
Satu mobil hitam tampak memasuki garasi rumah Randy, berhenti disana dan keluarlah beberapa pria di dalamnya.
Dengan postur tubuh tinggi, juga atletis.
"Benar bukan? Randy pasti ada di rumah." Ucap salah satunya, saat melihat mobil yang selalu Randy gunakan sudah terparkir disana.
"Tapi kenapa sepi sekali?"
"Ah paling dia merokok di taman belakang, ayok masuk aja."
Keempat pria tampan itu berjalan beriringan, menuju pintu utama yang tertutup dengan sangat rapat.
Tanpa ragu mereka menekan handle pintu kayu berukuran besar itu, dan mendorongnya perlahan, sampai benar-benar terbuka lebar.
Mereka masuk satu-persatu, lalu menutup pintunya kembali, dan segera beranjak kearah ruang tengah.
Keempat pria itu berdiri mematung, saat mendapati Randy yang tengah makan, disuapi gadis yang duduk di sampingnya.
Begitupun dengan Ayumi, dia yang hendak memberi suapan berikutnya kepada Randy terhenti, menatap para pria tampan dengan perasaan malu. Sementara Randy terus membuka mulutnya, menunggu nasi telur itu segera masuk kedalam mulutnya.
Tiba-tiba saja Ayumi menurunkan tangan juga piringnya.
"Astaga ..." Ucapannya tercekal, saat dia juga menyadari keberadaan orang lain di kediamannya.
Mereka semua terdiam, seperti orang linglung, dengan keadaan saling menatap satu sama lain.
"Mmmm, ... sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat yah!" Ucapnya gugup, juga merasa sedikit tak enak hati.
Tentu saja, mereka mengganggu sejoli yang sedang asik makan di dalam satu piring yang sama.
Ayumi menjadi terlihat sedikit panik, dia hendak bangkit, tapi Randy mencekal tangannya sampai gadis itu kembali duduk di tempat semula.
"Mau apa kalian kesini? kebiasaan tidak pernah ketuk pintu dulu sebelum masuk." Tanya Randy sedikit ketus.
"Kami mau mampir seperti biasa, eh tidak tahunya kalian sedang berpacaran yah."
"Kita lagi makan, yang benar saja pacaran di rumah." Sahut Randy.
"Tapi kalian suap-suapan!"
"Emmm, ... Abang sudah makannya?aku cuci tangan dulu kalau begitu."
"Ay! itu masih ... ada!"
Randy menetap punggung Ayumi, saat gadis itu berjalan kearah meja wastafel yang berada tidak jauh dari sana.
Egy, Iqbaal, Evan, dan Bagas kembali saling menatap.
"Kalau begitu maaf ..."
"Duduklah. Saya sudah selesai, lagi pula sudah waktunya dia pulang! tidak baik terlalu lama disini, apalagi ada kalian. Bahaya!" Katanya, lalu bangkit dan berjalan kearah Ayumi berada.
Randy berdiri di belakang Ayumi yang sedang membasuh beberapa piring, dan mangkuk kotor.
Gadis itu benar-benar terlihat gugup, tapi dia hebat, mampu menyembunyikannya dengan cara melakukan sesuatu agar dirinya sibuk.
"Tidak usah seperti ini. Mereka teman-teman ku, mereka juga baik."
"Hah?" Ayumi menengadahkan kepala kearah belakang.
Randy tersenyum.
"Santai saja, tidak usah panik seperti ini."
"Aku cuma kaget, ... habis ini mau pulang yah!"
__ADS_1
"Iya." Randy mengangguk.
Setelah selesai, Ayumi juga Randy kembali kearah sofa ruang tengah, dimana empat orang teman Randy sudah duduk disana.
Ayumi tersenyum ramah.
"Hallo? senang bertemu kembali." Egy mengulurkan tangan, dia membalas senyuman Ayumi.
Gadis itu hendak meraih tangan Egy, tapi Randy menahannya.
"Oh iya. Ini Egy, yang ini Evan dan mereka Iqbaal juga Bagas. Anak-anak Club bola, mereka memang biasa kesini." Randy menjelaskan.
"Dan ini Ayumi, calon istri saya." Sambung Randy kepada teman-temannya.
Ayumi tertegun.
Namun tidak dengan Egy, matanya mendelik saat mendapati sikap Randy yang seperti itu.
Yah, padahal hanya ingin berkenalan. Tapi dia bersikap seolah aku akan membawanya pulang. Berjabat tangan saja tidak boleh.
Gumam Egy.
"Ayok pulang!" Ayumi menarik ujung kaos Jersey yang Randy kenakan.
