
Setelah mendapat kabar jika sang ibu akan datang untuk sekedar bersinggah sebelum keberangkatannya ke Jerman sana. Ayumi terus duduk di kursi kayu teras depan, menunggu kedatangan Sumi dan Valter pada menjelang sore hari ini. Duduk sendiri, sementara Randy masih berada di tempat kerjanya, karena jam pulang kerja belum tiba.
Suasana hari ini begitu cerah. Langit terlihat begitu cerah, namun redup kala teriknya cahaya matahari tertutup awan-awan putih yang terlihat begitu indah.
Hatinya senang. Mendapatkan kabar jika Sumi sudah bahagia dengan pernikahannya. Namun, rasa yang Ayumi rasakan lebih dari itu, hatinya merasa lebih tenang, karena Sumi tidak akan hidup dengan segala kesusahan, entah itu ekonomi atau apapun yang sudah wanita itu lewati dengan jangka waktu yang sangat lama.
Tapi disisi lain hatinya sangat sedih. Belum cukup setahun mereka bersama, namun kini kenyataan kembali memisahkan, bahkan sekarang lebih jauh. Terpaut jarak, dan juga waktu yang memang sangat berbeda.
Dan setelah menunggu cukup lama. Akhirnya sebuah mobil taksi datang, dan berhenti tepat di depan rumah milik suaminya.
Ayumi berdiri dengan perasaan tidak menentu.
Perlahan dari kedua sisi pintu penumpang terbuka, dan munculah Valter terlebih dahulu, dengan kemeja putih dan wajah yang terlihat lebih segar. Lalu disusul ibunya yang memakai pakaian yang sama, kemeja putih yang Sumi padukan dengan celana jeans.
Ayumi tertegun, matanya membelalak dengan perubahan ibunya yang terlihat sangat signifikan.
Rambut sebahu berwarna kecoklatan, di tata sedemikian rupa sampai terlihat lebih bervolume dan bergelombang, kulit wajah yang sangat terawat, bahkan saat ini wanita itu mengaplikasikan makeup tipis di wajahnya, sampai membuat Ayumi lupa penampilan Sumi saat mereka bertemu untuk pertama kali.
"Ay?" Sumi tersenyum sumringah, dia berjalan seraya merentangkan tangan.
"Mama!" Balas Ayumi.
"Kenapa duduk di luar? Kan panas?" Kata Sumi lalu memeluk tubuh putrinya, dan hal yang sama Valter lakukan sampai mereka kembali saling memeluk, setelah menyimpan dua koper besar di sudut teras terlebih dahulu.
"Hai bagaimana keadaanmu?" Valter mengusap kepala Ayumi.
Namun Ayumi hanya diam, dia masih terlalu terkejut dengan perubahan yang ibunya perlihatkan.
"Ay?" Sumi mendorong kedua bahu putrinya, sampai mereka kembali berjarak dan dapat menatap satu sama lain. "Kenapa? Kamu menatap Mama seperti melihat hantu begitu!" Sumi terkekeh, lalu mengusap pipi Ayumi dan menyingkirkan beberapa helai rambut putrinya.
"Ini Mama?" Akhirnya dia bersuara, dengan raut wajah tidak percaya.
Sumi mengangguk, dengan senyuman yang paling manis dia perlihatkan. Rona kebahagian jelas wanita itu rasakan, sampai mempengaruhi semua yang ada dalam diri Sumi.
"Memangnya siapa lagi? Berapa Minggu tidak bertemu, lalu kamu merupakan wajah Mama?"
"Bukan begitu. Setelah menikah Mama jadi berbeda." Kata Ayumi, dia tersenyum.
Ayumi beralih kepada ayahnya, dan memeluk seperti apa yang dia lakukan kepada Sumi.
"Saking terkejutnya aku sampai lupa ngajak Mama dan Papa masuk." Perempuan itu terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah, ayo masuk. Kita tunggu Abang, mungkin nanti aku mau nganter kalian sampai Bandara." Ayumi berujar.
"Baiklah, ayo!" Titah Valter, dia kembali meraih gagang kopernya, dan menyeret benda itu masuk kedalam, menyimpannya di sudut ruang tamu.
Ayumi terus menggandeng tangan Sumi, dan baru benar-benar dia lepaskan saat mereka sampai di ruang tengah, dimana sebuah sofa besar tersedia untuk mereka duduki.
