My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 60 (Sah)


__ADS_3

"Bagaimana saksi?"


Seorang penghulu menatap kepada Alvaro juga Junior bergantian, yang Randy jadikan sebagai saksi nikah dirinya juga Ayumi.


"Sah?" Penghulu bertanya lagi.


Junior beserta sang ayah pun menganggukan kepala, dan setelah itu ucapan rasa syukur jelas terdengar di ucapkan Tutih, Maria, Ali, juga beberapa sanak saudara yang ikut hadir, tidak terkecuali Bianca.


Dengan segala persiapan yang memakan waktu, ditambah menunggu kedatangan Alvaro juga sang anak karena permintaan Randy untuk dia jadikan seorang saksi nikah, akhirnya kini sepasang kekasih itu resmi menjadi suami dan istri, pada hampir pukul sembilan malam.


Tidak ada riasan, tidak ada pakaian atau hiasan mewah. Semuanya berjalan begitu saja, dengan segala persiapan yang serba dadakan. Beruntungnya Randy melakukan itu dengan maksimal, di bantu Ali yang ikut andil memilihkan beberapa perhiasan yang akan Randy jadikan sebagai mas kawin.


Randy menoleh ke arah samping, kemudian dia tersenyum, saat gadis yang kini sudah berstatus menjadi istrinya ikut menoleh.


"Sekarang boleh pasangkan cincin nya!" Ucap penghulu itu kepada Randy, seraya menggeser sebuah kota kecil berwarna merah.


Randy mengangguk dia meraih benda itu, mengeluarkan cincin yang dibelinya, lalu meraih tangan kanan Ayumi, dan menyematkan benda itu di jari manis gadis cantik itu.


"Maaf tidak ada desain yang spesial untuk mu, aku juga tidak tahu ukurannya pas, atau bahkan kekecilan. Tapi ini hanya sebuah simbol, kita bisa ganti nanti." Randy sedikit berbisik.


Ayumi pung mengulum senyum, lalu menganggukan kepala saat dia mendengar ucapan dari pria di hadapannya dengan sangat jelas.


"Nggg, … seperti memang kecil." Kata Ayumi saat cincin itu terasa begitu pas di jemarinya.


"Ya, nanti kita ganti, dan cari sama-sama."


Setelah itu Ayumi meraih cincin yang satunya, meraih tangan Randy dan menyematkan di jari manis yang terlihat pas di jari manis Randy.


"Nah, … sekarang dicium tangan suaminya." Penghulu itu menatap Ayumi.


Ayumi mengangguk sambil tersenyum malu-malu, kemudian mencium punggung tangan Randy, yang pria itu balas dengan ciuman di keningnya.


Raut wajah semua orang yang berada di sana terlihat bahagia. Apalagi Tutih dan Maria, dua wanita itu saling memeluk dengan air mata yang sesekali terjatuh sampai membasahi pipi.


Sementara Junior menatap wajah Ayumi lekat-lekat, teman kecil yang pernah sangat dekat dengan dirinya, gadis lugu yang sangat manis, namun itu pernah pudar saat Alvaro mencoba menjodohkan mereka, menghalangi cintanya kepada Bianca, membuat hubungan itu sedikit merenggang, bahkan sampai sekarang.


Tidak, bukan Junior, melainkan Ayumi yang semakin menjaga jarak, apalagi setelah Bianca dengan terang-terangan memperlihatkan ketidak sukaannya.


Ah maafkan aku sudah berbuat buruk kepadamu, dulu!


Batin Junior berbicara.


***


Acara yang diadakan secara dadakan itu berjalan begitu lancar. Setelah selesai melaksanakan akad, mereka melakukan makan malam bersama, ditemani dengan obrolan santai juga gelak tawa para pria yang terdengar begitu menggelegar.


Seperti halnya Ayumi saat ini, dia memilih bergabung bersama para wanita yang terdapat Bianca disana, meski ragu, tapi dia berusaha memberanikan diri.


"Obatnya sudah diminum?" Tutih bertanya.


"Sudah."


