My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 125 (Baby-nya masih kecil)


__ADS_3

Ayumi mengangkat pandangan, saat pintu kamarnya terdengar di buka dari arah luar. Dan disanalah Randy, berjalan memasuki kamar dengan senyum samar di bibir indahnya.


"Semuanya sudah baik-baik saja, tenanglah!" Kata Randy kepada Ayumi.


Ayumi menganggukan, dia menatap wanita seusia Sumi di sampingnya yang juga sedang tersenyum.


"Kesalahpahaman dalam hidup itu sudah biasa. Tapi kembali lagi kepada diri kita sendiri, apakah mau menyelesaikannya dengan kepala dingin, atau menyelesaikan dengan keangkuhan karena kedua belah pihak merasa benar." Sisil mengusap punggung Ayumi.


Ayumi mengangguk.


Sementara Randy bersimpuh di hadapan istrinya, meraih kedua tang Ayumi, dan menggenggamnya erat.


"Boleh aku berikan saran?" Tanya Randy dengan sangat hati-hati.


"Emmm, … kalau begitu Tante keluar dulu yah, silahkan kalian berbicara empat mata agar lebih afdol."


Sisil segera bangkit, dia beranjak pergi tanpa mendengar balasan dari Ayumi atau Randy terlebih dulu.


Klek!


Pintu kamar tertutup rapat.


Randy yang sempat menoleh ke arah pintu pun kembali mengalihkan perhatiannya kepada sang istri.


"Saran apa?" Tanya Ayumi.


Randy mengeratkan genggaman tangannya, dia terus tersenyum, seolah menjaga mood istrinya agar tetap bagus, dan perempuan itu tidak merasa tersinggung atau marah.


"Aku tidak menyalahkanmu dalam hal ini. Tidak menyalahkan siapapun, kamu ingat! Aku tidak menyalahkan siapapun oke?" Randy berujar.


Ayumi mengangguk.


"Jangan terlalu muter-muter nanti aku pusing."


"Ini soal kamu, Ibu, juga Mama."


Ayumi diam, menatap mata suaminya lekat-lekat. Seolah mencari sebuah jawaban atas apa yang pria itu katakan.


"Aku tahu perasaanmu, aku juga mengerti. Hanya saja mungkin porsinya sedikit dikurangi, … rasa rindu, juga kesedihan yang beradu-padu, membuat perhatianmu kepada Mama sedikit lebih berbeda dari pada perhatianmu kepada Ibu sekarang." Jelas Randy.


Pria itu berusaha menjelaskan setenang mungkin agar istrinya tidak tersinggung, dan berakhir dengan kemarahan yang menggebu-gebu.


"Jangan marah kumohon, aku hanya ingin menyarankan saja. Jika kamu keberatan, maka abaikan saja kata-kataku." Dia sedikit merasa takut saat Ayumi menatapnya dalam diam.


"Apa menurut Abang aku begitu?" Ayumi balik bertanya.

__ADS_1


Randy tidak membantah, ataupun mengiyakan. Pria itu hanya diam seraya menatap wajah Ayumi yang terasa semakin cantik di setiap harinya.


"Hanya perasaanku, Ay."


"Tidak. Apa menurut Abang, Ibu dan Bapak aku seperti itu?"


Akhirnya Randy mengangguk.


"Aku mengerti keadaan kalian, tapi tidak dengan Ibu. Dia akan merasa ketakutan dan cemburu, jika anak gadis yang sangat dekat dengannya kini beralih dekat dengan wanita lain."


Ayumi menghela nafas.


"Jangan marah."


"Kenapa kalian begitu. Kenapa kalian berpikir seperti itu, aku merasa biasa saja, dan berusaha membuat semuanya setara, termasuk sikapku terhadap Mama. Jika menurut Abang dan Ibu aku sedikit berlebihan terhadap Mama, … kalian salah, aku berusaha menyetarakan kedua Ibuku! Seandainya kalian tahu, maka tidak akan kalian meributkan hal kecil seperti ini."


Ayumi menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.


"Sayang …"


"Abang tahu? Mama selalu merasa malu, dia selalu merasa segan, dia selalu merendah karena merasa tidak pantas. Salahkah aku jika ingin membuatnya sama dengan Ibu? Ya aku tahu pikiran Ibu terhadap Mama seperti apa, hanya saja ada sesuatu yang tidak bisa kami jelaskan. Dan itu membuat aku harus melakukan hal lebih, membalas setiap rasa sakit dan perjuangan Mama dulu."


Randy terdiam, dia memperhatikan istrinya yang kali ini memang benar-benar banyak berbicara. Dia berusaha menjelaskan apa yang menurutnya harus dijelaskan, dan membenarkan hal yang salah, termasuk kekeliruan hari ini.


