
Randy meraih satu piring berukuran besar, kemudian membawa beberapa Udang, dan Cumi bakar untuk dia makan bersama Ayumi yang saat ini tengah menunggu di salah satu kamar yang Santi tempati.
"Tidak makan disini saja?" Raga menatap Asistennya itu.
"Takutnya Ayumi tidak nyaman, dia tidak bisa banyak berbasa-basi dengan orang-orang baru, ... sepertinya tanpa harus saya jelaskan, Bu Balqis tahu akan hal ini." Dia beralih pada wanita yang saat ini berdiri di samping atasannya.
Balqis mengangguk, dengan mulut yang terus penuh dengan cumi bakar pedas kesukaannya.
"Dia sedikit introvert." Jelas Balqis.
Raga diam.
"Saya mau makan dulu, Pak. Jika ada apa-apa boleh telfon saja."
"Cih!" Raga mendelik. "Kita sedang berlibur, kau ingat? tidak mungkin juga aku terus membutuhkan bantuan mu." Cecar Raga kemudian.
Randy tersenyum, raut wajah kesal dari bosnya tentu menjadi hiburan tersendiri.
Pria itu terus berjalan, membawa satu piring penuh makanan yang akan dia berikan pada gadisnya, gadis kesayanganya.
Namun di tengah jalan, seseorang terdengar memanggil.
"Ya?" Randy menoleh, saat suara yang sangat dia kenali terdengar terus berteriak.
"Aku mau bicara." Pandangan Aleesa menengadah, menatap wajah pria tinggi itu dari jarak yang sangat dekat.
"Untuk apa?" Randy terheran-heran.
"Untuk keadaan aku. Keadaan kita setelah gadis itu kau bawa kesini."
Kening Randy menjengit, dia semakin tidak mengerti dengan wanita di hadapannya, apalagi tatapan itu semakin terlihat sendu, dan guratan kesedihan jelas di perlihatkannya.
Salah ku apa? pikir Randy.
"Kita tidak ada hubungan apa-apa Aleesa! lalu apa yang harus kita bicarakan. Kamu salah paham, kedekatan kita hanya sebatas teman kerja, tidak lebih." Raut wajahnya semakin terlihat datar.
Randy mulai paham.
Namun berbeda dengan Aleesa, perempuan itu justru terlihat berkaca-kaca dengan wajah yang mulai memerah.
"Pembohong!" Sentak Aleesa dengan suara rendahnya.
"Maksud mu?"
"Kau pernah mengatakan itu kepada ku. Kau tidak pernah ingin terikat dengan wanita mana pun, jika ingin kau hanya bisa melakukan sebuah kesenangan tanpa melibatkan perasaan. Lalu apa maksudnya ini? kenapa tiba-tiba kau muncul dengan gadis lugu itu, huh?!" Suara Aleesa mulai meninggi.
"Kau mempermainkan aku!" Lanjut Aleesa lebih keras lagi.
Emosinya meluap-luap, saat rasa kecewa kini terasa begitu sangat besar. Tidak ada reaksi apapun dari pria di hadapannya, bahkan Randy sama sekali tidak terbebani apalagi menyesal.
"Dasar pembohong!"
"Aku bukan pembohong. Yang pernah kamu dengar itu benar adanya. Hanya saja Ayumi mampu membuat aku menyadari semuanya, bahwa cinta itu ada. Dan terbukti dari dia yang mencintai aku, dengan sifat tempramen ku yang kadang-kadang tidak bisa aku kendalikan! kamu tahu Aleesa? aku rasa hanya dia yang akan kuat dengan sifat pemerah ku ini!"
Aleesa menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengusap kedua pipi yang sudah basah dengan air mata yang terus bercucuran.
"Kamu berbicara seolah aku akan pergi, jika sudah mengetahui sifat mu yang sesungguhnya." Ucap Aleesa lirih.
