My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 179 (-20°C)


__ADS_3

Ayumi diam tak berkutik, pun dengan Raga yang tiba-tiba bergabung duduk di salah satu kursi yang terletak tepat di luar ruangan kerja. Keduanya menatap Randy dengan ekspresi wajah sedikit ngeri, saat melihat pria itu menyantap mangga mudanya dengan cocolan garam dan cabai bubuk, yang Ayumi bawakan bersama bekal makan siangnya.


Raga menatap asistennya, kemudian beralih kepada Ayumi.


"Apa dia sering begini?" Tanyanya, dengan kening berkerut dan mulut mengecap beberapa kali, ketika menahan air liurnya yang terus berkumpul saat melihat Randy memakan buah mangga mudanya dengan sangat lahap.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Baru kali ini, Pak. Tadi pulang lari pagi bawa mangga, entah pohon siapa yang dia curi buahnya." Celetuk Ayumi dengan ekspresi yang sama dengan Raga.


Sementara Randy hanya menikmati buah itu dengan perasaan bahagia setelah menghabiskan makan siang yang Ayumi antarkan seperti biasa.


"Ran!?"


Pria yang di maksud segera mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Kau yakin? Itu tidak terasa masam?" Raga bertanya lagi, dia benar-benar merasa aneh.


Lalu Raga beralih pada satu potong yang sempat dia coba, lalu melemparkan ke arah lantai saat merasa mangga tersebut memiliki rasa yang sangat masam.


"Tidak. Ini enak, … kenapa Bapak buang tadi! Harusnya pake cocolan dulu." Jelas Randy sambil terus menjejalkan potongan buah kedalam mulutnya.


Ayumi meringis, bahkan tubuhnya bereaksi, dia terlihat merinding saat melihat suaminya saat ini.


"Kamu sudah selesai makan? Aku pulang yah! Nanti di rumah mau telpon Mama lagi." Kata Ayumi.


Dia segera meraih tote bag dan tas kecilnya.


"Tidak disini dulu? Mungkin sampai jam lima sore?" Randy bertanya.


"Itu pulang bareng namanya, aku harus nungguin kamu kerja? Kan nggak boleh begitu, kerja harus profesional!" Jelas Ayumi.


"Iya kan Pak?" Ayumi beralih kepada Raga, yang langsung pria itu jawab dengan anggukan kepala.


"Betul."


Mendengar itu Randy menghentikan aktivitasnya. Dia menutup wadah berisikan mangga beserta cocolannya, lalu menatap Ayumi dan atasanya bergantian.


"Baiklah kalau begitu saya minta izin untuk mengantar Ayumi pulang."


Dia segera berdiri, meraih tangan Ayumi dan menariknya ke arah pintu lift berada, tanpa mendengar jawaban Raga terlebih dulu.


"Setelah istrinya hamil. Kenapa kelakuan dia sangat menyebalkan." Raga menggerutu dengan suara pelan.


***


"Ay? Aku berangkat lagi oke! Baik-baik dirumah ya, jangan lupa vitamin dan obatnya." Randy berpesan terlebih dulu sebelum Ayumi keluar dari dalam mobilnya.


Perempuan itu mengangguk, dia menekan tombol berwarna merah di sisi kanannya, sampai tali seatbelt itu terlepas. Ayumi hampir saja menekan handle pintu, namun dia urungkan saat tiba-tiba saja tangan Randy menyentuh perutnya.


"Dia sedang bergerak atau tidak?" Randy menatap wajah dan perutnya bergantian.


"Tidak, mungkin sedang tidur makanya dari tadi diam terus." Kata Ayumi.


Dia ikut meletakan tangannya di atas tangan sang suami, kemudian membalas senyuman manis Randy yang sedari tadi terus tersungging.


"Baiklah, kamu harus segera kembali. Nanti Pak Raga ngomel lagi!" Ayumi mengingatkan.


"Pulang nanti mau aku bawakan apa?"


"Dimsum. Daging asa, ayam wortel, sama udang." Ayumi tersenyum, lalu kemudian perempuan itu keluar dari dalam mobil milik suaminya.


"Yasudah, kalau begitu aku berangkat lagi." Dia berteriak.


Ayumi mengangguk sembari melambaikan tangan. Dan setelah itu mobil milik Randy kembali melaju, meninggalkan kediamannya pada siang hari ini setelah mengantarkan Ayumi.


Mobil itu melaju semakin jauh. Dan menghilang setelah melewati tikungan. Setelah itu Ayumi berbalik badan, kemudian berjalan memasuki rumah, melalui pintu dapur yang kini sedang terbuka.


