
Randy menepikan mobil Lexus miliknya di depan gerbang sebuah kost-kostan yang sempat ia datangi beberapa waktu lalu, saat ia menemui Ayumi untuk pertama kalinya setelah dia menjauh dan berusaha melupakan gadis cantik itu.
Dia menoleh kearah kursi samping, dimana sebuah buket bunga mawar merah terletak.
Bibirnya tersenyum simpul.
"Dari sekian banyak wanita, hanya kau yang mampu membuat ku melakukan hal bodoh seperti ini. Menghadiahkan puluhan tangkai bunga, yang bahkan akan segera layu setelah beberapa hari." Katanya dengan debaran di dada yang terus meningkat.
Setelah itu dia membuka seatbelt yang melingkar di tubuh kekarnya, menarik handle pintu hingga terbuka, lalu keluar.
Randy menatap sekitar, dimana para gadis berhamburan keluar dari dalam pintu kamar kostnya, menatap kearah Randy berdiri saat ini.
"Ck! mereka ini kenapa." Gumam Randy sembari memutar kedua bola matanya.
Brugh!!
Randy menutup pintu mobilnya kencang, menekan remote yang menggantung di kunci mobil miliknya, kemudian berjalan kearah dalam, mendekat kearah pintu kamar kost Ayumi yang terus tertutup.
Tok tok tok!!
Randy mundur setelah mengetuk pintu itu.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Tidak ada jawaban dari dalam sana.
Tok tok tok!!
"Ini saya Ayumi." Panggil Randy lagi.
Berharap sang pemilik kamar segera membukakan pintu dan keluar.
Klek!
Pintu sebelah kamar kost Ayumi terbuka, dan munculah seorang pria kurus tinggi berkacamata.
"Cari Ayumi Pak?" Gani bertanya.
Randy tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan, dan kembali menatap pintu kamar kost Ayumi. Dia hendak kembali mengetuknya, tapi terhenti saat Gani kembali berbicara.
"Kalau Sabtu Minggu Ayumi biasanya pulang ke rumah orang tuanya, Pak! tidak pulang kesini, kecuali beberapa Minggu lalu, dia tidak pulang-pulang, baru kali ini Ayumi pulang lagi." Jelas Gani panjang lebar.
Cih! dia berkata seolah dia itu kekasihnya. Batin Randy berbicara.
"Baik, kalau begitu saya pergi. Terimakasih atas waktu dan partisipasi anda."
Randy beranjak, pergieninggalkan Gani begitu saja.
"Partisipasi!?" Gani terheran-heran.
Keningnya menjengit keras, sembari menatap pria berjas, dengan kedua tangan yang dia masukan kedalam saku celananya sambil teru berjalan pergi.
***
"Ay!" Tutih menepuk-nepuk pundak putrinya yang sudah tertidur diatas sofa cukup lama.
Hening, tidak ada reaksi apapun dari Ayumi.
__ADS_1
"Ayu? hapenya bunyi terus!" Tutih kembali memanggil.
Namun Ayumi masih terus terlelap di dalam tidurnya.
"Ay, ..."
"Sudah Bu! mungkin Ayumi lelah. Biarkan dia tidur, ini hari dia berlibur, biarkan dia santai dari semua pekerjaannya." Tukas Ali yang tiba-tiba saja berdiri di belakang tubuhnya.
Tutih menoleh, melihat kearah sang suami.
"Takutnya penting." Katanya.
"Biarkan saja, Ayu lelah. Biarkan dia istiraha!" Tegas Ali, dan Tutih pun tak bisa lagi menyangkalnya.
Dia berdiri, meninggalkan Ayumi yang sedang tertidur di sofa ruang tamu kearah dalam.
Ruangan kecil yang sengaja di gunakan untuk ruang keluarga.
Tubuh Ayumi mulai bergerak-gerak, menggeliat pelan dengan mata yang juga mulai mengerjap.
Gadis itu memandang sekitar, berusaha mengingat dimana dirinya saat ini. Dia bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk bersandar, seraya menarik kesadarannya yang hilang beberapa waktu lamanya.
Drrrrttt, ....
Ponselnya yang terletak diatas sebuah meja kaca kembali berbunyi. Langsung saja pandangan Ayumi tertuju kearah sana, dan langsung meraihnya tanpa menunggu lebih lama lagi.
"Yah, ... kok mati lagi!" Ucap Ayumi dengan suara parau, saat panggilan suara dari seorang kembali terputus.
Dia menekan beberapa angka untuk membuka kunci layar ponselnya. Dan betapa terkejutnya Ayumi saat melihat enam puluh panggilan tidak terjawab, juga pesan yang tak kalah banyaknya.
