
Tangan Ayumi bergerak-gerak, mengusap tempat tidur yang sudah terasa dingin di sampingnya. Seketika matanya terbuka, saat dia merasa kehilangan seseorang yang semalaman memeluknya.
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul Ayumi mengubah posisinya menjadi duduk, mengerjap-ngerjapkan mata berusaha mengusir rasa kantuk yang terus terasa.
Dia turun dari atas ranjang sana, beranjak mendekat ke arah pintu, membukanya dan segera keluar.
Suasana masih begitu hening, membuat Ayumi melihat jam dinding yang berada di ruang tengah.
"Jam lima." Gumam Ayumi seraya berjalan menuju ruangan paling belakang rumah itu, dimana terlihat seorang wanita paruh baya berdiri di dekat meja kompor sana.
"Kamu sudah bangun?" Tutih yang berada di dapur langsung bertanya, saat menyadari kehadiran sang putri yang berdiri di ambang pintu dengan wajah sembab khas bangun tidur.
Ayumi hanya mengangguk, kemudian kembali melangkahkan kaki, mendekat kepada Tutih dan memeluk wanita itu dari arah belakang, sampai wajahnya menempel sempurna di pundak ibunya.
"Ibu bikin pisang goreng?" Suara Ayumi masih terdengar sangat parau.
"Iya, untuk Randy."
Ayumi melepaskan kedua tangan yang memeluk pinggang ibunya, lalu dia menatap sekitar untuk mencari pria itu berada.
Dan disanalah Randy, duduk di atas bale-bale dengan rokok yang terlihat mengepulkan asap.
"Dari kapan Abang bangun?" Dia bertanya pada ibunya.
"Dari jam empat, terus duduk disana sendirian. Tadinya di temenin Bapak, tapi bapak harus ke pasar belanja untuk warung."
"Hari ini mau buka?"
Tutih menganggukan kepala.
"Nah!" Tutih berbalik badan, memberikan piring berisikan pisang goreng yang masih sangat panas.
"Berikan kepada suamimu!"
Ayumi meraih piring itu, keluar melalui pintu belakang, dan berjalan ke arah dimana Randy berada saat ini.
Mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat, Randy pun menoleh, kemudian dia tersenyum saat melihat Ayumi datang.
Dia melemparkan rokok yang baru saja dihidupkannya, merentangkan kedua tangan, dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum.
"Kemarilah!" Ucap Randy.
Gadis itu tersenyum tipis, meletakan piring yang dibawanya tadi, dan menghambur ke dalam pelukan suaminya.
"Sudah bangun?" Randy mengusap pipi Ayumi, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah sembab itu, dan menyelipkannya di daun telinga.
Ayumi hanya mengangguk, kemudian semakin mengeratkan pelukannya kepada sang suami dengan mata yang kembali terpejam, saat rasa nyaman terasa.
"Kamu masih ngantuk?"
Gadis itu mengangguk lagi.
"Lalu kenapa malah kesini? Kenapa tidak tidur di dalam kamar? Disana pasti lebih nyaman."
"Abang ngapain disini? Keluar pagi banget. Marah yah!?" Ayumi melepaskan pelukannya, lalu menatap Randy.
Pria itu hanya tersenyum, lalu mengusap pipinya dengan sangat lembut.
"Tidak marah. Kan memang sudah kebiasaan, aku selalu bangun pagi, … kalau tidak bagaimana dengan Pak Raga? Dia mengandalkan semuanya kepada suamimu ini, Ayumi."
"Sekarang kan sedang tidak kerja."
"Kata siapa? Baru saja Pak Raga meminta ku untuk masuk hari ini, ada beberapa hal penting yang tidak bisa ditunda." Dia memperlihatkan isi pesan yang Raga kirimkan beberapa menit lalu.
Ayumi diam, menatap layar ponsel dengan wajah suaminya bergantian.
"Ini hari Sabtu!"
"Iya, tapi bagaimana lagi?"
Ayumi cemberut.
"Padahal aku masih mau disini sampai nanti sore." Dia merengek, lalu kembali bergelayut manja, memeluk lengan kekar Randy.
"Ya Sudah, disini saja!" Katanya sambil membawa satu pisang goreng, menggigitnya dengan hati-hati karena masih panas, dan mengunyahnya dengan perlahan.
Mereka sama-sama diam. Randy menikmati pisang goreng juga kopi buatan ibu mertuanya, sementara Ayumi menyandarkan kepala pada bahu sang suami.
Plak!
Ayumi bereaksi, dia memukul tangan kanan Randy saat dia mendapati nyamuk yang hinggap di atas kulit suaminya.
"Astaga, Ay!" Pria itu tersentak. "Sakit!" Katanya lalu mengusap tangan yang terasa panas.
"Nyamuk, Bang!" Ayumi mengusap-usap bekas kemerahan di lengan Randy.
"Iya, tapi kenapa harus sekencang itu!"
__ADS_1
Ayumi hanya tersenyum canggung, dan kembali menyentuh tangan itu.
