
"Terimakasih sudah hadir, dan bersedia memenuhi permintaan Randy dan Ayumi untuk menjadi saksi akad nikah mereka berdua hari ini." Ucap Ali kepada Alvaro, yang saat ini tengah menjabat tangannya.
Pria tersebut hanya tersenyum, mengangguk dan menepuk-nepuk punggung tangan Ali.
"Hanya datang, itu tidak masalah. Toh dengan kejadian ini saya bisa pulang berkunjung ke rumah, Mami." Katanya.
"Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya tidak tahu jika anda tidak bersedia, entah kepada siapa saya harus meminta tolong. Bapak tahu sendiri bagaimana saya dengan saudara-saudara saya, … merenggang hanya karena sebuah hutang di masa lalu."
"Saya sudah katakan, jika memang butuh bantuan. Maka katakan saja, saya akan memenuhinya jika bisa." Alvaro berujar.
Ali mengangguk, kemudian dia beralih kepada Junior, yang juga hendak berpamitan pulang pada hampir tengah malam, setelah acara benar-benar selesai, dan hanya menyisakan mereka di rumah sederhana itu, setelah Randy juga Maria berpamitan pulang terlebih dulu.
"Kami pamit pulang dulu, Om. Terima Kasih jamuan makan malamnya, Bianca sampai membawa bekal yang Tante berikan." Pria itu tertawa, sembari menoleh ke arah sang istri.
Dimana perempuan itu membawa sebuah kantong, berisikan makanan yang Tutih masak sejak siang hari tadi setelah Ayumi memberi kabar via sambungan telepon seluler jika dia akan datang.
Bianca tersenyum canggung.
"Iya padahal tidak usah repot-repot." Bianca tersenyum malu.
"Ibunya Ayumi memang begitu." Ali terkekeh.
Junior dan Bianca mengangguk bersamaan.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit, Pak Ali … mari!" Alvaro segera undur diri, si susul Junior juga istrinya yang berjalan di belakang.
Cukup lama Ali berdiri diambang pintu sana, melihat Alvaro, Bianca dan Junior yang kini terlihat berjalan semakin jauh, menyusuri jalanan setapak dengan lampu-lampu kecil yang terlihat menyala.
"Randy belum kembali?" Tutih muncul dari arah ruang tengah.
Ali menoleh, menutup pintu lalu menggelengkan kepala, memberi jawaban dari pertanyaan Tutih barusan.
"Mungkin ambil keperluannya dulu, dia datang kesini tidak membawa apapun, selain pakaian yang dikenakannya, dan tidak mungkin dia tidur dengan setelan kemeja seperti tadi." Jelas Ali.
Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Amar?" Wanita itu menatap sang suami.
"Biarkan saja! Lebih baik dia tidak pulang, atau akan membuat keributan sekarang, dimana hari bahagia Ayumi sedang berlangsung."
Raut wajah Tutih seketika berubah sendu, dia benar-benar sedih dengan sikap anak pertama mereka yang tak kunjung berubah. Umur Nya bahkan sudah menginjak 28 tahun, tapi Amar masih mempunyai sifat kekanak-kanakan, selalu mempermasalahkan hal paling kecil sekali pun.
Dan beruntung Ayumi tidak mengetahui kepulangan Amar hari ini, mungkin jika dia tahu, gadis itu tidak akan mau berlama-lama tinggal di rumah itu.
"Sampai kapan Amar akan seperti ini?"
"Bapak juga tidak tahu, … tapi sekarang dia terlihat sedikit lebih baik, tidak pulang dalam keadaan mabuk, Bapak juga dengar sekarang Amar mulai bekerja di bengkel Pak Solihin."
Tutih diam.
"Syukurlah, perlahan-lahan dia akan kembali menjadi anak kita, Amar yang dulu!"
Ali mengangguk.
"Semoga saja." Ali mengamini.
Klek!
Ayumi keluar dari dalam kamarnya, membuat Tutih dan Ali mengalihkan pandangan ke arah gadis itu.
"Mau kemana? Kok pakai jaket?"
"Abang minta di jemput." Ayumi berjalan ke arah pintu.
Ali menjengit, sementara Tutih langsung berdiri, berjalan mengikuti Ayumi.
"Sudah mau jam dua belas, kenapa harus di jemput?"
"Abang belanja, … butuh bantuan." Jawab Ayumi singkat, dia merapatkan jaketnya, lalu keluar dan menutup pintu rumah itu kembali.
Wanita itu semakin heran, lalu menoleh pelada suaminya seolah meminta sebuah jawaban.
"Biarkan saja, menantumu kan memang royal. Tidak ingat dia mengirimkan kita uang beberapa kali? Mungkin sekarang dia berbelanja untuk kebutuhan rumah."
