My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Ekstra part (Kucing dan tikus)


__ADS_3

"Mommy?" 


Dia berteriak kencang setelah berhasil membuka pintu kamar orang tuanya yang masih tertutup rapat.


"Mom? Wake up!" Katanya lagi saat melihat Ayumi masih berbaring tertutup selimut. Sementara dirinya sudah siap dengan setelan seragam sekolah.


Atasan lengan pendek, dasi, dan rok di atas paha bermotif kotak-kotak. 


Jam sudah menunjukan pukul 06.30 pagi. Cahaya  matahari pun sudah terlihat jelas di balik tirai. Namun, sosok yang biasanya bangun lebih awal dan menyiapkan segala hal kini masih betah bergulung selimut di atas tempat tidur tanpa merespon panggilannya.


"Mom?" 


Raizel baik ke atas tempat tidur, lalu kemudian membungkuk agar dapat melihat keadaan Ayumi yang saat ini masih memejamkan matanya.


"Mommy? Yang siapin bekal kenapa Bibi? Aku mau masakan Mommy!" Katanya.


Tidak ada sahutan apa-apa dari Ayumi, selain hanya terus memejamkan mata dengan hembusan nafas yang terlihat begitu teratur.


"Mommy oke?" Dia meletakan punggung tangan di kening sang ibu.


Entah kenapa keadaan seperti itu membuat gadis kecil itu ketakutan. Tentu saja, sang ibu tidak pernah terlihat demikian, jangankan panggilan dengan suara kencang, dia berbisik saja Ayumi sudah pasti menimpalinya dengan segera.


Deg!!


Mata Raizel membuka sempurna, dan tanpa menunggu lama dia melompat dari atas tempat tidur, berlari ke arah luar dengan sangat kencang.


"Dad!!" Jeritan itu terdengar nyaring. 


Membuat Dini yang sedang menata sarapan di atas meja makan terkesiap. Begitu juga dengan Maria yang sedang sibuk berkutik di depan meja kompor.


"Dad!" Dia berteriak lagi, seraya mendekati sebuah pintu dimana ruangan olahraga berada.


"Non? Ada apa?" Dini segera mendekat, tetapi Raizel tidak menjawab.


Hal yang sama Maria lakukan. Dia bahkan berlari tunggang langgang dari arah dapur, dengan raut wajah panik bukan main.


"El? Kenapa?" Cicit Maria.


Terlambat, Raizel sudah masuk ke dalam ruangan gym lebih dulu, sampai gadis itu tidak dapat menjawab pertanyaan sang Nenek.


"Dad!" Dia mendekati sang ayah yang sedang berlari diatas treadmill. "Mommy." Katanya sehingga membuat Randy segera menghentikan alat tersebut.


"Mommy?" Randy mengulangi ucapan putrinya. "Ada apa dengan Mommy mu, El?" Kening pria itu mengkerut dengan raut penuh tanya.


"Mommy has a fever." 


Dan setelah mengatakan itu Raizel kembali berlari ke arah luar, membuat Randy segera mengikutinya dari arah belakang. Bahkan dia melupakan pakaiannya, sampai keluar dengan keadaan bertelanjang dada.


"Ya ampun ada apa ini?" Maria terlihat semakin panik.


"Mungkin ada sesuatu sama Mommy nya, El." Dini menyela. "Sejak dari beberapa hari lalu memang mengeluh tidak enak badan." Jelasnya lagi.


Maria segera berjalan ke arah pintu kamar yang ditempati anak dan menantunya. 


"Sayang?" Randy bersimpuh di atas lantai, menatap wajah lelap Ayumi dengan hati berdebar-debar.


"Mommy wake up, please!" Raizel mulai menangis.


"Ada apa?" Marian semakin mendekat.

__ADS_1


"Ayumi demam." Sahut Randy.


Kemudian dia kembali beralih menatap wajah istrinya, sembari memberikan tepukan pelan, berusaha membuat Ayumi sadar.


Berhasil, perempuan itu mulai mengerjakan mata, dan menggerakan tubuhnya.


"Sayang?" Randy terus memeriksakan suhu tubuh Ayumi, yang memang terasa sedikit tinggi.


"Mommy, ayo bangun." Raizel semakin terisak.


"Mommy pusing sayang, … hari ini berangkat sekolah diantar Oma saja yah! Mommy sedang tidak enak badan. Dunia rasanya berputar kencang, kepala juga terasa berat seperti mau pecah." Jelas Ayumi dengan suara parau.


"Kamu kenapa? Semalam tidak apa-apa, tapi kenapa sekarang justru malah seperti ini?" 


Randy panik.


Ayumi kembali membuka matanya yang terasa begitu berat. Menatap keadaan Randy, kemudian dia tersenyum samar.


"Pakai dulu bajumu, Dad! Ada banyak wanita disini, apa tidak malu?" Dia terkekeh parau.


"Kau ini! Aku sedang khawatir sementara kamu masih bisa tertawa."


"Kamu harus ke rumah sakit, Ay! Keadaan kamu semakin hari semakin buruk." Maria memberi saran.


Namun, segera dijawab gelengan kepala oleh menantu kesayangannya.


"Nggak usah, Oma." Tolak Ayumi. "Aku baik-baik saja, cuaca akhir-akhir ini sedang tidak bersahabat, mungkin selain kurang minum air putih, aku juga kekurangan asupan vitamin C."


Mereka semua diam untuk beberapa saat, tapi tidak dengan Raizel yang terus menangis dan duduk lemas di samping ibunya. 


