My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Ekstra part (Toto)


__ADS_3

"Mommy sama Daddy sudah tiba Miss." Raizel menengadahkan pandangan, menatap sang wali kelas yang saat ini berdiri di sampingnya, menemani ia untuk memastikan semuanya aman seperti biasa.


Wanita yang di maksud tersenyum, kemudian menganggukan kepala.


"Ya sudah, kalau begitu kamu sudah boleh pulang sekarang!"


Raizel mengangguk, lalu dia melepaskan genggaman tangannya, dan berjalan cepat mendekati mobil hitam yang dia kenali sebagai milik sang ayah, yang terparkir menunggu di luar gerbang seperti biasa.


"See you tomorrow!" Gadis kecil itu berteriak.


Dia melambaikan tangannya saat pandangan mereka kembali bertemu.


"See you soon, El."


Raizel kembali berbalik badan, melanjutkan langkahnya, dan meraih handle pintu mobil, untuk kemudian membuka pintu dari kendaraan tersebut.


"Hai, sayang?"


Ayumi menyapa putrinya. Yang sontak membuat Raizel terlihat sedikit terkejut.


"Mom?"


"Kamu mau duduk di depan? Kalau begitu Mommy pindah ke belakang." Ayumi tersenyum ketika Raizel terus menatapnya tanpa henti.


Raizel menggelengkan kepala, kemudian dia beralih menatap sang ayah yang duduk dibalik kemudi.


"Tidak usah, Mom. Aku saja!"


Gadis kecil itu kembali menutup pintu depan bagian kiri, beralih pada pintu belakang, membuka nya, dan segera masuk, untuk kemudian duduk dengan nyaman tak lupa memasang tali sabuk pengaman seperti biasa."Sudah selesai? Kita pulang sekarang?" Randy bertanya.


Pandangannya tertuju pada spion di hadapannya yang terletak sedikit lebih tinggi dari kepala, sehingga dia dapat melihat Raizel dengan sangat jelas.


"Ya, of course." Sahut Raizel. "Bukannya Mommy sakit? Kenapa jemput aku?"


"Hemm, … ini pulang dari rumah sakit. Dan kami berputar untuk sekalian menjemputmu." Jelas Ayumi, yang seketikan membuat kepala Raizel mengangguk, dengan senyuman tipis yang gadis kecil itu perlihatkan.


Randy mulai menginjak pedal gas, membuat kendaraan itu melaju dengan perlahan-lahan, dan menambah tempo kecepatan setelah memasuki jalan utama. Keadaan hening untuk beberapa saat, hanya terdengar alunan musik yang terdengar pelan, sementara orang yang ada di dalamnya diam. Randy yang fokus pada jalanan di hadapannya, Ayumi dan Raizel yang asik melihat-lihat jalanan sekitar yang tampak ramai.


Bahkan terdapat antrian kendaraan di beberapa persimpangan. Membuat laju kendaraan yang mereka tumpangi perlahan-lahan melamban.


"Oh iya." Raizel mulai terdengar bersuara.


Dia meraih tasnya, kemudian membuka benda itu, dan mengeluarkan sesuatu diDia dalam sana.


"Mom, … Dad! Lihat, tadi Bryan memberikan coklat lagi. Sekarang lebih besar daripada yang kemarin." mengacungkan coklatnya.


Ayumi menoleh, sementara Randy melihat dari pantulan spion yang terletak di atas kepala.


"Oh ya? Bryan manis sekali selalu memberimu hadiah." Kata Ayumi.


Raizel menganggukan kepala.


"Tapi nggak lama setelah ini pasti suka iseng lagi, setelah itu minta maaf lagi, terus ngasih aku hadiah lagi. Entah ciki, coklat, atau permen yupi berbentuk love." Gadis kecil itu meracau.


Membuat Randy sedikit memperlihatkan senyumnya.


"Kalian ini kenapa? Sebentar akur, sebentar seperti musuh bebuyutan." Pria itu tertawa samar.


"I don't know." Raizel mengendikan bahu.


"Kamu mengeluh, El. Tapi selalu menerima pemberian Bryan." Ayumi terkekeh.


