
"Dia baik-baik saja?" Alvaro berbicara dengan seseorang di sambungan telfonnya, setelah beberapa saat lalu meminta nomor ponsel kepada Balqis.
Dia terlihat mengangguk-anggukan kepala.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Dia bertanya lagi.
Tiba-tiba dia tersentak, dan langsung menatap Ali. Pria yang sangat mengkhawatirkan keadaan anak gadisnya yang pergi dengan keadaan sedih bahkan kecewa.
"Kakinya sakit?" Cicit Alvaro.
Dan ucapan itu sontak membuat Ali membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Mungkin karena dia tadi berlari kencang! jadi bisa tolong kompres kakinya dengan air dingin?" Pinta Ali, dia berbicara dengan suara kencang.
"Kau dengar? untuk saat ini biarkan Ayumi tidur, jika sudah siap. Beritahu kami, dan bawa dia kembali untuk berbicara, ... menjelaskan hal yang harus Ayumi ketahui."
Alvaro mengangguk, lalu menjauhkan ponselnya dan menekan tombol berwarna merah, sebelum dia meletakan benda pipih itu kembali keatas meja.
"Jangan khawatir. Ayumi baik-baik saja bersama calon suaminya, sekarang anda istirahatlah, temani Bu Tutih, mungkin dia masih bersedih sampai saat ini." Titah Alvaro kepada Ali.
Ali menimpali dengan sebuah anggukan pelan.
"Maaf merepotkan. Mungkin besok pagi kami kembali saja sampai Ayumi benar-benar siap mendengar penjelasan kita."
"Tidak usah, tinggalan sampai masalah ini benar-benar selesai. Jangan terus merasa canggung, kita sudah sering bersama saat Bapak bekerja di rumah Mama." Jelasnya lagi.
Ali tersenyum.
"Baik, kalau begitu saya izin masuk kamar dulu."
Alvaro terkekeh.
"Bapak ini ada-ada saja, kenapa harus izin segala."
"Saya jadi tidak enak, juga tidak tahu harus dengan cara apa saya membalas kebaikan keluarga Bapak."
Alvaro ikut bangkit, dan berjalan kearah dalam bersama Ali di sampingnya.
"Tidak usah, cukup selalu jaga tali silaturahmi ini, Pak Ali."
Ali mengangguk.
"Terimakasih."
Alvaro tersenyum, lalu mengangguk.
"Saya masuk dulu!" Ali meraih gagang pintu kamar tamu yang sudah Sisil siapkan, menekannya perlahan lalu masuk.
Alvaro kembali melangkahkan kaki, berjalan kearah ruang keluarga dimana istri juga anak bungsunya berada.
"Bagaimana, Pah?" Sisil menatap suaminya penuh tanya.
"Ayumi baik-baik saja, hanya kakinya yang terasa sakit. Mungkin karena tadi dia berlari kencang!" Jelas Alvaro, kemudian duduk di samping Naura.
Gadis yang sedang fokus memakan cemilan, dengan tontonan Drama kesukaannya segera menoleh.
"Memangnya Ka Ayumi kenapa? kenapa semua orang panik? aku bingung pulang tadi kenapa Bu Tutih menangis?" Gadis itu menatap Ayahnya.
Alvaro tersenyum, mengusak rambut putrinya dengan gemas.
"Anak kecil itu usah kepo!"
__ADS_1
"Aku udah mau enam belas tahun, mana ada masih kecil!" Naura memutar bola matanya.
Ayah dari dua anak itu tertawa.
"Kau masih kecil, ... sangat kecil!"
"Mah!" Naura menoleh kearah Sisil. "Papah bilang aku kecil terus, ... pantesan aku suka nggak boleh main jauh-jauh, mau nonton bioskop saja nggak boleh!" Gadis itu sebal.
"Papa memang begitu!"
"Abang nggak gitu! Papa nggak terus bilang Abang Nior anak kecil."
"Itu beda. Abang kan laki-laki!" Sergah Alvaro.
"Tapi kan anak Papah juga!"
"Iya tapi beda. Abang udah mau punya anak, dan sebentar lagi kamu jadi tente." Pria itu tersenyum, dan kembali mengusap kepala anak bungsunya.
"Terus Papa dan Mama jadi Kakek dan Nenek." Naura tertawa pelan.
"Nenek cantik." Sisil tak mau kalah.
Mereka pun tertawa bersama, dan memang pada kenyataannya keluarga Alvaro selalu sehangat itu setiap kali mereka berkumpul.
***
Randy menghembuskan nafasnya pelan, kemudian meletakan ponselnya diatas meja, dan pandangannya beralih pada gadis yang sedang terlelap diatas sofa, berbalut selimut tipis yang menggulung tubuhnya.
Setelah itu dia meraih kompresan di kaki sebelah kiri Ayumi, dan kembali menutup selimut yang sedari tadi sengaja ia buka.
Wajah polos dan sendu, mata bengkak juga hidung yang terlihat sangat memerah, sisa tangisan yang tak pernah terhenti semenjak dia tahu kabar itu.