Dini yang sedari tadi berdiam diri di dalam kamarnya segera menghampiri, berniat membawakan minuman dan beberapa toples kue yang mulai Ayumi dan Randy sediakan.
Namun wanita itu terkejut. Saat melihat Sumi yang terlihat sangat berbeda.
"Bi? Apakabar."
"B-baik. Ini Bu Sumi?"
"Ah kalian ini kenapa? Memangnya Mama terlihat melakukan operasi plastik? Sampai kalian tidak mengenali seperti ini?" Dia menatap kepada Ayumi.
"Tapi Mama memang beneran beda. Iya kan Pah!?"
Valter pun mengangguk.
"Bi? Tolong air mineral yang dingin yah, sama toples kue keringnya."
Dini menganggukan kepala. Dia berjalan ke arah chiller, membawa tiga botol air mineral kemasan tanggung, dan membawanya ke arah meja dimana Ayumi juga kedua orang tuanya berada.
"Nggak bikin. Aku suka ngemil sekarang, terus Abang bilang sama Ibu, … di kirim deh sama Ibu." Jelas Ayumi yang langsung dijawab anggukan oleh ibunya.
"Papa dan Mama sudah kasih kabar sama Ibu Maria?"
Sumi dan Valter menganggukan kepala.
"Oh ya? Apa reaksinya?"
"Terkejut, apalagi!" Ucap Valter kemudian pria itu tertawa nyaring.
"Toko kuenya sangat ramai. Sampai dia belum memiliki waktu yang tepat untuk datang berkunjung menjenguk kalian."
"Hah!" Ayumi menghela nafasnya. "Para orang tua kenapa pada sibuk banget ya!" Dia tampak kecewa.
Sumi mengusap punggung Ayumi.
"Kamu sedih?"
__ADS_1
"Hmmmm, … dan Mama akan pergi jauh sekarang, nggak ada lagi yang bisa nemenin aku. Belum ada setengah tahun kita bareng-bareng, sekarang Papa bakalan bawa Mama ke Jerman. Ahhh! Nggak adil."
"Maaf."
***
"Jam berapa pesawatnya terbang?" Randy yang sedang memegangi stir mobil bertanya. Lalu menatap spion agar dapat menatap Sumi dan Valter yang duduk di kursi penumpang.
Sementara Ayumi menjadi lebih pendiam saat mobil mulai melaju dan keluar dari pekarangan rumah yang sudah dia tempati berbulan-bulan lamanya.
"Jam sepuluh. Tapi akan lebih baik kita menunggu di Bandara saja, agar tidak tertinggal!" Kata Sumi.
"Kalian kapan akan kesana?" Tiba-tiba Valter bertanya demikian.
Mungkin pria itu tahu apa yang Ayumi inginkan, hanya saja dia tidak berani meminta kepada suaminya yang memiliki jam kerja yang sangat padat.
Tentu saja dia seorang asisten pribadi.
"Ummm, … mungkin liburan akhir tahun kami bisa kesana. Tidak akan ada jadwa bola, jadi aku bisa mengajukan izin liburan, … atau meminta jatah cuti honeymoon yang belum kami ambil." Jelas Randy.
"Benarkah? Kalian belum honeymoon? Tapi janinnya sudah tumbuh? Ah itu tidak adil bagi Ayumi." Kata Valter.
Randy terkekeh mendengar itu.
"Ayumi yang menginginkannya, Om. Dia selalu meminta Bayi, jadi aku kabulkan."
Sumi menoleh menatap suaminya, tiba-tiba saja ingatan itu kembali berputar, dimana untuk waktu yang sangat lama, mereka kembali melakukannya, dan itu menjadi awal yang tidak pernah ada akhirnya.
Valter bahkan selalu mengulangi setiap ada kesempatan.
"Wajahmu memerah. Kenapa?" Valter kebingungan.
Sumi menyentuh wajahnya.
"Benarkan? Ah aku bilang juga apa, aku tidak suka blush-on. Ini terlihat berlebihan saat ada di wajahku." Sumi mengalihkan topik pembicaraan.
Jelas tidak mungkin dia berbicara jika saat ini sedang kembali membayangkan apa saya yang sudah sering mereka lakukan.
"Ah otakku kenapa sekarang begini. Malu sekali, mana sudah mau punya cucu." Batin Sumi berbicara.
......................
__ADS_1
Ketemu Mama Sumi.