
"Halo?"
Suara terdengar ketika sambungan telepon terhubung.
"Ibu bisa datang? Aku mohon temani aku sekarang, aku takut terjadi sesuatu kepada Ayumi." Randy terlihat panik.
Dia yang saat ini berada di luar ruangan pun terus berjalan mondar-mandir dengan handphone yang menempel di daun telinga.
"Ayumi sudah mau lahiran?" Suara Maria terdengar begitu antusias.
Namun dengan segera Randy menggelengkan kepalanya, seolah sang ibu dapat melihat dari jarak yang sangat jauh.
"Sekarang Ayumi sedang ditangani. Dan Ibu tahu? Mulai sekarang dia sudah harus berpuasa, besok dia harus melakukan tindakan operasi." Dia memijat pelipisnya.
Sementara wanita di seberang sana seketika diam, membuat suasana menjadi hening karena sama-sama diam, karena rasa keterkejutan masing-masing.
"Kenapa bisa begitu, Ran?"
Maria kembali bertanya, dan kini suaranya terdengar begitu lirih, seolah merasakan kekhawatiran yang sama.
"Kandungan Ayumi mengalami gawat janin, sampai bayinya harus segera dilahirkan."
"Kenapa begitu? Memangnya apa yang Ayumi rasakan sampai bisa sefatal ini?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak ingat penjelasan Dokter tadi, di dalam pikiranku sekarang aku takut terjadi sesuatu kepada mereka sampai aku tidak bisa mendengar atau mengingat apa yang Dokter jelaskan tadi." Jelas Randy, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ibu akan segera kesana. Sekarang kamu fokus kepada Ayumi dulu, untuk orang tua Ayumi biar Ibu yang memberi tahu. Mudah-mudahan masih ada bus ke kota, … sudah jam sembilan malam."
Randy mengangguk. Dan setelah itu sambungan telepon segera terputus.
Pria itu diam untuk beberapa saat, berusaha menetralkan diri dari serangan panik yang sedang menguasai dirinya, dan dia harus benar-benar terlihat baik-baik saja di hadapan Ayumi.
"Hhhheuh! Semuanya harus baik-baik saja, Ayumi dan putriku harus selamat, tidak ada pengecualian." Randy bermonolog.
Dia kembali mendekati sebuah ruangan dimana Ayumi berada sekarang, membukanya dengan sangat perlahan, kemudian masuk.
Dan disanalah Ayumi, berbaring di atas sebuah tempat tidur, memakai pakaian yang sudah diberikan pihak rumah sakit, dengan selang oksigen yang menempel di hidung, dan infusan yang menancap di punggung tangan sebelah kiri.
Wanita itu tertidur setelah menangis cukup lama.
Lalu pandangannya beralih kepada salah satu alat yang paling mendominasi. Suara detak jantung terus terdengar, dan itu berasal dari bayi yang masih berada di dalam perut istrinya.
Randy segera mendekat, lalu duduk tepat di kursi yang berada tepat di samping tempat tidur dimana Ayumi terlelap sekarang.
__ADS_1
"Suami macam apa aku ini? Sampai membuat mereka dalam bahaya. Apa aku terlalu mementingkan pekerjaan? Aku terlalu sibuk dengan tanggung jawab yang lain, sementara Ayumi dan putriku benar-benar sedang membutuhkan aku akhir-akhir ini." Dia merutuki dirinya sendiri.
Tangannya bergerak, menyentuh perut bulat istrinya, dimana sesuatu sedang sengaja di letakan di sana, agar mempermudah tenaga medis memeriksakan keadaan detak jantung bayi yang sempat melemah karena tidak menerima oksigen dengan cukup.
"Daddy mohon bertahanlah, ayo berjuang sama-sama. Setelah itu kita berkumpul oke? Jangan membuat Mommy sedih, Daddy tidak bisa melihat dia seperti tadi."
Randy mengingat dimana Ayumi langsung terlihat panik ketika seorang Dokter yang berjaga di IGD, mengatakan segala hal. Bahkan semua orang langsung bergegas, mempersiapkan semuanya agar dapat menolong bayi yang masih didalam kandungan Ayumi.
Wanita itu menjerit, meraung-raung seraya mengatakan ucapan-ucapan yang menjurus menyalahkan diri sendiri.
Kesadaran Ayumi mulai tertarik, ketika mendengar suara isakan, dan sesuatu mengusap dan meremat telapak tangannya.
"Abang?" Panggil Ayumi dengan suara serak.
Randy langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ayumi, sampai keduanya saling memindai wajah satu sama lain.
