
Sumi membuka matanya, menatap langit-langit ruangan yang cukup luas dengan keadaan temaram. Pandangannya mengedar, menatap setiap sudut, termasuk kepada gorden tebal yang masih membentang menutupi kaca, meski jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi hari.
Dia menoleh. Menemukan Valter yang masih terlelap di sampingnya, memeluk sebuah bantal guling, yang menjadi sebuah penghalang antara keduanya.
"Ini pertama kalinya dalam seumur hidup. Aku tidur bersama seorang pria, … yang kini sudah menjadi suamiku." Sumi bergumama dengan perasaan tidak percaya.
Bagaimana dia melihat cara uang bekerja. Semuanya bahkan terjadi sangat cepat dan mudah, sampai mereka bisa menikah meskipun dengan keadaan sederhana. Tidak ada siapapun yang hadir, hanya beberapa orang yang sengaja di panggil untuk dijadikan saksi oleh Bu Nur dan keluarga.
"Apa aku berdosa? Karena sudah menerima dan menikahi suami dari Kakakku sendiri." Sumi bergumam, dengan pandangan yang kembali lurus ke arah langit-langit kamar.
Sementara pria di sampingnya mulai menarik kesadaran. Ketika sosok di sampingnya terus bergerak-gerak, dan berbicara pelan sendiri.
"Ah aku dosa sekali!" Kata Sumi lagi.
"Ka Susi maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya terkejut dan tidak bisa menolak. Terlebih dengan semua pengorbanan yang dia lakukan, percayalah jika kita kembali, … itu Valter lakukan hanya untuk Ayumi agar merasakan bagaimana memiliki keluarga kandung yang utuh." Wanita itu terus meracau, seolah sedang mengeluarkan isi hatinya yang sedang gundah gulana.
Dia memang terlihat bahagia, namun di sisi lain Sumi tampak sangat ketakutan, dan sedikit merasa bersalah. Padahal apa yang mereka lakukan tentu saja tidak ada masalah bagi siapapun.
"Aku …"
"Sudah aku katakan. Aku dan Susi sudah lama bercerai, aku menemani dia menjalani pengobatan hanya karena dia Kakakmu! Berapa kali aku harus menjelaskan ini agar kamu tidak merasa terus bersalah dan takut seperti ini?" Suara parau khas bangun tidur itu terdengar, sampai membuat Sumi tersentak karena sangat terkejut.
"Kamu bangun!?" Sumi langsung bergeser, dan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, dengan raut wajah yang terlihat pucat.
Kening Valter mengkerut, dia merasa heran. Apalagi dengan ekspresi wajah yang wanita itu perlihatkan.
"What's wrong with you!?" Cicit Valter yang merasa sangat heran.
"Kau membuatku terkejut!" Kata Sumi sembari memegangi dadanya.
"Terkejut?" Pria itu mengulangi ucapannya.
Sumi mengangguk, nafasnya terdengar terengah-engah.
"Y-ya. Kau berbicara tiba-tiba, dan itu membuat aku takut kau tahu? 20 tahun aku tidur sendiri, dan sekarang tiba-tiba ada orang lain, … dan tentunya di tempat berbeda juga." Kata Sumi, dia beralasan.
"Seharusnya semalam aku tidur di rumah saja. Kamu jika mau di hotel ya terserah, jadinya begini, aku merasa sedikit canggung dengan dirimu." Sumi kembali berujar.
Valter tidak menjawab, dia hanya terus menatap Sumi dengan ekspresi wajah tak bisa digambarkan oleh kata-kata.
"Gugup katamu? Padahal aku tidak memintamu melakukan apapun sejak dari semalam. Aku membiarkanmu tertidur dengan tenang." Sindir Valter. "Bahkan disaat aku sudah berhak mendapatkan semuanya." Ucapnya lagi.
Sumi bungkam, dia kehabisan kata-kata. Yang Valter ucapkan memang ada benarnya, pria itu bahkan tak mengganggunya sama sekali.
Valter menurunkan kedua kakinya, meraih sandal yang disediakan oleh hotel, kemudian pergi memasuki kamar mandi tanpa banyak berbicara.
***
"Apa ini?" Sumi menyentuh beberapa Tote bag yang sengaja diletakkan di atas tempat tidur.
Beberapa menit dia pergi untuk mandi, dan dia mendapati barang-barang itu setelah kembali.
