
Ayumi kembali turun dari atas tempat tidur, kemudian berlari ke arah kamar mandi. Dan untuk kesekian kalinya Ayumi berusaha memuntahkan isi perut dia yang kosong, ketika lagi dan lagi rasa mulai terus terasa.
Dia membiarkan kran air wastafel terus terbuka, bahkan beberapa kali dia membasuh wajah yang sudah terlihat pucat, dengan mata yang memerah dan mengeluarkan banyak air mata.
"Ya Tuhan aku lelah." Ucap Ayumi lemas.
Perempuan itu segera menutup kran airnya, dan bersimpuh di bawah meja wastafel dengan keadaan yang begitu lemas, bahkan otot dan tulang kakinya sudah tidak bisa dia gunakan untuk berjalan.
Rasanya benar-benar lemas dan pusing, bumi yang dipijak terasa berputar lebih kencang daripada biasanya.
Ayumi memejamkan mata, berusaha menetralisir rasa mual yang terus Ayumi rakasan, sampai suara seseorang memanggil-manggilnya tiba-tiba terdengar.
"Aku disini!" Jawab Ayumi pelan.
"Ay? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Randy saat menemukan Ayumi.
Randy langsung menerobos masuk, lalu bersimpuh dan meraup tubuh istrinya, untuk dia pindahkan ke atas tempat tidur yang mungkin bisa membuat Ayumi lebih nyaman.
"Sejak kapan?" Dia mengusap kening Ayumi yang sedikit mengeluarkan keringat.
"Abang pergi."
"Astaga! Kenapa tidak telpon? Kalau telpon aku pasti cepat pulang."
Randy menatap wajah istrinya lekat-lekat. Wajah pucat, mata sayu, dengan keringat yang terus bercucuran, menandakan perempuan itu memang sedang tidak baik-baik saja.
"Susunya kenapa tidak di minum?" Randy beralih menatap mug di atas nakas yang terlihat masih penuh.
Dia meraihnya, berniat memberikan kepada sang istri, tapi Ayumi menolah.
"Sesudah aku meminumnya, aku jadi semakin mual. Aku tidak suka."
"Mual? Bukannya ini merek yang sama dengan yang Dokter berikan malam itu? Hanya saja itu kemasan praktis, sementara ini harus diseduh dulu, bahkan seharusnya kamu lebih suka karena bisa meminumnya dalam keadaan hangat."
Ayumi menggelengkan kepala, segera mendekat, kemudian memeluk tubuh suaminya, dan menghirup aroma tubuh Randy yang membuat rasa mual itu tiba-tiba mereda.
"Aku ambilkan air hangat dulu, yah. Setelah itu kita makan, aku membawa waffle saus madu untukmu." Randy mengusap punggung Ayumi yang saat ini sedang menenggelamkan wajah di celah ketiaknya.
"Tunggu dulu, aku mau seperti ini."
"Tapi kamu harus sarapan, setelah itu mandi, dan bersiap-siap untuk segera memeriksakan Dedek Bayi."
"Memangnya kapan?" Tanya Ayumi tanpa mengubah posisi sedikit pun.
"Nanti siang."
"Ah masih lama." Katanya lalu kembali menghirup aroma tubuh Randy yang terjaga begitu menyegarkan.
Rasa pusing, dan mualnya tiba-tiba hilang entah kemana. Tergantikan dengan rasa bahagia, setiap kali dia berdekatan dengan suaminya.
"Ay? Berhentilah, kamu akan membangunkan sesuatu."
Ayumi tidak menjawab, dia terus menghirup dan menghembuskan nafasnya dengan gembira, sementara Randy tengah berusaha mati-matian menahan sebuah rasa yang mulai bangkit.
"Hey, ayolah kita makan dulu, setelah itu kamu boleh menciumi ketek suamimu ini sepuas yang kamu mau."
Randy berusaha melepaskan diri, kali ini dia takut tidak bisa menahan perasaan yang sudah bergejolak.
Ayumi menarik diri, sedikit memberi jarak di antara keduanya, tersenyum lalu membentangkan tangan selebar mungkin.
"Papa, … gendong!" Pinta Ayumi dengan sangat manja.
Randy menatapnya dengan gemas.
"Pah!?" Panggil Ayumi lagi. "Cepetan gendong, Bayi nya sudah lapar, mau makan waffle yang Papa nya bawakan."
Pria itu tersenyum, dia segera berdiri, kemudian meraup tubuh Ayumi dan menggendongnya seperti Koala yang sedang memeluk batang pohon. Ayumi benar-benar menempelkan wajahnya pada dada bidang milik Randy.
