My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Hubungan rumit


__ADS_3

"Jauh juga tempat tinggalmu, ya?" Amar mengikuti langkah Una.


Pria itu memutuskan untuk kembali datang, setelah jam pulang kerja sudah tiba. Dan beruntung kali ini Una mengizinkannya untuk ikut pulang setelah beberapa kali mengalami penolakan seperti biasa.


"Lumayan, dari halte aku harus jalan dulu masuk gang. Capek kan? Itu kenapa aku ngelarang kamu ikut, jalannya jauh!" Una menoleh, menatap wajah tampan kekasihnya yang tampak sedikit memerah dan mengeluarkan bulir-bulir keringat.


Amar mengulum senyum, kemudian dia berusaha untuk semakin mendekat dan merangkul pundak Una.


"Tidak mau cari kontrakan yang dekat dengan tempat kerja saja?" Tanyanya dengan hati berdebar-debar.


2 tahun memang bukan waktu yang sebentar. Namun, tidak ada kemajuan yang signifikan. Mereka hanya sering berkomunikasi melalui sambungan video call ketimbang bertemu secara langsung, karena jarak memang menjadi alasan dari keduanya.


Bertemu di area terbuka, menghabiskan waktu di tempat-tempat ramai yang tentunya banyak dikunjungi oleh orang-orang. Entah itu food court mall, atau taman kota di sore hari, membuat Una dan Amar tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar pegangan tangan.


"Kalo di Deket tempat kerja harga sewanya mahal. Takutnya aku nggak sanggup bayar," kata Una seraya membalas rangkulan Amar dengan memeluk pinggang pria itu.


Sehingga kini mereka jalan dengan posisi menempel satu sama lain.


"Kamu ingat apa yang aku bicarakan tadi setelah makan siang? Kalau butuh bantuan bisa kasih tahu aku, mungkin bisa bantu sedikit-sedikit."


Una tertawa.


"Aku serius!"


"Ya, aku tahu Bang Amar serius. Cuman kan gaji kita saja nominalnya sama, … Bang Amar juga pasti punya kebutuhan, bantu Bapak sama Ibu juga kan? Jadi kayaknya kalo bantu aku nanti gaji Bang Amar habis."


Amar bungkam, dia baru ingat belum mengatakan apapun soal pekerjaan barunya.


"Nah, kita sudah sampai. Jangan kaget ya, ukurannya kecil!" Una menunjuk deretan pintu kontrakan, di sebuah bangunan yang sama.


Dan sebuah tembok kecil menjadi pembatas antara kontrakan satu dengan kontrakan yang lain.


Amar langsung terdiam, ketika menatap sebuah bangunan yang ditempati oleh kekasihnya. Terlihat kecil, dan berada di lingkungan yang cukup kumuh, sampah-sampah rumah tangga bahkan terlihat berceceran di area sana.


"Disini lagi ada Ibu."


Una mendudukan dirinya di salah satu pilar pembatas, dan mulai membuka sepatu yang sedari tadi dirinya kenakan.


"Kamu tidak tinggal sendiri? Bukannya orang tua kamu di Bogor?"


Una mengangguk.


"Ibu lagi berobat jalan di RSCM. Karena posisinya lebih deket dari sini, jadi ya, … tinggal dulu sama aku!"


Amar menatap wajah kekasihnya lekat-lekat.


"Sejak kapan?"


"Kapan yah? Aku lupa tapi lumayan lama lah."


"Sakit apa?"


Dan Una hanya tersenyum saat mendapatkan pertanyaan itu dari Amar.


Gadis itu menyimpan sepatu pada rak miliknya, dimana terdapat sepatu-sepatu lain disana. Kemudian berdiri dan berjalan mendekati pintu, lalu menekan handlenya perlahan-lahan.


"Bu? Una pulang," kata Una.


Seorang wanita paruh baya itu terlihat berjalan dari arah dalam, kemudian tersenyum ketika Una membungkuk untuk meraih dan mencium punggung tangannya.


"Ada Bang Amar," dia menatap pria yang mulai berjalan mendekati pintu masuk.


Wanita itu mengangguk, seolah sudah tahu siapa pria yang kali ini datang bersamanya. Dan itu cukup membuat Amar bingung, karena yang dirinya ketahui, hubungan mereka belum benar-benar diketahui orang, selain mereka berdua juga salah satu dari sahabatnya yaitu Aira.