Raizel terlihat berpikir, seraya mengetuk-ngetuk pipi dengan jari telunjuknya.


"Kalau tidak El terima kan mubazir, Mom. Kata Mommy aku nggak boleh maruk, boros sama mubazir, kan?" Dia menjawab santai seperti biasa.


Membuat tawa Randy terdengar sangat kencang. Entah kenapa, ada saja tingkah Raizel yang selalu menggelitik perut. Bawaannya yang santai juga sedikit ceplas-ceplos, membuat gadis kecil itu berbeda dari anak-anak lain yang selalu bersikap manis dan malu-malu.


"Ada saja jawabanmu, El!" Ucap Randy.


Ayumi menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan kembali dengan perlahan-lahan.


"Sifat yang satu ini mirip sekali dengan dirimu. Jadi jangan aneh, … kamu saja kalau aku beritahu suka membantah, kadang mengelak terus-menerus." Gumam Randy.


Raizel tidak mendengar ucapan ayahnya, sehingga dia kembali terdiam tenang sambil mengarahkan pandangan ke arah luar. Sementara Ayumi menatap suaminya tajam, tapi bukannya takut, Randy justru terus memperlihatkan senyumannya.


"Dari semua yang ada di El itu perpaduan. Bagaimana kerasnya kamu, ngeyelnya aku, …"


"Manjanya kamu juga!" Sergah Randy, dia tak membiarkan Ayumi selesai bicara.


Ayumi menoleh, dan matanya terlihat mendelik. Membuat Randy semakin merasa gemas karena reaksi Ayumi ketika ia menggodanya.


30 menit berlalu.

__ADS_1


Mobil yang Randy kendalikan berbelok memasuki garasi rumah miliknya yang berada di kawasan perumahan elit. Dengan tak sabar Raizel membuka pintu di samping kirinya, lalu kemudian berlari ke arah dalam.


"El tidak boleh lari, sayang!" Randy memperingatkan.


Suaranya jelas terdengar menggelegar, sehingga gadis kecil itu masih dapat mendengarnya, meskipun dia sudah berada di dalam rumah.


"Sedikit, Dad. Aku lupa menyiram Toto tadi!"


Sahutan terdengar dari arah dalam. Yang seketika membuat Ayumi dan Randy saling menatap satu sama lain.


"Sekarang tanaman tomatnya di beri nama Toto?" Ayumi bergumam, seraya menatap suaminya dengan raut aneh.


Pria itu mengendikan kedua bahunya.


"Biarkan saja, setelah ini baru kita beritahukan jika dia sudah akan menjadi Kakak."


Randy meraih tangan Ayumi, membuat jemarinya saling terpaut satu sama lain, kemudian berjalan masuk kedalam rumah bersama-sama.


"Sudah? Bagaimana hasilnya?"


Maria menyambut kedatangan keduanya dengan raut wajah sedikit panik. Bahkan wanita itu terus menyelidiki setiap jengkal tubuh Ayumi, berusaha untuk memastikan sesuatu yang sangat dia takutkan.


"Ayumi baik-baik saja, Bu." Perempuan


itu menyahut. Lalu mereka berjalan ke arah ruang tengah bersama-sama.


Sementara di area taman belakang Raizel yang disibukkan dengan tanaman kesayangannya. Tanpa merasa lelah, gadis kecil itu membawa ember berukuran kecil, yang tentunya sudah diisi air terlebih dahulu.


"Hai Toto. Maaf aku telat kasih kamu minum!" Kata Raizel pada tumbuhan yang masih berukuran sangat kecil.


"Usahakan tidak usah memberinya banyak air, El. Agar dia tetap hidup." Dini memperhatikan anak yang tumbuh dalam asuhannya.


Dia duduk di kursi kayu, menatap gadis berusia 5 tahun itu dengan tatapan sejuk. Rambut panjang yang selalu dibiarkan terurai, pakaian sekolah yang tampak begitu menggemaskan, rok pendek berwarna merah dengan aksen kotak-kotak, pun dengan kemeja lengan pendek yang terlihat pas di tubuh anak itu, tak lupa dengan dasi yang menghiasi kerah kemejanya, membuat dia terlihat sangat memukau, apalagi dengan wajah cantik warisan dari sang ayah.