"Tatonya bagus, kamu keren!" Ayumi mengangkat tangan kanan Randy, melihatnya dari jarak yang sangat dekat.
"Aku keren, … bahkan sebelum menggambar tato itu di tanganku." Ucap Randy sedikit menyombongkan diri.
Ayumi menoleh.
"Apa?" Randy bereaksi.
"Iya, kamu keren, tampan, manis, dan sedikit terlihat nakal, … eh … maksudnya …"
Mata indah dengan bulu mata lentik itu memincing, menajamkan pandangan ke arah gadis yang saat ini mulai terlihat gelagapan.
"Nakal kata mu!?" Bisik Randy penuh penekanan.
Ayumi bergeser, membuat jarak diantara keduanya, lalu menggelengkan kepala.
"M-ma-maksud aku nggak gitu …"
"Tahu dari mana kamu? Kalau aku nakal?" Randy berbisik lagi, bahkan kali ini suara rendah itu terdengar semakin menyeramkan, sampai-sampai membuat bulu kuduknya berdiri semua.
Ayumi berdiri, melangkah mundur dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Raut wajah Abang memang kelihatan nakal!"
Setelah mengucapkan itu Ayumi segera bergegas, berlari masuk kedalam rumah dengan gelak tawa yang terdengar begitu kencang.
Mendengar hal tersebut Tutih sampai menoleh, melihat Ayumi yang kini berlari masuk kedalam kamarnya, sementara Randy tampak berjalan santai berusaha menyusul.
"Dia melakukan sesuatu?" Wanita paruh baya itu bertanya.
"Hanya mengumpat dan mengatakan hal buruk, jadi Randy harus menghukumnya!" Jawab Randy.
Tutih menghela nafasnya kencang.
"Duh, … Ayumi memang suka iseng! Suaminya lagi ngopi bukannya ditemenin, malah diisengin." Tutih menggeleng-gelengkan kepala.
***
Randy masuk kedalam kamar sana, menutup pintunya rapat-rapat, dan tidak lupa untuk memutar kunci beberapa kali. Pria itu berbalik badan, menatap Ayumi tajam, sampai membuat gadis itu semakin merapatkan diri pada tembok di belakang tubuhnya.
"Jangan begitu! Aku takut." Ayumi merengek, sambil terkekeh pelan.
Randy tidak bersuara, dia justru menarik kaos yang dikenakannya sampai terlepas, melempar ke arah tepi ranjang, dan beranjak naik keatas tempat tidur berukuran sedang dimana istrinya berada.
Apalagi dengan status mereka saat ini, Randy bisa melakukan apa saja, karena memang sudah seharusnya seperti itu.
"Abang mau apa?" Pekik Ayumi pelan, saat Randy sudah benar-benar berada di jarak yang sangat dekat.
Randy tersenyum miring.
"Jangan!" Pinta Ayumi sedikit memohon, saat Randy menarik kakinya sampai gadis itu berbaring terlentang di bawah Kungkungan tubuhnya.
"Suamimu memang nakal, bukan?" Randy berkata pelan.
Seringai jahatnya semakin terlihat, dan membuat Ayumi sangat ketakutan.
"Jangan sekarang aku mohon!" Ayumi menahan dadanya.
Namun itu tidak seberapa, Randy tetap bisa mendekat, dan maraih bibir Ayumi sampai perempuan itu berhenti bersuara.
Randy memangut bibir Ayumi dengan penuh perasaan, memeluk tubuh kecil di bawahnya erat-erat, sampai tak memberikan kesempatan Ayumi untuk lepas kali ini.
Dan dia baru benar-benar melepaskan pautan bibirnya saat Ayumi terlihat sulit bernafas.
Randy tersenyum, lalu menyatukan kening keduanya, sementara Ayumi diam dengan nafas memburu juga dada yang naik turun dengan sangat cepat.
Suasana di dalam sana cukup hening, hanya terdengar hembusan nafas keduanya yang terasa hangat saat menyapu wajah satu sama lain.
Suara aktivitas di luar kamar mulai terdengar. Namun sepasang suami istri itu sibuk menatap satu sama lain, hingga di detik berikutnya Randy kembali meraih belahan kenyal berwarna merah alami, merasai bibir masing-masing, saat Ayumi juga mulai terbawa suasana, dan membalas setiap ciumannya yang kini terasa semakin dalam.
Satu tangan Ayumi menyentuh rahang tegas pria di atasnya, dan satu tangannya lagi mengusap otot dada suaminya, terus bergerak turun ke bawah, sampai jemari lentik itu menyentuh otot perut milik Randy yang terlihat begitu mempesona.
Begitu pun dengan Randy, dia mulai menyingkap baju tidur yang Ayumi kenakan, masuk dan mengusap kulit perut Ayumi perlahan sampai gadis itu melenguh pelan.
Randy tersenyum, dia merasa menang saat Ayumi tak berdaya di bawah kuasanya.
Kali ini Ayumi benar-benar pasrah, tidak ada perlawanan sedikitpun saat Randy menyentuh setiap lekuk tubuhnya.