"Abang kenapa nangis?" Ayumi segera mengusap pipi suaminya yang basah karena air mata.
Namun pria itu segera tersenyum, menyentuh tangan Ayumi yang masih terletak menyentuh pipinya.
"Kamu bangun? Bagaimana keadaannya sekarang? Perutmu sakit? Atau apa yang kamu rasakan selain perut yang terasa semakin kencang seperti tadi waktu pemeriksaan dilakukan?"
Ayumi memindai wajah itu, menyelami manik kelam milik suaminya yang saat ini terlihat di genangi air yang tertahan.
"Maaf. Abang hanya takut terjadi sesuatu kepada kalian!" Ujar Randy.
"Apa dia masih belum bergerak?" Randy mengusap perut Ayumi.
Dan perempuan itu segera menjawab dengan sebuah anggukan.
"Tapi detak jantungnya sudah bagus bukan? tidak se darurat saat kita baru saja datang. Mungkin dia sudah baik-baik saja sekarang!"
"Kamu benar. Suster, Bidan dan Dokter langsung menangani kamu dengan baik. Dan untuk operasinya, … apa kamu sudah siap?"
Ayumi diam mendengar itu. Sedikit terdengar menyeramkan, apalagi bayang-bayang ruangan gelap dan dingin, berhubungan dengan alat-alat yang dilakukan untuk melakukan pembedahan, membuat nyali Ayumi sedikit menciut.
"Abang bisa izin cuti besok? Aku mau Abang menemani aku, … aku tidak mau sendirian!"
"Tentu saja. Apa aku sejahat itu? Sampai akan membiarkan kamu menghadapi ini sendirian?"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Abang sudah kasih kabar kepada Ibu? Mama? Bapak atau Papa?"
__ADS_1
"Sudah. Jadi tenanglah sedikit, tidak usah panik oke? Atau tekanan darahmu akan kembali naik, dan itu tidak baik apalagi besok kita harus melakukan tindakan. Berjanjilah untuk kuat, kita berjuang sama-sama oke?" Katanya yang langsung Ayumi jawab dengan anggukan kepala.
Genggaman tangannya di tangan Ayumi semakin kuat.
***
Sore hari di belahan dunia lain.
Sumi terus mencoba menghubungi Valter, yang saat ini sedang memantau cafe mereka yang kembali dibuka setelah mengalami renovasi yang cukup memakan waktu.
"Sayang angkat cepat!" Wanita itu terlihat sangat panik.
Bahkan kakinya tak diam sama sekali, dia terus berjalan mondar-mandir di ruang tengah rumahnya.
Namun masih belum ada jawaban.
Sumi menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu kembali mencoba menghubungi Valter. Dan jika panggilannya masih tidak berhasil, maka dia akan memutuskan untuk datang dan memberikan sebuah kabar sedih yang dia dapatkan dari Maria beberapa waktu lalu melalui pesan singkat.
"Ya Darling? Aku sedang sibuk, ada apa?"
Akhirnya sambungan teleponnya terhubung.
"Ayumi. Apa kita bisa pulang mendadak? Oh bukan, maksudnya aku." Sumi dengan panik.
"What do you mean?"
"Ayumi masuk rumah sakit. Bayi nyadivonis gawat janin, lalu Dokter menyarankan untuk segera melakukan tindakan operasi besok, kabar itu yang aku dapat dari mertuanya putri kita."
Valter langsung diam.
"Sayang apa aku boleh pulang? Tidak apa-apa sendirian yang penting aku bisa menemani Ayumi."
Helaan nafas Valter terdengar jelas.
"Kita bisa terbang ke Indonesia. Tapi aku tidak yakin kita akan sampai tepat waktu." Kata Valter kepada istrinya.
Sumi menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, setidaknya dia tahu kita akan pulang dan menemui mereka dengan segera. Aku mohon, Ayumi sedang membutuhkan aku." Sumi memohon.
"Tenangkan dirimu dulu. Aku selesaikan pekerjaan, setelah itu kita cari tiket ke Indonesia, … sambil menunggu dan mengalihkan pikiranmu, coba mulai kemas pakaian kita jadi nanti kita bisa langsung berangkat, atau paling terlambat kita berangkat besok." Jelas Valter.
Yang seketika membuat Sumi dapat bernafas dengan lega.
__ADS_1
"Baiklah terimakasih sudah mau berusaha untuk aku, dan putri kita." Ucap Sumi, lalu dia memutuskan sambungan teleponnya, membiarkan Valter untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang sedang dia geluti saat ini.