"Aku yakin begitu. Yang kamu tahu Randy versi lain, sementara Randy versi diriku tidak banyak yang tahu."
Aleesa terdiam, sambil terus menangis.
"Kamu jahat tahu nggak sih!" Aleesa terduduk lemas diatas pasir.
Dan menangis tersedu-sedu. Perasaannya benar-benar sudah hancur saat ini.
Dan itu tentu saja membuat Randy iba. Dia meletakan piring berisikan makanan untuk Ayumi diatas meja yang berada tidak jauh dari tempat dirinya berdiri saat ini, kemudian meraih tubuh itu, dan membawa kedalam pelukannya.
Sementara Ayumi, dia berdiri diambang pintu, menatap interaksi keduanya tanpa mereka sadari.
Teriakan kencang Aleesa jelas membuat gadis itu cukup terkejut sampai memutuskan untuk melihat kearah luar.
Ayumi mundur beberapa langkah, berbalik dan kembali masuk kedalam ruangan yang Santi tempati.
"Sudahlah, banyak hubungan yang bisa di jalin, tidak harus pacaran saja." Randy menepuk-nepuk punggung Aleesa.
Aleesa tidak menjawab, dia hanya terus menangis.
"Kamu membuat aku berharap. Dan setelah itu membuat aku jatuh, sejauh jatuhnya." Aleesa mulai tenang.
Randy mendorong kedua bahu Aleesa, lalu menarik kursi dan meminta perempuan itu untuk duduk.
"Apa setelah ini kita masih bisa berteman?" Aleesa kembali menengadahkan pandangan untuk menatap Randy yang terus berdiri di hadapannya.
Pria itu mengangguk.
"Tentu. Kita sudah menjadi teman sudah sejak lama."
"Kau benar." Aleesa terkekeh, sambil mengusap kedua pipinya.
Dia tertawa, tapi hatinya jelas masih belum bisa menerima kenyataan jika pria yang sangat dicintainya kini telah memilih perempuan lain.
"Sudah baikan?" Tanya Randy.
"Lumayan." Aleesa mengangguk.
Dia tersenyum tipis.
"Baik, ayok aku antar ke sana." Tawar Randy.
Aleesa mengangguk lagi, dia bangkit dan segera beranjak pergi, dengan Randy yang berjalan di belakangnya, meninggalkan piring berisi Udang dan Cumi bakar yang mulai dingin.
__ADS_1
***
"Bara tidur sama kamu?" Kata Ayumi setelah mengintip keadaan di luar.
Dan dua manusia itu sudah tidak ada.
"Tidak. Nanti Bu Balqis pasti membawa Bara tidur di kamar mereka."
"Begitu yah?"
Santi mengangguk.
Gadis yang terlihat lebih dewasa dari Ayumi itu terus sibuk mengusap-usap punggung Bara yang kini sudah terlelap.
"Kamu mau keluar? aku jagain Bara."
Santi menatap Ayumi lekat-lekat.
"Beneran? nggak apa-apa aku titip sebentar?"
"Iya."
Santi segera bangkit, lalu berjalan kearah pintu dan segera keluar.
Tidak lama perempuan itu pergi, dia segera kembali membawa satu piring makanan, juga dua botol air mineral dingin.
"Nggak makan disana?" Ayumi terkejut.
"Nggaklah, ngapain? nggak ada yang kenal juga."
Santi meletakan piring juga air minumnya diatas meja.
"Ay, ayok makan bareng-bareng." Ajak Santi.
Namun gadis itu menggelengkan kepala. Dia turun dari atas tempat tidur, dan berjalan mendekat untuk meraih botol air mineral tersebut.
"Aku balik ke kamar yah."
Dia segera pergi, tanpa menunggu jawaban dari Santi terlebih dulu.
"Ay? aku bawanya banyak lho!" Santi berteriak, berusaha membuat Ayumi kembali, tapi itu tidak berhasil.
