Rejeki Adek. Bapak bisa beli susu nanti pulang." Ucapnya dengan suara yang sangat pelan.


***


Sesampainya di resort. Randy lebih dulu memasuki kamar mandi, membersihkan diri dari debu-debu yang mungkin menempel di tubuhnya, dan tentu saja tidak boleh dia bawa tidur. Berbeda dengan Ayumi yang saat ini memilih duduk di sofa ruangan itu, menyalakan televisi sembari menikmati cilok ayam yang dibelinya tadi.


Suara gemericik air di dalam kamar mandi sana mulai terdengar, diselingi suara nyanyian Randy yang cukup kencang.


"Haduh ampun deh itu bapak." Ayumi bergumam.


Dan setelah menghabiskan hampir 20 menit lamanya, akhirnya Randy keluar, dengan handuk yang melilit di pinggang sampai lutut. Wajah segar, rambut yang mulai memanjang dan menitikan air, dan jangan lupakan otot tubuh yang terlihat sangat menggoda.


"Mandi, Ay!" Titah Randy.


Ayumi mengangguk, dia menyimpan sisa cilik yang masih banyak di atas meja, lalu berjalan memasuki pintu kamar mandi tanpa banyak berbicara. Perempuan itu segera menanggalkan pakaiannya, berjalan mendekati shower dan menyalakan kran sampai air mulai mengalir ke seluruh tubuhnya. Tak lupa Ayumi membubuhkan shampo kepada rambutnya yang sudah sangat memanjang, menggosok dan memberikan pijatan kecil agar merasa sedikit nyaman.


Setelah itu dia beralih kepada tubuhnya, mengusapkan sabun cair sampai berbusa dan tercium bau wangi. Hingga setelah sepuluh menit berlalu, Ayumi keluar dengan hanya memakai bathrobe, seraya membiarkan rambut basah nya terurai.

__ADS_1


"Lho!" Ayumi menatap heran suaminya. Yang masih duduk di atas sofa, memainkan ponsel dengan keadaan yang sama sebelum dia memasuki kamar mandi.


"Kenapa belum pakai baju? Nggak dingin?" Tanya Ayumi.


"Belum. Tadi Pak Raga kirim email!" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.


Ayumi mengangguk tanpa menghiraukan suaminya saat ini. Dia meraih pakaian tidurnya yang masih berada di dalam sebuah kantong belanja, mengeluarkannya untuk Ayumi keenakan. Tapi sesuatu membuat Ayumi terhenyak ketika sepasang tangan kekar menelusup di antara celah pinggangnya, melilit erat dan mengusap perut bulat itu dengan sangat lembut.


Randy menumpukan dagunya di pundak Ayumi, sedikit memiringkan kepala, sampai dia bisa dengan mudahnya mencium tengkuk sang istri yang saat ini mempunyai bau yang sangat wangi.


Ayumi menggeliat, dengan kekehan pelan.


"Geli!" Ayumi berusaha melepaskan diri.


"Dingin." Randy berbisik tepat di daun telinga istrinya.


Membuat Ayumi memejamkan mata, saat sesuatu terasa mengalir dari ujung kepala hingga rambut. Belum lagi reaksi tubuh Ayumi yang sedikit menggelinjang, merasakan seperti aliran listrik yang mengalir hampir ke seluruh tubuh.


"Kalau dingin ayo pakai bajunya. Sudah tau cuaca disini seperti apa, tapi kamu malah asik dengan handphone, … padahal bisa pakai baju dulu tadi!"


"Tidak mau. Aku memang sebagai menunggumu tahu!" Randy memberikan kecupan basah lagi di leher Ayumi.


"Emmmmhhh!" Perempuan itu merapatkan matanya.


Randy tersenyum. Dia segera meraup tubuh Ayumi, mengangkat dan memindahkannya sampai istrinya berbaring di atas tempat tidur berukuran besar.


Ayumi terlihat pasrah, melihat Randy yang mulai menanggalkan handuk yang sedari tadi melilit di area pinggang sana. Dia beringsut naik, menyentuh tali jubah mandi Ayumi, lalu menariknya sampai pakaian itu benar-benar terbuka, dan terpampanglah sesuatu di dalam sana dengan jelas.


Semua bagian tubuh terasa semakin membesar, tidak terkecuali perut yang memang sangat memperlihatkan perubahan yang cukup pesat.


Randy mengusap perut Ayumi, lalu membungkuk mendekatkan wajah pada istrinya, dan meraup bibir milik Ayumi dengan penuh perasaan.


Tangan Ayumi bergerak menyentuh perut Randy, naik mengusap dada, dan berakhir mengusap tengkuk sampai ciuman keduanya semakin dalam. Suasana segera memanas bahkan hanya dalam hitungan detik.


