
Randy memasuki rumahnya pada hampir petang, membawa beberapa kantung kresek berisikan berbagai macam makanan untuk Ayumi yang sudah tiga hari tinggal bersama dirinya.
Pandangan pria itu menegedar, saat suasana rumahnnya terasa begitu sepi bak tak berpenghuni.
"Ay?" Panggil Randy.
Dia meletakan barang belanjaannya di atas meja ruang tengah, kemudian berjalan kearah salah satu pintu ruangan yang Ayumi tempati.
"Ay?" Randy kembali memanggil, sedikit mengintip kearah dalam saat ia mendapati pintu tersebut tidak tertutup dengan rapat.
Perlahan Randy mendorong pintu kamar itu, menyembulkan kepala agar bisa melihat kearah dalam dengan sangat jelas.
Dan disanalah kekasihnya, tertidur di dalam ruangan temaram, dengan posisi meringkuk, memeluk lutut dengan sangat erat.
"Astaga! kau tertidur?"
Dia segera masuk, berjalan kearah ujung ruangan, menutup jendela dan gorden, terakhir menyalakan lampu, hingga kamar itu menjadi terang benderang.
Tubuh Ayumi bergerak-gerak, dan kembali terlelap setelah mengubah posisi tidurnya.
Melihat itu Randy hanya tersenyum, sambil terus berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, agar bisa menatap wajah Ayumi dari jarak yang sangat dekat.
Seketika senyumnya memudar, saat dia mendapati keadaan Ayumi yang terlihat tidak baik-baik saja. Wajah sembab, dengan hidung yang sangat memerah, belum lagi sisa air mata yang sangat jelas terlihat di bantal sana.
"Kamu menangis lagi!?" Pekik Randy.
Tangannya terulur, lalu menyentuh wajah, dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantiknya.
Randy menhela nafasnya kasar.
"Kapan wajah ceria mu akan kembali aku lihat? kapan senyum indah itu akan terukir? sungguh aku sangat merindukannya, Ayumi!"
Tubuh Ayumi menggeliat, di susul erangan pelan seraya mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri saat cahaya lampu membuat matanya sedikit merasa silau.
"Abang!" Dia tersentak.
Sontak Ayumi bangun, dan duduk tegap di hadapan Randy.
Pria itu tersenyum, tapi matanya tampak sendu, seperti tengah memikirkan banyak hal.
Tentu saja dia khawatir dengan keadaannya.
"Kapan pulang?" Ayumi melihat kearah jam dinding.
Randy tidak menjawab, dia justru meraih tangan Ayumi, menariknya sampai gadis itu mendekat, dan berada di dalam pelukan hangatnya.
"Kamu menangis lagi?" Randy dengan suara pelannya.
"Hemm!?" Ayumi sedikit memberi jarak, lalu menengadahkan pandangan, menatap wajah Randy dengan mata yang tampak sedikit memerah dan berkaca-kaca.
"Kamu menangis lagi? sampai tertidur seperti tadi?" Randy menatap wajah lugu kekasihnya.
Ayumi diam.
"Aku jadi bingung sekarang, harus bagaimana cara mengembalikan senyuman mu."
"Emm, ... aku hanya butuh waktu!" Ayumi menjawab.
Randy mengulum senyum, dengan tatapan yang terus tertuju pada Ayumi.
"Kemana wajah ceria mu? senyum indah yang selalu aku kagumi? kumohon jangan terus seperti ini!" Ucapnya, lalu kembali menarik Ayumi, dan memeluknya dengan sangat erat.
Beberapa kali Randy mencium kening Ayumi, serta mengusap punggung gadis itu dengan penuh kelembutan.
"Sampai kapan mau seperti ini? sudah tiga hari dan kamu masih berantakan seperti sekarang! bahkan Ibu terus menanyakan kabar mu, dia merindukan mu, ... tapi tidak memiliki keberanian untuk datang kesini." Jelas Randy.
Ayumi menghela nafas.
Perasaannya tidak menentu, bahkan hatinya terasa di remas-remas, hingga menimbulkan rasa sesak, setiap kali dia mengingat ucapan Alvaro.
"Ayok kita hadapi bersama, apapun kenyataannya."