Bahkan gadis itu benar-benar tak menyadari, jika dirinya kini sudah benar-benar polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mungilnya. Dia hanya terus memejamkan mata, seraya menggigit bibir, menahan suara aneh yang mungkin akan keluar dari mulutnya.
Suasana pun semakin memanas.
Cup!
Randy mencium leher Ayumi, naik keatas untuk meraih daun telinga, dan memberinya gigitan kecil.
__ADS_1
"Ngggghh!!" Lenguhan itu lolos begitu saja cukup kencang, hingga membuat Randy langsung membekap mulutnya dengan tangan.
Mereka saling beradu pandang, menatap mata yang sudah tertutup kabut gairah masing-masing.
"Aku tidak bisa nafas!" Ayumi berbisik, dan menyingkirkan tangan kekar suaminya.
Randy hanya tersenyum.
Mata sayu Ayumi benar-benar tidak bisa membuatnya berkutik, dia hanya mampu mengagumi kecantikan dan keindahan tubuh istrinya yang saat ini sudah terlihat pasrah.
"Bisa tahan sedikit?" Pria itu dengan suara rendah yang terdengar sangat berat.
Ayumi menatap wajah itu dengan raut wajah tidak yakin. Dia menundukan pandangan, dan betapa terkejutnya dia saat mereka sudah sama-sama polos, berlindung di bawah selimut tebal yang membungkus tubuhnya juga sang suami.
"Astaga!"
"Jangan dilihat, nanti kamu semakin takut!" Telunjuk Randy mengangkat dagu Ayumi, sampai dia kembali menatapnya.
"Ini nggak mungkin." Ayumi mulai panik, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mungkin. Kamu hanya perlu rileks, dan biarkan aku melakukannya dengan baik dan benar, … oke?"
Randy mulai beraksi, menempatkan diri pada tempat seharusnya, menekan paha Ayumi perlahan. Dia tidak berniat berhenti, bahkan saat tangan gadis itu mencengkram lengannya kencang, juga kuku-kuku yang menancap dan mulai meninggalkan bekas kemerahan.
"Santai saja!" Randy menyingkirkan tangan Ayumi, dan menuntunnya sampai tangan itu beralih memeluknya.
"Ah, … aku nggak bisa." Ayumi mulai meringis.
"Bisa, asal kamu jangan panik. Biarkan aku melakukannya, aku janji tidak akan sakit!"
Ayumi menggelengkan kepala, dengan raut wajah yang tampak menahan tangis.
"Aku nggak mau, … ini sakit!" Ayumi mulai terisak.
Randy tetap berusaha.
"Aabaangg, … lepasin!" Dia hampir menjerit.
"Tunggu sebentar, ini memang sangat susah."
"Lepasin, …. Sakit!" Ayumi memekik pelan.
"Ini bahkan baru kepalanya." Randy mulai gelisah.
"Aku nggak mau, ini saakitt!" Ayumi merintih.
Randy berhenti sebentar, dia menatap Ayumi, mengusap pipinya pelan, dan menghujani wajah Ayumi dengan ciuman.
Dia berusaha membuat Ayumi tenang.
"Hey? Tatap aku?" Randy menyentuh satu tangan Ayumi yang kini sedang menyentuh wajahnya.
"Abang aku nggak bisa."
Randy mengusap-usap punggung tangan Ayumi.
"Kita bisa, hanya saja kamu yang terus menolak, dan membuatnya semakin sulit." Kata Randy pelan, dan terdengar sangat lembut.
Ayumi memejamkan mata, mengatur nafasnya beberapa kali.
"Kita coba lagi?"
Ayumi pun mengangguk, karena menolak pun sudah tidak mungkin.
Randy kembali mengarahkan miliknya, sedikit mendorong, berusaha menerobos segel pabrik yang masih tertutup rapat.
Kening Ayumi berkerut, matanya terpejam, dengan mulut yang terlihat sedikit terbuka, berusaha menahan rasa sakit yang terus terasa.
"Abang stop! Aku mohon berhenti!" Ayumi merintih.
Namun Randy tidak mendengar, dia terus memaksa masuk, sampai leguhan Ayumi terdengar begitu panjang, begitupun dengan dirinya saat merasa pipinya sedikit perih, karena kuku Ayumi kembali menancap dan menggores cukup dalam.
"Nggghhhh, … sakit … aku bilang berhenti dulu!" Ayumi menangis pelan.
Randy tidak menjawab, dia kembali memeluk Ayumi, dan menghujani wajah istrinya dengan kecupan kasih sayang.
"Tidak apa-apa, hanya sebentar." Randy berbisik.
"Sakit!"
Randy tersenyum bahagia, perasaannya merekah saat dia sudah berhasil mengambil sesuatu milik Ayumi yang sangat berharga.
"Sekarang kita suami istri yang sesungguhnya. Kamu milik aku sekarang." Randy kembali berbisik.
......................
Mau visual? Cuss kepoin Ig Othor 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
__ADS_1