Suasana rumah ramai seperti biasa. Hangat dan sangat menyenangkan. Ada Dini yang sedang membuat kue dengan Maria, di temani Tutih seperti biasa, sementara Ali tampak asik dengan televisi yang menyala, dimana berita siang hari di siarkan.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Ali.


Ayumi meletakan Tote bag nya di meja dapur bersih, tak lupa mencuci tangan, kemudian berjalan ke arah pintu kamarnya yang tertutup sangat rapat.


"Aku mau tidur yah!" Pamit Ayumi dengan suara kencang.


Orang-orang hanya menoleh sekolah, lalu mengangguk.


"Mau susu?" Tutih berteriak.


"Nanti saja. Aku cape!" Kata Ayumi, dia masuk dan menutup pintu kamarnya.


Dengan langkah gontai Ayumi mendekati ranjang tidur. Meletakan tas selempang kecilnya begitu saja, lalu naik ke atas tempat tidur sana, tempat paling ternyaman yang Ayumi sangat sukai.


Rasa kantuknya tiba-tiba saja menyerang, pinggangnya terasa sakit, juga otot-otot yang mulai terasa linu, sampai membuat aktivitasnya sedikit berkurang. Tidak ada lagi rasa pusing, atau mual dan muntah, namun kini dirinya lebih sering tertidur, bahkan terkadang tanpa Ayumi sadari.

__ADS_1


Dia membenamkan tubuh di bawah selimut tebal, menyalakan pendingin kamar, dan mulai memejamkan mata. Namun, sesuatu kembali terasa di dalam perut bagian bawahnya.


"Hey, Mommy mau tidur tahu!" Kata Ayumi tanpa menyentuhnya sama sekali.


Tapi getaran itu terasa semakin kencang.


Ayumi menyingkap kaos yang dia kenakan, menyentuh kulit perut yang terasa hangat, dan berlama-lama disana, hingga sebuah pergerakan yang begitu samar terasa di telepak tangannya.


Dia tersenyum, kemudian mengubah posisinya menjadi setengah berbaring.


"Hey, kenapa kalau Daddy sedang ingin merasakan pergerakan mu, kamu malah diam saja. Sementara sekarang, Mommy ingin tidur, tapi kamu malah terus bergerak seperti ini." Kata Ayumi sambil terus mengusap-usap perutnya.


Kedutan itu terasa semakin kencang.


"Ah kamu ini." Perempuan itu terkekeh. "Dua Minggu lagi kita periksa, kali ini kamu tidak boleh malu-malu Oka? Biarkan Mommy dan Daddy melihat siapa kamu, agar kita bisa memanggilmu sesuai dengan jenis kelaminnya oke?"


Ayumi terus menatap perutnya. Dia berusaha melihat pergerakan yang terus dia rasakan. Namun nihil, Ayumi tidak melihat apapun meski apa yang dia rasakan semakin kencang.


"Baiklah, Mommy mau tidur dulu oke? Kepala Mommy rasanya sangat pusing." Kata Ayumi, dia segera mencari posisi ternyaman, memejamkan mata untuk segera menyelami mimpi indahnya.


***


Sementara itu di belahan dunia lain.


Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Namun karena hujan salju terus terjadi, cahaya matahari pun tak terlihat sedikitpun, sampai membuat suasana terasa semakin dingin dan Sumi merasa tidak tahan.


Tubuhnya meringkuk, memeluk lututnya dengan sangat erat, berusaha menghangatkan dirinya sendiri di bawah beberapa lapis selimut tebal yang Valter sediakan.


"Astaga aku benar-benar akan sakit setelah ini." Sumi bergumam, saat tiba-tiba saja hidungnya terasa tersumbat.


Tubuhnya mengigil hebat. Semua yang melekat di tubuhnya benar-benar tidak berpungsi, termasuk penghangat ruangan yang terus menyala.


Klek!!


Valter membuka pintu kamar, dia segera datang setelah beberapa jam lalu keluar rumah hanya untuk membeli mie instan yang istrinya inginkan. Pria itu harus berjuang di tengah badai salju yang sedang berlangsung, hanya untuk menyenangkan hati istrinya.


"Ada?" Sumi segera menoleh.


"Tentu saja ada. Aku membelinya di toko Asia, semua makanan Indonesia ada di sana." Jawab Valter dengan senyuman khasnya.


"Ah syukurlah, setidaknya tubuhku akan hangat setelah ini." Kata Sumi.