Valter hanya melirik sekilas, kemudian kembali menunjukan pandangan kepada layar ponsel, memeriksa beberapa pekerjaannya.
"Buka saja." Kata Valter.
"Memangnya ini untukku?" Tanya Sumi sedikit ragu.
"Tentu saja. Memangnya untuk siapa lagi!"
"Jadi, …apa isinya?" Sumi kembali bertanya seolah ingin meyakinkan terlebih dulu sebelum membukanya.
Valter menghela nafas. Kemudian menekan tombol power di ponselnya dan meletakan di atas sofa tempat dia duduk begitu saja.
"Pakaian. Dan sepatu!" Dia bangkit, lalu mendekati Sumi, yang baru saja selesai mandi namun sudah berpakaian lengkap.
"Kenapa beli pakaian? Aku bawa baju, kamu tidak ingat?"
Valter menggelengkan kepala. Dia meraih satu Tote bag, dan membukanya sampai benda di dalam sana dapat dilihat dengan sangat jelas.
"Coba ambil." Valter tersenyum kepada Sumi.
Wanita itu mengangguk, merogoh kantung belanjaan itu, lalu membawanya keluar dan membentangkannya.
Satu dress panjang dengan motif bunga, memiliki lengan panjang dan sedikit belahan di area dada sana.
"Apa harus aku pakai?" Tanya Sumi dengan sedikit ragu.
Dirinya merasa tidak akan pantas memakai pakaian seperti itu. Selain terlihat elegan, juga sedikit terbuka di bagian atas, dan itu membuat Sumi sedikit merasa malu dan tidak pantas.
__ADS_1
"Tentu saja. Sekarang berpakaianlah sebagaimana mestinya. Usiamu baru 39 mau ke 40! Tapi raut kesedihanmu, dan cara berpakaian yang salah, membuat kamu terlihat …"
"Tua!?" Sumi memotong ucapan pria yang berdiri tepat di sampingnya.
Valter menggelengkan kepala. Namun itu justru membuat Sumi tersenyum.
"Aku memang sudah tua. Putriku bahkan sedang mengandung, itu artinya sebentar lagi aku akan menjadi nenek, lalu apa masalahnya?" Tukas Sumi seraya tertawa kencang.
"Pakaiannya sangat bagus, modelnya keren, terlihat elegan dan seksi, … mungkin!" Wanita itu tertawa lagi. "Tapi aku tidak pantas memakai ini, percayalah kamu akan kecewa jika aku memakainya karena tidak akan bisa memenuhi ekspektasi kamu." Sisanya semakin terdengar lirih.
Keduanya saling menatap. Terutama Valter yang terus menyelami manik wanita yang sudah beralih status menjadi istrinya.
Ya, istri. Wanita yang seharusnya dia nikahi sejak dulu, namun karena kebodohannya dia meninggalkan Sumi begitu saja, hanya karena sebuah ancaman dari seseorang yang terus menerus dia terima.
"Gantilah pakaiannya. Kita harus segera pergi untuk mengurus paspormu sekarang juga. Aku sudah kehilangan satu tiket kemarin hanya untuk kembali mendapatkan wanita yang aku cintai." Valter menjelaskan dengan seulas senyuman tipis yang dia perlihatkan.
Sumi diam. Retina nya bergerak-gerak, menatap letak Valter yang terus melihat kepada dirinya, yang tertu saja membuat sesuatu di dalam sana terasa semakin berdebar kencang.
"Tapi …"
"Pakailah. Kau cantik, tapi aku ingin membuat istriku semakin cantik. Permudahlah semuanya, aku ingin menebus apapun yang sudah aku lewatkan."
Tangan Valter bergerak, kemudian meraih tangan Sumi, dan merematnya cukup kencang, seolah memberitahukan semua akan baik-baik saja.
"Aku tahu kamu masih belum terbiasa. Aku juga tahu kamu masih sangat terkejut, dan aku mengerti itu. Jadi aku tidak akan memaksa apapun yang belum ingin kamu lakukan, biarkan semuanya berjalan senatural mungkin. Tapi satu! Jangan pernah menolak jika aku ingin membuat penampilan dirinya lebih baik dari sebelumnya, … coba bayangkan? Akan sebahagia apa Ayumi jika melihat keadaanmu semakin membaik, terutama dari segi penampilan." Jelas Valter.