Tangan Randy mulai bergerak-gerak kemana-mana, mengusap setiap inci tubuh istrinya, dan bermain-main setelah menemukan sebuah bulatan kenyal dengan ukuran yang memang sudah berubah.


"Mmmhhhpp." Erangan Ayumi mulai terdengar.


"Bagaimana? Masih dingin?" Tanya Randy saat menjeda cumbuannya.


Ayumi tidak menjawab, matanya yang terpejam mulai kembali terbuka, menatap pria di atasnya dengan tatapan sayu.


"Ahhhh!" Ayumi meremat rambut Randy cukup kencang, ketika pria itu menyesapnya dengan sangat kuat, dengan satu tangan yang memainkan salah satunya lagi, membuat kesadaran Ayumi mulai memudar.


Randy menarik diri, dia segera memposisikan posisi tubuhnya, dan mengarahkan miliknya pada inti tubuh Ayumi yang sudah benar-benar siap.


Ayumi sedikit bergeser untuk membenarkan posisinya, dan membiarkan Randy melakukannya setelah itu.


Dengan sangat perlahan-lahan Randy menekan pinggulnya, sambil terus menatap wajah Ayumi yang saat ini sedang memejamkan mata, dengan kening yang terlihat menjengit, sampai membuat pelipis tampak hampir menyatu satu sama lain.


"Ngghhhh!!"


Tangan Randy mengusap perut besar Ayumi, kemudian bergerak dengan tempo rendah, dan penuh hati-hati. Akal sehatnya masih dia pertahankan sampai dia dapat mengatur semuanya agar bisa tetap membuat Ayumi dan bayi di dalamnya merasa nyaman.


Satu tangan Randy bertumpu di atas tempat tidur, pria itu gunakan untuk menahan bobot tubuhnya, sementara tangan yang lain terus menyentuh Ayumi dengan sedemikian rupa, sampai membuat perempuan itu mulai meracaukan kata-kata yang tidak terlalu Randy mengerti.


"Abangghhh!!" Dia meraih lengan suaminya, dan mencengkram begitu erat sampai kuku-kuku tangannya menancap dan meninggalkan bekas kemerahan.


Suara-suara erotis Ayumi sedikit tertahan. Mengingat kamar yang mereka tempati sekarang tidak mempunyai fasilitas peredam suara, hingga tidak mungkin dirinya akan berteriak kencang seperti biasanya seperti saat mereka melakukannya di rumah.


Randy mendengus kencang, dia mulai berpacu dengan tangan yang tak hentinya menyusuri tubuh Ayumi. Terkadang dia menyentuh d*danya, lalu beralih pada b*kong, bahkan tak jarang Randy menjambak rambut panjang Ayumi sampai membuat perempuan itu merintih pelan.


"Oh, …"


Cup!!


Randy meraih bibir Ayumi, kemudian dia melepaskan perpautan keduanya.


Nafas Ayumi terdengar memburu, dengan kedua tangan yang melilit erat di bahu suaminya, saat Randy kembali ******* bibir Ayumi tanpa merasa puas.


Dia kembali menarik diri, sampai pandangan keduanya saling beradu, kemudian sama-sama tersenyum.


"Baiklah ayo kita selesaikan sekarang!"


Randy menegakan tubuhnya, memutar tubuh Ayumi, dan segera menyerangnya dari arah belakang.


Kening perempuan itu mengkerut, dengan mata yang terpejam, membenamkan wajah pada bantal di bawahnya, berusaha meredam suara-suara indah yang terus keluar dari mulut Ayumi.


Kedua tangan Randy terus memegangi panggul Ayumi, berpacu lebih cepat lagi, berusaha meraih sesuatu yang sudah mulai terasa mengalir dari atas kepala, dan berkumpul di bawah telapak kaki, hingga menghadirkan rasa yang sangat luar biasa.


"Hhhheuh sayang!" Ayumi meremat kain pelapis kasur dengan sangat kuat, seraya terus membenamkan wajah di atas bantal yang saat ini ada dalam pelukannya.

__ADS_1


Hentakan Randy terus menggila, berpacu lebih kencang lagi dan lagi. Sampai setelah beberapa detik lenguhan keduanya terdengar panjang, pertanda jika sesuatu yang begitu nikmat mereka dapatkan.


"Argghhh!" Suara Randy terdengar begitu kencang, dengan suara nafas panjang yang menderu-deru.


Setelah itu keadaan menjadi benar-benar hening.


***


"Ayumi pulang sekarang?" Sumi meletakan hidangan di atas meja makan, kemudian menoleh ke arah Dini yang juga ikut membantu.


