
Dan sampailah pada hari itu. Hari untuk pertama kalinya Randy juga Ayumi berlibur bersama.
Tidak banyak yang gadis itu bawa, hanya tas ransel berukuran besar, juga Tote bag baru miliknya, yang Randy belikan beberapa waktu lalu.
"Semuanya sudah?" Randy meraih ransel itu.
Ayumi mengangguk, dia melangkah keluar, dan segera menutup pintu kamar kost, lalu menguncinya seperti biasa.
"Padahal tidak usah repot-repot kesini, aku bisa naik taksi ke rumah kamu." Ucap Ayumi.
Randy hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil Randy yang terparkir di depan pintu gerbang seperti biasa.
"Busnya nungguin dimana?"
"Busnya sudah berangkat, tinggal aku sama kamu." Jawab Randy.
Kemudian pandangannya menoleh, menatap Amel yang sedang duduk di depan warung miliknya.
"Kami pamit Bu." Randy berpamitan.
"Ya, ... hati-hati!"
"Iya Bu Amel, makasih." Ayumi tersenyum, kemudian menundukan kepala.
Dia malu, saat wanita itu terus tersenyum penuh arti. Tentu saja Ayumi tahu apa yang ada di dalam pikiran wanita itu, jelas terlihat bukan dari senyumannya yang aneh.
Dia pasti mengira yang tidak-tidak, terus memikirkan jika aku ini sama dengan beberapa penghuni kamar depan.
Ucap Ayumi di dalam hati.
"Masuklah, astaga! malah melamun." Cicit Randy, saat dia berdiri memegangi pintu mobil yang sudah terbuka.
Sementara kekasihnya terus terdiam, dengan tatapan kosong.
"Jangan di pikirin, nanti aku nikahin kok!" Randy berbisik.
Namun itu mampu menyadarkan Ayumi dari lamunannya.
"Masuklah, kita pasti sudah tertinggal sangat jauh. Nanti nggak bisa lihat sunset lho!" Sambung Randy, dengan senyum manisnya seperti biasa.
"Terimakasih sayang, untuk selalu membukakan pintu." Ayumi segera masuk.
Gadis itu tertawa pelan.
"Jangan membuat ku gemas! atau sesuatu akan terjadi, karena aku tak bisa mengendalikan diri ku."
Randy langsung menutup pintu di samping kekasihnya itu, lalu menutup dan segera menyusul masuk.
Mobil milik Randy mulai melaju, meninggalkan kediaman Ayumi dengan kecepatan sedang.
"Ibu dan Bapa sudah di beri tahu?" Tanya Randy dengan pandangan yang terus fokus kedepan.
Ayumi mengangguk.
"Semalam aku kasih tahu, Abang mau nemuin mereka."
Randy menoleh sekilas, tersenyum tipis dan kembali menatap jalanan kota yang terlihat sangat padat.
"Lalu apa yang mereka katakan?"
__ADS_1
"Ya, ... terkejut apa lagi!" Jawab Ayumi singkat.
Randy terkekeh cukup kencang.
"Apa mereka masih mencurigai mu? maksudnya, bukankah mereka mengira kamu ..."
"Aih jangan ingtkan itu!" Sergah Ayumi. "Kata aku juga apa! nggak usah ya nggak usah, jadinya begini kan? aku di Sangkan open BO sama Ibu, kan kesel." Ujar Ayumi.
Tangan kiri Randy menjauh dari setir mobil yang sedari tadi berada di dalam genggamannya, lalu meraih tangan Ayumi, untuk dia pautkan jemari mereka sampai saling menggenggam satu sama lain.
Cup!
Tanpa di sangka-sangka Randy mencium punggung tangan Ayumi. Dan tentu saja itu membuat gadis itu sedikit terkejut.
"Terimakasih, sudah menjadi kekasih yang sangat pengertian. Ku kira hanya kamu yang kuat dengan sifat ku ini."
"Yah, dan aku harus mempunyai stok kesabaran yang sangat banyak." Ayumi menjawab, lalu tertawa.
"Kamu hebat. Tapi aku akan berusaha, mengurangi kadar sifat pemarahnya."
"Itu harus." Kemudian dia bergeser, dan memeluk lengan kekar Randy dengan perasaan berdebar-debar.
Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening, keduanya menikamti perjalanan yang mulai lancar.
"Abang?"
Ayumi melepaskan lengan Randy, dan mengubah posisi duduknya tegak seperti semula.
"Ya? kenapa? kamu lapar? atau haus?"
"Nggak. Cuma manggil saja, takunya kamu mengantuk jika kita terdiam seperti tadi."
"Tidak akan, aku akan memastikan kita selamat sampai nanti pulang."