Dan Ayumi benar-benar berhenti menangis saat dia tertidur tanpa sengaja.
Pandangan matanya terus tertuju kesana, menelisik lebih jauh wajah sendu penuh gurat kesedihan.
Tubuh Ayumi bergerak pelan, saat sesuatu hangat terasa menyentuh wajahnya.
Dia mengerjapkan mata perlahan. Dan sosok yang pertama dia lihat adalah wajah tampan pria di hadapannya.
Randy tersenyum.
"Aku membangunkan mu?" Suara itu terdengar sangat pelan juga lembut.
Gadis itu menjawab dengan sebuah gelengan kepala pelan, merangsek lebih mendekat, lalu memeluk pinggang Randy hingga kini dia tertidur diatas pangkuan kekasihnya.
"Kamu mau makan? dari tadi kamu belum makan." Randy terus mengusap kepala Ayumi.
"Aku nggak laper." Tolak Ayumi.
Suara itu terdengar serak.
"Bagaimana Kakinya? masih pegal?"
"Tidak jawab Ayumi singkat."
Bibir Randy terus tersenyum. Dengan hati yang terasa menghangat saat gadis itu kini memilih dirinya sebagai sandaran untuk setiap keluh-kesah.
"Makanlah. Ini sudah lewat pukul tujuh malam, sementara perut mu kosong, hanya berisi beberapa slice roti selai blueberry yang kau makan tadi pagi sebelum kita berangkat." Ucapnya lembut.
"Aku lelah." Gumam Ayumi.
__ADS_1
"Aku tahu! tapi itu bukan lelah karena kamu sudah mengerjakan sesuatu. Tapi kamu lelah memikirkan keadaan mu sekarang. Jangan terlalu takut dengan semuanya, ada aku ... calon suami mu dan akan tetap berdiri di samping mu apapun yang terjadi."
Mata sendu itu kembali terbuka, dan segera Ayumi menengadahkan pandangan.
"Abang yakin?"
Randy mengangguk tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi bagaimana dengan Ibu? dia akan mempunyai menantu yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?"
Dan lagi, dia mengatakan ke khawatiran tentang sudut pandang calon mertuanya nanti.
"Astaga!" Randy terkekeh. "Sudah berapa kali aku katakan? Ibu tidak akan pernah mempermasalahkan itu!" Sambungnya lagi, dengan kekehan yang terus terdengar.
Ayumi diam, menatap wajah pria yang sedang menundukan pandangannya lekat-lekat.
"Tapi, ... bagaimana jika kita mempunyai Ayah sama?" Ucapan itu tiba-tiba saja terlontar tanpa Ayumi sadari.
Degg!!
Randy merasa dirinya di hantam benda begitu keras. Dan itu mulai mengganggu pikirannya.
"Itu nggak mungkin." Randy menggelengkan kepala.
"Ya, ... aku hanya takut saja! kamu tidak penah tahu siapa ayah mu. Aku pun begitu, aku hanya takut perjuangan kita sia-sia."
Ayumi kembali memeluk pinggang Randy erat, dan membenamkan wajah di perut berotot yang terhalang kain kemeja hitam itu.
"Dunia ini luas. Tidak mungkin itu terjadi!" Randy benar-benar tidak ingin memikirkan itu.
"Aku hanya takut, ... dan mencintaimu, sangat mencintaimu!" Ucap Ayumi pelan.
"Oh ayoklah, kita makan. Ada Nasi bento yang sudah aku pesan, perut kosong membuat pikiran kamu kotor." Jelas Randy.
"Abang maksa?"
"Iya." Jawab Randy singkat.
"Baiklah kalau di paksa aku mau."
Gadis itu segera bangkit, mengusap matanya lalu berdiri dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Yasudah, ayok kita makan." Randy menggenggam tangan Ayumi.
"Aku mau minuman."
Randy yang hendak berjalan tiba-tiba saja berhenti.
"Minuman apa? tidak boleh!" Tegas Randy.
"Ish! memangnya apa yang ada di pikiran Abang? minuman kaleng di kulkas kecil sana? bukan itu, aku mau Boba. Tapi kalau minuman itu boleh, nggak ada salah nya juga aku nyoba."
"Dasar ngaco!" Randy mencubit hidung mancung kekasihnya. "Di saat semua gadis menghindari itu, tapi kenapa kau justru mau mendekatinya? rokok, minuman, clubing, dan tato? kenapa kamu mau semua itu?"
"Aku hanya ingin suasana yang berbeda, kadang aku merasa hidup ku terlalu datar." Jelas Ayumi.
"Baiklah, kau boleh menjadi gadis nakal jika nanti kita sudah menikah." Randy tertawa.
Dan dia pun ikut tersenyum. Senyuman yang kembali terlihat setelah beberapa saat pudar karena kesedihannya.
......................
__ADS_1
Yang ada vote, hadiah. Sabi-lah lempar kesini🥴 udah mulai crazy nic