Pria itu menatapnya, lalu mengangguk seraya tersenyum samar.
Dia yang terlihat malu, justru membuat Ayumi semakin terlihat menggemaskan.
"Mau menunggu? aku merokok dulu sebentar, yah?"
"Baiklah."
"Kalian kalau mau makanan, ambil saja di tempat biasa."
"Duduk disini." Dia menunjuk sofa kecil.
"Abang mau kemana?" Ayumi bersikap seolah anak kecil yang takut di tinggalkan saudaranya.
"Aku di kursi taman. Tunggu sebentar, hanya satu batang." Jelas Randy.
"Aku ikut!" Tangan Ayumi kembali menarik baju Randy, lalu berjalan cepat di belakangnya.
Randy duduk, meletakan satu bungkus rokok serta korek miliknya, setelah membawa satu batang rokok yang dia letakan diantara kedua celah bibirnya.
"Tunggu disana." Titah Randy setelah menghidupkan ujung rokok itu.
"Disini saja." Ayumi semakin mendekatkan diri.
Randy menjauhkan tangan kanannya, lalu terkekeh pelan sembari meniupkan kepulan asap di udara.
"Kamu ini kenapa? kenapa menjadi seperti ini?"
"Aku malu!" Rengek Ayumi pelan. "Aku kaya lagi di grebek tahu, ... ish malu benget."
"Duduklah di Sofa sana. Mereka ada di dalam, tidak akan kesini! aku lagi ngerokok, asapnya tidak baik jika terhirup oleh mu, ... apalagi kamu mempunyai masalah pernapasan. Jadi menjauhlah." Randy berusaha menjelaskan, dengan suara yang terdengar sangat lembut.
Ayumi diam.
"Hanya sebentar."
"Kamu sayang sama aku?" Tiba-tiba saja Ayumi bertanya demikian.
Kening Randy menjengit, dia menatap Ayumi lekat-lekat.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Aneh saja, kamu mengatakan itu seolah takut membuat kesehatan ku memburuk, sementara kamu? jadi ayok berhenti, rokok bukan tidak baik jika asapnya terhirup orang lain, tapi itu juga buruk untuk kesehatan Abang!"
Ayumi meraih batang rokok yang masih panjang, lalu menjatuhkannya ketanah dan segera menginjaknya.
"Hey!?"
"Jangan protes. Atau aku tidak akan mau kesini lagi!"
"Kamu mengancam?"
"Bukan mengancam, aku cuma sayang sama calon suami aku. Dia harus sehat sampai tua nanti, karena apa? karena harus menjaga anak-anak nya sampai mereka benar-benar besar dan mempunyai hidupnya sendiri."
Randy terdiam, ucapan itu sungguh membuat hatinya tersentuh.
"Anak?" Randy mengulangi perkataan itu.
"Iya, anak aku sama Abang." Ayumi tersenyum.
Randy meremat tangan Ayumi.
"Apa maksudnya ini? kamu benar-benar membuat aku bingung."
"Bukannya Minggu depan Abang mengajak aku untuk berlibur?"
"Ya, lalu apa urusannya."
"Kemana?"
"Tidak tahu, mungkin pantai terdekat."
"Pantai?"
Mereka terus saling memandang.
"Iya, bisa jadi dekat dengan rumah Ibu, atau rumah kedua orang tua mu."
Ayumi mengulum senyum, dia mengangguk.
"Bagus, sekalian aku pulang. Dan kenalin Abang sama Ibu dan Bapak, ... juga Bang Amar." Raut wajahnya berubah, setelah dia mengatakan nama paling terakhir.
Randy diam.
"Abang mau?"
Randy masih diam, dia benar-benar tidak percaya. Bagaimana tidak, setelah sekian kali menolak dengan berbagai macam alasan, akhirnya gadis cantik yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya, mau membawa Randy untuk menemui Ali dan Tutih, dan itu awal yang bagus.
"Apa kita ..."
"Iya." Ayumi mengangguk.
Ucapan Randy belum selesai, tapi dia tahu benar maksud pria itu.
"Setelah aku pikir-pikir, sepertinya usulan Abang bagus juga. Aku bisa kuliah setelah menikah."
"Yah, tentu saja." Bibir itu mulai tersenyum merekah.
"Yasudah, ayok antar aku pulang." Ayumi berdiri.
"Hah!" Randy menghembuskan nafasnya kencang.
Dia menahan senyum, juga rasa ingin berteriak karena bahagia.
Jangan sekarang, atau mereka akan mengejek mu seperti sebelum-sebelumnya.
Batin Randy berbicara.
__ADS_1