
Klek!!
"Ini kamarnya." Seorang pria dengan seragam rapih masuk, disusul Randy juga Ayumi di belakangnya.
Pandangan Ayumi menengadah, menatap ruangan yang bisa di bilang cukup besar, jika harus diisi sendirian.
"Ini kayanya kebesaran." Ucap Ayumi kepada dua pria di hadapannya.
"Hanya tersisa kamar untuk ukuran dua orang, Ka. Itu pun hanya tersisa lima kamar lagi, sisanya sudah terisi penuh."
Ayumi diam, dia menatap Randy. Pria yang juga sedang menatap kearahnya.
"Tidak ada pilihan lain, Ay. Kita ambil saja! satu untuk mu, dan satu lagi untuk saya."
"Mas, saya ambil dua kamar yah!" Randy beralih pada house keeping tadi.
Pria itu mengangguk, seraya tersenyum ramah.
"Mau lihat kamar yang satunya lagi?" Tawar house keeping tersebut.
"Tidak usah. Sudah rapih dan siap huni bukan?"
"Iya, Pak." Dia megangguk.
"Baiklah, saya minta kuncinya segera." Tukas Randy yang langsung mendapat anggukan dari house keeping tersebut.
***
"Ini kuncinya, Pak. Semuanya sudah tinggal di tempati, selamat beristirahat dan semoga nyaman dengan suasananya."
"Hemm." Randy mengangguk pelan.
"Mari." Pamitnya ramah.
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet, dan kembali memanggil pria yang sudah berjalan kearah luar.
"Mas?" Panggil Randy dengan langkah cepat.
Pria tersebut menoleh, menatap Randy penuh tanya.
"Ada yang yang kurang, Pak?"
"Tidak, semuanya cukup. Ini, ... buat beli rokok." Katanya sambil memberikan uang.
Pria itu terdiam.
"Tidak usah, Pak." Tolaknya.
Randy menggelengkan kepala, meraih tangannya, lalu memberikan uang itu.
"Saya tidak suka jika ada orang yang suka menolak rejeki!" Suaranya terdengar pelan.
"Oh, ... terimakasih kalau begitu Pak." Dia berujar setelah meraih uang pemberian dari Randy.
"Yah."
"Saya permisi, jika membutuhkan sesuatu, saya ada di Bale depan tempat para pekerja berkumpul."
"Oh iya. Saya boleh minta tolong?" Pinta Randy.
"Tentu."
Randy memberikan kunci mobilnya.
"Lexus abu-abu ya Mas. Tolong ambilkan dua tas ransel!"
"Baiklah saya ambilkan dulu."
__ADS_1
Randy hanya menimpali dengan sebuah anggukan, setelah itu dia kembali kearah dalam, ruangan yang akan di tempatinya selama dua hari dua malam.
Tempat yang cukup luas, di lengkapi beberapa fasilitas. Seperti televisi, meja juga sofa, dan ada beberapa barang elektronik lainnya yang bisa membantu Randy jika ingin membuat kopi tanpa harus bersusah payah, juga tetap sejuk saat suasana wilayah sana terasa sangat panas.
Randy duduk di tepi ranjang, membuka sepatu, lalu merebahkan tubuh, saat rasa lelah tiba-tiba saja terasa.
Dia membawa ponselnya, lalu mengetik sesuatu untuk dia kirimkan kepada sang kekasih. Yang berjarak cukup jauh, dan terhalang tempat bermain diantara kamar kamar inap keduanya.
[Ay, mandilah. Lalu istirahat, karena nanti malam Pak Raga pasti akan mengadakan acara barbeque, dan kamu tidak akan bisa tidur lebih awal.]
Setelah itu Randy kirim, dan pesan itu langsung Ayumi baca, terlihat dari tanda ceklis abu-abu yang berubah menjadi warna hijau.
[Hu'um, Abang juga. Abang pasti lelah, nanti malam jika sudah selesai acaranya Pak Raga, aku mau jalan-jalan sebentar sama Abang boleh?]
Balasan dari Ayumi.
Randy tersenyum, juga pipi yang sedikit memerah, entah karena balasan pesan dari Ayumi, atau keadaanya yang memang terasa sedikit panas.
[Apa yang tidak untuk mu.]
Balas Randy lagi, di sertai beberapa emot cium.
"Cinta memang benar-benar terasa gila!" Gumam Randy pelan. "Pantas saja Pak Raga tidak bisa jauh dari istrinya yang sekarang. Nyatanya rasa itu segila ini, membuat seseorang selalu ingin bersama, termasuk aku." Dia mengusap wajahnya, lalu tertawa.
***
Malam hari pun tiba.
Suasana sekitar pantai semakin ramai dengan beberapa aktifitas para pengunjung.
Tempat bersih, juga hiasan lampu-lampu kecil berwarna kuning, dan tersedianya tempat duduk, membuat para pengunjung terlihat antusia dan menikmati masa-masa liburannya. Entah itu bersama keluarga, teman kerja, atau hanya berdua dengan pasangan.
Begitupun dengan Randy juga Ayumi. Mereka berjalan beriringan, menyusuri pantai pasir putih dengan genggaman tangan yang tak pernah terlepas.
"Kita harus foto bersama setelah." Bisik Randy sambil terus berjalan.
Hingga mereka sampai di tempat yang di tempati Raga, juga para teman-temannya yang menyewa kamar di sekitaran sana.