Anak yang selalu terlihat acuh, atau terkadang membuat Ayumi sangat kesal dengan tingkah lakunya. Kini menangis tersedu-sedu hanya karena sang ibu tidak terjaga walaupun sudah dia bangunkan beberapa kali.


"Hemmm, … i'm okay!" Dia menyusut kedua pipinya yang basah. "El cuma takut Mommy kenapa-kenapa." Jelas gadis kecil itu.


"Mommy baik. Jadi ayo sarapan, dan berangkatlah sekolah. Belajar yang tekun dan rajin, … maaf hari ini Mommy tidak bisa antar."


Raizel menggelengkan kepala, lalu dia membungkuk untuk memeluk tubuh lemas ibunya.


"Aku nggak mau sekolah!"


"Astaga, El! Jangan mulai." Balas Ayumi dengan suara rendah. "Biar Daddy yang antar sama Oma, … Mommy minta izin libur antar kamu dululah sekarang." 


Raizel menggelengkan kepalanya lagi, lalu kemudian mendekap tubuh sang ibu lebih erat. Bahkan sangking eratnya gadis kecil itu sampai ikut berbaring.


"El? Come on! Kamu sudah pakai seragam, nanti kusut lagi, tunggu sebentar Daddy mau mandi dulu." Tegas Randy.


"Tapi Dad …"


Belum sempat Raizel menyelesaikan ucapannya, Randy memberikan tatapan tajam. Dan itu membuat Raizel takut, sampai tidak ada pilihan lain, selain menurut.


Cupp!!


"Get well fast, Mom. I love you!" Katanya setelah mencium pipi Ayumi.


Lalu setelah itu Raizel turun dari atas tempat tidur, sementara Ayumi menatap kepergian putrinya dalam perasaan haru. 


Sosok gadis kecil yang selalu membuat masalah yang tidak ada menjadi ada. Tak jarang mereka beradu argumen hanya karena berebut satu pria, siapa lagi kalau bukan Randy. Dan banyak hal lainnya yang membuat mereka benar-benar kelihatan seperti kucing dan tikus. Namun, di saat seperti itu nyatanya membuat Raizel memperlihatkan bentuk cinta dan kasihnya.


"Terkadang menyebalkan, terkadang juga terlihat manis sekali. Sampai kamu tidak mau berangkat sekolah karena Mommy sakit." Ucap Ayumi di dalam hatinya.

__ADS_1


Lalu Ayumi tersenyum.


***


Mobil hitam milik Randy segera menepi tepat di dekat gerbang masuk sekolahan. Suasana di area sana terlihat begitu ramai, para murid dan orang tua berjalan memasuki sekolah beriringan.


"Oma sama Dad tidak usah antar. Ada ibu guru yang akan menyambut kedatangan setiap murid, … Dad boleh pulang dan segera bawa Mommy ke rumah sakit, oke?" Raizel menatap wajah ayahnya lekat-lekat.


Kemudian menoleh untuk menatap Maria yang duduk di kursi penumpang.


"Oma? Mommy harus di kompres air hangat. Seperti saat aku demam dan Mommy selalu menyimpan sapu tangan basah di dahi aku!"


Anak yang hampir menginjak usia 6 tahun itu berbicara, seolah-olah dia adalah orang dewasa yang mengerti banyak hal.


"Jadi bagaimana?" Randy menatap putri cantiknya.


Setelan seragam pendek, dengan rambut panjang yang dia biarkan terurai.


"Aku bisa sendiri. Dad sama Oma pulang saja, … jaga Mommy untuk aku, yah!"


Randy tersenyum.


"Dad, aku tidak sedang bercanda!"


"Baiklah, … baiklah. Kalau begitu ayo masuk, belajar dengan tekun, jadilah anak pintar dan berikan Mommy nilai bagus untuk hadiah."


Raizel mengangguk, lalu meraih tangan sang ayah, dan mencium punggung tangannya secara takzim.


"Oma?" Dia mengulurkan tangannya.


"Tidak mau Oma antar dulu?"


"Nggak usah, sekarang tolong bawa Mommy ke rumah sakit. Aku nggak akan nangis lagi kalau Bryan isengin aku, nanti aku lawan, terus aku laporin sama Tante Eca!"


Dua orang tua di dalam mobil sana saling menatap.


"Oke, aku berangkat. Bye Oma, bye Dad! I love you so much." 


Cup!!


Dan setelah mencium pipi Randy, Raizel segera membuka seatbeltnya. Membawa ransel juga tas bekal, lalu turun dari mobil. Membuat salah seorang petugas sekolahan datang menghampiri, dan mengambil uluran tangan Raizel dengan senyuman penuh kehangatan.


"Ran?"


"Ibu pindah duduk di depan." Pinta Randy.


"Raizel belum genap berumur enam tahun. Tapi ibu rasa dia sudah sangat dewasa menyikapi sesuatu. Dia anak yang pintar dan cepat tanggap bukan?" Kata Maria. Sebelum dia turun.


"Ya, tapi dia rewel dan sangat manja persis seperti Ayumi." Gumam Randy, seraya mengulum senyum dengan perasaan bahagia.


Apalagi saat dirinya mengingat Ayumi. Sosok wanita yang sudah menjadi teman hidupnya hampir 7 tahun belakangan.


"Baiklah ayo kita pulang, Ayumi menunggu kita." 


Maria menutup pintu mobil di sampingnya, lalu memasang tali sabuk pengaman, sampai benar-benar melingkar erat di tubuhnya.


Randy tidak menjawab, dia hanya segera melakukan apa yang ibunya minta. 


......................

__ADS_1


__ADS_2