My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 50 (Variety of flavors)


__ADS_3

"Akhirnya kalian datang!" Maria menyambut kedatangan anak juga calon menantunya.


Ayumi tersenyum, mencium punggung tangan Maria, lalu memeluknya erat.


"Ibu sehat?" Tanya Ayumi saat dia kembali memberi jarak, dia menatap wajah berseri itu dengan perasaan bahagia.


Tentu saja, dia mendapatkan kasih sayang yang sangat luar biasa.


Maria mengangguk.


"Sehat. Kamu bagaimana? baik-baik saja?" Wanita itu mengusap-usap pundak Ayumi.


"Baik, Bu."


"Yasudah, ayok kita masuk! Ibu sudah masak tadi, kamu pasti suka."


Dua perempuan berbeda usia itu melenggang masuk kedalam rumah. Sementara Randy mereka tinggal begitu saja.


"Hhhh, ... ini lebih baik dari pada harus membahas permen orang dewasa yang tak ada hentinya." Gumam Randy sambil berjalan masuk.


Randy meletakan kantung belanjaan di atas meja, kemudian duduk dan menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa besar ruang tengah.


Ayumi dan Maria menoleh, menatap kearah Randy berada saat ini.


"Kenapa? kamu pusing?" Tanya Maria saat melihat Randy memejamkan mata, juga memijat pelipisnya perlahan.


Pria itu menggelengkan kepala.


"Lalu kenapa? kemarilah kita makan." Ajaknya lagi.


"Abang ngambek sama Ayumi, Bu!" Ayumi mengadu.


Maria menoleh, dan menatap wajah Ayumi lekat-lekat.


"Kalian bertengkar?"


Ayumi menjawab dengan anggukan.


"Kenapa?" Maria terlihat penasaran.


"Ah sudahlah! jangan bahas lagi." Sergah Randy dengan posisi yang tak berubah sama sekali.


Ayumi diam.


"Kenapa bertengkar? biasanya ..."


"Abangnya pelit, sama banyak alasan. Padahal aku cuma minta di beliin permen, kayanya varian baru. Aku mau coba, tapi Abang bilang nggak boleh soalnya itu permen orang dewasa." Jelas Ayumi.


Wanita paruh baya diam mendengarkan.


"Bulan depan aku dua puluh tahun, Bu! masa belum dewasa. Harusnya sudah kan, Bu!?"


Maria terlihat kebingungan, bahkan sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Ya, ... kamu sudah dewasa." Jawab Maria.


"Tuh kan!" Gadis itu menatap kearah kekasihnya. "Aku sudah dewasa, Abang terlalu membandingkan, aku baru mau dua puluh tahun, sementara Abang sudah tiga puluh tahun." Ayumi bersungut-sungut.


Seketika Randy membuka mata, lalu menegakan duduk, dan menatap Ayumi dengan raut wajah frustasinya.


"Ay!" Tegas Randy.


"Randy. Apa hanya karena sebuah permen kalian harus berdebat seperti ini? berapa harganya? apa itu sangat membuat mu kesulitan, dan merasa rugi?"


Pria itu menyapu wajahnya, lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Sudah aku bilang jangan bahas lagi! aku tidak tahu cara memperjelas ini, ... dan sekarang kamu mengadu kepada Ibu, Ayumi!"


"Nggak ngadu, cuma bilang."


"Eh sudah-sudah!" Maria berusaha menengahi. "Ayok kita pergi ke minimarket di depan, ... kita beli apa yang kamu mau."


"Jangan!" Randy berdiri.


"Dari pada kalian ribut dan terus berdebat." Kata Maria.

__ADS_1


Dia hendak meraih tangan Ayumi. Namun langkah cepat Randy membuat Maria mengurungkan niatnya.


"Kamu aneh." Cicit sang ibu.


"Astaga harus bagaimana aku menyebutnya." Cicit Randy dengan suara pelan.


"Memangnya permen apa? kenapa kamu terlihat sangat tertekan?"


Maria terlihat semakin heran. Saat menangkap gelagat aneh dari anak laki-lakinya.


Randy menghela nafas.


"Itu bukan permen, Bu!" Randy merendahkan suaranya.


"Ih, ... kata Mbak kasirnya permen." Ayumi tak mau kalah.


"Itu bukan permen Ayumi!"


"Permen Abang."


"Bukan!"


"Ya ampun, ... Ibu merasa punya dua anak yang sedang bertengkar sekarang." Maria berteriak.


"Abang yang mulai. Katanya aku bikin pusing!"


"Iya memang, saya pusing dengan sikap mu yang selugu ini."


Maria memejamkan mata.


"Satu-satu, agar Ibu bisa tahu masalahnya bagaimana."


Randy dan Ayumi diam. Dan keadaan pun menjadi hening.


"Kamu mau permen? yasudah ayok kita beli, tapi yang lain." Randy mulai melembut.


"Nggak mau! yang lain sudah coba."


"Yang tadi bukan permen Ayumi!"


"Ish, ... kata Mbak kasirnya per ..."


Ayumi tersentak, gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Begitu pun Maria, yang seketika membuka mulutnya lebar, dan langsung menutup dengan telapak tangannya.