"Aku kira, keberadaan Abang Amar, juga Bapak sudah cukup. Sementara Mama? Dia hanya punya aku, … aku yakin Abang tahu tentang ini, dia sendirian, dia dimusuhi beberapa orang kampung, apa salah aku ingin memberinya kekuatan lebih?" Ayumi menatap suaminya lekat-lekat.


"Aku tidak sedang membeda-bedakan kedua Ibuku, semuanya sama. Tapi jika aku bersikap lebih perhatian, itu karena Mama yang berusaha menjauh dan mundur dari aku, melihat aku bahagia dengan kamu saja dia sudah merasa cukup, sampai dia sempat berpikir untuk membiarkan aku hidup seperti sebelumnya, sebelum aku mengetahui jika Mama adalah Ibu kandung aku."


"Kamu benar, jangan merasa kecewa. Maafkan aku!" Randy segera meraih pinggang Ayumi, lalu memeluknya dan membenamkan wajah di perut sang istri, tempat yang terasa begitu nyaman.


Lagi-lagi Ayumi menghela nafasnya.


"Aku kira kamu mendukungku, nyatanya tidak."


Ucapan itu sontak membuat Randy mengangkat pandangannya. Menatap Ayumi dengan tatapan penuh keterkejutan.


"Bukan begitu …"


"Sudahlah, nanti kita bertengkar." Ayumi menyugar rambut suaminya, mengusap kening lalu pipi. "Niat kamu baik, niat aku juga baik, jadi biarkan saja jika memang ada sedikit salah paham, nanti juga akan kembali baik-baik seperti semula. Sekarang semuanya hanya masih terkejut, Ibu dengan ketakutannya, Mama dengan rasa malunya, dan aku yang ingin mengikat semuanya agar setara, tidak ada perbedaan kasih sayang antara Ibu kandung dan Ibu asuh, semuanya sama." Kata Ayumi sambil tersenyum, dan itu cukup membuat perasaan Randy lega.


"Kamu tidak marah?" Tanya Randy sambil mendongakkan kepala.


"Tidak."


"Aku kira kamu marah, kamu berbicara terus tadi."

__ADS_1


"Tadinya aku mau marah, … tapi bagaimana bisa, aku saja mual kalau jauh dari kamu."


Randy bangkit, menyusupkan tangan ke arah tengkuk Ayumi, menekannya perlahan sampai wajah mereka saling mendekat, dan di detik berikutnya kedua bibir itu beradu.


Ayumi melingkarkan dua tangan di leher Randy, membalas setiap kecupan yang suaminya berikan, sampai suara decapan terdengar begitu jelas, dan berlangsung cukup lama.


"Apa benar-benar tidak boleh? Apa sangat bahaya jika kita benar-benar melakukannya?" Suaranya terdengar berat, juga mata sayu setelah pautan bibir keduanya terlepas.


"Mungkin boleh kalau pelan-pelan." Jawab Ayumi tak kalah pelan.


Sampai keduanya terdengar saling berbisik satu sama lain.


"Benarkan?"


Ayumi mengangguk.


"Tidak boleh kalau Papanya bergerak sangat cepat, menghentak kencang, Bayinya masih kecil, belum kuat dengan guncangan hebat."


Randy tersenyum, hampir saja dia melepaskan pakaiannya, tapi tangan Ayumi menahan sampai Randy benar-benar berhenti.


"Kenapa? Aku merindukanmu. Malam-malam terakhir terasa sangat berat."


"Ya, apa kamu mau melakukannya sekarang? Sedang ada tamu? Dan semuanya baru saja berbaikan?"


Randy diam.


"Sedikit saja."


"Kamu maunya sedikit? Semantara aku akan memberikannya dengan durasi yang tidak sebentar."


"Kalau begitu ayo!"


"Tidak sekarang, tapi nanti malam oke? Kita temui mereka dulu, … Ibu, Bapak, Mama, Om Al, Tante Sisil. Mereka pasti menunggu kita."


Randy memejamkan mata, lalu menghela nafasnya perlahan.


"Sayang?" Ayumi meraih pipi suaminya, dan mengusap kembali.


"Baiklah, baiklah. Tapi nanti malam kamu harus menepati janjimu oke? Awas kalau tidak, aku hukum sampai kamu berteriak 'Ampun'"


"Iya, aku janji. Nanti setelah mandi sore aku pakai lingerie yang kita beli waktu itu, ya?" Bujuk Ayumi.


"Janji?"


Ayumi mengangguk.

__ADS_1


Randy pun tersenyum, kemudian menegakan tubuh dan menarik tangan Ayumi, untuk dia bawa ke arah luar kamar, dan kembali menemui beberapa orang yang sedang berada di ruang tengah.


__ADS_2