My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 83 (Pinjaman sebuah buku)


__ADS_3

"Apa sudah benar?" Ayumi mengangkat pandangannya, menatap pria tinggi yang saat ini berdiri dengan jarak yang sangat dekat, sembari memegangi ujung dasi yang baru saja Ayumi pakaikan.


"Benar, … itu kamu bisa." Randy tersenyum.


"Kan kamu ajarin barusan, kalau tidak ya nggak mungkin bisa." Ayumi tersenyum malu-malu.


Kemudian Ayumi meraih jas kerja yang sudah dia siapkan tadi, memakaikannya kepada sang suami, tak lupa merapikannya, dan terakhir dia mengusap dada, lalu menepuk pundaknya beberapa kali.


"Kamu sudah siap, kamu tampan." Ayumi dengan senyum manisnya seperti biasa.


Randy terkekeh mendengar itu, lalu menarik pangkal hidung Ayumi cukup kencang, sampai membuat perempuan itu meringis dan meninggalkan bekas kemerahan sesudahnya.


"Aku sudah mancung, tahu! Nggak usah di tarik-tarik lagi." Pekik Ayumi sambil mengusap-usap hidungnya.


Randy tersenyum, dia menunduk kemudian memiringkan kepala.


Cup!


Dia mencium hidung Ayumi.


Cup!


Dan berakhir di bibir istrinya, yang selalu terlihat lebih menggoda dan segar saat dia tak memakai polesan warna lipstik.


"Abang!" Ayumi mendorong dada suaminya kencang, sampai ciuman itu terlepas.


"Ay!"


"Nanti telat. Bukannya sekarang ada pertemuan penting? Menemani Pak Raga menyelesaikan pekerjaannya, terus mau mulai bersiap-siap untuk acara kita?"


Randy merapatkan bibirnya.


"Tapi aku masih rindu." Pria itu terdengar sedikit merengek.


"Nanti, yah! Udah pulang kerja sambungan lagi."


Randy menghela nafasnya, lalu kembali memeluk tubuh Ayumi.


"Berapa hari tamu bulanannya datang?" Randy berbisik.


Kening Ayumi mengkerut.


"Memangnya kenapa?"


"Jawab saja, berapa hari tamu itu akan datang, dan mengganggu kita seperti ini." Rengekan manja itu semakin jelas terdengar.


Ayumi tertawa. Dia merasa lucu dengan sikap suaminya saat ini, cenderung lebih manja daripada biasanya. Randy yang selalu bersikap acuh, tegas dan sedikit galak, kini berubah menjadi pria dewasa yang sangat manja.


"Dua hari lagi selesai, sayang. Hanya empat hari, dan aku yakin kamu masih bisa menahannya."


Mendengar itu Randy merasa semakin lemas.


"Cepatlah, berangkat kerja. Lalu segera atur waktu agar keluarga kita segera berkumpul."


Randy melepaskan pelukannya, menatap wajah Ayumi lekat-lekat, lalu tersenyum dan mencium diangkat bibir Ayumi untuk yang terakhir kalinya.


"Berangkat yah, jangan lupa nanti minum obatnya."


"Iya." Ayumi tersenyum.


Terlebih dulu Randy mengusap pipi istrinya, lalu meraih tas kerja, dan keluar dari dalam kamar itu, disusul Ayumi yang berjalan di belakangnya.


"Hari ini pulang jam berapa?" Ayumi berdiri di teras depan rumah mereka, menatap ke arah Randy yang kini terlihat membuka pintu mobil.


Pria itu menoleh, lalu tersenyum.

__ADS_1


"Berangkat juga belum, sudah tanya jam pulang." Dia terkekeh.


Sementara Ayumi menahan senyum dengan kedua pipi yang bersemu merah.


"Aku pergi yah!"


Ayumi mengangguk, dan melambaikan tangan.


"Hati-hati, jangan ngebut yah!" Teriaknya.


Senyum di bibir Randy tiba-tiba surut saat Ayumi mengatakan hal tersebut. Cuplikan kejadian itu kembali terlintas berputar-putar di dalam isi kepala dengan begitu jelas.


Randy masuk kedalam mobil sana, duduk di kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil. Dan mobil Lexus abu-abu itu mulai mundur, meninggalkan garasi rumahnya.


"Dah sayang." Ayumi kembali melambaikan tangan, mengantar kepergiannya dengan senyum dan raut wajah ceria.


Dia membalas lambaian tangan itu dengan menekan tombol klakson sebanyak dua kali, memutar setir mobilnya, lalu melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan komplek perumahan elit.


***


Klek!


Ayumi menutup pintu rumahnya rapat-rapat, lalu berjalan ke arah ruang tengah, untuk menyalakan televisi dan bermalas-malasan disana.


Brugh!


Ayumi menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, lalu memejamkan mata, saat dia merasa nyaman. Obat-obatan yang Dokter berikan membuat hati dan pikirannya merasa sangat lega, entah bagaimana Ayumi harus menyebutnya, namun rasanya seperti sudah melepaskan sesuatu yang sempat membelenggu dirinya selama bertahun-tahun.