"Sini masuk, tapi maaf. Keadaan rumahnya tidak sebaik rumah-rumah lain!" Ujarnya sambil terus tersenyum.


Amar mengangguk, kemudian dia melangkah masuk. Tidak ada yang aneh, bahkan keadaannya cukup baik saat Amar melihat keadaan di dalam sana. Ruangan kecil yang disulap sedemikian rupa sehingga terlihat hangat, apalagi dengan warna kuning cerah dan pernak-pernik khas perempuan, membuat ruangan itu mempunyai rasa nyaman tersendiri.


Amar meraih tangan calon ibu mertuanya yang kurus kering, kemudian mencium punggung tangannya.


"Bang Amar mau minum apa? Kopi atau teh?" Tawar Una.


"Air putih saja, yang gampang dan tidak membuatmu repot."


"Teh manis dingin aja yah? Lumayan lho jalan dari halte kesini agak jauh." Una segera pergi ke arah dapur, yang berada di petak paling belakang bangunan itu. 


Untuk beberapa menit keadaan berubah menjadi sangat hening. Dua orang yang berada di sana memilih diam dengan pikiran masing-masing, sampai Una merasa heran ketika dirinya kembali setelah membuatkan minuman untuk Amar.


"Ada apa?" Una menatap ibu dan kekasihnya bergantian.


"Tidak ada apa-apa," sahut sang ibu, lalu tertawa.


Una menghela nafasnya.


"Ibu, ini Bang Amar yang pernah aku ceritain."


Wanita itu hanya mengangguk. Beberapa kali terlihat memperhatikan Amar, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan.


"Kakaknya Ayumi kan yah?" Akhirnya wanita yang akrab disapa Lilis itu membuka suara.


"Iya, Bu."

__ADS_1


"Jauh-jauh dari pesisir kesini? Cuma mau nemuin Una?"


Amar mengangguk.


"Ah baik sekali."


Una dan Amar saling melirik. Sekilas memang tidak ada yang aneh selain ekspresi heran dari Una saat Amar melihatnya. Namun, jika ditelisik lebih dalam, sepertinya ada sesuatu yang Una sembunyikan dari sikap ibunya. 


"Una bilang Ibu sakit? Sakit apa?" Amar mencoba lebih akrab.


Raut wajah Aruna terlihat sedikit pucat. Dan Amar semakin yakin, jika ada sesuatu diantara dua wanita berbeda usia itu.


"Tidak terlalu parah, hanya saja Dokter menyarankan untuk rutin melakukan cuci darah," jelasnya, yang langsung mendapat anggukan dari Amar.


Una memejamkan mata.


"Cuci darah? Bukankah itu cukup parah Bu?"


"Ya, semua biaya berobat ibu memang ditanggung asuransi. Hanya saja terkadang butuh biaya-biaya lain, … dan ibu hanya mempunyai Una untuk diandalkan. Adik-adiknya masih sekolah juga, jadi …"


"Bu!" Sergah Una.


Membuat wanita itu berhenti berbicara dengan seketika.


"Ibu hanya bercerita, Una. Agar Amar tahu!"


"Iya, tadi Bang Amar cuma tanya ibu kenapa! Jadi tidak usah merembet kemana-mana."


"Tapi semuanya harus dibicarakan, Aruna! Agar semua orang tidak berharap apapun lagi."


Kening Amar mengkerut, ekspresi wajahnya pun seketika berubah saat melihat Una dan ibunya mulai bersitegang.


"Ini urusan Una, ibu. Ibu cuma butuh biaya kan? Untuk semua kebutuhan ibu? Sama adik-adik? Una berusaha memenuhi itu tapi jangan membahas yang lain lagi."


"Tunggu, kenapa ini?" Amar menatap Una dengan ekspresi wajah penuh tanya.


Bahkan bola matanya terus bergerak-gerak, berusaha mencari tahu sesuatu dari mimik wajah kekasihnya.


"Teh nya di minum dulu, Abang. Ayo Una anter ke Halte kalau sudah habis."


"Tidak, ada apa sebenarnya? Apa ibu sudah tahu tentang apa yang sudah Abang katakan?" Amar bertanya.


"Tentang kita?" Sambung Amar seraya menunjuk dirinya sendiri.


Una bungkam, dia hampir berdiri untuk membawa Amar pergi dari kontrakannya. Namun, ibunya kembali membuka suara sehingga Amar menahannya hanya sekedar untuk mendengarkan.