"El? Jangan terlalu banyak, cukup sedikit saja, cantik!" Dini kembali memperingati, saat melihat Raizel terus mengucurkan air.


"Dia belum minum dari pagi, Bi!"


"Ya tapi itu terlalu banyak."


Raizel menoleh.


"Tidak. Ini aku kasihnya sedikit-sedikit." Dia dengan keras kepalanya.


Raizel menganggukan kepala dengan penuh keyakinan.


"Lalu kenapa membawa airnya sampai satu ember?" Dini terkekeh. "Nanti kalau Bibi kepasar, … Bibi belikan semprotan untuk menyiram tanaman kecil."


"Baiklah."


"Jadi berhentilah sebelum tanaman tomatnya mati lagi sebelum dia tumbuh besar dan berbuah."Raizel mengangguk lagi.


"Bye Toto. Stay safe, ya!" Katanya sembari mengusap daun dari tumbuhan tersebut.


Dia bangkit, mendekati kran air, kemudian membasuh tangannya disana. Tiba-tiba saja Maria mendatangi area taman belakang dengan tergesa, membuat Dini sedikit terperanjat melihat wajah dari wanita tersebut.


"Bu? Terjadi sesuatu?" Dini panik.


"Eeeee, … ya, … sudah terjadi …" Maria gelagapan. "El? Dipanggil Mommy sama Daddy, sayang!" Dia menggerakan-gerakan tangannya, meminta gadis kecil itu untuk segera mendekat.


Raizel menutup kran dengan segera, mengangguk, lalu mendekat sambil mengibaskan kedua tangannya yang basah.


"Mommy sakit lagi? Bukannya tadi sudah baik-baik saya ya, Oma?" Pandangannya menengadah, menatap sang Nenek yang saat ini memperlihatkan mimik wajah aneh.


Terlihat panik, tapi ada sedikit lengkungan senyum di kedua sudut bibirnya.


"Apa ada hal serius lagi?" Dini ikut bereaksi.


Dia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mengekor di belakang Maria juga Raizel yang saat ini tengah menuju ruang tengah.


"Oma? Mommy baik-baik saja!" Raizel kembali menatap Neneknya. "Look! Tidak separah tadi pagi bukan?" Lanjut gadis kecil itu ketika melihat Ayumi sedang duduk santai di sofa ruang tengah rumahnya.


Mendengar ucapan Raizel Ayumi segera tersenyum, wanita itu duduk bersandar di sofa ruang tengah, kemudian membuka tangan, meminta Raizel untuk terus mendekat dan masuk ke dalam dekapannya.


"Bukannya aku sudah meminta Daddy membawa Mommy ke Dokter. Apa Daddy bohong? Daddy nakal? Daddy nggak denger apa kata aku yah!?"


Tangan kecilnya bergerak mengangkat ke arah atas, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Ayumi.


"Mommy okay, sayang!" Ayumi meraih tangan Raizel, dan menyingkirkannya si kening sana.


"Really?" Raizel menatapnya lekat-lekat.


Ayumi mengangguk, seraya menarik tangan kecil putrinya, dan memeluk tubuh mungil itu dengan perasaan bahagia. Tentu saja, keduanya memang sangat dekat, namun persaingan sengit untuk mencari perhatian satu pria yang sama, membuat keduanya terkadang berdebat seperti seorang anak kembar yang memperebutkan mainan mereka.

__ADS_1


"Ya, Mommy sudah ke Dokter tadi. Dad sudah melakukan tugasnya dengan baik." Dia mendorong pundak Raizel, kemudian memindai wajah cantik yang didominasi wajah suaminya.


"Mommy baik-baik saja. Tidak ada hal serius …"


"Terus kenapa Mommy demam tadi pagi?" Sergah Raizel. Gadis kecil itu memotong ucapan sang ibu karena merasa semakin penasaran.


Ayumi mengangguk.


"Mommy demam karena ada adik bayi disini."


