My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 186 (Mie rebus rasa soto)


__ADS_3

Dini berjalan mendekati jendela ruang tamu yang masih terbuka semua. Menutupnya satu-persatu, tak lupa menarik gorden, dan nekan semua saklar lampu, sampai setiap ruangan yang ada di rumah itu tampak terang benderang.


Setelah itu Dini berjalan ke arah pintu yang menghubungkan antara rumah dan taman belakang, menutup dan menguncinya rapat-rapat.


Hari sudah mulai gelap, dan ketidak beradaan sang pemilik rumah membuat suasana disana terasa sangat sunyi, sampai Dini memutuskan untuk segera masuk kamar, setelah merasa semua pekerjaan terselesaikan. Namun ketika kaki kanannya baru saja masuk ke dalam kamar sana, suara bell rumah kembali terdengar.


"Mereka tidak jadi menginap?" Dini bergumama seraya menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 18.45.


Dengan segera Dini kembali berjalan ke arah ruang tengah, lalu ruang tamu dan membuka kunci, untuk segera dia tarik handle pintu sampai benar-benar terbuka. Betapa terkejutnya Dini kala mendapati Sumi berdiri di teras depan rumah, menatap ke arah pria tinggi besar yang sedang menurunkan beberapa barang bawaan dari dalam taksi.


"Lho, Ibu!" Dini menyambut.


Sumi tersenyum, dia segera mendekat kemudian meraih tubuh Dini dan memeluknya.


"Apa kabar, Bi?" Sumi bertanya.


"Saya baik, bagaimana Ibu sendiri?" Dini melepaskan dirinya, kemudian mundur satu langkah, dan menatap wanita di hadapannya lekat-lekat.


Sungguh jauh dari awal dirinya melihat Sumi. Kini wanita itu terlihat sangat berbeda, dari segi tampilan, juga hal yang lainnya, seperti kulit yang terlihat semakin terawat. Dan jangan lupakan binar wajah yang menunjukan kebahagiaan, sampai wanita itu terus tersenyum.


"Masuk, Bu." Dini mempersilahkan.


"Ah, Bibi duluan saja. Saya bawa kopernya dulu." Dia mendekati Valter, dan meraih satu koper milinya.


Sementara Valter masih menurunkan beberapa oleh-oleh yang sempat Sumi beli, untuk Ayumi dan calon cucunya.


"Butuh bantuan? Biar saya bantu bawakan beberapa."


"Boleh." Kata Sumi seraya memberikan sebuah koper berukuran sedang kepada Dini.


Setelah itu mereka segera masuk, membawa barang-barang dan meletakannya di ruang tengah. Satu koper berukuran besar, dua diantaranya berukuran sedang, dan beberapa barang yang di bungkus menggunakan kardus.


"Sepi sekali?" Valter menatap istrinya.


"Oh iya, Bi. Ayumi dan Randy? Apa mereka sedang keluar?" Akhirnya Sumi bertanya kepada wanita yang saat ini berdiri di dekat dispenser, menuangkan air panas ke dalam sebuah cangkir.


Dini menoleh.


"Oh, … Non Ayumi sedang pergi ke Bogor. Katanya lihat resort untuk acara baby shower nanti." Jelas Dini.


Sumi mengangguk.


"Jangan kasih tahu kalau kami sudah ada disini yah! Biarkan ini menjadi kejutan untuk dia."


Dini menimpali dengan senyuman tipis.


"Silahkan teh nya. Jika ada sesuatu boleh panggil saja, Bu. Saya belum mandi sore, tadi niatnya mau mandi tapi beruntung Ibu lebih dulu datang, kalau tidak Ibu akan menunggu di luar cukup lama." Pamit Dini.


Sumi tersenyum.


"Terimakasih, Bi. Tidak usah repot-repot, nanti jika ada apa-apa saya ambil sendiri, Bibi boleh istirahat saja." Jelas Sumi.


Dini segera beranjak pergi, memasuki sebuah ruangan yang ditempatinya, menutup pintu, lalu terdengar suara kunci di putra sebanyak dua kali.


"Kamu mau istirahat? Sepertinya kamu sangat lelah."


Sumi menatap Valter yang sudah menyandarkan diri di sofa, dengan mata yang terpejam.