Randy membawa ponsel miliknya, mengetik sesuatu dan memberikan benda itu kepada Ayumi setelah dia menemukan gambar beserta penjelasannya di dalam sebuah situs internet.


"Ini maksud mu!"


Maria mendekat, melihat kearah layar ponsel.


Hening.


Wanita itu langsung menatap Ayumi, mengulum bibir dan menahan tawanya yang hampir saja menyembur.


"Ibu tahu kenapa aku pusing? ini penyebabnya!" Tukas Randy. "Astaga kenapa dia polos sekali, ... Tuhan!" Dia mengusak rambutnya kencang.


Sepertinya Randy sudah benar-benar frustasi.


"Ngg, ... aku salah ya?" Dengan lugunya dia masih bertanya seperti itu.


Bahkan raut wajah Ayumi yang malu-malu terlihat semakin menggemaskan.


Rasanya aku ingin menghabisi gadis itu sekarang sekarang!


Randy membatin.


Maria tertawa kencang, bahkan saking kencangnya sampai menggema memenuhi ruangan itu.


Rabdy meraih ponsel miliknya. Dan memasukan kembali kedalam saku celana.


"Minggu depan tidak ada pertemua keluarga kedua. Kita langsung nikah, semuanya akan aku urus besok!" Ucapnya penuh penekanan, juga ekspresi wajah yang terlihat sangat serius.


Setelah mengatakan itu Randy segera beranjak, pergi kearah taman belakang rumah . Sementara dua wanita berbeda usia saling diam, menatap satu sama lain dengan pikiran masing-masing.


***

__ADS_1


Malam beranjak semakin larut, tapi Ayumi masih berada di dalam rumah besar sana, membantu Maria merapihkan meja makan, beberapa saat setelah mereka menyelesaikan acara makan malam.


Sementara Randy, pria itu tengah asik duduk di kursi taman belakang, dengan satu batang rokok yang terlihat masih mengepulkan asap.


"Sudah, piring kotornya biar Ibu saja!"


"Ini banyak." Ayumi hampir meraih alat cuci piring.


Namun Maria menghentikan tangannya.


"Susul Randy, temani dia di taman belakang, nanti Ibu kesana juga." Maria tersenyum.


Gadis itu diam.


"Cepatlah, dia menunggu mu."


Ayumi pun mengangguk, dia beranjak pergi, berjalan kearah pintu belakang yang terbuka sangat lebar.


Dan di sanalah Randy, duduk menatap ponsel, sembari menyesap rokok, dan menghembuskan asapnya di udara.


"Abang?" Ayumi berjalan mendekat.


Randy menoleh kearah Ayumi, mengibas-ngibaskan tangannya di udara, berusaha menghilangkan sisa asap, dan mematikan benda tersebut.


"Jangan mendekat dulu!" Tangan Randy terulur, seolah memberi isyarat jika dia belum mengizinkan Ayumi untuk duduk di dekatnya.


"Ini nggak ngaruh, kalau Abang masih meroko, asap itu masih tinggal di baju Abang, dan aku masih bisa menghirupnya." Jelas Ayumi.


"Tidak separah jika asapnya langsung kamu hirup." Ujar Randy tak mau kalah.


Dia menepuk kursi kosong di sampingnya.


"Kemarilah."


Ayumi maju beberapa langkah, lalu duduk di samping Randy, dan tangan kekar itu langsung menarik pinggang Ayumi, sampai mereka tak berjarak sedikit pun.


"Eh, ... ada Ibu!" Ayumi melihat kearah dalam, dan berusaha melepaskan tangan Randy.


"Ini lebih baik, dari pada rengekan mu tadi sore, yang meminta permen, ... orang dewasa!" Randy berbisik.


Plak!


Ayumi menampar pipi kekasihnya kencang.


"Ahh, ... sakit Ay!" Teriak Randy, seraya memegangi pipinya yang terasa panas, dan meninggalkan bekas kemerahan.


"Ish aku malu! jangan di ingetin lagi." Dia merengek pelan.


Keduanya terkikik geli.


"Kamu mau? nanti aku belikan yang banyak." Pria itu terus tertawa.


"Jangan!" Rengek Ayumi.


"Kenapa? tadi kamu ngotot mau beli?" Randy dengan suara rendah.


Lagi-lagi Ayumi tertawa. Dia benar-benar merutuki tingkah konyolnya, bagaimana bisa dia terus meminta sesuatu yang menurutnya itu sangat menarik, bahkan tanpa mengetahui isi produk tersebut.


"Mau rasa apa?" Randy terus menggoda.


"Ahhh, ... aku nggak mau!" Ayumi menutup kedua telinganya sambil terus tertawa.


"Hey aku tanya!" Randy menarik tangan Ayumi agar menjauh dari daun telinganya.


"Abang jangan mulai."


"Nggak, cuma tanya mau rasa apa? nanti aku belikan yang banyak."


"Memangnya ada rasa apa saja." Ayumi menjawab.


"Entah, nanti aku cari tahu dulu."


Sepasang kekasih itu terus tertawa, meneruskan kekonyolan yang terjadi pada hari ini.


Sementara Maria hanya berdiri di ambang pintu, tersenyum, dan menatap interaksi keduanya dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata.

__ADS_1


......................


Selamat malam Minggu, jangan lupa kirim hadiah banyak-banyak :)


__ADS_2