
Sekitar pukul sepuluh malam Randy dan Ayumi sampai di kediaman mereka yang berada di tengah kota Jakarta, dan keduanya segera beristirahat setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, ditambah jadwal esok hari untuk segera bertemu Dokter spesialis kandungan dan memeriksakan Janin yang kini sudah tumbuh sekitar dua atau tiga Minggu yang lalu di dalam rahim Ayumi.
Malam merangkat semakin larut, jarum jam berputar tanpa henti, hingga suara kicauan burung menjadi sebuah pertanda bahwa pagi sudah menyapa.
Perlahan kesadaran Randy mulai kembali setelah menghilang beberapa waktu lamanya, saat sesuatu terasa bergerak-gerak seolah mencari posisi yang begitu nyaman.
"Sayang!?" Pekik Randy dengan suara paraunya, mencoba menghentikan Ayumi yang terus menelusup juga mengendus ketiaknya.
Namun, perempuan itu seolah tak mau mendengar, dia terus membenamkan wajahnya, dan bari benar-benar terdiam setelah menemukan posisi yang dia inginkan.
Randy menepuk-nepuk punggung istrinya, tak jarang juga Randy mengusap kepala Ayumi, berusaha membuat istrinya terlelap, dan setelah merasa Ayumi benar-benar tenggelam dalam lautan mimpi, Randy segera bangkit, dan menghambur ke dalam kamar mandi.
Hampir dua puluh menit Randy berada di dalam sana untuk membersihkan diri, akhirnya dia keluar dengan keadaan Ayumi yang sudah duduk di tepi ranjang, menatap ke arahnya dengan raut wajah yang tampak masih mengantuk.
"Kamu bangun?"
Pria yang hanya berbalut handuk di atas pinggang itu melenggang berjalan mendekati lemari pakaian.
"Aku pusing!" Rengek Ayumi pelan.
"Oh ya? Mungkin tidurmu belum cukup, makanya merasa pusing. Tidurlah kembali, aku harus bertemu Pak Raga dulu sebentar, ada beberapa hal yang harus kami bahas, dan tidak bisa melalui telepon." Ucap Randy seraya menarik beberapa pakaian untuk dia kenakan hari ini.
Ayumi tidak menjawab, dia hanya diam dan kembali merebahkan diri, saat tiba-tiba saja kepalanya terasa berputar-putar, dan itu juga yang membuatnya terjaga sampai mencari keberadaan Suaminya.
Sementara Randy, pria itu sibuk merapikan pakaiannya. Celana bahan berwarna abu-abu, dipadukan dengan kaos hitam polos berlengan pendek, yang sengaja Randy masukan kedalam, membuat tubuh atletisnya terbentuk dengan sangat indah.
Dia berjalan ke arah meja rias, membawa satu sisir, dan merapikan rambutnya tanpa mengeringkan terlebih dulu.
"Kamu mau tidur lagi?" Randy berjalan mendekat, lalu membungkuk saat jarak diantara keduanya sudah benar-benar dekat.
Cup!
Randy mencium kening Ayumi.
"Tidak bisa. Kepalaku terasa semakin pusing, aku tidak tahu kenapa tapi semakin aku pejamkan mata, maka akan terasa semakin pusing." Jelas Ayumi, dia menatap suaminya sendu.
"Mau aku buatkan susu?" Tawar Randy.
Pria itu terus mengusap kepala Ayumi, dengan tatapan mata yang tak teralihkan sama sekali.
Ayumi pun mengangguk, dan dengan segera Randy beranjak ke arah luar untuk segera membuatkan susu Hamil, yang mereka beli di satu supermarket saat hendak membeli tomat kemarin.
Perempuan itu merasakan kepalanya terus berputar-putar. Entah masuk angin karena mereka melakukan perjalanan pada malam hari, atau memang efek kehamilan yang mulai terasa.
"Ay?"
Randy memanggil, dia masuk membawa mug dan meletakan di atas nakas.
"Pusing!" Bisik Ayumi.
"Ya, mungkin kamu kelelahan. Ayo diminum dulu susunya, setelah itu tidur lagi, aku hanya akan menemui Pak Raga sebentar saja, … atau mau aku orderkan makanan sekarang? Tapi apa yah ini masih pagi!"
Dia membatu Ayumi, mengubah posisinya menjadi duduk.
__ADS_1
"Astaga!"
"Coba diminum dulu, siapa tahu susunya dapat membantu mengurangi rasa pusingnya." Randy kembali meraih mug berisikan susu hamil rasa strawberry, dan memberikannya kepada Ayumi.
Ayumi terlihat menyeruputnya perlahan, dan setelahnya dia memberikan mug itu kepada Randy.
"Abang kalau mau berangkat, berangkat saja! Aku mau tiduran lagi, aku pusing, tubuh aku juga lemes."
"Baiklah, aku janji hanya sebentar. Nanti pulang aku bawakan makanan yah!"
Ayumi mengangguk, dia meraik selimutnya sampai leher.
Cup!
Randy mencium pipi istrinya, dan setelah itu dia beranjak pergi, meninggalkan Ayumi yang saat ini terlihat seperti kurang enak badan.
***
"Maaf aku menganggu waktu liburmu!"
Raga menyambut Randy yang kini mengunjungi kediamannya.
"Hanya membahas surat kontrak beberapa pemain baru bukan? Saya rasa tidak apa-apa."
Raga mengangguk, dia membuka beberapa berkas yang sudah disediakan, kemudian segera memperlihatkannya kepada Randy, dan dua pria yang hanya terpaut umur 3 tahun itu saling berbincang, membahas beberapa hal yang menurut Raga sedikit membutuhkan masukan dari asistennya itu.