"Ya, sepertinya aku sangat pusing."


"Minum dulu teh hangatnya, ini membantumu agar merasa sedikit lebih baik." Kata Sumi.


Dia meraih salah satu cangkir di hadapannya, kemudian menyodorkan kepada Valter, yang seketika pria itu terima, dan meminumnya perlahan-lahan.


"Sudah?" Sumi kembali membawa cangkir yang Valter berikan.


Pria itu mengangguk.


"Sayang tolong antar aku ke kamar." Pinta Valter dengan suara rendah.


Sumi mengangguk, kemudian dia bangkit, dan berjalan lebih dulu ke arah kamar tamu yang selalu dia tempati jika sedang menginap di rumah besar milik menantunya. Berjejer di antara kamar-kamar lain, termasuk kamar Maria, juga kedua orang tua asuh Ayumi.


Klek!!


Sumi membuka pintu ruangan itu, kemudian menyalakan lampu, sampai apapun yang ada di dalamnya terlihat dengan sangat jelas.


Sebuah ranjang tidur yang sangat besar, dengan bed cover berwarna putih bersih, juga lemari besar yang tersedia disana.


"Menantumu memang sangat luar biasa." Valter memuji, dia berjalan ke arah kamar mandi lebih dulu, kemudian membasuh kaki dan tangan.


"Kamu tidak mau istirahat?" Tanya Valter saat dia naik ke atas tempat tidur sana.


Sumi menggelengkan kepala.


"Aku mau merapikan barang bawaan kita dulu. Membawa koper kesini, lalu membuka oleh-oleh dan merapikan semuanya, kasihan kalau harus bergantung kepada Dini, … dia juga lelah seharian mengurus rumah besar ini." Wanita itu menjelaskan.


Valter berbaring, kemudian menarik selimut sampai menutupi hampir setengah tubuhnya.


"Aku kembali kedalam, oke? Istirahatlah."


Sumi kembali mematikan lampu ruangan itu, hampir saja keluar saat tiba-tiba saja Valter kembali memanggilnya.


"Laras!?"


"Ya?" Wanita itu berbalik badan. "Butuh sesuatu?" Dia bertanya.


Namun Valter segera menggelengkan kepalanya, dia melambaikan tangan, mengisyaratkan jika dia harus segera mendekat.


"Apa? Aku harus merapikan semuanya. Ini memang rumah menantu kita, rumah yang Ayumi tempati, tapi kita harus tahu diri, … siapa tahu ada beberapa orang yang datang, seperti kedua orang tua Ayumi misalnya. Kamu tahu? Mereka masih terlihat tidak menyukai aku, oh bukan … bukan keduanya, hanya Bu Tutih saja." Kata Sumi.


"Kemarilah, setelah itu kamu boleh melakukan apapun." Kata Valter, dia kembali melambaikan tangan, meminta Sumi untuk mendekat.


Sumi menghela nafasnya, namun tak urung dia pun segera mendekati Valter, yang sekarang sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Sumi.


"Just. Give me a kiss!" Pria itu berbisik, sambil tersenyum lalu mengerucutkan bibirnya.


"Ah dasar kamu ini!"


Sumi membungkuk, lalu meraih dan mencium bibir suaminya singkat.


" Selamat tidur."


"Aku pergi oke?"


"Tidak mau bergabung disini? Kamu pun pasti lelah, setidaknya beristirahatlah meski lima menit lamanya."


Valter menepuk sisi kosong di sampingnya.


"Tidak. Aku harus merapikan semuanya, baru bisa beristirahat." Dia berujar.


Setelah itu Sumi berjalan kembali ke arah pintu, keluar dengan tangan kanan yang ikut menarik handle pintu, sampai benda itu benar-benar tertutup rapat.


Wanita itu memisahkan satu koper besar berisikan pakaian miliknya juga Valter. Lalu beralih kepada dua koper berukuran sedang, dia menyeretnya dan menyimpan benda itu tepat di ambang pintu masuk kamar Ayumi.


Dia kembali duduk di sofa. Setelah membawa gunting yang tersimpan di laci dapur terlebih dulu, kemudian membuka sebuah kotak, berisikan berbagai macam cemilan, dan coklat khas Negara Jerman.