"Kebutuhan apa?"
Ali mengedikkan bahu, dia bangkit dan berjalan mendekat kepada istrinya.
"Tidak tahu. Mungkin saja bukan kebutuhan kita, tapi kebutuhan Ayumi untuk malam ini." Ali terkekeh. "Ayo masuk kamar, biarkan pengantin baru yang berjaga malam ini." Sambungnya lagi sambil terus tertawa.
"Pikiran Bapak aneh!"
Ali tidak menjawab lagi, benar-benar menarik tangan Tutih, membawa istrinya sampai masuk kedalam kamar mereka, meninggalkan rumah dengan keadaan lampu yang masih terang benderang.
***
Hilir angin berhembus kencang, menemani sepasang suami-istri yang tengah malam ini berjalan menenteng beberapa kantong belanjaan.
__ADS_1
Langkah Ayumi terhenti, lalu menengadah menatap kearah langit yang kini sudah berwarna hitam pekat.
Rintik-rintik hujan mulai terasa, lalu munculah kilatan cahaya sesaat, dan disusul suara gemuruh yang menggelegar memenuhi langit malam hari ini.
"Kenapa berhenti? Ayo lanjut sudah mau hujan." Randy berbicara.
"Abang sih lama!" Dia mulai berjalan sambil menggerutu.
"Ya harus mandi dulu, … belum lagi beli cemilan buat kamu, terus Ibu nyuruh bawa kue ini untuk Ibu dan Bapak, semuanya butuh proses, Ay!"
"Malam-malam itu tidur, bukan ngemil." Dia sedikit berlari untuk mencapai gagang pintu rumah kedua orang tuanya.
"Ah terserah saja." Kata Randy.
Klek!
Ayumi mendorong pintu kayu itu dengan bahunya, masuk dengan pandangan menatap sekeliling, saat suasana tiba-tiba saja menjadi sangat hening.
"Kan! Bapak dan Ibu pasti sudah lelah, nggak mungkin mau makan-makan lagi." Ayumi meletakan kantong itu di atas meja.
Randy tidak menjawab, dia segera menutup pintu rumah itu, dan tiba-tiba saja hujan terdengar sangat deras, disertai angin kencang, juga petir yang mulai menyambar
"Kuenya masukin kulkas saja, satu kresek cemilan ini biar aku bawa ke kamar."
Randy masuk kedalam kamar terlebih dulu, sementara Ayumi beranjak menuju dapur untuk menyimpan kue lapis pemberian dari ibu mertuanya.
Dan setelah itu Ayumi memastikan pintu rumahnya terkunci rapat, mematikan lampu ruang tengah juga tamu, lalu menyusul Randy yang sudah berada di dalam kamarnya lebih dulu.
Ayumi masuk, lalu menutup pintu kamarnya dan segera menggantungkan jaket yang tadi dia pakai pada tempatnya.
Hatinya mulai berdebar kencang, perasaan gugupnya kembali hadir, saat Ayumi kembali menyadari jika saat ini dia berada dalam satu kamar dengan pria yang sudah resmi menjadi suaminya.
Dia menoleh, dan benar saja. Pria itu terlihat menunggu, duduk bersandar pada ujung tempat tidur sambil tersenyum.
"Haih, … kenapa harus tersenyum seperti itu? Abang terlihat sangat menyeramkan tahu!" Cicit Ayumi pelan.
Randy menepuk-nepuk sisi kosong di sampingnya.
"Memangnya tidak boleh kalau aku tersenyum? Aku bahagia karena sudah menikahimu tanpa harus bersaing dengan si … siapa yang tetangga kost mu itu?"
Ayumi memutar bola mata, mencebikan bibir, dan merebahkan diri di samping suaminya.
Suami, rasanya lucu sekali dengan kata-kata ini!
Ayumi terkikik di dalam hatinya.
Randy menahan senyum, dia ikut bergabung kedalam selimut yang Ayumi pakai, kemudian berbaring miring menghadap gadis yang selalu terlihat sangat cantik meski tidak dengan polesan makeup.
Ayumi semakin merapatkan diri, memeluk selimutnya erat saat suara hujan di luar semakin deras, juga petir yang terus bersahutan, membuat ketakutannya kian meningkat, sampai dia tidak menyadari semakin mendekatkan diri pada pria yang masih betah menatapnya dalam diam.
Dia membuka matanya, dan perlahan Ayumi menengadahkan pandangannya. Memastikan jika Randy sudah tertidur.
Namun dia sangat terkejut saat melihat Randy masih terjaga.
"Kamu takut?" Randy membuat ekspresi wajahnya sedatar mungkin, meski jauh di dalam hati sana dia bersorak gembira.