Sementara di sudut lain rumah itu.
Balqis terlihat baru saja selesai memandikan Bara, si kecil tampan yang sekarang sudah sangat aktif dalam segala hal. Bahkan Balqis kewalahan, saat Bara tak pernah mau diam saat hendak dipakaikan diaper atau baju oleh dirinya.
"Sayang, … ayo pakai popoknya dulu, jangan terus kabur seperti ini, nanti tidak selesai-selesai!" Balqis kembali menarik Bara yang terus merankat, berusaha menjauh darinya.
"Mammeeeee!" Bara kecil berceloteh, memanggil ibunya dengan senyum lebar sampai memperlihatkan deretan gigi yang terlihat sudah mulai memenuhi rongga mulutnya.
"Iya, Mami cape ngejar-ngejar kamu terus. Kamu ini sangat lincah sekali, … bahkan kamu baru merangkak, kalau sudah bisa lari bagaimana? Apa setiap pagi kamu mau membuat Mami mengejar mu hanya untuk memakaikan Pampers atau celana?" Balqis terkekeh.
Dan setelah perjuagan yang sedikit menguras keringat, lahirnya Bara sudah siap. Dia terlihat segar, rambunya di sisir rapih, dengan jumper berwarna oranye yang membuat tubuh gembul itu memang terlihat begitu menggemaskan, belum lagi baby cologne yang menyugar bau jeruk yang begitu segar.
"Baik, ayo kita temui Papi."
Balqis merentangkan tangan, yang seketika membuat Bara mendekat, lalu melompat sampai sang ibu meraih dan membawanya dalam gendongan.
Bara terkekeh, dia bertepuk tangan dengan raut wajah bahagia, dan terlihat begitu menggemaskan.
"Wah, ada Om Randy berkunjung!" Kata Balqis saat dia sudah sampai di lantai bawah, dan mendapati Randy yang sedang duduk berdua di sofa yang sama dengan suaminya.
Kedua pria yang awalnya terlihat begitu serius pun sama-sama menoleh, menatap ke arahnya kemudian tersenyum.
"Halo Bara!" Sapa Randy sambil tersenyum.
"Sudah selesai mandi?" Raga langsung meraih tubuh gembul anak laki-lakinya, dan menempatkan dia di atas pangkuan.
Balqis ikut bergabung, menyimak obrolan serius yang sedang suaminya bahas bersama sang asisten. Dan setelah menghabiskan 30 menit lamanya, akhirnya pembahasan itu berakhir.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit dulu, Pak." Randy berdiri.
"Masih pagi, tidak ikut sarapan dulu?" Ucap Balqis.
"Iya, sarapanlah dulu!" Sambung Randy.
"Ayumi sudah menunggu di rumah, dia sedang tidak enak badan, … jadi harus segera pulang." Pamit Randy kepada atasan istrinya.
Balqis tampak sedikit terkejut, sampai dia ikut berdiri.
"Apa keadaannya sangat serius?"
"Tidak. Mungkin karena kami pulang malam kemarin, dia jadi masuk angin, tapi saya sudah membuatkan susu sebelum berangkat kesini." Jelas Randy.
"Susu?" Raga membeo. "Bukannya dikasih obat pereda nyeri, tapi kamu malah memberinya susu!" Raga terkekeh.
"Nggg, … istri saya tidak boleh meminum sembarang obat, ada janin yang harus kami jaga." Ucap Randy dengan perasaan yang begitu bahagia.
Raga juga Balqis sama-sama diam.
"Kalau begitu mari, Pak. Bu Balqis!"
Randy hampir melangkahkan kakinya, tapi lagi-lagi terhenti saat salah satu dari pemilik rumah kembali berbicara.
"Maksudmu Ayumi hamil?"
Randy mengangguk.
"Berarti sakit kepalanya bukan karena masuk angin, tapi gejala kehamilan Ayumi, apalagi usianya masih sangat muda. Sakit kepala, pusing, mual muntah itu sudah biasa!" Jelas Balqis.
"Benarkah?"
"Mungkin tidak semua ibu hamil, tapi rata-rata seperti itu."
Kini Raga yang mengangguk, mengamini apa yang baru saja Balqis katakan.
"Dan jangan aneh jika dia nanti merasa kesal atau tidak menyukai bau mu, … itu juga saya rasakan waktu Balqis hamil trimester awal." Raga tersenyum.
"Ah tapi selamat yah, kalian akan segera mempunyai anak." Balqis mengulurkan tangan kepada Randy, tapi saat pria tersebut hendak meraihnya, Raga segera mendahului, sampai tangan yang berhasil Randy genggam adalah tangan sang atasan.
Dasar posesif sekali!
Umpat Randy dalam hati.
"Selamat yah!" Raga tersenyum.
"Iya, kalau begitu mari, …saya pamit undur diri." Tukas Randy yang langsung mendapat anggukan dari Balqis juga suaminya.
Setelah itu Randy beranjak pergi, melewati pintu utama yang terbuka sangat lebar, dan memasuki mobilnya yang dia parkirkan di antara mobil-mobil Raga juga Balqis.
Raga terlihat berdiri di teras depan rumah. Mengantar kepulangan asisten pribadinya dengan tangan Bara yang terlihat melambai-lambaikan saat Randy mulai memundurkan mobilnya.
"Papayo Bara! Om pulang yah, nanti main ke rumah kalau sudah ada Dedek Bayi!" Randy melambaikan tangan.
__ADS_1
Setelah itu kaca mobilnya kembali dia tutup, dan benar-benar melajukan mobilnya ke arah jalan pulang dengan senyum sumringah yang terus terukir.