Randy mengurai pelukannya, mendorong kedua bahu Ayumi, sampai keduanya dapat saling beradu pandang kembali.
"Ayok kita hadapi bersama." Randy mengulangi ucapannya.
Ayumi menatapnya dalam diam.
Dia segera meraih kedua tangan Ayumi, lalu merematnya penuh perasaan.
__ADS_1
"Ayok kita selesaikan semuanya sekarang, ... lalu kita menikah, dan izinkan aku membahagiakan mu sekarang sampai kita tua nanti." Suaranya terdengar sangat lembut.
"Tapi bagaimana?"
"Apanya? sekarang kita hanya perlu berbesar hati mendengarkan kenyataannya. Dan setelah itu ayok kita melangkah menuju sebuah kehidupan yang lebih baik."
"Tapi ...."
Randy menggelengkan kepalanya, seraya mengencangkan genggaman tangannya pada Ayumi.
"Mereka sudah memberi waktu tiga hari. Jadi ayok kita hadapi, kasian kedua orang tua mu, menanti dengan cemas keadaan mu yang terus terpuruk seperti ini."
Mata Ayumi bergerak-gerak, menatap wajah tampan penuh permohonan di hadapannya.
"Tidak maukah kamu melangkah bersama ku? menciptakan sebuah kebahagiaan baru bersama ku? bersama keluarga kecil kita kelak?"
Ucapan yang terdengar begitu lembut, di utarakan dengan kata-kata sederhana. Namun mampu membuat hati Ayumi menghangat, dan seperti mempunyai semangat untuk terus berjalan kedepan, sama seperti sebelum dia mengetahui siapa dia diantara Amar, dan kedua orang tuanya.
"Maukah?" Randy kembali bertanya.
Dan dengan penuh kesadaran Ayumi menganggukan kepala.
"Aku mau." Balas Ayumi sedang seulas senyum tipis di bibirnya.
"Nah begitu!" Randy mengusap pipi Ayumi, lalu menyentuh bibirnya, sambil terus tersenyum dan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.
"Ini yang aku rindukan, ... senyum indah mu!" Ujar Randy.
Pria itu segera menarik Ayumi kedalam pelukannya.
"Aku mencintai mu, maka berhentilah bersedih, karena dunia ku terasa sangat hancur." Bisik Randy tepat di daun telinga Ayumi.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Sudah siap bertemu orang tua mu malam ini?"
Ayumi mengangguk pelan.
"Aku rindu Ibu."
"Baiklah. Ayok makan, aku membeli beberapa makanan tadi sebelum pulang, setelah itu kita bersiap, dan pergi kerumah Om Al!"
"Iya."
***
Tutih berdiri di ambang pintu, dengan perasaan berdebar saat sebuah mobil memasuki garasi rumah Alvaro. Tempat yang sudah berhari-hari dia singgahi bersama sang suami.
Dia tersenyum, dengan air mata yang mulai bercucuran, saat melihat putri kesayangannya keluar dari dalam mobil sana.
Keadaan Ayumi tidak terlihat baik seperti biasanya. Tentu saja dia mengetahui rahasia terbesar di dalam hidupnya, dan mungkin menjadi sebuah pukulan paling menyakitkan.
Langkah Ayumi terhenti. Seketika Ibu dan Anak itu saling menatap satu sama lain, dengan rasa rindu yang terasa membludak di dalam hatinya.
"Ibu?" Suara Ayumi bergetar.
Tutih tersenyum, dia melangkah maju perlahan, lalu merentangkan kedua tangannya, bersiap menerima gadis itu jika menghambur kedalam pelukannya.
Dan benar saja, Ayumi segera berlari setelah itu, menghambur kedala pelukan wanita yang sangat dia kasihi di dunia ini.
"Maaf." Ucapnya dengan tangisan kencang.
"Tidak usah meminta maaf." Tutih pun menangis.
Tidak lama setelah itu Ali menyusul, dan ikut memeluk dua perempuan berbeda usia itu.
Sementara beberapa orang disana hanya terdiam, menyaksikan pemandangan yang sangat mengharukan pada malam hari ini.
"Sebaiknya kita segera masuk kedalam, angin di luar sangat dingin, dan tidak baik untuk Ayumi." Sisil menginterupsi di ambang pintu.