"Astaga!" Dia terkejut. "Aku melupakan dia seharian ini." Cicit Ayumi sedikit panik.
Ayumi membuka pesan yang Randy kirimkan dengan perasaan takut dan sedikit cemas.
[Kau dimana?]
[Kau pergi? tidak memberitahu ku?]
Dan masih banyak lagi pesan-pesan lainnya. Namun yang lebih mencuri perhatiannya adalah sebuah foto yang Randy jadikan sebuah Story WhatsApp.
Sayang sekali penerimanya tidak ada :)
Ayumi membaca.
"Ya ampun, maafkan aku. Aku melupakan mu yah!" Gumam Ayumi.
Dengan segera Ayumi menekan sebuah logo telfon, dan mendekatkan benda pipih itu kearah daun telinganya.
Tuuutttt, ....
Suara sambungan telfon terdengar.
"Hallo?" Sapa Ayumi saat sambungan telfonnya terhubung.
Hening.
"Bapak ada disana?"
Masih hening, sepertinya pria di sebrang sana sedang tidak berniat untuk berbicara. Tentu saja, dia kesal atau bahkan marah bukan? pikir Ayumi.
__ADS_1
"Pak!?"
Helaan nafas Randy terdengar.
"Bapak marah? maaf aku ketiduran. Perjalanan dari kota kesini sekitar dua jam, dan itu membuat aku kelelahan." Ayumi menjelaskan, meski Randy tidak bertanya sedikit pun.
Hening lagi, hanya terdengar samar suara musik yang mengalun disana.
Ayumi diam, gadis itu terlihat berpikir. Dan sebuah ide pun muncul, dia terlihat ragu, tapi sudah tak mempunyai pilihan lain.
"Sa-sayang, ... sayang maafkan aku! aku janji tidak seperti ini lagi." Mata Ayumi terpejam, dia terlihat sedang menahan malu.
Tentu saja aku malu, aku tidak pernah memanggil siapapun dengan sebutan seperti itu.
Ucap Ayumi dalam hati.
"Sayang, katakan sesuatu." Ayumi sedikit merengek.
Randy kembali terdengar menghela nafasnya. Bahkan kali ini lebih kencang lagi.
"Bagi Saya kamu itu penting, tapi tidak dengan sebaliknya. Bahkan kepergian mu saja orang lain yang tahu, sementara saya? saya terlihat seperti orang bodoh yang mencari keberadaan kekasihnya sendiri."
Akhirnya Randy membuka suara. Meski pun dia mengomel, setidaknya dia sudah mau berbicara.
"Maaf, aku tidak bermaksud. Aku berniat memberi tahu kamu setelah sampai, tapi aku lelah dan ketiduran."
Randy diam lagi.
"Jangan marah ku mohon."
"Hemmm." Randy hanya bergumam.
"Bapak membelikan aku buket bunga mawar merah?" Ayumi tersenyum, dia membuat suaranya selembut mungkin.
"Sudah saya buang!" Jawab Randy singkat.
"Kenapa di buang? aku suka, aku mau!"
"Untuk apa saya simpan? nanti juga akan menjadi sampah."
Ayumi menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
"Bapak marah?" Tanya Ayumi pelan.
"Menurut mu?" Suara pria itu terdengar ketus.
Ayumi terkekeh getir, dia mulai bingung menghadapi Randy yang temperamen. Sikap kekasihnya yang berubah-ubah membuat Ayumi sedikit harus menaikan level kesabarannya.
"Ya, ... aku tahu Bapak marah. Maka dari itu bangun tidur saya langsung telfon Bapak, mau minta maaf. Tapi minta maaf saja sepertinya tidak cukup, jadi lain kali saja kita bicara lagi jika kekesalan Bapak sama aku sudah hilang." Tukas Ayumi.
Seketika Randy bungkam.
"Minggu sore aku pulang."
"Saya tidak tanya kapan kamu pulang!"
"Aku hanya memberi tahu, kalau begitu aku, ..."
Belum selesai Ayumi berbicara, sambungan telfon itu sudah di putuskan oleh Randy.
"Ya ampun, belum seminggu pacaran. Berantemnya udah berapa kali, gimana nanti kalau udah lama, bisa perang besar-besaran." Ayumi mendesah pelan.
__ADS_1
Gadis itu meletakan ponselnya kembali diaatas meja, lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa cukup kencang, lalu memijat pelipisnya pelan.
"Entah sekuat mana aku bisa bertahan." Suaranya terdengar merintih.