"Semakin manja saja kamu ini!" Bisik Randy saat mereka berjalan ke arah meja makan yang terletak di ruang tengah.
Dimana ruang tv dan dapur bersih bersatu disana.
"Karena aku suka kamu manjakan, jadinya aku sangat manja seperti ini!"
__ADS_1
Randy menempatkan Ayumi di salah satu kursi, membiarkannya duduk.
"Aku pun suka jika kamu manja kepadaku. Aku merasa kamu selalu membutuhkan aku kapanpun dan dimanapun."
Ayumi mengangguk. Perempuan itu tersenyum saat Randy mengeluarkan beberapa kotak makanan, dan membuka nya satu-persatu.
Ada waffle saus madu, cream soup, kentang goreng, berbagai macam puding, juga Apple pie yang sangat Ayumi gemari.
"Kamu senang?" Ucap Randy dengan wajah berbinar, kemudian duduk di samping istrinya.
Ayumi mengangguk. Dia bahagia, bahkan dalam hal makanan pun Randy memilih membeli semua yang dia sukai.
"Emmmm, … sayangnya aku!!" Ayumi membuat suaranya se-menggemaskan mungkin.
Dia bergeser, mencondongkan tubuh dengan bibir mengerucut, seolah meminta sebuah ciuman yang begitu manis kepada suaminya.
"Aku tidak mau, nanti aku tidak bisa mengendalikan diri, dan membuat perutmu sakit lagi. Ingat tidak? Terakhir kali kamu merasa kesakitan karena apa?" Randy mengingatkan.
"Only kiss, Babe!"
Randy mengendikan kedua bahunya.
"Abang!?"
"Baiklah-baiklah, tidak boleh nakal. Sekarang waktunya sarapan, bukan waktunya menjahili suamimu, … oke?"
Ayumi mengangguk, dia semakin mendekatkan bibirnya, dengan mata yang sudah tertutup, pertanda siap menerima ciuman manis dari pria di hadapannya.
Randy mendaratkan satu ciuman lembut dan singkat, namun saat dia hendak menjauh, tangan Ayumi justru menahan tengkuknya, dan menekan sampai dia mampu memperdalam pautan bibir keduanya.
Suara decapan mulai terdengar ketika Randy mulai membalas setiap permainan yang Ayumi mulai.
"Dasar nakal!" Randy menggeram dengan perasaan gemas, saat ciuman itu terlepas.
Ayumi hanya tersenyum, lalu mengusap bibir suaminya yang basah, sisa pautar bibir keduanya beberapa detik lalu.
"Cepat makan sarapannya, atau kamu yang aku makan." Suara itu terdengar begitu rendah, sedikit menakutkan, namun itu adalah bagian dari Randy yang sangat Ayumi sukai.
***
Siang hari pun tiba, tepat pukul 14:00.
Ayumi dan Randy sampai di salah satu rumah sakit swasta. Mereka berjalan mendekati meja pendaftaran, dan segera mendaftarkan diri, setelah sedikit berbincang-bincang mengenai konsultasi yang akan Ayumi lakukan.
"Saya langsung kesana Mbak?" Tanya Ayumi.
"Iya, Ka. Lurus saja, nanti mentok belok kiri. Tunggu di panggil untuk pemeriksaan awal, setelah itu baru di panggil untuk masuk ke ruangan Dokternya yah."
"Antriannya sudah banyak?"
"Sudah ada sekitar 10 pasien, Ka."
"Oh, baiklah akalu begitu. Terimakasih!"
Dan setelah itu Ayumi bangkin, menghampiri Randy yang duduk menunggu tidak jauh dari meja pendaftaran.
"Sudah?"
"Kita langsung nunggu, sepertinya kita datang terlalu siang yah, sampe sudah ada sepuluh pasien."
"Hanya sepuluh, dan tidak akan lama."
Randy bangkit, meraih tangan Ayumi untuk di genggamnya, dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat sedikit ramai.
"Hey!" Seorang wanita menepuk lengan Ayumi, yang langsung membuat perempuan itu menoleh ke arah kursi tunggu yang sempat dia lewati.
"Ka Eca!" Cicit Ayumi dengan raut wajah tidak percaya, saat mereka kembali di pertemukan dalam waktu yang tidak di sangka-sangka.
"Kalian mau konsultasi?"
Ayumi mengangguk, dia sedikit gugup. Wajar saja, hubungan antar keduanya sempat dingin hanya karena kisah dimasa lalu.
"Kaka sendiri?"
__ADS_1
"Ada Nior, dia sedang ke depan untuk membeli air minum."
