My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 06 (Patah hati)


__ADS_3

Aleesa menatap Randy penuh tanya.


"Cepatlah! beli apa yang harus kau beli tadi, setelah itu kita kembali ... sebentar lagi Pak Raga akan sampai di stadion." Kata Randy dengan ekspresi wajah datarnya seperti biasa.


"Itu, ... siapa? kau mengenalnya? kenapa dia terlihat kesal?" Cecar wanita itu dengan banyak pertanyaan.


Randy menggelengkan kepala.


"Tidak tahu. Cepatlah aku menunggu disini!" Jawab pria itu singkat.


Aleesa menganggukan kepala, dan dengan segera melangkahkan kaki, kemudian masuk kedalam mini market sana untuk membeli sesuatu yang dia lupakan saat akan membawanya.


Melihat Aleesa yang sudah masuk kedalam sana. Randy segera berjalan kearah dimana tadi Ayumi berdiri memperhatikannya.


Pria itu menghela nafas, saat menatap tubuh kecil gadis itu yang kini berjalan semakin menjauh.


"Terserah pada mu saja!" Gumam Randy, lalu kembali kearah dimana mobilnya terparkir.


Dia benar-benar terlihat tak peduli. Tidak berniat mengejar atau sekedar memanggil gadis itu.


Sementara Ayumi terus berjalan menjauh, dengan air mata yang terus bercucuran. Dia sudah berusaha menahannya, namun rasa sesak justru terus mendesak sampai Ayumi tidak mampu menahan derasnya air mata yang bercucuran.


Dia kesal melihat Randy yang lagi-lagi bersama wanita cantik itu, dia marah, dia cemburu. Dan yang paling parah Ayumi tidak bisa berbuat apapun untuk menetralisir rasa cemburunya.


"Lho!" Seorang pria menatap Ayumi penuh tanya saat dia sampai di dekat pintu kamar kostnya.


Gadis itu melirik sekilas, kembali menundukan kepala dan memilih langsung masuk kedalam kamarnya setelah membuka kunci pintu itu terlebih dahulu.


"Ayumi kenapa?" Gani berjalan mendekat.


Namun Ayumi langsung menutup pintu kamar kostnya kencang.


Gani semakin bingung, apalagi saat melihat keadaan Ayumi yang terlihat berantakan. Wajah sembab, hidung merah dengan mata yang terlihat sedikit membengkak.


"Ayumi? kamu baik-baik saja?" Gani mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.


Tapi tidak ada sahutan gadis itu di dalam sana.


Tok tok tok!!


"Aku ingin sendiri dulu." Akhirnya Ayu bersuara.


Gani merasa sedikit lega, pria itu mundur dan kembali kedalam kamar miliknya.


***


Waktu terus berjalan, malam semakin larut, tapi Ayumi masih betah berada diatas tempat tidurnya.


Dengan ruangan yang masih terus terlihat gelap. Gadis itu meringkuk, memeluk lutut sembari menangis pelan.


Entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri, setelah sore tadi melihat Randy kembali bersama seorang wanita cantik.


Seorang Dokter. Pertugas medis lapangan hijau yang berada di bawah naungan Raga, sama seperti Randy.


Hingga suara ketukan di pintu kamarnya terdengar pun, Ayumi masih diam, seolah telah kehilangan semangat hidupnya.


"Ay!?" Akhirnya suara yang sangat Ayumi kenali terdengar.

__ADS_1


"Ay bukain dong pintunya, Ibu kost sama kita khawatir sama kamu." Panggilnya kembali.


Ayumi yang sedari tadi tenggelang dalam tangaisannya mulai tersadar, dia bangkit, mengusap kedua pipinya lalu berdiri dan berjalan kearah pintu kamar yang terkunci dari dalam.


Trek ... trek ... klek!


"Masuk Una." Suara gadis itu terdengar parau.


Una melihat kearah samping, dimana Gani dan Seorang wanita paruh baya berdiri dengan raut wajah khawatir.


"Biar saya saja Bu. Ayumi akan baik-baik saja setelah ini!" Una berujar.


Setelah itu Una segera mendekat kearah pintu yang hanya terbuka sedikit, mendorongnya perlahan, masuk dan kembali menutup pintunya.


"Bu Amel, ... kalau begitu saya masuk duluan." Pamit Gani kepada perempuan yang tak lain adalah pemilik kost-kostan itu.