Pria itu tampak sangat memohon.
"Baiklah. Aku coba dulu!" Kata Sumi, dia membawa dress itu ke dalam kamar mandi hotel yang sudah satu malam dia tempati.
Valter mengulum senyum. Hatinya benar-benar bahagia kini Sumi mulai benar-benar menerima dirinya, bahkan tanpa sebuah penolakan keras yang selalu wanita itu lakukan.
Tidak lama setelah itu Sumi kembali keluar dari dalam sana. Mengenakan dress yang sengaja Valter beli untuk istrinya itu.
Valter tampak terpukau. Baru pakaian yang dia perbaiki, lalu bagaimana jika dia juga memoles seluruh tubuh istrinya.
"Aku rasa … ini …"
"Schön (Cantik.)" Sergah Valter, dia tak mengizinkan Sumi mengatakan hal-hal buruk kepada dirinya sendiri.
"Hmmmm?"
Tiba-tiba Sumi merasa gugup.
"Size nya pas? Aku memilih ukuran Medium karena tubuhmu kecil."
"Seperti yang kamu lihat."
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya Valter kembali bertanya.
"Sudah siap?"
"Mmmm, … sudah! Ayo kita ke kantor imigrasi sekarang."
"Tidak!" Tegas Valter. "Sebelum kesana aku akan mengantarmu ke salon terlebih dahulu."
"Tidak usah."
"Aku tidak mau terus ditolak. Sudah cukup kamu menolak ku terus menerus, kali ini biarkan aku melakukan apapun untukmu."
Terlebih dulu Valter beranjak mendekati ponsel juga dompet miliknya yang terletak di atas meja, kembali dan meraih tangan Sumi, sampai mereka keluar dengan keadaan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
***
Valter memberhentikan mobilnya tepat di salah satu tempat kecantikan. Dia segera keluar, sementara Sumi tercengang melihat tempat para kaum elite datang kesana untuk memanjakan diri.
Dreuk!!
Pria itu membukakan pintu untuknya.
"Aku search. Dan aku menemukan ini dengan rate terbagus, … bintang 5!" Kata Valter.
"Tidak mau, aku tidak pede datang ketempat ini! Ini bukan tempatku, jika mau, … kamu bisa bawa aku ke salon biasa saja." Tolak Sumi.
"Ayolah, kita sudah berjalan cukup jauh dari hotel kesini." Valter memohon lagi.
Sumi menggelengkan kepalanya. Dia hendak meraih gagang pintu mobil untuk dia tutup kembali, namun tentu saja Valter tidak mengizinkan, dia menahannya sampai Sumi tak dapat melakukan apapun.
"Valter aku mohon. Jika kamu malu membawa aku dengan keadaan sekarang, aku tidak akan ikut kemanapun, aku hanya akan diam di rumah saja." Wanita itu tampak memohon.
__ADS_1
Valter tidak mendengar. Dia membuka seatbelt, meraih pergelangan tangan Sumi, lalu menariknya sampai benar-benar keluar dari dalam mobil sana.
"Kamu selalu salah mengerti. Maksudku itu bukan sedang merendahkan penampilan kamu sekarang, aku menyukaimu bagaimana pun keadaannya, hanya saja kalau bisa berpenampilan lebih cantik, kenapa tidak?" Pria itu terdengar sedikit menggerutu.
Valter terus berjalan sampai keduanya benar-benar masuk kedalam Beauty Studio.
"Please, … make my wife beautiful!" Valter meminta kepada beberapa staf ahli yang berjaga.
"Valter!" Cicit Sumi.
"Ah dia ini sangat keras kepala. Jadi paksa saja dia, tolong, berikan perawatan wajah dan rambut yang terbaik." Valter berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logatnya.
"Baik Tuan. Terlebih dulu silahkan isi formulir dengan data lengkap." Seorang wanita berpenampilan cantik dan rapih menjelaskan.
Valter mengangguk, kemudian meraih bolpoin dan kertas yang mereka berikan. Sementara Sumi sudah dibawa ke arah dalam untuk segera melakukan pemeriksaan.
***
Sudah hampir satu jam Valter menunggu. Beberapa kali dia memeriksakan setiap kali ada pintu ruangan yang terbuka, namun Sumi tampaknya belum menyelesaikan kegiatannya di dalam sana.