Sumi tersenyum lagi. Dia benar-benar merasa lega, ketika dapat mendatangi acara yang putrinya gelar. Meski dirinya dan Valter tidak mempunyai waktu banyak di Indonesia, karena satu dan lain hal.


***


Ayumi kembali ke luar, membawa sebuah gelas berisikan kopi hitam untuk suaminya yang saat ini tengah asik duduk di kursi kayu, menatap pemandangan sekitar. Pepohonan berdiri di beberapa titik, menyambungkan kabel dari satu tempat ke tempat lain, dengan lampu-lampu kecil berwarna kuning menyala membuat area sana benar-benar terlihat menyenangkan.


"Terimakasih." Randy menatap istrinya yang kembali duduk di kursi semula.


"Kita nggak bawa pakaian ganti. Gimana? Kalau baju si nggak apa-apa, dalemannya itu lho, aku bingung. Masa nggak diganti, nanti lecet! Kan kulit aku sensitif." Ayumi mengutarakan keluh kesahnya.


Dia memang menikmati suasana di resort sana. Merasakan hawa yang begitu sejuk, dengan pemandangan yang memanjakan mata, namun Ayumi terus memikirkan bagaimana caranya setelah ini jika dia sudah selesai mandi.


"Memangnya disini tidak ada store pakaian yang bisa pesan terus antar?" Randy menyesap kopi buatan Ayumi.


Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu." Jawabnya.


"Jadi bagaimana? Mau beli baju dulu?"


"Hu'um. Sama makan mie yang aku mau, dari tadi sore kita cuma disini, … paling jauh makan di restoran sana!" Ayumi menunjuk sebuah bangunan besar yang dipenuhi para pengunjung resort.


Randy tersenyum.


"Tunggu aku habiskan kopinya, setelah itu kita jalan-jalan. Tapi apa kamu kuat? Kakinya tidak sakit?"


"Tidak sayang. Cuma ototnya terasa ngilu, udaranya sangat dingin!" Jelas Ayumi.


"Yah, … tapi enak kalau punya rumah disini, udaranya sangat bersih dan sejuk." Kata Randy, dia kembali menyeruput secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas.


"Lalu tahu dimana kamu makan mie sambil melihat kebun teh yang luas?"


"Dari sosial media lah."


Randy meraih bungkus rokok miliknya, mengeluarkan benda itu, dan meletakan di antara kedua celah bibir, kemudian menyalakan korek.


Segera mungkin Ayumi bangkit, masuk kedalam dan menutup pintu ruangan itu, menjaga jika asap rokok tidak akan benar-benar masuk.


"Ah dia sudah mengerti. Sudah tidak perlu aku ingatkan!" Randy terkekeh.


***


Randy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, berniat mendatangi salah satu tempat perbelanjaan yang cukup terkenal di area puncak sana. Tidak cukup memakan waktu lama, setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mobil Randy memasuki sebuah parkiran luas.


Bangunan yang menjulang tinggi dan luas dengan cat warna putih yang mendominasi, dengan manekin-manekin yang terpajang di sana, membuat Ayumi yakin jika mereka mendatangi tempat yang tepat. Mereka berdua turun, berjalan masuk kedalam sana dengan tangan yang terus saling menggandeng.


"Selamat malam, silahkan." Seseorang yang berdiri di ambang pintu masuk menyapa, dan mempersilahkan Ayumi dan Randy masuk.


Terlebih dulu Ayumi berjalan ke arah tempat khusus pakaian dalam. Dia tampak melihat-lihat, dan setelah merasa cocok dengan modelnya barulah Ayumi mencari ukuran yang menurutnya cocok.


Sementara Randy beranjak ke arah sudut lain, dimana pakaian pria berada. Dia melihat-lihat beberapa kaos, celana, dan banyak lagi.


"Abang?" Panggil Ayumi.


Pandangannya meneliti sekitar, mencari keberadaan suaminya yang entah berada dimana.


"Sayang? Kamu dimana?" Ayumi terus mencari.


"Aku disini." Randy menjawab, lalu mengangkat tangannya, sampai dia terlihat dengan jelas di tengah-tengah para pria yang juga sedang memilih-milih pakaian.


