My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 27 (Tawaran makan dan memasak)


__ADS_3

Balqis tampak keluar dari arah dalam ruangannya. Setelah jam pulang kerja sudah tiba.


Dia menenteng beberapa tas, salah satunya adalah tas ASI hasil pumpingnya selama dia bekerja, untuk stok ASI saat dia meninggalkan jagoan kecilnya bersama sang pengasuh di rumah.


"Belum selesai?" Balqis menatap Junior yang masih betah duduk diatas kursi kerjanya, dengan layar komputer yang masih terlihat menyala.


Pria itu menengadahkan pandangan, menatap Balqis yang berdiri di hadapannya.


"Ini selesai." Sahut Junior.


"Kalau begitu Saya dulu, ... mau lihat Ayumi dulu di pantry." Katanya dan langsung beranjak pergi dari sana, berjalan santai kearah pantry yang terletak di dalam sebuah pintu kecil paling sudut lantai teratas gedung itu.


Setelah sampai Balqis langsung meraih handle pintu itu, menekannya dan membuka perlahan.


Dan disanalah gadis yang Balqis maksud, duduk di lantai tanpa alas apapun, dengan semangkuk mie kuah yang sedang dia nikmati.


"Eh, ... Ibu!" Seketika Ayumi menyimpan mangkuk mienya, lalu berdiri dan segera menghampiri.


"Ibu butuh sesuatu?" Gadis itu terlihat sedikit gugup.


Tentu saja, Ayumi takut jika dia tidak mendengar panggilan dari atasanya hanya karena sibuk menikmati mie yang dia masak beberapa menit lalu setelah selesai mengerjakan beberapa tugas dari Balqis.


Hari ini dia memang sangat sibuk, sampai Ayumi melupakan makan siangnya.


"Tidak, saya memang ingin menemui kamu. Ternyata kamu lagi makan yah!" Balqis tersenyum lembut.


Perempuan itu memang terlihat sangat menyukai Ayumi.


Semtara Ayumi hanya mengangguk pelan, dengan wajah memerah karena merasa malu.


"Ini, ... uang bonus untuk kamu!" Ucap Balqis seraya menyodorkan beberapa lembar uang berwarna meras.


Ayumi terhenyak, dia terkejut sampai tak mampu bereaksi apapun.


"Ambilah, hanya sedikit untuk tambahan uang kost mu." Kata Balqis lagi.


"Hemmm, ... tapi ..."


"Terima saja, semua pekerja rajin selalu saya kasih bonus uang jajan. Jadi tenang saja!" Jelas Balqis saat mengerti ke khawatiran gadis di hadapannya.


"Tapi, Bu ..." Ayumi masih berusaha menolak.


Balqis menghela nafasnya kencang, dia maju satu langkah, lalu memasukan uang darinya kedalam saku baju Ayumi.


"Eh!"


"Saya tidak suka sama orang yang suka menolak rejeki." Tegas Balqis.


Ayumi menatap saku bajunya, lalu kembali menatap Balqis yang masih berdiri sambil terus tersenyum.


"Ini bukan karena kamu teman Junior, bukan juga karena kamu sangat Om Al sayangi, ... ini murni dari saya karena saya suka dengan cara kerja mu, ... kamu sangat rajin Ayumi." Puji Balqis.


Akhirnya Ayumi mengangguk.


"Kalau begitu terimakasih, Bu."


Balqis menimpali dengan kedipan mata, juga senyum tipis yang terus menghiasi kedua sudut bibir.


"Jika sudah selesai, segeralah pulang. Kau juga harus menjaga kesehatan."


"I-iya Bu."


Setelah itu Balqis segera berbalik badan, dan pergi dari ruangan berukuran kecil itu, meninggalkan Ayumi yang kembali menikmati mie kuahnya yang mulai dingin.

__ADS_1


***


Selesai berkemas, dan memastikan pantry sudah kembali rapih seperti semula. Akhirnya Ayumi keluar, berbarengan dengan Junior yang melintas dihadapannya.


"Baru selesai?" Junior menyapa.


Pria itu berhenti.


Ayumi menengadahkan pandangan, menatap pria tinggi yang kini berdiri disampingnya.


"Hah, ... I-iya Pak."


"Baik. Kamu boleh jalan lebih dulu! Lampunya biar saya yang matikan." Junior berujar, dan menekan beberapa saklar lampu, sampai ruangan itu menjadi temaram.


Ayumi menurut, dia mengangguk lalu berjalan di depan Junior dengan perasaan gugup yang tak pernah hilang.


Tidak ada lagi perasaan kagum, atau yang lainnya, tapi gadis itu masih belum terbiasa jika keadaannya hanya berdua seperti itu.


Memangnya gadis mana yang tidak tersentuh hatinya, saat seorang pria selalu bersikap manis, bahkan sejak dirinya kecil dan Junior selalu mengajaknya kemana pun saat dia berkunjung kerumah Neneknya dulu.


Perasaan aneh!