Amelia menganggukan kepala.


"Mungkin Ayu hanya tidak enak badan, dia gadis baik. Tidak mungkin juga berbuat yang tidak-tidak bukan?" Wanita itu berbicara.


Gani mengulum senyum.


"Saya hanya takut, tadi dia pulang dengan keadaan menangis. Di tambah dengan kamarnya yang terus gelap, ini sudah jam sembilan malam ... saya takut dia nekad." Sambung Gani kembali.


"Yasudah, selamat beristirahat." Amelia berucap.


"Baik, Bu. Saya masuk dulu!"


Gani pun segera masuk, dan menutup pintu kamarnya, meninggalakan Amelia yang masih berdiri disana. Dan tidak menunggu waktu lebih lama lagi, Amelia pun segera beranjak, pergi dari aresa sana.


Trek!


"Kok bisa begini? tadi kamu baik-baik saja perasaan." Una bertanya.


Dia mendekat, lalu duduk di samping Ayumi dan menatap sahabatnya lekat-lekat.


"Bu Tara ngatain kamu lagi?"


Ayumi menggelengkan kepala.


"Abang Amar bikin masalah lagi?"


Ayumi kembali menggelengkan kepala.


Una menghela nafasnya kasar, menatap Ayumi dengan tatapan yang terlihat semakin bingung.


"Terus kenapa kamu bisa seberantakan ini? hidung merah, mata bengkak, wajah sembab. Itu lagi ... kamar kenapa gelap-gelapan? noh di luar pada khawatir."


Ayumi diam.


"Udah makan?"


"Belum."


"Mandi?"


"Belum juga!"

__ADS_1


"Astag! pantesan dari tadi bau gosong. Ternyata kamu belum mandi." Cicit Una dengan suara yang terdengar cukup kencang.


Seketika mata Ayu membulat, lalu beberapa pukulan mendarat di bahu dan lengan temannya itu.


"Ay ... ah ... aduh!" Suara Una memekik.


Gadis itu berusaha menghindar, tapi Ayumi tak melepaskan temannya itu dengan mudah.


"Ay sakit!" Cicit Una kencang, seraya mengusap lenganya yang terdapat bekas kemerahan disana.


"Kamu nyebelin tau! pulang sana." Ucap Ayumi ketus.


Una hanya tersenyum tersenyum.


"Becanda Ay, ... becanda!" Una langsung memeluk Ayumi erat. "Sana mandi, nanti aku cariin makanan buat kamu." Katanya lagi.


Una menarik diri, melepakan pelukannya lalu menepuk-nepuk lengan Ayumi.


"Ayoklah." Una tersenyum.


Ayumi mengangguk, dia mulai bangkit, meraih handuk dan berjalan kearah kamar mandi dengan langkah gontai.


"Ay? boleh minta hotspot?" Tanya Una dengan suara sedikit berteriak, saat suara air di dalam kamar mandi sana mulai terdengar.


"Hapenya ada di laci, ambil aja." Gadis yang sudah berada di dalam kamar mandi itu berteriak.


Suara Ayumi menggema di dalam sana.


Una melihat kearah sebauh laci kecil yang terletak di samping tempat tidur Ayumi. Membukanya sedikit, lalu membawa benda pipih milik Ayumi dan menekan tombol power hingga layarnya menyala.


"Kodenya berapa, Ay?"


"Satu satu satu satu ... lima!"


Una menekan angkat tersebut, dan terbukalah kunci layar ponsel tersebut.


"Oke." Una berteriak.


"Bisa?" Ayumi berteriak.


"Bisa-bisa." Dia menjawab sambil mengutak-atik benda pipih milik temannya itu.


"Yaudah aku pergi cari makan dulu yah! hapenya aku simpen di laci lagi."


Una mengembalikan benda itu kepada tempatnya, lalu berdiri.


"Nggak nungguin dulu?"


"Biar kamu selesai, aku datang bawa makanan." Jawab Una.


"Yaudah."


"Cuma sebentar kok, tungguin yah! jangan tidur dulu."


Setelah mengatakan itu, Una berjalan kearah pintu, menekan handlenya perlahan, lalu keluar dan tak lupa menutup pintu pintu itu kembali sebelum benar-benar dia meninggalkan tempat itu.


***

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, hadiah sama tambahin ke daftar buku favorit kalian yah. Dukungan kalian bikin othor semangat update lho :)...


__ADS_2