"Belum lelah? Jika kamu lelah masuk kamar saja, biarkan Ibu disini, dan Randy menemani Bapak-bapak di luar sana." Jelas sang ibu, namun Ayumi menimpali dengan sebuah gelengan kepala.


"Ya, istirahat saja jika lelah!" Maria ikut berbicara.


"Disini dulu deh, Bu."


Dia beralih pada Bianca, wanita yang sedari tadi menatapnya.


Ayumi tersenyum canggung.


"Bagaimana kabar Kaka?"


"Baik, saya baik."


"Oh, syukurlah. Jika ibunya sehat, bayinya juga pasti sehat bukan?" Wajahnya semakin memerah.


Ayumi benar-benar gugup, bahkan kini dirinya merasa sedikit panik dan cemas dalam waktu yang bersamaan. Ini aneh, tapi itulah yang dia rasakan.

__ADS_1


"Iya, usianya sudah lima bulan. Sudah bergerak kencang."


Ayumi mengangguk, mereka pun terdiam.


"Kamu bagaimana?" Bianca memulai lagi obrolannya. "Saya dengar kabar dari Papa dan Nior."


"Saya baik, tentunya dengan bantuan obat dari Dokter."


"Apa setelah ini kamu masih akan kembali bekerja?"


Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Ka Balqis sudah memecat mereka."


"Aku tidak tahu, rasanya sedikit tidak nyaman jika mengingat kejadian itu." Jelasnya.


Bianca tersenyum samar, bahkan dia meraih tangan Ayumi untuk dia genggam, seraya menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata.


"Sebaiknya pulihkan dulu dirimu, … dan maaf sudah pernah menuduhmu yang tidak-tidak, aku harap keadaan kita kedepannya semakin membaik. Kita bisa berteman, layaknya dulu kamu dengan suami saya." Bisik Bianca penuh harap.


"Kaka tidak salah, yang salah keadaannya." Balas Ayumi.


"Sekali lagi, maafkan aku."


Ayumi menjawab dengan angguk, lalu mengalihkan pandangan kepada Tutih dan Maria yang masih asik berbincang-bincang.


"Mmmm, … kalau begitu Ayu mau istirahat dulu, efek obatnya mulai bekerja, rasanya pusing dan sedikit mengantuk." Pamit Ayumi kepada Bianca, juga kedua ibunya.


Mereka bertiga mengangguk.


"Istirahatlah, keadaanmu sedang tidak baik-baik saja." Tutih berujar.


"Aku tinggal dulu kalau begitu. Terimakasih Kaka sudah mau datang, Abang Nior, om Al juga."


Bianca tersenyum.


Dan setelah itu Ayumi beranjak pergi, meninggalkan ruang tamu ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat. Gadis itu menekan handle kamarnya, masuk dan menutup pintu itu kembali.


Brugh!!


"Hhhh!"


Ayumi menghembuskan nafasnya pelan, dengan mata yang menatap lurus ke arah langit-langit kamar.


Otaknya kembali berputar pada kejadian beberapa waktu lalu. Dimana dia menyaksikan Randy yang dengan lantangnya mengucapkan sebuah ikrar sumpah janji suci.


Dengan sekali tarikan nafas, tanpa gugup, atau ragu sedikit pun.


Seulas senyum di bibir Ayumi terlihat.


"Benarkah? Sekarang aku sudah menikah? Menjadi istri seseorang, dengan usia yang sangat muda?" Ayumi bergumam.


Perasaannya bergejolak, meletup-letup seperti air yang sedang mendidih. Entah kenapa jantungnya terus berdebar, bahkan dia terus memikirkan kejadian setelah jam tengah malam tiba nanti.


Apa mereka akan tidur bersama? Lalu apa yang akan mereka lakukan?


"Astaga! Aku ini ngantuk! Kenapa malah tersenyum terus. Apa ini efek obat? Tapi kenapa sekarang rasanya lebih aneh." Dia berkata lagi.


Sedang asik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja pintu kamar Ayumi terbuka dari arah luar, dan disanalah Randy, masuk kemudian menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, bahkan memutar kuncinya beberapa kali, membuat Ayumi yang sudah berbaring nyaman, kembali mengubah posisinya menjadi duduk.


