
Mobil milik Randy kembali menepi, berhenti tepat di depan gerbang kawasan kost yang Ayumi tempati sudah cukup lama, membuat beberapa pasang mata kembali tertuju pada mobil mewah yang akhir-akhir ini sering menyambangi tempat dimana mereka tinggal saat ini.
Sosok gadis cantik mulai turun, di susul kekasihnya seperti biasanya. Dan mereka tampak berjalan kearah belakang mobil.
"Itu Ayumi?" Beberapa orang yang sedang duduk di warung depan milik Amelia saling menatap satu sama lain.
Tidak ada yang aneh dari Ayumi, dia tampil biasa dengan kaos kedodoraannya yang selalu di padukan dengan celana legging hitam panjang. Namun yang membuatnya pangling sore hari ini adalah, rambut panjangnya yang di kepang dua.
Dan itu membuat Ayumi terlihat seperti orang asing, hidung yang mancung, juga kulit yang putih, belum lagi pria yang terus berada di dekatnya, membuat dia benar-benar tidak bisa di kenali.
"Kaya bule!" Celetuk Bu Amel.
Ke empat perempuan yang sedari tadi memperhatikan Ayumi menatap kearah suara berada.
"Nyatanya, nggak semua gadis yang keliatannya polos itu bener-bener murni yah! apalagi ini Jakarta, ... kota besar, nggak mungkin kalo dia nggak kebawa arus." Ucap salah satu dari kumpulan perempuan itu.
"Yailah, hidup disini itu keras. Kalo nggak ada backingan, ... ya mana bisa bertahan, apalagi ngandelin gaji doang, office girl pula." Salah seorang menimpali.
Mereka tertawa. Namun berhenti ketika Ayumi berjalan melewati kerumunan itu.
Gadis itu tampak tak peduli.
"Pulang Neng?" Amel menyapa Ayumi.
"Iya Bu." Ayumi menganggukan kepala, lalu tersenyum ramah seperti biasa.
Ayumi berlalu begitu saja, sedikit banyak dia mendengar ucapan keempat perempuan itu, tapi dia berusaha tidak memperlihatkan rasa ketidak sukaannya, toh apa yang mereka katakan itu tidak benar adanya, untuk apa juga dia membuat itu semakin rumit.
Begitupun dengan Randy, dia sama sekali tak ingin menyapa siapapun, meski dia berjalan di hadapan para perempuan dengan pakaian yang sedikit terbuka.
Celana super mini, juga atasan tangtop yang mampu memperlihatkan beberapa tato yang salah satu dari mereka miliki.
"Jangan terlalu di pikirkan, anggap saja mereka hanya Anj*Ng yang sedang menggonggong." Randy meletakan tas ransel milik Ayumi setelah mereka sampai di depan kamar kost itu.
Ayumi tak menjawab, dia hanya sibuk memutar kunci, dan membuka pintu setelahnya.
Klek!!
Dia berjalan masuk, dan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur kecil saat rasa lelah tiba-tiba menyerang.
"Kamu pasti sedang memikirkan perkataan mereka!" Tukas Randy, kemudian dia masuk dan meletakan tas ransel milik Ayumi di dekat pintu masuk.
"Nggak. Aku cuma cape!" Dia mengelak.
Walau sebenarnya Ayumi tersinggung dengan ucapan orang-orang tadi.
"Oh ya?" Randy segera duduk di samping Ayumi.
Pria itu memegangi kakinya, dan memberi pijatan lembut.
__ADS_1
"Abang nggak pulang?"
"Nanti pulang, setelah kamu ..."
"Aku baik-baik saja! beneran deh, ngapain juga mikirin omongan mereka, toh mereka juga nggak lebih baik dari aku! jadi biarkan saja." Sergah Ayumi.
Mendengar itu Randy hanya tersenyum. Bisa sekali Ayumi mengelak, tapi sangat jelas terlihat dia begitu tersinggung dengan ucapan para perempuan tadi, dan bagusnya Ayumi lebih memilih diam dari pada harus beradu argumen, yang mungkin saja urusan itu akan semakin berbuntut panjang.
Lalu pria itu tertawa pelan, yang seketika membuat Ayumi kembali mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Tidak di pikirkan, tapi kenapa nada bicaranya menjadi ketus seperti ini?" Sindir Randy.
"Abang pulang gih, pasti cape." Cicit Ayumi sambil mendorong lengan kekasihnya.
Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kamu ngusir saya?" Randy terus terkekeh.
"Iya, soalnya akhir-akhir ini Abang sering banget hilang sinyal, jadi agak ..." Ayumi menggantung kata-katanya, dan dia tersenyum, saat satu ingatan melintas di dalam ingatan.
Astaga bisa-bisanya kita tidur bersama, dan aku sangat beruntung dia tidak melakukan hal yang lebih.
Wajah Ayumi memerah.
Randy yang menyadari itu semakin merasa gemas, dia segera meraih pipi Ayumi dan mencubitnya cukup kencang.
"Awwhhh!" Pekik Ayumi kencang.
"Kamu mikirin hal yang aneh yah!?" Tunjuknya seraya memincingkan mata.
"Enggak!" Sergah Ayumi.
Mata tajam dengan bulu mata lentik itu semakin mempertajam tatapannya.
"Kau berbohong. Ayok katakan, ... apa yang saat ini ada di pikiran mu? jadi disini yang gaco nggak cuma aku yah!"
Ayumi diam.
"Hayo ngaku!"
"Ish, ... sana pulang!"
Dia bangkit, lalu menarik tangan Randy, dan berusaha membawanya kearah luar. Ayumi berhasil, meski sangat sulit akhirnya pria tampan itu kini keluar dari dalam kamar miliknya.
"Kamu ini jahat sekali." Katanya dengan bibir yang terus tersenyum.
"Abang harus istirahat, besok kan sudah mulai kerja lagi, aku juga sama. Pasti banyak pekerjaan setelah ini, entah lap-lap meja lah, kaca lah atau beresin ruangan Bu Balqis."
Randy menatap wajah cantik itu dengan hati yang terus berdebar.
__ADS_1
Ini aneh. Bukankah harusnya perasaan itu mulai biasa saja, karena kini mereka sering menghabiskan waktu bersama? Namun itu tidak berlaku, perasaannya kini semakin bertambah, bahkan debarannya semakin kencang setiap kali dia menatap wajah cantik itu dalam waktu yang cukup lama.
"Cantik." Tanpa sadar dia mengatakan itu.
Ayumi yang sedari tadi terus mengoceh dan meminta Randy pulang pun berhenti.
"Astaga!" Dia menghembuskan nafas pelan saat tersadar.
"Ayok ikut." Randy hendak meraih tangan Ayumi, tapi gadis itu menariknya.
"Ayoklah!" Ayumi mulai frustasi. "Kita sudah melakukan banyak kegilaan, ... jangan lagi! atau kita akan sama-sama lupa diri." Sambunga lagi, lalu mundur.
Randy mengulum senyum.
"Baiklah tidak apa-apa, tapi nanti sore atau malam datang kerumah yah!" Pinta Randy.
"Mau apa?"
"Kita pergi ke suatu tempat. Atau sebaiknya aku jemput?"
Dengan segera Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Lihat nanti, aku lelah. Takutnya ketiduran, terus bangunnya besok pagi."
Randy mendelik.
"Serius, tahu sendiri kalau aku tidur kaya gimana." Ayumi seolah meminta Randy untuk mengingat kejadian itu.
"Yah, ... kau benar. Bahkan tidur mu sangat membahayakan diri mu sendiri, bagaimana kalau yang tidur dengan mu itu bukan aku, tapi orang lain? dan apa jadinya kamu setelah itu."
"Mana mugkin aku membiarkan orang lain masuk."
Ucapan itu mampu membuat senyum Randy semakin merekah.
"Cepatlah! mereka terus menatap kearah kita." Titah Ayumi.
Akhirnya Randy pun mengangguk.
"Baiklah, selamat beristirahat. Aku pulang, seperti biasa! kalau ada sesuatu, hubungi aku segera, oke?"
"Iya." Ayumi mengangguk.
"Aku pulang." Pamit Randy.
"Hati-hati!" Ayumi melambaikan tangan kearah Randy yang mulai melangkahkan kaki.
Pria itu hanya menoleh, lalu tersenyum dan bergegas masuk kedalam mobilnya, tanpa ingin bertegur sapa dengan para perempuan yang terus berada disana.
Bahkan saat mereka tersenyum pun, Randy tidak tertarik membalas senyuman penuh godaan itu.
__ADS_1
......................
Maaf baru bisa up ya guys ya🤠Jangan lupa seperti biasa, kopi mawar nya👄