"Akhirnya kau datang." Raga menyambut.
Pria yang sedang duduk dan memangku bayi tampannya mulai berdiri, lalu berjalan kearah Randy berada saat ini.
"Belum mulai?" Randy berbasa-basi.
Dia mengeratkan genggaman tangannya, saat Ayumi berusaha melepaskan diri.
"Kalian ini kemana saja? makan sore tadi kenapa tidak datang?" Balqis berjalan mendekat.
"Istirahat sebentar, perjalanan kesini cukup membuat kami lelah." Randy menjawab.
Sementara Ayumi terus menundukan pandangan.
"Kalian memesan satu kamar untuk berdua?" Raga memincingkan mata. "Anak gadis orang harus kamu jaga, jangan di rusak." Sambung Raga lagi.
Randy memutar bola matanya.
Lalu Balqis tertawa.
"Ay, jika kamu merasa asing dengan teman-teman Randy, maka masuklah kedalam kamar Santi. Dia juga sama seperti kamu, malu dengan para pemain bola tampan itu." Tawanya semakin kencang.
Apa? tampan katanya?
Batin Raga bergejolak.
"Ah, ... i-iya Bu." Ayumi mengangguk, kemudian menoleh kearah Randy.
Pria itu mengulum senyum, mengangguk dan melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Pergilah, jika makan malamnya sudah siap, aku panggil."
Ayumi mengangguk.
"Emm, ... Bapak bersenang-senanglah bersama Ibu, Bara biar saya dan Santi yang ajak bermain."
"Kamu yakin?"
"Iya, sepertinya Bara juga sudah mengangguk, saya lihat dia sudah menguap beberapakali."
"Baiklah."
Raga segera menyerahkan bayi tampan berusia hampir tujuh bulannya.
Bara tersenyum, juga berceloteh. Dia memang cukup dekat dengan Ayumi, karena saat dia di bawa ke kantor, selain Santi sang pengasuh, Ayumi juga selalu ikut menemaninya.
"Kau pintar mencari gadis, Ran!" Balqis menepuk lengan asisten suaminya kencang.
"Selain muda, dia juga penyayang anak lho." Ucap Balqis lagi.
Raga menatap tidak suka interaksi tersebut.
"Sudah dulu ngobrolnya! kita lihat apa saja yang sudah bisa kita bakar malam ini."
Raga segera meraih tangan Balqis, lalu membawa perempuan itu menjauh dari Randy.
"Dasar posesif!" Umpat Randy dengan perasaan kesal. "Sikapnya seperti sedang menuduh ku, jika aku akan merebut istrinya. Padahal Ayumi saja sudah sangat cukup, aku tidak tertarik dengan wanita lain." Gumamnya lagi, dan dia pun ikut bergabung dengan tema-temanya yang lain.
Sementara sepasang mata terus memperhatikan, diam dengan perasaan yang berkecamuk, apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa kini Randy tidak sendiri, dan harapan itu mungkin akan hilang setelah ini.
"Dok! jangan melamun, sayang waktu liburannya jika hanya di pakai untuk berdiam diri seperti ini!" Seorang Crew wanita datang menghampiri.
Aleesa menengadahkan pandangan, menatap perempuan yang kini berdiri di sampingnya.
"Bergabunglah dengan yang lain, mereka sangat antusias dengan udang dan cumi-cumi yang baru saja datang." Dia duduk di samping Aleesa.
Aleesa menghembuskan nafasnya kencang, dan kembali mengalihkan pandangannya kepada Randy, yang kini tampak tertawa dengan beberapa teman dekatnya.
"Kenapa dia berbohong?" Uacp Aleesa pelan.
Wanita di sampingnya diam mendengarkan.
"Kenapa dia berbicara seolah dia tidak akan pernah memiliki pendamping hidup. Randy selalu berbicara dia tidak ingin terikat hubungan dengan wanita mana pun, dia tidak percaya cinta, dia tidak percaya kesetiaan saat aku mengatakan perasaan ku! tapi apa ini? kenapa dia datang dengan gadis belia itu? apa aku tidak lebih cantik dari dia, Luna?"
Wanita yang Aleesa maksud hanya tersenyum, jelas dia tidak tahu harus menjawab apa. Terlebih kini keadaan Aleesa yang tidak baik-baik saja. Hatinya mungkin sedang hancur, saat melihat Randy datang bersama orang lain, dan keadaannya sangat dekat, tanpa ragu pria itu memperlihatkan kemesraan nya.
"Mungkin saja dia adik sepupunya."
"Tidak mungkin!" Aleesa terkekeh getir.
"Mungkin saja, dia seperti itu hanya ingin menjaganya, bukan karena ada perasaan."
Aleesa terdiam beberapa saat.
"Apa sudut pandang mu seperti itu?"
Luna mengangguk.
"Jadi jangan bersedih seperti ini. Liburan kali ini kan atas saran kamu, ... masa tidak mau menikmatinya!"
"Bukan begitu, aku hanya terkejut dengan kenyataan ini."
"Baiklah Bu Dokter." Luna bangkit. "Ayok kita lihat, apa sudah ada udang bakar yang matang."
Luna mengulurkan tangan, lalu menariknya setelah Aleesa meraih tangannya itu.
Mereka segera beranjak, pergi mendekat pada teman-temannya yang saat ini asik membuat ikan, udang dan cumi bakar.
__ADS_1