"Lumayan. Crew, pelatih, Pak Raga juga istrinya."
Deg!
Tubuh Ayumi tiba-tiba menegang. Dan Randy menyadarinya sampai pria itu menoleh untuk memastikan.
"Kenapa?"
"Aku nggak tau kalo Bu Balqis ikut!"
"Memangnya kenapa?"
Ayumi menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, memejamkan mata beberapa saat, juga mengatur nafasnya beberapa kali.
"Apa yang harus aku katakan. Kamu tahu? para karyawan juga sedang berlibur, dan aku menolak liburan itu dengan alasan aku mau pulang ke rumah Ibu. Lalu setelah ini aku harus bagaimana? terus kalau nanya soal kit ..."
"Aku akan mengatakan semuanya. Aku tidak akan menutup siapa kamu, aku tidak akan menyembunyikan status kita, kamu mengerti? jadi jangan panik." Sergah Randy.
"Tapi ..."
"Kamu takut?" Pria itu kembali memotong ucapannya.
"Ya. Bagaimana mereka menilai aku, lalu bagaimana Dokter itu? bukannya kalian adalah ..."
"Ay! diamlah. Overthink kamu mulai kambuh, itu membuat mu panik, jadi kita cari minimarket dan membeli air minum supaya kamu lebih tenang."
__ADS_1
Ayumi diam, tapi rasa gelisahnya jelas masih terlihat, terbukti dari hembusan nafasnya yang menderu-deru.
"Tidak akan ada yang melihat mu rendah. Seperti yang aku bilang! jangan terlihat lemah, jangan biarkan mereka menindas mu. Jika ada yang macam-macam, lawahlah, kalau perlu patahkan tangan atau kakinya ... kau mengerti? aku tidak mau kau terus seperti ini! ke khawatiran kamu yang berlebih seperti ini, membuat aku semakin takut dengan keadaan mu." Jelas Randy.
"Aku, ... hanya terlalu banyak mendengar cercaan. Ucapan jika kamu tidak pantas untuk aku, aku hanya takut mereka juga akan mengatakan hal yang sama, seperti orang-orang kantor yang bahkan hampir setiap hari mengatakan itu."
"Jangan dengarkan." Tegas Randy dengan suara rendah.
Kemudian pria itu menepikan mobilnya, dan berhenti di depan sebuah parkiran minimarket.
Randy menoleh, menatap manik Ayumi lekat-lekat, saat gadis itu juga menatapnya.
"Dan jadilah seseorang yang tidak mudah di tindas. Kamu paham? pertahankan apa yang kamu mau pertahankan, kamu memang anak kucing yang sangat menggemaskan, tapi jika kamu merasa ada ancaman, maka berubahlah menjadi seorang singa betina, ... kamu mengerti Ayumi Kirana?"
"Tapi aku tidak bisa bela diri!" Jawab Ayumi pelan.
Randy tersenyum.
"Setidaknya jika ada orang yang merendahkan mu, jawab! dan jangan diam saja. Itu membuat mereka bisa berbuat semakin seenaknya kepada mu."
"Baiklah, ayok turun. Aku mau beli makanan ringan." Ucap Ayumi.
"Siapa yang akan membayar?" Randy memainkan kedua alisnya, juga bibir yang menahan senyum.
"Abang dong, siapa lagi? uang jajan aku kan buat nanti kalo nggak ada kamu, kalo ada kamu, ... ya manfaatin yang ada dulu lah!" Katanya yang sontak membuat tawa Randy menyembur.
"Kau tahu? itu tidak gratis, Ayumi."
Gadis itu mengangguk.
"Harus bayar kan?" Ayumi bertanya.
"Tentu, kamu tahu transaksi nya menggunakan apa?" Randy tersenyum, dengan seringai khasnya.
Ayumi mengangguk lagi.
"Apa?" Suara itu terdengar semakin rendah.
"Ini."
Ayumi membuka tali seatbeltnya, mencondongkan tubuh kearah samping, lalu mencium bibir kekasihnya itu beberapa kali.
Cup!
"Ini bukan?" Dia menatap pria yang tengah mematung di hadapannya.
Randy tersenyum.
"Mulai mengerti yah!?"
"Hemm, ... katanya jangan mulai, jangan mancing! tapi yang suka minta duluan siapa?" Sindir Ayumi.
Lalu dia turun terlebih dulu.
Sementara pria itu mengusap wajahnya kasar, sambil tersenyum dengan perasaan yang semakin tak bisa dia kendalikan.
"Dia memang benar."
Setelah itu Randy segera turun, menyusul Ayumi yang sudah berdiri menunggunya di depan pintu masuk.
__ADS_1
......................
Berasa lagi jualan gulali🙊🙈