Wanita itu menyingkap beberapa tumpukan selimut yang sedari tadi melindunginya dari hawa dingin.


Valter tersenyum melihat ke adaan istrinya saat ini. Hidup di cuaca yang terbilang panas selama puluhan tahun, lalu kini dia harus melewati dinginnya negeri dengan suhu -20°C.


"Di ruang tengah aku sudah membuat api, ayo kesana. Kita minum coklat panas, mie rebus kesukaanmu, dan menonton tayangan pagi."


Valter meraih tangan Sumi, dan dia merasakan betapa dinginnya telepak tangan itu.


"Kamu hanya belum terbiasa. Nanti kalau sudah, rasanya tidak akan merasakan dingin separah ini! Maksudku tidak akan terlalu berpengaruh kalau kamu berpakaian seperti sekarang." Valter tersenyum.


Sumi mengangguk.


"Nanti kalau aku pulang ke Indonesia, aku berjanji tidak akan mengeluh panas. Karena cuaca dingin lebih menyiksa, semua tubuhku terasa sangat sakit." Wanita itu mengeluh.


Valter menggosok telapak tangan istrinya, berusaha memberikan kehangatan disana, atau setidaknya membuat Sumi sedikit merasa lebih baik. Mereka berdua berjalan keluar kamar, mendekati ruang tengah, dimana sebuah api sudah terlihat menyala.


"Mau aku masakan yang rasa mana?" Tawar Valter.


Sementara Sumi langsung mendudukan dirinya di atas sofa. Menatap ke arah jendela, dimana salju tengah berjatuhan. Pemandangannya terlihat sangat indah, tentu saja ini yang sempat dia impikan dulu, melihat salju dengan mata kepalanya sendiri, namun setelah mengetahui rasa dingin yang dia rasakan, ekspetasi tentang indahnya musim salju jadi sedikit berbeda.


Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, dan itu cukup buruk, mengingat dirinya tidak pernah mengalami sakit hingga seperti itu.


"Sayang? Malah melamun." Valter membuyarkan lamunannya.


"Soto. Tolong berikan sayuran di dalamnya, dan cabai rawit yang masih tersisa di dalam kulkas yah." Pinta Sumi yang langsung di jawab anggukan oleh suaminya.


Sumi menatap Valter. Pria yang mulai berdiri di dekat kompor, meletakan panci setelah mengisinya dengan air, lalu menyalakan kompor. Setelah itu dia berjalan mendekati lemari pendingin, membawa beberapa sayuran, dan mulai meracik mienya dengan sangat telaten.


Wanita itu tersenyum. Betapa beruntung dirinya kini, seseorang memberikan kehidupan yang sangat baik, juga cinta yang begitu luar biasa.


"Valter?" Sumi memanggil.


Pria itu menoleh.


"Yes Honey?" Dia menatap Sumi dengan raut bingung.


"I love you." Tiba-tiba saja Sumi mengatakan itu.


Kata-kata yang sangat Valter sukai.


"Aku memanggilmu hanya untuk mengatakan itu." Dia terkekeh. Sementara Valter kembali berbalik badan, berusaha menyembunyikan senyuman bahagia nya dan wajah yang merona.


"Valter. Aku rasa Ayumi akan sangat senang jika melihat salju." Ujar Sumi.

__ADS_1


Pria itu kembali menoleh, lalu tersenyum seolah mengiyakan ucapan istrinya.


"Aku menyesal. Kenapa kita kembali setelah dia menikah, padahal aku yakin dia sangat menginginkan kita, … dia ingin merasakan bagaimana indahnya hidup bersama kedua orang tua kandungnya!"


Pikirannya Sumi mulai melayang jauh ke Indonesia sana.


"Usianya masih 20 tahun. Jika dia belum menikah, tentu saja kamu akan membawa dia kesini bukan? Dia pasti senang bermain hujan salju, berlari-lari disana, sambil tertawa lepas tanpa beban apapun." Raut wajah Sumi tiba-tiba sendu.


Suasana hening untuk beberapa saat. Sumi sibuk dengan bayang-bayang Ayumi, sementara Valter dengan panci berisikan mie dan air mendidih yang meletup-letup.


"Aku kira kamu benar-benar merindukan dia saat ini!"


Valter meletakan satu mangkuk mie kuah rasa soto. Denga irisan sayur dan cabai rawit di pinggirnya, tak lupa satu potong telur ayam rebus Valter jadikan sebagai pelengkap.