Valter meraih air mineral kemasan botol, setelah tadi selesai menghabiskan satu gelas kopi hitam dan kentang goreng di cafetaria yang memang sudah disediakan disana. Bahkan beberapa para suami tampak menunggu sama halnya seperti Valter saat ini.
Setelah itu salah satu pintu terdengar di buka lagi. Dan muncullah Sumi dengan keadaan yang begitu pangling. Rambut yang selalu di Cepol kini dibiarkan terurai, ditata sedemikian rupa sampai terlihat sedikit bervolume, dan itu membuat Sumi benar-benar tampak berbeda.
Dan jangan lupakan dengan wajah yang terlihat lebih segar, dengan polesan make up tipis. Wanita itu berjalan menghampiri suaminya yang tengah sibuk menatap layar ponsel, memeriksakan harga tiket pesawat di salah satu aplikasi.
"Valter? Aku sudah selesai, ayo bayar!" Sumi menepuk pundak suaminya.
Valter segera menoleh, menengadahkan pandangan, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Sumi dengan tampilan yang sangat berbeda.
"Heh! Cepat bayar total biayanya, mereka sudah mengubahku secantik ini, jadi cepatlah jangan membuat malu." Sumi mendorong bahu pria itu.
"Apa ini? Apa tidak ada kata terima kasih kepadaku?" Valter segera berdiri.
"Terima Kasih. Baiklah, tepat bayar agar kita segera menyelesaikan setiap urusan."
Sumi meraih botol air mineral yang dia yakini milik Valter, membuka penutupnya, kemudian meminum air tersebut tanpa banyak berpikir.
Dia duduk bersandar pada sofa di belakangnya, menatap lurus ke arah depan, dimana sebuah kaca besar berada. Wanita itu mematung, Sumi kembali terpukau dengan dirinya sendiri.
"Ya, ternyata benar. Uang bisa merubah segalanya, termasuk penampilan seseorang." Sumi bergumam dengan perasaan sedikit haru.
Rasanya sedih ingin menangis. Karena dia tidak menyangka kehidupannya benar-benar dibuat jungkir balik.
Dulu pernah sangat bahagia dengan Valter Albert Baldomero. Luluh lantah sehancur-hancurnya dengan segala kenyataan yang harus Sumi terima. Lalu kali ini, hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat, tiba-tiba saja dia dapat melakukan segalanya dengan bantuan Valter.
"Sekarang aku benar-benar percaya, bahwa badai itu akan benar-benar berlaku. Langit tidak akan selamanya mendung, tapi ada kalanya cahaya matahari muncul, bersamaan dengan pelangi yang ikut membentang." Gumam Sumi lagi.
"Oke thank you."
Ucap Valter saat menerima kartunya kembali, dia berbalik badan, memasukan kartu tadi ke dalam dompetnya, lalu berjalan mendekati Sumi yang tampak melamun.
"Laras? You okay?"
"Huh!?"
"Kamu baik-baik saja? Kenapa melamun seperti itu? Kau merindukan Ayumi?"
Sumi menggelengkan kepalanya, dia bangkit.
"Sebaiknya ayo kita pergi, aku lapar belum sarapan pagi ini. Kamu tega sekali! Aku baru selesai mandi, lalu membawaku ke tempat lain sebelum memberikan makan terlebih dahulu kepadaku."
Valter terkekeh mendengar itu.
Langkah kakinya mengikuti Sumi dari arah belakang, ketika perempuan itu berjalan mendekati dimana mobil sewaan Valter terparkir.
"Mau makan apa kita?"
"Entah, … aku bisa makan apa saja, tapi kamu. Bukankah kamu belum bisa menyesuaikan diri dengan makanan disini? Jadi terserah saja, terlebih dulu carilah makananmu, lalu aku akan mengikutinya." Jawab Sumi.
"McDonald's?" Valter berujar.
"Kamu mau makan itu?"
"Ya, sepertinya aku akan memesan burger. Apa ada masalah jika aku membawa kamu pergi kesana?" Pria itu bertanya.
Sumi tersenyum, lalu menggelengkan kepala.
"Aku bisa makan apa saja. Jangankan makanan itu, hanya singkong bakar saja aku makan."
__ADS_1
Mereka berhenti tepat di dekat pintu, kemudian keduanya segera masuk ke dalam mobil tersebut.