"Sepertinya iya, Bu. Kemarin tidak membawa apa-apa, hanya membawa bekal rujak tomat, kwetiaw goreng sama puding. Awalnya saya kira Non Ayumi tidak akan menginap, tapi Bapak mengirimkan pesan jika mereka memilih bermalam disana." Jelas Dini.


"Oh ya? Kamu tidak bilang saya ada disini kan?"


Dini tentu saja menganggukan kepalanya. Dan setelah menatap beberapa hidangan juga piring, Dini kembali ke arah belakang.


Sumi menutup masakannya dengan tudung saji, kemudian menengadahkan pandangan, menatap jam ruangan itu, yang sudah menunjukan pukul 10, namun belum menunjukan tanda-tanda jika Ayumi dan Randy pulang.


Dia berjalan ke arah taman belakang, dimana suaminya sedang duduk di kursi taman, memantau renovasi cafe miliknya melalui seseorang dengan cara berbalas pesan singkat.


"Valter?" Panggil Sumi.


Pria itu menoleh, kemudian tersenyum dan merentangkan tangan.


"Kemarilah." Valter meminta.


"Kamu belum selesai?"


"Sudah. Mereka mengabarkan jika renovasi mungkin akan selesai lusa."


Sumi mengangguk, dia baru saja hendak duduk. Sebelum teriakan seseorang terdengar memanggil namanya, sampai membuat dia menoleh, dan mendapati Ayumi yang berlari ke arahnya cukup kencang.


"Mamah pulang!" Dengan raut ceria dia datang, lalu menghambur ke dalam pelukan ibunya.


"Ay jangan lari!" Suara itu terdengar.


Dan terlihatlah Randy berjalan menyusul di belakangnya dengan raut wajah panik.


"Hey, bagaimana kabar kamu?" Sumi mencium pipi putrinya.


"Baik, Mama sendiri?"


"Mama baik." Kemudian Sumi menoleh ke arah samping dimana suaminya duduk, yang seketika pandangan Ayumi pun tertuju kesana.


"Papah!" Dia beralih memeluk pria tinggi besar di sampingnya.


Sementara Valter hanya terkekeh melihat kelakuan putrinya itu.


"Kalian datang? Kenapa tidak memberi kabar?" Randy mendekati kedua mertuanya, lalu mencium punggung tangan merek secara bergantian.


"Hanya ingin membuat kejutan kecil. Oh iya, … belum ada yang datang? Bu Maria? Bu Tutih dan Pak Ali?" Sumi menatap menantunya penuhh tanya.


"Mungkin besok." Sahut Randy.


Dia menatap istrinya yang terus menempel kepada sang ayah.


Perempuan itu memang sudah mau menjadi ibu dalam hitungan bulan. Namun sikap manjanya kepada Valter, juga Sumi, membuktikan jika memang Ayumi masih mempunyai sisi lain dalam dirinya.


Bersama Randy Ayumi selalu terlihat lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu ataupun kemarahan Randy yang bahkan tidak bisa pria itu kendalikan. Tapi lihatlah gadis 20 tahun itu bersikap kepada kedua orang tua kandung yang baru saja dia temukan.


Ayumi memang selalu terlihat manja kepada siapapun, di samping sikap dewasanya. Namun tingkahnya kepada Sumi dan Valter jelas berbeda ketika perempuan itu bersama kedua orang tua asuhnya.


"Lalu apa yang membuat itu berbeda?" Hati Randy berbicara.


"Malah melamun, ayo makan. Mama sudah masak tadi, di bantu Bibi!" Sumi menepuk pundak menantunya.


Randy tersadar. Dia segera mengalihkan pandangannya dari Ayumi dan Valter, kemudian. Berbalik badan untuk masuk lebih dulu, mengikuti langkah Sumi.


"Hey! Ke marilah kita makan!" Panggil Sumi kepada putri juga suaminya yang terus saling memeluk di taman belakang rumah.


"Come on! Mamamu sedang cerewet akhir-akhir ini!" Ucap Valter, kemudian dia membawa putrinya masuk kedalam rumah.


Sementara itu Ayumi hanya tertawa pelan, mendengar sang ayah yang berbisik dan mengumpat tentang ibunya sendiri.


"Tapi Mama semakin cantik." Pandangan Ayumi menengadah.


Valter menundukan pandangan, lalu mengangguk.


"Hemmm, … dia semakin ahli merawat diri bukan." Valter berbisik lagi.


Hingga keduanya sama-sama diam setelah masuk ke dalam rumah, dan duduk di kursi masing-masing bersiap untuk makan.

__ADS_1


__ADS_2