Ayumi melambaikan tangan, meminta Randy untuk mengikuti dirinya.


"Ada apa?" Tanya Randy sambil terus berjalan mengikuti kemana istrinya berjalan.


Ayumi tidak menjawab, dia hanya kembali mendekati beberapa tumpukan pakaian khusus wanita, dengan macam-macam model dan warna.


"Kamu mau pilih yang mana? Aku bingung." Kata Ayumi.


Randy bungkam melihat pakaian yang Ayumi perlihatkan.


"Dad? Mau yang mana? Ada tiga model dengan beberapa pilihan warna?" Ayumi mengulum senyum.


"Kamu sukanya yang mana? Atau nyamannya model yang seperti apa." Randy mendekati pakaian berenda itu.


Tangan Randy terulur, meraih pinggang Ayumi dan memberikan sedikit cubitan kecil, namun membuat Ayumi terkekeh kencang.


"Nakal kamu!" Bisik Randy tepat di daun telinga istrinya.


"Nggak nakal. Walaupun aku yang pakai, tapi yang lihat kamu. Jadi diantara semuanya, mana yang kamu suka?" Ayumi menunjuk barang-barang yang sudah di pilihnya.

__ADS_1


Randy diam untuk beberapa saat. Menatap setiap model yang Ayumi perlihatkan.


"Ambil semuanya saja. Aku senang melihat itu." Kata Randy.


"Kalau semuanya kebanyakan!"


"Tidak apa-apa, untuk ganti-ganti! Pilih warna hitam yah, aku senang melihat kamu memakai apapun dengan warna itu, …. Menurutku terlihat menantang dan lebih seksi saja." Kata Randy.


Ayumi pun mengangguk, lalu dia memanggil seorang SPG, dan meminta apa beberapa barang yang sudah Ayumi pilih, dengan warna senada, yaitu warna hitam, warna kesukaan suaminya.


Setelah selesai Ayumi mengikuti kemana Randy pergi. Pria itu kembali melihat-lihat beberapa pakaian, memacari size dan menyerahkannya kepada seorang petugas untuk segera dibawa ke arah meja kasih.


Sesudah berbelanja beberapa barang kebutuhan, lalu melakukan pembayaran, kemudian mereka segera kembali, berjalan mendekati mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh.


"Kamu yakin mau makan mie sekarang? Ini malam, tidak ada yang bisa kamu lihat, kebun teh nya pasti gelap?" Tanya Randy, dia berusaha meyakinkan istrinya.


Dia menarik handle pintu belakang, meletakan beberapa kantong belanjaan, kemudian menutupnya kembali.


"Iya juga yah! Sekarang sudah gelap, harusnya sore-sore, tapi aku malah ketiduran!" Ayumi tertawa.


"Ya, sekarang kamu jadi tukang tidur. Padahal kita lagi nonton tadi, ngobrol juga. Aku sampai bingung kok kamu tiba-tiba diem, … eh pas di lihat sudah bobo pulas." Jelas Randy, hingga membuat Ayumi tersipu malu.


"Jadi bagaimana? Masih mau makan mie dan jangkung bakar?"


Ayumi mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum sumringah.


"Pemandangan indah cuma bonus, sisanya aku memang lagi mau makan mie rebus rasa soto, di pakein sayur, telor, sama irisan cabe rawit. Jagung bakar juga, jadi nggak apa-apa kalau sudah tidak bisa melihat pemandangan, tapi kita makan saja yah sebelum pulang, soalnya kita nggak tau kapan kesini lagi, kamu sibuk." Ayumi sambil tersenyum penuh permohonan.


Randy mengusak rambut Ayumi.


"Baiklah, ayo masuk. Kita cari warung mie dan jagung, kita nongkrong dulu sebelum kembali ke resort." Randy menarik tangan Ayumi ke sisi kiri mobilnya, membukakan pintu, dan membiarkan Ayumi masuk, kemudian duduk sambil memasakkan sabuk pengamannya.


"Hati-hati, pasang yang benar agar tidak membuat anakku tidak nyaman!" Randy menginterupsi.


Ayumi menengadahkan pandangan.