Sumi muncul dari arah taman belakang, membawa sebuah keranjang besar berisikan pakaian yang tampak sudah terlipat dengan sangat rapih.


"Bibi sudah selesai?" Ayumi menegakkan tubuhnya.


"Sudah, tinggal masukin baju ke lemari saja."


"Boleh minta tolong untuk merapikan tempat tidur?"


***


"Kamarnya sudah selesai, Non mau sesuatu? Siapa tahu sudah laper lagi?" Sumi keluar dari dalam pintu kamarnya.


"Aku mau seblak, Bibi bisa bikin nggak? Yang pedes sama kencurnya yang banyak, tapi jangan pake kecap, aku nggak suka kecap."


Sumi mengangguk.


"Bisa, tapi sepertinya tidak ada bahan-bahannya. Harus beli dulu ke pasar, atau nungguin tukang sayur lewat lagi."


Ayumi bangkit, dia tersenyum antusias.


"Baiklah, ayo kita cari kang sayurnya."


"Nggak Bibi aja?"


Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Cuma nungguin di depan kan? Atau jalan-jalan santai keliling komplek?"


"Tidak usah, tunggu di teras depan saja." Jelas Sumi.


"Ya sudah, ayo."


Ayumi beranjak terlebih dulu ke arah luar, berlari-lari kecil seperti seorang anak yang hendak pergi jajan dengan ceria. Membuat wanita di belakangnya berhenti sesaat, menatap punggung Ayumi, lalu tersenyum penuh arti.


Lihatlah, dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik dengan hati yang begitu lembut.


Sumi menghembuskan nafasnya perlahan, seperti sedang membuang sesuatu yang selalu membuatnya terasa sesak di dalam dada sana.

__ADS_1


"Bi!?" Teriakan Ayumi membuatnya tersadar.


"Bibi Mamang sayurnya sudah datang." Teriaknya lagi.


Dengan segera Sumi berlari ke arah luar. Menghampiri pedagang sayur tersebut, dan memilah bahan-bahan yang mereka butuhkan, di bantu Ayumi yang terlihat begitu antusias.


***


"Mau bikin seblak yang seperti apa? Berkuah atau kering?" Sumi bertanya.


"Ada kuahnya deh. Kayaknya seger!"


Sumi mengangguk, mengiyakan keinginan Ayumi.


"Sini aku bantu kupas bawang putihnya, atau sekalian aku halusin juga!"


"Tidak usah, tunggu saja."


"Aku bosen." Kata Ayumi.


Wanita yang sedang mengeluarkan beberapa jenis belanjaan pun menoleh, menatap Ayumi dengan kening yang berkerut.


Sumi bingung.


"Bosen kenapa? Biasanya nonton Drama seharian, atau kalau tidak baca novel di hape." Katanya.


"Lagi nggak mood."


"Lho, kok bisa nggak mood? Kenapa?"


"Nggak tau, aku nggak mood aja."


"Bibi pernah beli novel cetak, mau coba baca?"


Ayumi diam, perempuan itu terlihat berpikir.


"Mau tidak? biar nungguin nya tidak bosan." Sumi menawarkan lagi.


"Tentang apa?"


"Tentang apa yah? Bibi juga nggak tau pastinya tentang apa. Tapi ceritanya bagus."


"Boleh deh, aku lihat-lihat dulu!"


"Sebentar!" Sumi membasuh tangannya terlebih dahulu, kemudian menghambur masuk kedalam kamarnya.


Ayumi berjalan ke arah satu kursi plastik yang berada tidak di sana darinya saat ini, kemudian duduk menunggu Sumi yang sedang membawakan Novel cetak miliknya untuk dia pinjamkan kepada Ayumi.


"Ini, … covernya sudah sedikit usang karena memang Bibi sudah membacanya beberapa kali."


Ayumi mengulurkan tangan, lalu meraih buku tersebut. Dan membawanya lebih mendekat, menatap sebuah cover yang menggambarkan seorang wanita, duduk bersandar pada pohon besar menghadap ke arah danau.


"A mother's failure!" Ayumi membaca judulnya, dan kembali mengalihkan pandangan kepada Ayumi.


Sumi tersenyum, lalu menganggukan kepala.


"Bibi kapan beli buku ini? Tampilannya kaya udah lama, tapi masih bagus dan terawat."


"Mmmm, … sekitar …. Lima tahun yang lalu."


"Oh pantes, covernya kaya bukan jalan-jalan sekarang."


"Yasudah, Bibi siapkan bumbunya dulu, Non Ayumi boleh menunggu di sofa, atau di kamar sambil membaca bukunya.


"Aku pinjam yah!?"

__ADS_1


"Pinjam saja." Kata Suku.


Ayumi berdiri, dia mulai membuka buku tersebut, sambil berjalan ke arah dalam, meninggalkan Sumi yang mulai sibuk dengan perkakas juga bumbu dapur.


__ADS_2