***
"Di minum dulu, teh hangatnya!" Alvaro menatap Randy yang sedari tadi terus terdiam, sejak pria itu masuk bersama Ayumi juga orang tuanya.
"Oh iya, Om." Randy mengangguk, dia segera meraih cangkir di hadapannya, lalu meminunya perlahan.
"Biarkan mereka saling berbicara dari hati ke hati." Dia menatap kearah pintu pintu kamar dimana Ayumi juga kedua orang tuanya berada.
Randy tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Ayumi?" Kini Sisil membuka suara.
"Dia menangis setiap hari, bahkan Ayumi selalu membuat pikiran saya buyar, tidak fokus bekerja, karena terus khawatir dengan keadaannya."
Sisil menyimak, sembari mengangguk-anggukan kepala.
"Saya dengar dari suami saya, ... dia tinggal bersama mu selama tiga hari ini?"
"Iya, Tante." Randy mengangguk.
"Ahh, ... sebaiknya niat kalian segera di percepat, Ayumi terlihat sangat nyaman saat dia berada bersama mu." Sisil menatap kearah suaminya.
Alvaro terkekeh pelan.
"Memangnya mau bagaimana lagi? Randy ini calon suaminya, ya tentu saja Ayumi pasti merasa nyaman."
"Ya kamu benar."
Klek!!
Suara pintu terbuka, dan munculah Ali, di susul Tutih juga Ayumi di belakangnya.
"Bagaiaman? sudah selesai melepas rindunya?" Sisil tersenyum kearah Ayumi.
"Sudah Tante." Jawab Ayumi dengan suara seraknya.
Mereka segera duduk. Tutih bersama Ali, sementara Ayumi duduk di samping Randy.
Pria tampan yang tampak mempesona dengan pakaian santainya. Celana jeans hitam yang robek di bagian lutut, juga kaos hitam ketat yang memperlihatkan betapa besar otot-otot yang terbentu di dalam tubuhnya.
"Sudah tahu sekarang?" Alvaro mulai bertanya.
Ayumi mengangguk.
"Masih mau marah?"
"Tidak." Tegas Ayumi.
"Tentu tidak boleh, mereka sudah menyayangi mu dengan cinta yang sangat besar."
"Iya Om."
"Jadi, ... mau tahu siapa orang tua kandung mu?" Alavro menatap Ayumi lekat-lekat.
Ayumi langsung menggelengkan kepala.
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau bertemu dengan seseorang yang bahkan tidak menginginkan keberadaan ku di hidupnya." Penjelasan itu membuat Alvaro bungkam.
"Ay!" Randy menyentuh punggung tangan Ayumi.
"Tidak, aku hanya memiliki satu orang tua. Yaitu Bapak dan Ibu, tidak ada lagi."
Randy menghelas nafas.
"Tidak apa-apa jika tidak mau, toh mereka juga tidak mencari mu." Jelas Alvaro.
"Benarkah? memangnya kamu sudah tahu?" Sisil tampak penasaran.
"Memangnya apa yang aku tidak tahu?" Kata Alvaro berbangga diri.
Sisil mendelik, kelakuan suaminya yang sedikit tinggi hati membuat perempuan itu terkadang merasa gemas.
"Jadi bagaimana?" Ali menatap Randy.
"Apanya?" Ayumi menjawab.
"Hubungan kalian berdua?"
"Saya ingin secepatnya, ... tapi kembali lagi kepada Ayumi." Tukas Randy.
"A-aku ... aku ..."
"Niat baik tidak boleh di tahan lebih lama lagi." Sisil memotong ucapan Ayumi.
"Ya, ... tapi banyak yang harus kita bicarakan dulu, termasuk kepada Ibunya Abang." Jelas Ayumi.
__ADS_1
"Hemmm, ... baiklah! kalian bicarakan dulu dengan orang tua masing-masing, jika ada apa-apa atau butuh bantuan, segera hubungi saya." Alvaro menawarkan diri.
Randy dan Ayumi mengangguk. Dan setelah itu mereka kembali berbincang-bincang, membicarakan banyak hal, termasuk pernikahan Ayumi dan Randy, yang mungkin sudah sangat mendekati waktu istimewanya itu.