"Masa begitu. Kalau tidak nyaman dia pasti protes, gerak terus, menendang kesana dan kemari, kalau sekarang dia lagi bobo, cuacanya mendukung, Dad!" Ayumi menundukan pandangan, lalu mengusap perut bulatnya.


"Iya kan Dek? Daddy suka lebay, padahal kelakuan Daddy yang suka bikin nggak nyaman." Celetuk Ayumi.


Randy menggelengkan kepala, lalu menutup pintu di samping Ayumi, berjalan memutari mobil, lalu masuk dan mendudukan dirinya di kursi kemudian seperti biasa.


***


Sebuah warung sederhana yang terletak di pinggir jalan. Tidak terlalu ramai, dan itu Ayumi pilih karena merasa tidak tega, ketika warung lain di penuhi muda-mudi, sementara warung sepasang orang tua terlihat begitu sepi.


Randy turun lebih dulu, kemudian berjalan mendekati pintu samping kiri yang terlihat terbuka dengan perlahan, kemudian keluarlah Ayumi, dengan tangan yang memegangi perut besarnya.


"Kenapa?"


"Adek nendang aku kenceng banget. Aku sampai kebelet pipis!" Jelas Ayumi, dia terlihat meringis.


Dengan langkah sedikit cepat Ayumi memasuki warung itu.


"Bu, ikut pipis bisa?"


"Oh bisa, Neng. Toiletnya di sana!" Wanita paruh baya menunjuk salah satu pintu yang tertutup rapat.


Ayumi mengangguk.


"Abang pesan saja, aku cuma sebentar." Teriak Ayumi.


Randy hanya menatapnya, lalu mengangguk.


"Ada mie rebus, Bu?"


"Ada. Jagung bakar, ubi bakar juga ada."


"Saya mau mie rebus dua rasa soto. Pake sayur, sama telor, yang satu kasih irisan cabe rawit, yang satunya tidak usah. Terus saya juga mau jagung bakarnya dua, makan disini ya, Bu!" Pesan Randy.


"Boleh. Silahkan di tunggu dulu." Katanya, yang langsung Randy jawab dengan anggukan.


Ayumi keluar dari dalam toilet sana. Dia berjalan mendekati Randy yang sudah duduk di salah satu meja, paling pinggir, yang memperlihatkan perkebunan teh yang sangat luas, walaupun gelap, tapi Ayumi masih bisa melihatnya dengan jelas.


Randy meletakan ponselnya setelah terlihat mengirimkan pesan kepada seseorang. Dia tersenyum dengan tangan yang lagi-lagi mengusap perutnya dengan sangat lembut.


"Bagaimana? Dia masih menendang?"


Ayumi duduk.


"Masih bergerak, tapi pelan." Katanya seraya mengatakan tangan Randy pada bagian perut yang menimbulkan pergerakan.


Randy tersenyum saat tangannya merasakan itu.


"Kira-kira dia laki-laki atau perempuan yah? Terus dia mirip aku atau kamu?" Ayumi segera membayangkan sosok mungil yang ada di dalam perutnya.


"Siapapun dia. Dia pasti mirip aku, Ay! Percayalah!"


"Tidak boleh, harus ada aku juga."


Setelah lima belas menit menunggu. Akhirnya apa yang Randy pesankan datang. Dua mangkuk mie rebus komplit, dengan dua jagung bakar, tak lupa dua gelas teh tawar hangat.


"Teh nya gratis, bisa nambah kalau mau." Wanita itu menjelaskan.


"Terimakasih, Bu." Ayumi tersenyum manis.


"Iya Neng."


Wanita itu segera berlalu pergi, meninggalkan Ayumi dan Randy berduaan, menikmati semangkuk mie rebus rasa soto.


"Yang pakai cabe rawit ini, Ay!" Randy menukar mangku mienya.


Ayumi mengangguk, meraihnya dan mengaduk-aduk dengan mulut yang mengecap beberapa kali.

__ADS_1


Dua mangkuk mie rebus menemani keduanya. Menikmati udara segar suasana perkebunan teh yang cukup gelap pada malam hari ini. Mereka berbincang-bincang, hanya sekedar membahas hal-hal kecil, dan itu membuat keduanya terikat semakin kuat, apalagi dengan kehadiran bayi mereka yang akan segera lahir 3 bulan menjelang.


__ADS_2