"Tidak ada yang salah dari pernikahan. Itu memang hal baik, dan itu bagus. Tapi jika pernikahan itu akan dilakukan dalam jangka waktu yang angkat cepat, bagaimana nasib ibu dan adik-adiknya Una? Mereka masih sekolah, sementara ayahnya pergi entah kemana. Dan jika Una menikah, bagaimana nasib kami, Nak Amar? Bagaimana? Sementara sesudah menikah bakti Una hanya untuk suaminya, tidak ada lagi kewajiban untuk membantu kami."


Hati Una mencelos, dunianya benar-benar terasa berhenti berputar. Bahkan otak, hati dan darahnya terasa tak berfungsi dengan baik sehingga ia tidak mampu melakukan apapun.


"Ibu stop, ini masalah kita. Tidak ada sangkut pautnya sama Bang Amar! Dia datang untuk berkunjung, mengenal ibu dengan baik. Tapi kenapa justru ibu mengatakan ini semua? Sudah aku katakan, aku ada caraku sendiri, ibu hanya diam dan tidak usah susah payah untuk menjelaskan apapun," gadis itu berkelakar.


Wajahnya merah padam, mata berkaca-kaca dengan dada yang naik turun dengan cepat. Sangat terlihat jelas jika saat ini Una sedang berusaha meredam kemarahannya.


"Dengar. Anak-anak sekarang kebanyakan tidak mengerti, Una. Menikah itu bukan hanya sebatas halal, lalu kalian bisa hidup bersama dengan bebas, melakukan apapun atas kehendak kalian sendiri. Tapi ada banyak masalah yang harus kamu mengerti, harus banyak persiapan, Una. Lihat Ibu! Setelah ibu di vonis gagal ginjal, bapak kamu pergi entah kemana."


Una meraih lengan Amar, menariknya sekuat tenaga, kemudian membawa pria itu keluar dan pergi dari sebuah bangunan yang dia tinggali bersama ibunya.


Langit berwarna oranye kemerahan mulai terlihat semakin meredup. Cahaya matahari kini berganti dengan lampu-lampu jalanan yang sudah mulai menyala di setiap tiang. Menemani Una dan Amar yang sedang dalam perjalanan menuju halte bus.


"Yang!" Amar berusaha menatap diri saat Una terus menarik tangannya.


Gadis itu berjalan sangat kencang tanpa banyak berbicara. Tidak tahu apa saja yang sebelumnya anak dan ibu itu bicarakan, sehingga membuat Una terlihat benar-benar marah kali ini.


"Ayang!"


Namun, Una tidak menggubris. Gadis itu terus menarik tangannya sambil berjalan cepat.


"Aruna!"


Amar mencengkram telapak tangan kekasihnya, menautkan jati mereka dan menahan diri sampai Una tak dapat lagi melakukan sesuatu.


"Tunggu, ada apa ini? Kenapa? Kau marah?"


Una memejamkan matanya kembali, menghirup udara sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan melalui mulut.


"Tangan Bang Amar sakit? Maaf yah!" Tanya Una, lalu dia mengusap pergelangan tangan Amar.


"Tidak tidak, hanya katakan apa yang sedang terjadi," tutur Amar sambil menatap Una lembut.


Namun, Una segera menggelengkan kepalanya.


"Ibu cuma ngelantur, Bang. Biarkan saja, mungkin efek obat juga makanya bicara asal-asalan!"


Gadis itu kembali berbalik badan, dan menuntun tangan Amar kembali, tapi dengan keadaan lebih tenang.


"Aku tahu, aku mengerti. Hanya jelaskan sedikit saja!" Amar kembali menahan tangannya.


Dan mereka berdua benar-benar berhenti sejenak.


"Jangan dipikirkan, hanya jalani saja semua ini," jawab Una. "Ayo, jalanan semakin sepi, disini banyak preman tahu!" 

__ADS_1


"Aku tidak peduli, kita harus bicara. Ayo cari tempat untuk mengatakan semuanya!"


"Tidak ada yang harus dijelaskan Abang!"


Amar menggelengkan kepala.


"Ayo bicara!" Amar penuh penekanan.


Sorot matanya bahkan terlihat sangat tajam dan penuh intimidasi.


"Kita akan bertengkar kalau bahas ini terus," tolak Una.


"Kau menutupi sesuatu?" Raut wajah pria itu mulai berubah.