Raizel tampak membeku, diam dengan ekspresi bingung, karena memang dirinya tidak mengerti. Bukankah ibunya mengalami demam yang cukup parah tadi pagi? Lalu kenapa sekarang ada bayi di dalam perut ibunya?


"Non hamil?" Cicit Dini.


Ayumi mengangguk, dan wajah semua orang terlihat berbinar. Kecuali Dini dan Raizel yang masih terlihat cukup terkejut.


"Kamu senang?" Randy bertanya kepada putrinya.


Raizel menggelengkan kepala.


Membuat Ayumi sedikit merasa takut akan reaksi lain dari putrinya. Ya, tidak sedikit anaknya merajuk hanya karena mereka tahu akan segera memiliki adik.


"Why?" Randy bertanya.


Dia mengubah posisi duduknya, lalu menari Raizel dan membingkai wajah cantik Raizel.


"Eeee, … El cuma bingung. Bagaimana bisa Mommy memasukan bayi kesana?" Dengan wajah lugunya Raizel mengucapkan itu.


Sehingga membuat Randy tertawa kencang, begitu juga dengan Dini dan Maria. Sementara Ayumi diam dengan otak yang mulai berputar keras, mempersiapkan diri untuk pertanyaan yang sudah pasti putrinya layangkan.


"Mom? Kenapa ada adik bayi di dalam perut Mommy? Kenapa Mommy tega memasukan bayi kesana?"


"Eeeee, …" Ayumi menatap Maria, Dini dan suaminya bergantian.


"Om Dokter yang masukin yah?"


"Eh bukan!" Ayumi terkejut. "Yang masukin Daddy!" Celetuk Ayumi.


Raizel terlihat semakin bingung, dia segera menatap ayahnya untuk mencari kejelasan.


"Dad!?" Matanya memicing.


"Astaga!" Randy menyapu wajahnya.


"Daddy? Ayo jelaskan. Kenapa Daddy memasukan adik bayi ke dalam perut Mommy?"


Randy diam sebentar untuk mencari jawaban yang sangat tepat. Karena tidak mungkin dia memberitahukan prosesnya bukan?


"Begini, …"


"El? Ayo Bibi antar ganti pakaian. Nanti kita jalan-jalan sore lagi seperti biasa!" Dini mendekat, meraih tangan Raizel, kemudian menarik gadis itu tanpa perlawanan sedikitpun.


Dia hanya menoleh beberapa kali, menatap ayah dan ibunya bergantian.


"Umur El sekarang memang sedang banyak bertanya. Jadi berhati-hatilah dalam menjawabnya, jangan sampai salah, nanti berabe." Gumam Maria.


Ayumi juga Randy menoleh.


"Kalau bahasa anak jaman sekarang, kepo. Tingkat ingin tahu yang sangat tinggi." Lanjut Maria.


"Lagi pula kenapa Raizel bisa kepikiran bertanya seperti tadi?" Ujar Randy.


"Karena dia tidak tahu, kenapa bayi bisa masuk ke dalam perut Ayumi. Sementara Bayi yang dia lihat ada di luar dan berukuran besar. Mungkin itu yang membuat dia bingung." Maria menjelaskan.


Ayumi menghela nafas, kemudian dia bangkit.


"Aku nggak ikut-ikutan ah. Aku mau masuk kamar aja, itu urusan Ibu sama kamu yah! Aku nggak bisa jelasinnya, nanti keceplosan." Katanya, lalu meninggalkan keduanya begitu saja.


Ibu dan anak itu saling menatap.


"Terkadang Ayumi sangat mirip dengan Raizel." Bisik Maria.


"Ya, El terlahir dengan perpaduan yang sangat sempurna bukan?" Ucap Randy.


"Ah ya sudah. Ibu mau lanjutin bikin puding buahnya!" Maria beranjak pergi. "Jangan lupa beri kabar Pak Ali, Bu Tutih dan keluarga di Jerman, ya?"


"Baik."


Randy ikut bangkit, kemudian melenggang pergi mendekati pintu kamarnya yang tampak sedikit terbuka.


......................


Aylopyu banyak-banyak ♥️

__ADS_1


__ADS_2