Santi tertegun, menatap pintu ruangan yang terus terbuka, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
"Nggak disini, nggak di kantor. Kalo di suruh makan itu susah." Gumam Santi.
Dia menikmati makanan itu dengan riang, sampai suara ketukan pintu membuatnya berhenti.
"Eh, ... Pak Randy!" Santi terkejut.
"Ayumi, ... kemana?"
"Oh, baru saja dia kembali ke kamarnya. Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu."
***
Brughh!!
Ayumi menghempaskan tubuhnya keatas kasur besar yang terasa nyaman, setelah selesai membersihkan diri, sekembalinya dia dari kamar inap milik Santi. Matanya mulai ia pejamkan, dengan satu lengan yang sangaja dia simpan diatas kening.
"Haih, ... perasaan yang aneh!" Dia mengusap dadanya yang terasa sesak.
"Kan mereka memang sudah sedekat itu, ya wajar juga kalo Abang nenangin Bu Dokter kalo dia lagi sedih, ... kenapa juga harus begini rasanya! tidak nyaman." Katanya lagi, dengan posisi yang sama.
Ayumi kembali bangkit, meraih remot AC, dan segera menghidupkannya, sampai ruangan itu mulai terasa sejut.
Dia beralih pada tas ransel miliknya, mengeluarkan tas berukuran kecil, membawa minyak telon, dan mengolehkan hampir keseluruh tubuhnya.
Ayumi memang terbiasa dengan itu, entah kenapa memakai minyak telon sebelum tidur, membuatnya nyaman, dan selalu tertidur dengan sangat nyenyak setelahnya.
Tok tok tok!!
"Ay kamu sudah tidur?"
Suara yang sangat dia kenali terdengar memanggil.
Dia menoleh, tapi tidak berniat menjawabnya.
"Ay?!"
Ayumi masih diam, dia benar-benar kesal dengan kejadian yang dia lihat sebelumnya.
Segera Ayumi melangkah keatas tempat tidur, naik dan menenggelamkan diri di bawah selimut tebal.
"Ayumi? buka dulu! kamu belum tidur aku tahu. Bukannya tadi mau mengajak aku jalan-jalan?" Randy terus memanggil.
Ayumi meraih satu bantal yang tidak terpakai, lalu meletakannya diatas kepala.
Suara menjadi hening. Tidak ada lagi ketukan di pintu, juga Randy yang terus memanggil-manggil namanya, sampai Ayumi pun mulai merasa tenang dan berniat untuk tidur.
"Aih pergilah dari dalam otak ku! aku mau tidur tanpa harus memikirkan kejadian tadi!" Gumam Ayumi dengan nada kesal.
Saat ingatan itu terus berputar, dan kepalanya terasa berisik, seperti ada dua orang yang sedang berdebat.
Mereka itu berteman.
Tapi kenapa harus berpelukan?
Mereka bahkan sudah dekat sebelum Randy menjalin hubungan dengan mu!
Tapi setidaknya pria itu harus sedikit menjaga jarak, mengingat ada hati yang juga harus dia jaga.
__ADS_1
"Sumpah kalian ini berisik sekali ... Astaga!" Teriak Ayumi di bawah bantal sana.
Trek trek, ... klek!
Ayumi terkejut, dia langsung bangkit dengan pandangan yang langsung tertuju kearah pintu.
Keduanya saling memandang.
"Kau belum tidur? dan sengaja tidak membuka kan pintu untuk ku? sampai aku pergi untuk meminta kunci cadangan."
Randy masuk, lalu menutup pintu ruangan yang Ayumi tempati rapat-rapat.
"Maaf sedikit lama, aku menunggu Cumi dan Udang yang hangat. Jadi, ... ayok makan bersama."
Randy meletakan piring juga beberapa kotak susu full cream kesukaan Ayumi diatas meja.
Ayumi menghela nafasnya kasar, lalu kembali menghempaskan punggung kebelakang.
