
Ibu dan Bapak pulang dulu, Ay. Baik-baik ya, jangan pernah berubah meski sekarang keadaannya memang berbeda, tetap menjadi anak kesayangan Ibu dan Bapak, pulanglah setiap hari libur tiba, kami akan selalu menunggu.
[Iya Bu. Hati-hati! aku akan baik-baik saja disini, dan semuanya akan sama seperti sebelumnya, bagi aku kalian adalah orang tua kandung aku, dan pembasahan kemarin aku harap tidak di bahas lagi, aku ingin melupakannya.]
Balas Ayumi, kemudian kembali memasukan ponsel kedalam tas selempang kecil miliknya.
Randy yang saat ini fokus mengemudi pun menoleh, menatap raut wajah Ayumi yang masih terlihat sedikit murung.
"Ada sesuatu?" Dia bertanya.
Ayumi menoleh, dia mengulum senyum.
"Ibu mau pulang." Jawab Ayumi.
"Kamu sedih? mau mereka tetep disini? kenapa tidak meminta tinggal di rumah ku jika mereka sudah tidak enak hati tinggal di rumah Om Al."
"Tidak. Lagi pula ada warung kopi milik bapak yang harus segera buka, sayang kalau tutup terus, pengunjung pantai akhir-akhir ini sedang ramai-ramainya."
Randy hanya melirik, dan kembali menatap lurus kedepan, memelankan laju mobilnya, lalu berhenti saat lampu lalu lintas berubah menjadi meraj.
Mereka terdiam, dengan pandangan lurus kedepan.
"Seriau mau kerja?" Randy kembali bersuara, berbarengan dengan mobil yang kembali melaju dengan sangat pelan.
"Iya, sudah berapa hari aku tidak masuk kerja. Nggak enak sama Bu Balqis!" Jelas Ayumi.
"Sepertinya mereka tahu!"
"Tidak mungkin."
"Kamu yakin? tiga hari kamu tidak masuk, dan selama itu juga tidak ada yang mencari mu!"
"Una dan Aira mencari ku." Balas Ayumi.
"Mereka itu teman mu, jelas mereka mencari keberadaan kamu! tapi tidak dengan Bu Balqis, dia pasti mengetahui sesuatu dari Junior, makanya membiarkan kamu untuk tidak masuk kerja selama itu."
Gadis itu menghembuskan nafasnya kencang.
"Aku nggak mau inget-inget lagi lah! aku mau menjalani hidup seperti sebelum kejadian ini. Rasanya sakit kalau terus ingat itu."
Randy mengangguk.
"Oh iya, nanti sore Ibu datang. Dan kemungkinan Minggu depan kita ke rumah orang tua mu sama-sama."
"Kalau begitu nanti aku pulang ke kostan saja."
Randy mengerutkan dahinya, lalu menoleh.
"Kenapa? tinggal saja bersama ku. Toh itu juga akan menjadi tempat tinggal mu nanti!"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Nggak ah!"
"Ibu tidak akan marah."
"Aku nggak mau, nanti ada yang bablas. Tiga hari aman, apa selanjutnya masih aman? aku nggak yakin kalau kucing tetap akan diam, sementara di hadapannya ada ikan yang sangat menggiurkan."
Randy terkekeh.
Yang Ayumi katakan ada benarnya. Memang dia masih bisa mengendalikan diri selama berhari-hari Ayumi tinggal bersamanya, tapi dia juga tidak yakin pertahannannya akan terus kokoh jika gadi itu tetap bersamanya di dalam satu rumah yang sama, dan hanya berdua.
__ADS_1
Ya, itu bukan ide bagus. Batin Randy berbicara.
***
"Aku kerja dulu yah!" Ayumi membuka tali seatbeltnya.
Randy mengangguk, seraya tersenyum manis seperti biasa.
"Nanti aku jemput." Ucap Randy.
"Tidak usah! kamu jemput Ibu saja, aku langsung pulang ke kostan." Tolak Ayumi.
Dia segera meraih handle pintu mobil, menariknya pelahan, dan keluar setelah pintu itu benar-benar terbuka.
"Hati-hati, semangat kerjanya. Terus jangan nempel-nempel sama Bu Dokter, aku nggak suka!" Ayumi tampak memperingati.
Sementara pria yang duduk di balik kemudi kembali tertawa.
"Kamu sedang menunjukan diri? jika kamu adalah calon istri aku yah?"
"Aku serius!"
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mendekat. Lagi pula dia tidak datang ke kantor setiap hari, dia mempunyai kesibukan di kliniknya, dia hanya datang jika Pak Raga meminta." Jelas Randy.
Mata Ayumi memincing.
"Astaga! cepat masuk, atau aku akan terlambat hanya karena menatap wajah menggemaskan mu itu!" Randy terkekeh pelan.