Ayumi mengangguk, dia menoleh ke arah suaminya, berusaha mengusir rasa gugup saat berhadapan langsung dengan Bianca.
"Sayang, kemarilah. Kita duduk, jangan terus berdiri nanti kamu lelah."
Randy yang mengerti pun menarik Ayumi, membawanya duduk di kursi tunggu, yang terhalang beberapa pasien lainnya.
"Kamu takut?" Randy berbisik.
"Bukan. Aku tidak mau ada masalah lagi, aku tidak mau semuanya menjadi lebih buruk, jadi biarkan saja seperti ini, tidak usah terlalu akrab." Balas Ayumi tak kalah pelan.
Keduanya berbincang-bincang, berusaha menyibukkan diri agar Bianca tak berniat mendekat atau berbasa-basi lagi, prasangka buruk yang sempat Bianca berikan, membuat perasaan Ayumi sedikit tergores, dia harus menerima kemarahan atas apa yang tidak dia perbuat.
"Benar kata Bianca, dia melihat kalian datang kesini!" Tiba-tiba saja Junior mendekat, dia tersenyum kemudian berjabat tangan dengan Randy.
"Ada sesuatu yang harus kami pastikan." Jawab Randy.
"Kami juga baru periksa pertama kali disini. Junior meminta Dokter lain, dia tidak mau Dokter pria … aneh sekali, padahal sama saja!" Bianca menyela.
"Oh ya? Kalau aku memang Abang yang cari." Jawab Ayumi.
Mereka pun akhirnya duduk bersisian, berbincang-bincang santai sambil menunggu giliran. Walau sempat ingin menghindar, tapi akhirnya Ayumi menerima Bianca yang sepertinya mulai mendekatkan diri, bahkan perempuan itu lebih banyak bertanya agar obrolannya terus tersambung.
***
"Kami duluan, ya! Kapan-kapan main lah kerumah." Pamit Bianca setelah keluar dari ruangan Dokter.
Dia membawa sebuah kertas, dengan perut yang benar-benar sudah terlihat besar.
"Oh, iya Ka." Ayumi tersenyum.
"Pak Randy, Ayumi. Kami duluan yah!" Junior ikut berpamitan.
Randy dah Ayumi hanya tersenyum sambil terus mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ibu Ayumi Kirana!" Seorang wanita memanggilnya.
Ayumi langsung bangkit, berjalan mendekati meja yang berada terletak di dekat pintu masuk ruang pemeriksaan.
Disana Ayumi melakukan beberapa pemeriksaan awal seperti yang di lakukan beberapa pasien sebelumnya. Tekanan darah, berat badan, juga beberapa pemeriksaan lain untuk riwayat catatan pemeriksaan yang Ayumi lakukan.
Klek!
"Selamat siang Bu Dokter?"
Dokter perempuan itu tersenyum, kemudian mempersilahkan Ayumi dan Randy duduk di hadapannya.
"Ini mah bukan Ibu-ibu!" Dokter itu berujar penuh candaan.
"Saya baru 20 tahun, Bu."
Dokter tersebut mengangguk.
"Ada keluhan? Atau mau konsultasi soal alat penunda kehamilan?"
"Saya mau periksa Dok. Dua hari yang lalu saya merasakan perut bagian bawah saya tidak nyaman, dan setelah melakukan pemeriksaan di klinik terdekat, katanya saya hamil. Perkiraan usia janinnya 2-3 Minggu, tapi saya ingin lebih menyakinkan lagi."
"Baiklah, kalau begitu mari ikuti saya."
Dokter bangkit, berjalan mendekati tempat tidur, di ikuti Ayumi juga Randy.
Ayumi segera berbaring, di bantu salah satu perawat yang langsung menutup tubuh bagian bawah Ayumi, menyingkap sedikit kemeja yang Ayumi kenakan, dan mulai membubuhkan jel di atas perut calon ibu muda itu.
Sebuah alat langsung di arahkan kesana, mulai bergerak-gerak, sampai menimbulkan semua gambar hitam putih di dalam monitor.
"Ini kantung janinnya. Dari ukuran yang tertera, sepertinya janin sudah berusia tiga Minggu, … hampir Empat Minggu."
Jelas Dokter yang seketika membuat Randy menitikan air mata bahagia. Hatinya bergetar, bahkan saat Randy untuk pertama kalinya menatap gambar dengan bulatan kecil, yang dia yakini sebagai janin yang dia titipkan kepada sang istri.
Ahh, benarkah aku akan segera menjadi seorang ayah?
Batinya berbicara, dengan perasaan bahagia yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata puitis sekali pun.
__ADS_1