Dia berbaring terlentang, dengan mata tertutup dan dada yang terus bergemuruh.
Melihat itu Randy menjengit keheranan.
"Kamu sudah mengantuk? tidak mau pergi keluar?" Randy berjalan mendekat kearah ranjang tidur dimana Ayumi berada.
Kasurnya sedikit terguncang, saat Randy ikut naik dan menarik selimut yang mulai menutupi wajah Ayumi sampai terbuka.
Randy diam, dia mengendus bau yang sangat asing baginya.
"Kau memakai minyak telon? seperti Bara?" Randy terkekeh.
Ayumi terus bungkam, dia berusaha mati-matian menahan amarahnya.
"Kamu belum mengantuk aku tahu, dan kamu pura-pura tertidur saat ini."
"Ya, ... jadi pergilah agar aku tidak berpura-pura lagi. Sana! makanlah sendiri, jalan-jalan malamnya tidak jadi ... aku mau tidur." Jawab Ayumi ketus.
Kening Randy semakin berkerut kencang.
"Kau ini kenapa!?"
Randy kembali menyibakan selimut yang hampir Ayumi tarik untuk menyembunyikan kepalanya.
Mata Ayumi terbuka tiba-tiba, dia menatap Randy yang saat ini duduk disampingnya.
"Aku? kenapa? Abang masih bertanya?" Ayumi menunjuk dirinya sendiri.
Melihat sikap Ayumi yang tidak biasa, dia baru menyadari sesuatu.
"Sepertinya aku tahu kenapa kamu seperti ini."
Randy mulai membaringkan diri. Dia menghadap Ayumi, lalu tersenyum penuh arti.
"Pergilah, aku males sama Abang sekarang." Ayumi hendak mendorong tubuh besar penuh otot itu, tapi sayang, tidak ada pergerakan sama sekali.
"Katakanlah. Kamu melihat sesuatu bukan? ayok aku ingin mendengarnya." Randy terus menggoda dengan seringai khasnya.
"Pergi sana." Sentak Ayumi.
Namu bukannya pergi, Randy justru ikut masuk kedalam selimut yang sama.
"Ayok kita makan."
"Nggak mau, sana pergi aku males sama cowok yang bisa peluk cewek sana-sini!"
"Kamu cemburu?"
"Apa? cemburu?" Ayumi terkekeh kencang. "Yang benar saja aku cemburu, kamu sudah aku dapatkan, lalu apa yang membuat aku cemburu!" Elak Ayumi.
"Benarkah?" Suara itu terdengar rendah.
Dan hal yang tak terduga terjadi. Randy meraih pinggang Ayumi, dan menariknya sampai dia bisa memeluk gadis kesayangannya itu dengan leluasa.
Tubuh Ayumi menengang.
Apa yang akan terjadi setelah ini!
Ayumi membatin.
"Ayok makan, kamu pasti lapar. Mumpung Udang bakarnya masih hangat." Randy mengusap pipi Ayumi.
"Tidak mau! aku mau tidur saja." Jawab Ayumi, lalu dia berbalik badan memunggungi Randy.
Pria itu tersenyum, dia bahagia saat mengetahui Ayumi cemburu, sampai membuat perubahan sikap seperti ini.
Randy kembali meraih tubuh mungil itu, merangsek lebih mendekat, dan memeluknya dengan sangat erat.
"Baiklah, ayok kita tidur." Bisik Randy.
"Ish, ...."
"Diamlah, aku tahu kamu sedang marah. Jadi aku peluk, agar api amarah nya segera padam." Bisik Randy lagi.
Dan Ayumi pun diam.
Mereka berbaring diatas tempat tidur yang sama, di dalam selimut yang sama pula, dengan posisi Randy yang memeluk Ayumi erat.
Astaga simulasi menjadi suami istri.
Pikir Randy, dengan seulas senyum yang terus terlihat.
......................
__ADS_1
Haduh, mereka ngapain itu🙈