Hujan turunlah semakin deras!
"Ayumi mengangguk."
Randy tersenyum tipis.
"Kemarilah, aku akan memelukmu agar bisa tidur."
Ayumi bergeser semakin mendekat, sampai kini dia berada didalam dekapan hangat suaminya.
Mereka diam, dengan isi kepala masing-masing, ditemani suara gemuruh angin, dan hujan yang terdengar semakin deras saja.
"Abang?"
"Hemm?"
"Belum tidur?"
"Jika sudah tidur tidak akan menjawab."
Ayumi yang sedari tadi menyembunyikan kepalanya di balik selimut pun menyembulkan kepala, mengangkat pandanganya untuk melihat Randy yang ternyata sudah memejamkan mata.
"Apa Abang meminum sesuatu? Obat dengan dosis tinggi misalnya?"
"Tidak." Randy menjawab singkat. "Tidurlah, atau …"
"Tapi kenapa detak jantung Abang terdengar sangat kencang?"
Randy tidak menjawab, dia berusaha menekan perasaannya, agar tidak egois karena hanya memikirkan keinginannya saja.
"Abang?"
__ADS_1
Randy masih diam.
"Ish jangan tidur duluan, aku takut!" Pekik Ayumi kesal dia memukul-mukul dada Randy kencang.
Pria itu meringis, membuka mata dan menahan pergelangan tangan gadis di hadapannya.
"Berhenti dan tidurlah! Atau aku tidak akan bisa mengendalikan diri." Suaranya terdengar pelan, bahkan hampir berbisik.
Namun tatapannya begitu tajam, membuat nyali Ayumi seketika menciut
"Tidurlah, aku disini jangan takut!"
Ayumi masih diam dengan posisi menatap wajah pria tampan di hadapannya.
"Pejamkan matamu, jangan menatapku seperti ini!"
Ayumi bergeser semakin dekat lagi.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh aku menatap wajah suamiku sendiri?" Ayumi balas berbisik.
Tangannya bergerak, mengusap rahang tegas Randy seraya tersenyum penuh arti.
"Apa kau sedang menggoda ku?"
Ayumi menggelengkan kepala, lalu mencium bibir Randy tanpa aba-aba.
"Selamat tidur." Ayumi berkata, dia hendak menjauh, tapi tangan kekar itu sudah lebih dulu menahan pinggangnya.
"Kau gugup yah?" Randy menarik Ayumi, sampai tubuh mereka menempel satu sama lain.
Ayumi diam.
"Apa kamu tidak mengizinkan jika aku ingin melakukannya sekarang?" Randy menempelkan kening keduanya.
Gadis itu masih tidak menjawab, dia justru memejamkan mata, saat hembusan nafas Randy menyapu wajahnya.
"Apa boleh?" Randy bertanya lagi.
"Tidak." Mata Ayumi perlahan terbuka.
Randy menghela nafasnya kencang.
"Bahkan saat kita sudah menikah?"
Ayumi sedikit menjauh, sampai pandangan mereka kembali beradu.
"Tidak ada kamar mandi di dalam kamar, tidak ada peredam suara juga disini! Aku rasa akan sangat memalukan jika suara kita di dengan Ibu dan Bapak, atau bahkan tetangga." Ayumi berusaha memberi pengertian.
Pria itu mengusap wajahnya lagi. Kesabarannya benar-benar sangat diuji malam ini.
"Kita masih mempunya banyak waktu, sebaiknya sekarang kita tidur, besok pagi bukannya harus segera kembali ke kota?"
"Astaga!" Randy frustasi.
"Kemarin bisa, masa sekarang tidak." Ayumi tersenyum.
"Baiklah-baiklah, kau selamat malam ini."
Ayumi mengangguk, dia mendekat, menyurukan wajah di dada bidang Randy, kemudian memejamkan mata saat pria itu juga membalas pelukannya.
"Selamat tidur suamiku!"
"Berhentilah bersuara, atau aku berubah pikiran." Randy memperingati.
Suara itu terdengar menyeramkan, Randy terdengar seperti orang yang sedang menahan marah, tapi anehnya justru membuat bibir Ayumi terus tersenyum.
"Tidak mau mengucapkan sesuatu sebelum tidur?" Gadis itu masih berbicara.
"Astaga tuhan!"
"Abang?"
"Iya Ayumi, … iya! Selamat tidur istriku, …"
Cup!
Randy mencium kening Ayumi.
"Aku mencintai mu." Randy berbisik.
"Aku juga." Ayumi tersenyum, dan semakin mengeratkan pelukannya.
......................
Jangan lupa hadiahnya 🙈
kaboorrr🏃♀️🏃♀️🏃♀️💨
__ADS_1