"Aku menyesal tidak bisa mendekat lebih cepat." Suara Sumi terdengar lirih.


Valter duduk tepat di sampingnya, lalu menarik Sumi kedalam dekapan hangat penuh kenyamanan.


"Yang terpenting kita sudah bisa bersama dia. Walaupun tidak bisa setiap saat, … di terima dengan baik pun sudah sangat bagus." Katanya.


Sumi mengangguk.


"Apa kamu juga merasakan? Semuanya memang kembali, tapi tetap ada bagian yang kosong, dan itu akan tetap menjadi kosong sampai kapapun. Keadaannya sudah berbeda Valter, aku yakin kamu merasakan itu juga."


Tiba-tiba saja Sumi menagis.


"Kita hanya mendapatkan kembali apa yang harus kita dapatkan, termasuk sebuah panggilan Mama dan Papa yang Ayumi sematkan. Hanya saja kita kehilangan banyak hal." Kata Sumi lagi di sela tangisannya.


Valter memeluk Sumi lebih erat lagi. Yang istrinya katakan memang ada benarnya, mereka sudah kehilangan banyak hal, dan itu tidak bisa di kembalikan karena memang semuanya sudah berlalu. Ayumi tumbuh besar dengan dua orang yang sangat luar biasa, dan mereka beruntung telah merasakan apa yang Valter dan Sumi tidak pernah merasakan momentum yang satu itu.


"Dan sekarang, aku malah hidup menjauh darinya. Padahal aku tahu betul, dia sudah sangat dekat dan selalu mencariku apapun keadaannya."


"Kamu menyesal ikut denganku?"


Sumi menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu. Mungkin rasa kesedihanku bukan karena kamu membawa aku jauh darinya, mungkin hal lain yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata."


Valter mengangguk, dia menundukan pandangannya, lalu mencium kening Sumi dengan sangat lembut.


"Sudah sudah. Ayo di makan dulu mie nya! Hujan badai aku lewati hanya untuk pergi ke minimarket, dan membelikan apa yang kamu mau."


Sumi mengangguk. Dia mengurai pelukannya, mengubah posisi duduk, lalu meraih sebuah mangkuk berisikan mie dengan kuah soto yang masih mengepulkan asap.


Valter menatap Sumi lekat-lekat. Wanita dengan pakaian serba tebal, rambut yang di kuncir asal, dengan wajah polos tanpa makeup yang saat ini terlihat sedikit memerah karena sisa tangisannya.


Ya, Sumi belum benar-benar bisa berdamai dengan keadaan di masa lalunya. Terkadang kebahagiaannya saat ini, selalu membuat Sumi sedih karena satu dan lain hal.


Pria itu mengulum senyum.


"Bagaimana? Apa rasanya sesuai?" Valter mengusap punggung Sumi.


Wanita itu mengangguk.


"Kamu mau? Aku sampai lupa menawarkan mie nya kepadamu." Dia menyodorkan mangkuk mie itu kepada Valter.


Namun pria itu menolak, dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku tidak bisa. Perutku kembung kalau makan mie." Katanya.


"Lalu kamu mau makan apa?"


Sumi meletakan mangkuk itu di atas meja, dan menatap kembali suaminya yang sedari tadi terus memperhatikan.


"Kamu."


"Hemmm? Aku? Kamu mau masak aku? Jahat sekali!" Sumi mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena tentu saja dia pasti paham ucapan Valter menjurus ke arah mana.


Pria itu tertawa kencang.


"Aku serius. Masa kamu tidak sarapan?"


"Aku juga serius. Sarapanku cukup kamu ada bersamaku, itu sudah lebih dari apapun."


Dan ucapan itu sukses membuat Sumi salah tingkah.


"Wajahmu sangat merah. Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan? Sampai membuat kamu sangat gugup seperti it …" Pria itu berseru.


"Uhuk uhuk uhuk!!" Sumi terbatuk-batuk.


Dia segera meletakan mangkuknya di atas meja, kemudian berlari ke arah dispenser dan mengisi gelas dengan air hangat.


"Maaf!" Valter terkekeh.


"Kamu tahu kuahnya pedas? Tapi kamu terus berbicara sampai aku tidak sanggup mendengarnya lagi." Sumi menggerutu, namun itu tak membuat Valter menghentikan suara tawanya.

__ADS_1


"Kamu ini benar-benar merusak suasana haru yah!" Wanita itu terus menggerutu.


Dan baru benar-benar berhenti saat kembali menikmati semangkuk mie kuahnya yang mulai terasa dingin.


__ADS_2