Una menghela nafasnya lagi, berusaha menetralisir rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Dia tersenyum, kemudian maju beberapa langkah sampai mereka hampir tidak berjarak sama sekali.


Setidaknya itu yang selalu Una lakukan untuk meredam emosi Amar yang selalu lebih cepat tersulut.


"Abang sudah dengar, jadi aku tahu Abang akan mengerti, …" 


"Omong kosong!" Sergah Amar.


Pria itu mendorong pundak Una sampai gadis itu mundur beberapa langkah.


"Abang?" Suara Una terdengar sangat lembut.


"Kamu pikir apa dua tahun ini? Hanya main-main?" 


"Tidak!" Sanggah Una.


"Lalu apa ini? Kau benar-benar mempermainkan aku. Dari awal kamu meminta hubungan kita tertutup, tidak boleh ada yang tahu. Maksudnya apa? Kamu pikir aku ini bagaimana, Aruna?"


"Sudah aku katakan, kita akan bertengkar jika membahas ini, …"


"Tentu!" Amar tersenyum mirip.


Namun, kesedihan dan rasa kecewa jelas terlihat dari raut wajahnya. Dan untuk kali pertama Una tidak dapat meredam emosi dari kekasihnya itu.


"Persoalan ini tidak pernah kita urai. Kau selalu menutupinya, … padahal tinggal katakan saja, kau belum bisa menikah karena larangan dari ibumu. Sesimpel itu! Tapi kau berdalih seolah takut dengan setiap berita yang tersebar di sosial media!"


Una hampir kembali membuka mulutnya untuk menjelaskan.


"Berapa kali aku berusaha meyakinkanmu? Berapa kali? Tapi apa kau percaya? Tidak, kau terlihat semakin ragu dengan apa yang kau dengar."


"Abang stop!"


"Kau takut aku seperti ayahmu? Atau kau takut aku tidak memperbolehkan kamu untuk membantu ibumu? Sekeji itukah aku, Aruna?"


"Baiklah, baik. Ini tempat umum, bisakah kita bicarakan lagi? Hanya kita saja? Di tempat yang lebih tertutup? Kita menjadi tontonan orang lain." 


Una menatap beberapa orang yang lewat, dan perhatian mereka tertuju kepada dirinya juga Amar yang sedang berselisih paham.


Amar menggelengkan kepala, pria itu menolak.


"Sikap kamu, dan sikap ibumu. Sudah cukup membuat aku tahu, kalau kalian menganggap aku dan keluargaku adalah orang-orang yang tidak pernah peduli."


"Tidak begitu." 


"Tentu saja begitu."


"Abang cuma lagi emosi, jadi semuanya di sangkut pautkan. Ibu hanya meminta aku membantunya sampai dia sembuh, atau sedikit membaik. Maka dari itu …"


"Pergilah, bawa semua rasa takut kalian!" Bentak Amar.


Amar melewati Una begitu saja, dan berjalan cepat menuju halte yang sudah berjarak beberapa meter dari tempat merek saat ini.


"Bang?" 


Una berlari.


"Abang tunggu, … apa maksudnya ini!?"


Amar tidak menggubris, dia terus berjalan setengah berlari. 


"Abang salah paham, maksudnya nggak gitu!"


Gadis itu berusaha mengejar Amar yang sedang diliputi amarah. Nahas, bus lebih dulu tiba sehingga Amar dapat masuk dengan segera, sementara dirinya berusaha mengejar Amar dengan sisa tenaga yang masih ada.


"Bang Amar?"


"Abang?"


"Haih!"


Una menatap bus yang sudah melaju.


Bukan tidak mau berlari untuk mengejar bus yang amar tumpangi. Tapi seharian berkutik dengan pekerjaan yang sangat luar biasa, membuat tenaganya benar-benar tak tersisa lagi.


Perlahan bus itu berjalan semakin menjauh, dan tidak ada yang bisa Una lakukan selain menatap kepergiannya dengan hati yang ngilu. Sesuatu seperti dirampas secara paksa dalam dirinya, sampai meninggalkan rasa yang luar biasa sakit.


"Tunggu bis selanjutnya aja, Dek. Yang itu memang penuh makanya nggak berhenti lama. Maklum jam pulang kerja kan?" Seorang laki-laki tua berbicara.

__ADS_1


Una menoleh, dia mengangguk, lalu tersenyum.


__ADS_2