"Awas!" Ayumi menunjuknya.
Dan wajah itu terlihat semakin menggemaskan. Ketika Ayumi berusaha memperlihatkan wajah juteknya.
"Astaga!" Randy menggeleng-gelengkan kepala.
Dan dia baru beranjak pergi, setelah Ayumi benar-benar menghilang di balik pintu Lobby gedung tersebut.
***
Sore hari pun tiba.
Randy terlihat keluar dari dalam kamar dengan keadaan segar juga pakaian santainya.
Dia berjalan kearah Maria, wanita yang sedang berdiri di depan wastafel, sambil membersihkan berbagaimacan sea food yang selalu dia bawa saat Maria mengunjungi kediaman putra semata wayangnya.
"Sudah rapih lagi? mau kemana? tidak jemput Ayumi sekarang?" Sekilas Maria menatap kearah Randy.
Pemuda itu tersenyum.
"Ini mau jemput!" Tukas Randy. "Ibu mau masak sekarang? apa mau mengadakan makan malam bersama lagi?" Pria itu terus bertanya, dengan senyuman yang terus terpancar.
Maria mengangguk.
"Tentu saja, ini semua Ibu bawa untuk Ayumi!" Celetuk Maria.
Dan itu mampu membuat raut wajah Randy seketika berubah.
"Bukan untukku!?" Dia menunjuk dirinya sendiri.
Wanita itu terkekeh, lalu memukul lengan anak laki-lakinya dengan sangat kencang.
"Cepat sana! Ibu sudah rindu Ayumi."
__ADS_1
"Ini juga mau."
"Ya sudah ayok cepat!" Maria mendorong pundak anaknya agar segera menjauh.
"Tapi sebelum itu aku mau mengatakan sesuatu."
Randy tampak serius.
"Apa? ekspresi kamu kenapa begitu? membuat Ibu takut saja."
"Berjanjilah untuk tetap menyukai Ayumi apapun keadaannya." Pinta Randy.
Dab Maria langsung menjawab dengan anggukan kepala.
"Memangnya kenapa? apa ada wanita lain yang mendekat? atau ...."
"Tidak!" Sergah Randy.
"Ish kamu benar-benar membuat itu deg-degan!" Maria memukul Randy lagi.
"Sebenarnya aku tidak mempunyai hak mengatakan ini kepada Ibu sebelum Ayumi. Aku hanya takut sikap terkejut Ibu membuat Ayumi kepikiran nantinya!"
"Langsung ke intinya saja!"
Maria mematikan kran air yang sedari tadi terus mengucurkan air, menempatkan beberapa ikan yang sudah di cucinya kedalam sebuah wadah, lalu membawa masuk kedalam lemari es.
"Ibu tahu? aku sudah menemui kedua orang tua Ayumi?"
Maria mengangguk.
"Itu bagus, setelahnya kita yang akan menemui mereka bukan?" Maria terlihat senang.
"Tapi aku tidak sedang ingin membahas itu. Aku ingin memberitahu Ibu, ... jika Ayumi bukan anak kandung dari kedua orang tuanya!"
Ucapan itu mampu membuat Maria mematung, dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.
"Aku bahkan sangat terkejut, Bu!" Gumam Randy.
"Ya ampun!" Dia menutup mulut yang terbuka lebar dengan telapak tangannya.
Maria terkejut bukan main.
"Berjanjilah untuk tetap menyayangi Ayumi. Dan berjanjilah untuk menerima Ayumi apapun keadaannya!" Randy meminta.
Maria terdiam.
"Jika Ibu tidak mau melakukan itu untuk Ayumi. Maka lakukan itu untuk aku! aku sangat mencintai dia, Bu."
Randy segera mendekat, lalu memeluk Ibunya dengan sangat erat.
"Tiga hari dia tinggal disini, dan selama itu pula aku banyak melihat kesedihan di dalam dirinya."
Maria mengulum senyum, mengangguk seraya menepuk-nepuk punggung kokoh putra kesayangannya.
"Kenyataan ini tidak akan mengubah sedikit pun rasa cinta Ibu kepada Ayumi. Dia gadis yang sangat baik, apa ada alasan untuk Ibu tidak menyukainya? jika dia berstatus bukan anak kandung dari orang tua Ayumi sekarang? lalu kenapa? itu bukan keinginan Ayumi untuk berada di posisi sekarang."
"Ahh, ... Ibu memang yang terbaik."
Maria melepaskan pelukan itu, lalu mendorong Randy dan menatap wajah penuh kekhawatiran anaknya.
"Lalu tunggu apa lagi! ayok jemput Ayumi sekarang, ... Ibu akan segera memasak."
__ADS_1
Randy mengangguk, mencium kening Maria, kemudian beranjak pergi, berlari kearah luar dimana mobilnya berada.
......................