Ucap Ayumi dengan suara pelan.


Dia berdiri di depan pintu besi yang belum juga terbuka, sampai Junior benar-benar kembali berada di dekatnya.


"Ehemm! Ayumi ... boleh saya bertanya?"


Ayumi mengangguk, dengan pandangan sedikit menunduk.


"Silahkan."


"Saya dengar kamu dekat dengan Asistennya, Pak Raga? bener begitu?" Tiba-tiba saja Junior bertanya demikian.


"Hah!?" Ayumi kembali menatap Junior, tapi kali ini dengan raut wajah penuh keterkejutan.


"Ba-bapak dengar dari mana?" Gadis itu terkejut bukan main.


Apa gosip itu sudah sampai Bu Balqis juga?


Ayumi membatin.


Junior mengendikan kedua bahunya, menatap Ayumi lalu menahan senyum.


"Jadi benar? wah pantas saja dia suka menunggu di depan halte yah!?"


"Ngg, ... itu ..."


Ting!!


Pintu lift perlahan terbuka.


"Baguslah, setidaknya kamu sudah selangkah lebih maju. Tidak diam di tempat seperti kemarin-kemarin." Ucap Junior seraya menlangkah masuk.


Jelas, Junior menyadari perasaan Ayumi kepada dirinya.


Ayumi tidak menjawab, dia hanya ikut masuk, dan menempatkan diri di belakang tubuh tinggi itu.


Perlahan pintu liftnya tertutup, lalu bergerak perlahan-lahan. Keadaan didalam sana cukup hening, Ayumi diam menunduk, sementara Junior menatap kearah pintu besi, memperhatikan Ayumi dari pantulan besi mengkilat di hadapannya.


Beberapa detik ada di dalam kotak besi dengan perasaan hati tak menentu, akhirnya benda itu berhenti, dan pintu segera terbuka setelah dentingan terdengar begitu nyaring.


Dengan langkah besar Ayumi mendahui atasannya, berjalan setengah berlari kearah pintu loby yang masih terbuka dengan sangat lebar.

__ADS_1


Sementara Junior mematung, menatap punggung Ayumi dengan kulit kening yang berkerut.


"Jadi, ... dia masih sakit hati yah!" Gumam Junior, dengan perasaan bersalah.


Ayumi terus berlari, meninggalkan sebuah gedung juga parkiran luas dengan tergesa-gesa.


Namun tiba-tiba saja kakinya berhenti, tepat di depan sebuah mobil, dengan pria yang bersandar sana.


Setelan jas hitam, lengkap dengan kaca mata hitam juga, membuat Randy memang selalu terlihat tampan dan semakin mempesona di setiap harinya.


Ayumi memang sangat beruntung, dicintai dengan sedemikian rupa oleh laki-laki itu, tak aneh jika beberapa orang iri kepada dirinya.


"Abang? sudah pulang?" Ayumi berbasa-basi.


Gadis itu menahan senyum.


Randy tersenyum, membuka kacamatanya, lalu berjalan menghampiri Ayumi.


"Kenapa lari-lari seperti itu?" Randy bertanya, sembari mengusap kening Ayumi yang terlihat berkeringat.


Dadanya semakin berdebar.


Ya Tuhan, kenapa dia selalu semanis ini?


"Mau pulang sekarang?" Randy sedikit membungkuk, sampai dia bisa menatap wajah Ayumi dari jarak yang sangat dekat.


Segera Ayumi mendorong bahu kekar kekasihnya.


"Jangan begini! nanti di lihat orang tidak enak." Katanya sambil menahan senyum.


"Baiklah, Ay!"


Randy meraih tangan Ayumi, di genggamnya dengan erat, lalu membawa gadis itu sampai masuk dan duduk di kursi samping kemudi.


***


"Sudah makan?"


Randy menoleh, ketika mobil yang berada dalam kendalinya berhenti saat lampu hijau berubah menjadi merah.


Ayumi yang tengah menatap lurus kedepan pun menoleh, dan pandangan keduanya kembali bertemu.


"Sebelum pulang aku udah makan mie kuah. Abang sudah makan?" Raut wajah cantik itu terlihat berseri-seri.


"Kenapa harus mie? lalu kenapa harus sebelum pulang? memangnya kamu tidak makan siang." Tanya Randy, dia terlihat serius.


Mobil yang Randy dan Ayumi tumpangi kembali bergerak, setelah lampu lalu lintas kembali berubah hijau.


"Tadi aku lap-lap kaca, sama bersihin langit-langit, jadi nggak sempet makan siang, ... Abang mau aku temenin beli makan dulu?"


"Sebenernya tadi siang sudah makan, tapi sekarang laper lagi."


"Yaudah ayok aku temenin." Ayumi tersenyum.


"Tapi bukan beli." Randy menoleh.


"Maksudnya?"


"Masakin di rumah boleh? Ibu sudah pulang, jadi tidak ada yang masak."


......................


Aih modus lagi🐍

__ADS_1


__ADS_2