"Abang ngapain?" Ayumi menatap pria yang kini sudah menjadi suaminya lekat-lekat.


Ya, suami! Pria tampan itu kini sudah menjadi suaminya, setelah beberapa jam lalu mempersunting dia di hadapan penghulu, saksi juga beberapa orang termasuk orang tua mereka.


"Aku mau izin anterin Ibu pulang sebentar." Randy mendekat.


Dia duduk di tepi ranjang, berdampingan dengan Ayumi.


Pria itu tersenyum.

__ADS_1


"Pulang? Kenapa nggak nginep aja?"


Randy mengendikan kedua bahunya, kemudian merangsek lebih mendekat.


Tubuh Ayumi mematung, bahkan semakin menegang saat tangan kekar itu menyentuh dan meraih pinggangnya, sampai kini mereka tak berjarak sama sekali.


"Ay?" Panggil Randy dengan suara rendah.


"Hemm?"


"Kita sudah menjadi suami istri malam ini."


Ayumi mengangguk, matanya terus bergerak-gerak, menatap senyum menawan juga mempesona suaminya.


Dia gugup.


"Ya, aku tahu. Aku ada di TKP saat kamu Ijab-kabul tadi."


"Bagaimana? Bukankah aku sangat keren?"


"Keren, kamu melakukan tanpa salah sedikit pun."


"Bagus bukan? Setelah ini tidak ada lagi bahaya jika kamu tidur bersamaku." Randy terkekeh.


Namun Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Randy menjengit.


"Aku justru merasa semakin terancam setelah ini. Aku dalam bahaya besar!"


Mendengar itu Randy terlihat menyeringai, pria itu semakin mendekatkan wajah, dan di detik berikutnya bibir sepasang suami istri yang baru diresmikan itu bertemu.


Mata Ayumi terpejam, saat ciuman itu terasa semakin dalam dan lebih menggebu-gebu, bahkan Randya terus mendorongnya, sampai dia benar-benar berbaring dibawah tubuh kokoh milik suaminya.


"Sepertinya kamu sudah paham, yah!?" Randy berbisik saat dia menjeda cumbuannya.


Ayumi diam, dia terlihat seperti orang linglung, saat kesadarannya mulai memudar karena ciuman yang Randy berikan, dan itu terasa sangat indah.


Tangannya mulai nakal, menelusup masuk kedalam kemeja yang Ayumi kenakan, mengusap kulit yang terasa begitu hangat, dan terus mencari sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya sudah dari sejak lama.


Tiba-tiba;


Tok tok tok!!


Randy menghentikan kegiatannya, dia melihat kearah pintu.


Tok tok tok!!


"Randy? Ayo Ibu sudah siap." Suara Maria terdengar.


Randy dan Ayumi terdiam saling menatap.


"Ay? Randy tidur?" Maria terus memanggil.


Gadis itu segera mendorong dada suaminya, lalu duduk dan merapikan pakaian yang terlihat sedikit berantakan.


"Ibu sudah memanggil, cepatlah."


"Astaga, apa tidak boleh aku melakukannya dulu?" Gumam Randy dengan nada frustasi.


Ayumi tersenyum, lalu menggelengkan kepala.


"Apa kamu tega membuat Ibu menunggu?"


Randy menyapu wajahnya kasar, dia bangkit dan membuka pintu kamar Ayum sedikit, yang sedari tadi tertutup rapat.


"Ayo, ini sudah hampir tengah malam. Besok Ibu harus membuat beberapa pesan kue."


Suara itu terdengar jelas saat Randy keluar, dan menghilang ketika pintu kamarnya kembali tertutup.

__ADS_1


"Untuk kali ini kau selamat Ayumi!" Ayumi memejamkan mata, dan menghembuskan nafas lega.


Dia segera mengganti kemeja dan celana jeansnya dengan pakaian tidur, kembali naik keatas ranjang, lalu menenggelamkan diri di bawah selimut tebal, dan mencoba untuk segera mengarungi indahnya alam bawah sadar.


__ADS_2